Halaman

Jumat, 12 Februari 2021

CERITA RAKYAT SUMATERA UTARA: LEGENDA KOLAM SAMPURAGA

cerita-rakyat-kolam-sampuraga

Kebetulan saya termasuk beruntung karena sudah mengenal berbagai cerita rakyat sejak kecil. Zaman dulu karena ekonomi orang tua masih pas-pasan, saya dan adik saya tidak bisa mendapatkan bermacam hiburan baik berupa mainan maupun sekedar jalan-jalan. Bapak dan ibu terbiasa mendongeng untuk saya dan adik saya sebelum tidur. Dongeng itu dulu adalah hiburan yang selalu saya tunggu-tunggu. Mungkin karena mendengar dongeng-dongeng itu imajinasi saya berkembang dengan baik. Untuk manfaat dongeng yang lain bisa dibaca di sini.

Nah kali ini saya tertantang mengikuti event #100hariberpuisi yang diadakan oleh komunitas ILC. Tema besar yang saya ambil adalah mengangkat bermacam-macam cerita rakyat di Indonesia menjadi sebuah puisi.

Alasan memilih cerita rakyat sebagai tema:

  1. Mengingat kembali bermacam cerita rakyat yang pernah didongengkan oleh orangtua saya.
  2. Memperbanyak literatur cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia.
  3. Ikut menjaga kelestarian budaya Indonesia agar tidak punah.
  4. Mengajak anak-anak untuk lebih mencintai budaya Indonesia.
  5. dan...InshaAllah bisa menstimulus anak-anak untuk bisa menjadi generasi yang melek literasi.
alasan-memilih-cerita-rakyat


Kali ini cerita rakyat yang saya ambil adalah cerita rakyat dari propinsi Sumatera Utara, yaitu kisah legenda yang menceritakan bagaimana terjadinya kolam Sampuraga yang terletak di dekat pemukiman padat Sirambas di Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara. 

Berikut kisahnya:

Dahulu di daerah Padang Bolak hiduplah seorag anak bernama Sampuraga dan ibunya. Mereka tinggal di sebuah gubuk reot yang sebenarnya sudah tidak layak huni. Sehari-hari mereka mencari nafkah dengan bekerja di ladang milik orang lain. Meskipun hidup susah tapi mereka saling menyayangi. 

Sampuraga dan ibunya sangat jujur sehingga disukai oleh orang-orang kaya pemilik lahan sehingga mereka mudah mendapat pekerjaan untuk makan sehari-hari. Suatu hari saat istirahat makan siang, Sampuraga dan sang majikan berbincang-bincang.

"Wahai Sampuraga tidakkah kau ingin merubah nasib. Kau masih sangat muda, pergilah ke daerah subur, siapa tahu disana menjadi ladang rejeki"

"Dimanakah itu Tuan?"

"Namanya Mandailing, disana tanahnya sangat subur dan ada sungai yang mengandung emas. Banyak warga yang mendulang emas disana."

Mendengar itu muncul sebuah keinginan dari Sampuraga untuk pergi ke sana. Dia ingin merubah nasib dan membahagiakan sang ibu yang telah merawatnya dengan tulus. Sampuraga kemudian meminta ijin pada ibunya. Meski berat tapi sang ibu mengijinkan Sampuraga pergi untuk menggapai mimpinya.

Sampuraga akhirnya pergi setelah berpamitan dengan sang ibu. Sesampai di Mandailing, Sampuraga terpukau melihat keindahan alam di daerah tersebut. Dia bergegas mencari pekerjaan di sana. Pekerjaan pertamanya adalah bekerja pada seorang pedagang yang kaya raya. Karena jujur majikannya sangat menyukai Sampuraga.

Suatu hari sang majikan memberikan modal untuk berdagang pada Sampuraga. Sampuraga sangat berterima kasih dan memulai langkah berdagang sendiri. Dalam waktu singkat usaha Sampuraga mengalami kemajuan pesat. Dia menabung hasil dagangannya untuk menambah modal. Dari sana usaha milik Sampuraga semakin lama semakin besar.

Melihat keberhasilan Sampuraga, sang majikan akhirnya meminta Sampuraga untuk menikahi putrinya yang sangat cantik. Tentu saja Sampuraga menerima dengan senang hati.

Pesta pernikahan dilaksanakan secara besar-besaran sesuai adat Mandailing. Persiapannya saja sudah dilakukan satu bulan sebelumnya. Puluhan ekor kerbau dan kambing disediakan. Demikian pula dengan Gordang Sambilan dan Gordang Boru terbaik disediakan untuk menghibur para tamu.

Berita tentang upacara pernikahan itu tersebar luas hingga ke pelosok desa. Banyak warga yang mengetahui tentang kabar tersebut, begitu pula dengan ibu Sampuraga. Karena penasaran sang ibu bertekad pergi ke Mandailing dengan membawa bekal seadanya.

Gordang Sambilan dan Gordang Boru sedang bertalu-talu saat sang ibu sampai di sana. Dilihatnya seorang pemuda yang tak lain adalah Sampuraga sedang duduk di pelaminan. Karena rindu sang ibu berteriak memanggil Sampuraga dan memeluknya. Karena malu Sampuraga membentak sang ibu.

"Hei siapa kamu nenek tua, aku tidak punya ibu sepertimu. Lekas pergi dari sini!"

Mata hati Sampuraga telah tertutup sehingga berani mengingkari ibu kandungnya sendiri. Sang ibu yang diseret oleh pengawal Sampuraga dengan airmata berderai mengucapkan doa.

"Ya Tuhan jika benar pemuda itu adalah Sampuraga berilah dia pelajaran. Dia telah mengingkari ibu kandungnya sendiri!"

Sesaat setelah itu petir dan angin kencang susul-menyusul diiringi hujan deras yang menenggelamkan semuanya. Sampuraga beserta semua warga hilang begitu saja.

Beberapa hari kemudian di tempat itu muncul kolam air panas dengan batu kapur yang berbentuk mirip kerbau di sekitarnya. Karena itulah warga menamainya dengan kolam Sampuraga.


Demikian cerita rakyat dari Sumatera Utara tentang asal mula terjadinya kolam Sampuraga. Dari cerita tersebut saya mendapat ide menuliskan puisi berikut:

SAMPURAGA MENJELMA TIADA

By: Marwita Oktaviana


Padang Bolak dan Sampuraga bercerita

Sehari dua, nafkah didulang dari sawah

Bukan majikan hanya buruh kasar

Ibu tua dan gubuk derita, saksi mata

 

Kepada ibu niat digaduh

Ia dan bahagia ingin direngkuh

Mandailing digadang sebagai jalan

Subur memeluk emas dalam tanah-tanah

Peluang ingin digubah

 

Sampuraga telaten, memanen dari bawah

Majikan riang sebab ia ringan tangan

Segenggam uang dan janji masa depan

Sampuraga seorang, berniaga sebagai tuan

 

Semacam anugrah, harta digenggam mudah

Putri jelita disanding megah

Kabar menyebar bagai dandelion dan tiupan

Sang ibu beroleh dengar, tak masuk akal

 

Gordan Sambilan bertalu-talu, sang ibu mengayuh langkah tabu

“Anakku ini ibumu”

Sampuraga malu, sang ibu disangkal layu

Semacam kutukan, air buncah sebagai balasan

Mandailing luka dalam genangan tak pernah padam

Musnah segala beralih lautan kubang berupa airmata pualam

 

Ibu adalah segala, darinya sumur doa

Usah khianat,

Sekali saja sesat, Sampuraga tamat


Semoga teman-teman menikmati cerita rakyat dan puisi yang saya tulis. Kritik dan saran diterima banget dong biar saya tambah keren 😂

Terima kasih sampai jumpa di cerita selanjutnya.





 

Selasa, 09 Februari 2021

LOMBA CERPEN ULANG TAHUN GANDJELREL (Komunitas Blogger Semarang)

 


Kali ini saya mencoba mengikuti kompetisi lomba menulis cerpen yang diadakan oleh komunitas blogger Semarang @gandjelrel dalam rangka memperingati hari jadinya. Tema yang dipakai untuk lomba cerpen kali ini adalah "Ulang Tahun" karena memang didedikasikan untuk memperingati hari jadi GanjelRel.

Senin, 08 Februari 2021

KISAH TERJADINYA DANAU TOBA


Hari ke-4 ya temans. Sepertinya saya mengalami sedikit kebosanan. Mau lanjut malenya masyaAllah, nggak lanjut eman. Hari ke-4 saya masih akan mengambil cerita rakyat dari propinsi Sumatera Utara. Kalian pasti semua tahu tentang Danau Toba yang indah mempesona kan? setiap kali nama Sumatera Utara atau Medan disebut pasti langsung terbayang Danau Toba. Nah kali ini saya kan bercerita tentang legenda bagaimana danau Toba terjadi.

Di sebuah desa di tanah Karo hiduplah seorang pemuda bernama Toba. Ia bekerja mengolah sawah sebagai petani. Seringkali setelah mengolah sawah Toba pergi memancing ikan di sungai. Ikan itu ia pakai sebagai lauk makan sehari-hari. Sungai yang jernih menghasilkan banyak sekali ikan sehingga mudah ditangkap.

Suatu hari setelah mengolah sawah, Toba memancing kembali di sungai. Tidak seperti biasa, kali itu ia tidak mendapatkan ikan satu pun hingga sore. Karena kesal Toba berniat melempar kailnya. Tetapi tiba-tiba seekor ikan besar berwarna jingga menyambar kail itu. Toba tertawa senang dan membawa ikan itu untuk dimasak di rumah. 

Ketika ditinggalkan di atas meja karena Toba ingin menghidupkan tungku, ikan itu tiba-tiba menghilang. Yang tersisa hanya beberapa keping uang emas di atas meja. Karena marah Toba akhirnya memutuskan untuk tidur saja. Betapa kagetnya Toba saat membuka kamarnya, ia mendapati seorang wanita cantik sedang menghadap cermin di kamarnya.

Perempuan itu bercerita bahwa ia adalah jelmaan ikan dan koin emas di atas meja adalah perwujudan sisiknya. Toba yang terpikat kecantikan perempuan itu meminta agar menjadi istrinya. Ia menyetujui keinginan Toba dengan syarat Toba tidak akan pernah mengungkit asal usulnya.

Akhirnya mereka menikah dan dikaruniai seorang putra yang diberi nama Samosir. Saosir tumbuh menjadi anak yang malas dan manja. Ibunya terlalu memanjakan anak semata wayangnya itu.

Samosir hanya bermalas-malasan saja di rumah dan tidak mau membantu Toba di sawah. Suatu hari sang ibu memintanya untuk mengantarkan bekal makanan untuk ayahnya di sawah karena sang ibu sedang sibuk melakukan hal lain.

Dengan bersungut-sungut Samosir akhirnya berangkat membawa bekal tersebut. Karena lapar Samosir memakan bekal untuk ayahnya hingga tinggal sisa sedikit saja. Sesampai di sawah ia serahkan bekal itu pada sang ayah.

Toba sangat murka melihat bekal makannya tinggal sisa-sisa padahal dirinya sudah sangat lapar. Samosir dipukul olehnya dan dikatai sebagai anak ikan. Samosir yang ketakutan berlari pulang sambil menangis.

Sesampai di rumah Samosir menceritakan kejadian di sawah dengan lengkap pada ibunya.

"Pergilah ke atas bukit tertinggi dan jangan kembali".

Samosir segera berlari ke atas bukit. Sang ibu memastikan sang anak sudah sampai di puncak bukit sebelum berlari ke arah sungai. Setiba di sungai sang ibu segera menerjunkan diri ke arus sungai yang kencang dan kembali berubah menjadi ikan.

Luapan air membuncah seketika menenggelamkan lembah tempat tinggal Toba hingga menjadi sebuah danau seperti saat ini. Toba dan Samosir tak terlihat lagi sejak itu. Itulah kenapa dinamakan Toba dan pulau yang ada ditengahnya dinamakan Samosir.


Demikian kisah tentang terjadinya danau Toba. Dari kisah tersebut saya membuat puisi sebagai berikut:

PEREMPUAN IKAN

By: Marwita Oktaviana

 

Karo dan gemah ripah

Adalah penggarap sawah, Toba namanya

Di sisa-sisa hari, kail disauh ikan-ikan berlabuh

Bahagia disandang meski hanya seorang

 

Suatu kali, hari terik

Kail tak nampak dikait, Toba berjenggit

Senja telah terhampar di langit barat, semacam firasat

Seketika rona terpampang, daya disandang juang

Kail memikat ikan sewarna jingga bertubuh agam

 

Perempuan dari wujud ikan, Toba tercengang

Secantik khayangan, perempuan tak mau pulang

Sisik emas dan pelaminan sebagai taruhan

“Jangan kau ungkit asal mulaku”

Satu kalimat sebagai pengikat,

Toba dan perempuan berikrar bergandengan

 

Samosir buah cinta pekat tak berjeda

Tubuh manja tak kenal nestapa

Perempuan jengah, coba berkilah

Samosir dan pangan sebakai bekal disandang dalam gamang

Sawah dan sang ayah dalam pandangan, Samosir gundah

Tinggal separuh, Toba mengucap serapah

“Dasar anak ikan!”

 

Samosir pulang, airmata membanjir genang

Perempuan mendengar sumpah dipatahkan

“Naik ke puncak tertinggi dan jangan kembali”

Perempuan melabuh pada gemericik air

Sungai mengalir semacam banjir

 

Serupa Adam dan Hawa, terusir nirwana

Janji semacam mantra, segala bermula

Karo tergenang, Toba tertinggal dalam kubangan

Perempuan malih rupa berkawan sesal




Sabtu, 06 Februari 2021

LEGENDA PAYA NIE


Masuk hari ke-3 ya teman. Hari ini masih cerita rakyat dari Nangroe Aceh Darussalam. Saya pilih legenda Paya Nie yang bercerita tentang seorang perempuan yang memiliki nasib yang malang. Kisahnya bisa teman-teman simak berikut ini.

Dahulu kala di sebuah pulau hiduplah perempuan tua yang sangat sholehah bernama Cut Nie bersama dengan ketujuh putrinya. Suami perempuan itu sudah lama meninggal. Mereka hidup di sebuah rumah di tengah pulau yang dilengkapi dengan berbagai peralatan yang biasa dipakai sehari-hari.

Keenam putri Cut Nie sudah meninggalkan rumah untuk bekerja dan tersisa satu orang putri bungsunya yang cantik jelita melebihi kakak-kakaknya yang lain. Namanya Putroe Nie. Cut Nie sangat menjaga putri bungsunya ini karena takut akan terpengaruh dengan dunia luar yang liar. Sebab itu Cut Nie tidak pernah mengijinkan Putroe Nie untuk keluar dari rumah.

Suatu hari Cut Nie sedang menjemur padi-padi hasil panen di depan rumahnya. Matahari sangat terik saat itu sehingga Cut Nie berharap padi-padinya cepat kering. 

Cut Nie berpamitan pada Putroe Nie akan meninggalkan rumah untuk mencari -bahanbahan yang digunakan untuk persiapan pernikahan kakak Putroe Nie dan mengantar undangan pada sanak kerabat. Cut Nie berpesan agar Putroe Nie tidak turun dari rumah apapun yang terjadi. Jika tidak maka musibah akan menimpa mereka.

Putroe Nie yang penurut mengiyakan perintah sang ibu dan duduk di tangga sambil mengawasi padi-padi yang dijemur. Tapi sang putri menjadi resah saat Cut Nie tidak kunjung pulang padahal hari menjelang sore.

Tiba-tiba di langit mendung bergulung-gulung tanda akan turun hujan. Putroe Nie bimbang. Dia tidak boleh turun dari rumah oleh ibunya, tetapi padi-padi yang dijemur akan basah lagi jika terkena hujan. Akhirnya Putroe Nie turun berniat mengumpulkan padi agar tidak terkena hujan.

Saat kaki Putroe Nie menapak tanah tiba-tiba saja tanah merekah dan mengeluarkan air dari dalamnya. Putroe Nie tenggelam dan meninggal. Cut Nie yang baru kembali tidak dapat menemukan putri bungsunya dan menangis. Air yang keluar dari dalam tanah akhirnya menenggelamkan semua. 

Paya Nie yang sebelumnya adalah tanah yang kering merubah menjadi sebuah danau yang indah. 


Demikian kisah bagaimana Paya Nie terbentuk. Paya Nie sendiri merupakan sebuah kawasan yang dikelilingi 7 gampong yaitu Gle Putoh, Blang Mee, Kulu Kuta, Paloh Raya, Crueng Kumbang, Tanjung Siron, dan Buket Dalam. Dari udara Paya Nie nampak seperti elang yang memiliki 44 sayap. Kawasan ini sangat membantu saat terjadinya konflik. Banyak pimpinan pejuang yang bersembunyi disana karena pesawat udara tidak bisa mendeteksi lokasi mereka.


Dari cerita di atas saya terinspirasi membuat sebuah puisi yang saya ikut sertakan pada tantangan 100 hari menulis puisi tersebut. Silahkan simak puisinya berikut.

PERAWAN MALANG

By: Marwita Oktaviana

 

Dari Paya Nie dan 44 sayap elang membentang

Perempuan tua dan tujuh perawan

Sederhana dalam tindakan juga segala hal

Telah jauh terbawa langkah, ke-enam putri antah berantah

Putroe Nie tinggal sebagai sacral,

Sang perawan jelita bak malam penuh bintang

 

“Usah kau turun”

Perempuan tua dan titah tak terbantah

Mengantar kabar pada sanak, tertinggal segala nampak

Padi dihampar, terik terpapar

Sang putri duduk menahan kantuk, sungguh terkutuk

Perempuan tua tak kunjung datang, sore telah memanjang

 

Dilema sang putri gulana

Hujan jatuh tanpa patuh

“Oh tidak padi-padi itu”

Titah telah dibantah, sang putri menjejak tanah

Seketika bumi merekah, menelan segala tulah

 

Perempuan tua dan kepedihan

Telah hilang putri semata wayang

Jauh dipeluk tanah, berganti air meruah

 

Dari Paya Nie yang kerontang mata air meniupkan kesegaran

Usah mendekat, tanah adalah pikat

Sekali sesat, tamat segala riwayat




 

Jumat, 05 Februari 2021

MENTIKO BETUAH, CERITA RAKYAT ACEH


Masuk di hari kedua tantangan menulis 100 puisi saya masih mengambil cerita rakyat yang berasal dari Nangroe Aceh Darussalam. Kali ini bercerita tentang mustika mentiko betuah. Bagaimana ceritanya? 

www.witaksara.com

Dahulu kala di Semeulue hiduplah seorang raja bersama dengan permaisurinya. Raja dan permaisuri memimpin negeri dengan bijaksana sehingga kerajaan makmur sentosa. Rakyat sangat mencintai raja mereka karena kedermawanan sang raja. Sayangnya meski telah sekian tahun hidup bersama, raja dan permaisuri belum juga dikaruniai buah hati.

Karena sangat mendambakan keturunan, raja dan permaisuri akhirnya pergi ke hulu sungai yang sangat dingin airnya untuk bernazar dan meminta berkah. Perjalanan ke hulu bukanlah perjalanan yang mudah. Mereka harus melalui hutan belantara, menyeberangi sungai, naik turun gunung yang terjal untuk sampai di sana. Setelah sehari semalam bernazar dan berdoa mereka pulang kembali ke kerajaan di Semeulue. 

Beberapa minggu kemudian permaisuri hamil dan mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan. Raja dan permaisuri sangat menyayangi sang anak yang diberi nama Rohib tersebut. Rohib dilimpahi kasih sayang secara berlebihan oleh kedua orang tuanya sehingga tumbuh menjadi anak yang manja.

Saat sudah besar Raja mengirim Rohib ke perguruan untuk belajar. Sayangnya karena terbiasa dimanja Rohib tidak bisa menyelesaikan pendidikan dan pulang kembali ke kerajaan. Raja sangat marah mengetahui  hal itu hingga menyuruh salah satu pengawal untuk menggantung Rohib sampai mati.

Permaisuri yang sangat menyayangi anaknya mencegah raja melakukan itu dengan syarat Rohib harus keluar dari kerajaan dan mencoba hidup di luar. Raja memberi uang sebagai bekal Rohib berdagang. Rohib tentu saja bingung tidak tahu harus melalukan apa karena terbiasa hidup mewah dan semua tersedia.

Dengan langkah gamang Rohib meninggalkan istana. Di tengah jalan ia bertemu dengan sekelompok anak kampung yang membawa ketapel dan ingin menyiksa seekor burung.

"Wahai anak-anak jangan siksa burung itu, aku akan memberi uang sebagai gantinya".

Anak-anak itu pun pergi meninggalkan Rohib dengan uang di tangan. Rohib segera menolong burung malang itu dan melanjutkan perjalanan. Belum jauh melangkah Rohib kembali bertemu dengan anak-anak yang sedang memukuli seekor ular. Seperti sebelumnya Rohib memberikan uangnya sebagai ganti agar anak-anak kampung melepaskan ular itu. Demikian berlanjut di sepanjang jalan hingga uang di kantong Rohib habis.

Rohib yang kebingungan karena tak punya tujuan memberanikan masuk hutan untuk beristirahat. Kembali ke kerajaan sudah tidak mungkin lagi karena ia belum bisa membuktikan pada ayahnya bahwa ia telah berhasil mengumpulkan uang.

Saat sedang beristirahat Rohib didatangi seekor ular raksasa. Rohib terkejut bukan main. Ternyata itu adalah raja ular.

"Jangan takut, aku tidak akan mengganggumu. Terimalah ini sebagai balasan karena kamu telah menolong para binatang dari gangguan manusia. Ini adalah Mentiko Betuah yang sakti, mintalah apa saja yang kamu inginkan dan ia akan mengabulkannya".

Rohib menerima pemberian sang ular dengan tangan gemetar. Karena penasaran Rohib mencoba meminta uang yang banyak pada mentiko betuah. Tiba-tiba di depannya teronggok uang dalam jumlah yang banyak. Rohib sangat senang, ia bisa kembali ke kerajaan dengan uang sebanyak itu di tangannya. Akhirnya Rohib kembali ke rumah dan raja sangat senang melihat Rohib telah berhasil.

Untuk menjaga agar mentiko betuah tidak hilang, Rohib berniat memesan cincin sebagai pengikat mentiko betuah pada seorang pengrajin emas. Namun sayang pengrajin itu justru membawa lari mentiko betuah. 

Rohib marah sekali dan memberi perintah pada tikus, anjing dan kucing untuk menemukan kembali 
mentiko betuah. Anjing dan kucing tidak berhasil menemukan batu itu.

"Hai tikus apa kamu menemukan batu itu?"

Sang tikus menggeleng. Mereka kembali ke kerajaan dengan wajah lesu. Namun tanpa diketahui oleh kucing dan anjing tikus sebenarnya menemukan mentiko betuah dan menyimpannya di mulut kecilnya. Batu itu ia serahkan langsung pada Rohib agar Rohib menyukainya. Mengetahui itu kucing dan anjing sangat murka. Itulah awal mula kucing dan aning tidak pernah bisa akur dengan tikus sampai saat ini.

www.witaksara.com

Begitulah cerita rakyat tentang mentiko betuah itu. Dari cerita itu inspirasi membuat puisi datang pada saya. Berikut hasil tulisan saya mengenai mentiko betuah:

MENTIKO BETUAH

By: Marwita Oktaviana

 

Semeulue terberkati, gemah ripah tak kurang apa

Raja bersedih hati, telah lama dinanti

Seorang bocah sebagai penerus tradisi

Dalam dingin air dan lebat hutan

Doa dilantun, nazar dituntun

“Beri kami keturunan wahai Zat Pemilik Jagad”

 

Rohib berselimut mewah, megah

Tumbuh manja tak kenal nestapa

Raja berduka, salah didikan menuai petaka

Terusir rohib dari nyaman dunia

 

Uang dikepal tegang, jalan disapu terjal

Niaga dan kesuksesan sebagai syarat kembali nyaman

Sayang oh sayang, rintang berduri tajam

Uang hilang sebagai penebus siksaan

Hewan-hewan riang, Rohib tegang

 

Dalam pekat pepohonan tumbang dilantakkan

Kemana lagi pulang, tak ada rumah untuk datang

Ulee dalam wujud temaram dewa dewi

Mentiko Betuah dijampi-jampi

 

Suka cita uang dalam genggaman, Rohib kembali pulang

Raja memeluk senang,

Istana sebagai tempat pulang telah didendang

 

Sebuah hasrat, memikat tulah berikat

Cincin sebagai pengikat hilang sudah terbawa khianat

Rohib tercekat

 

Mie, Asee, juga Tikoih

Titah diringkus dalam gegap rinai

Mentiko Betuah dan mulut tikus tanah serakah membawa tulah

Sebagai sebab Tikoih dan Mie tak lagi saling percaya

 

Kamis, 04 Februari 2021

CERITA RAKYAT ACEH: LEGENDA BANTA BARENSYAH


Beberapa hari lalu saya memberanikan diri mengikuti tantangan 100 hari berpuisi yang diadakan oleh salah satu komunitas menulis di kota saya. 

Setelah beberapa hari mencari ide, saya putuskan untuk membuat puisi based on folklore atau cerita rakyat dari seluruh nusantara. Nantinya saya berharap untuk menjadikannya sebuah buku. Selain sebagai portofolio juga akan bermanfaat untuk menunjang kinerja saya ke depan.

Hari pertama saya mulai dengan puisi tentang Banta Barensyah. Cerita ini lahir dari Nangroe Aceh Darussalam. Berkisah tentang seorang anak yang hidup berdua dengan ibunya di sebuah gubuk reyot. Mereka bekerja sebagai buruh penampi sekam di ladang milik saudara mereka yang congkak, Jakub.

Jakub meskipun masih saudara tetapi sangat pelit dan serakah. dia tidak mau membantu kesulitan Banta dan ibunya.

Suatu hari Banta dan sang ibu mendengar sayembara dari raja yang ingin menikahkan putrinya yang bernama Putri Terus Mata dengan syarat membawa mahar berupa pakaian yang terbuat dari emas dan sausa (campuran emas dan tembaga). Meski miskin tapi tekat Banta sangat kuat untuk mengikuti sayembara itu karena ingin meningkatkan derajat hidup dan membahagiakan ibunya.

Sang ibu memberi restu dan membekali Banta dengan daun talas dan seruling. Banta pun pergi bertualang mencari orang yang bisa menenun kain dari emas dan sausa. saat itu Jakub juga akan pergi untuk berdagang jadi Banta menumpang di kapal milik Jakub. Namun di tengah perjalanan Banta meminta turun karena arah yang mereka tuju berlawanan. Banta melanjutkan perjalanan dengan menaiki daun talas yang ternyata mampu menahan tubuhnya tetap mengambang di atas air.

Singkat cerita sampailah Banta di sebuah pulau. Rupanya kain dari emas dan sausa tidaklah mudah didapatkan. Tidak banyak yang mau menenun kain mahal itu. Setelah berkeliling Banta akhirnya menemukan penenun tersebut. Kendala baru muncul lantaran Banta tidak memiliki uang untuk membayar kain itu. Maka dia menawarkan satu-satunya keahlian yang ia bisa, yaitu memainkan seruling. Tukang tenun itu akhirnya setuju memberikan kain emas dan sausa setelah mendengar Banta bermain. Permainan yang dibawakan Banta sangat apik dan membius tukang tenun tersebut.

Banta pun pulang dengan wajah sumringah, bersanding dengan Putri Terus Mata sudah di depan mata. Sayangnya saat kembali Banta menumpang kapal milik Jakub yang mengetahui bahwa Banta memiliki kain emas itu. Muncullah sifat licik Jakub yang kemudian mencuri kain tersebut dan menjatuhkan Banta ke laut.

Selama beberapa hari Banta terombang-ambing di laut sampai terdampar di sebuah tempat. Ia ditolong oleh sepasang suami istri hingga sehat kembali.setelah sehat Banta berpamitan untuk kembali ke rumahnya.

Ketika bertemu sang ibu Banta bercerita bahwa dia kehilangan kain yang berharga itu. Sang ibu mengatakan bahwa kesempatan Banta untuk bisa memenangkan sayembara sudah hilang, karena saat ini Jakub sedang bersanding dengan sang putri. Banta pun tergolek pasrah.

Melihat anaknya putus asa sang ibu memberi semangat dan menyaranan untuk meminta bantuan dari Yang Maha Kuasa. Doa Banta dan ibunya didengar. Seekor gagak tiba-tiba berkata-kata di seluruh kerajaan bahwa kain itu bukan milik Jakub tapi milik Banta.

Jakub yang malu berusaha melarikan diri, namun sayang karena cerobohia justru jatuh dari jendela yang tinggi dan meninggal. Raja akhirnya memberi titah untuk menyandingkan Banta dan putri Terus Mata.

Ketika akhirnya raja meninggal Bantalah yang meneruskan tahta. Ibunya diajak untuk tinggal di istana dan hidup bahagia.


Itulah kisah yang mendasari terciptanya puisi saya di hari pertama. Berikut saya tuliskan puisi tersebut:



SERULING BERDAUN TALAS

By: Marwita Oktaviana 

1/

Anak lelaki dan ibu janda

Gubuk renta memeluk nestapa

Makan dari sekam, tidur bergelung hujan

 

2/

Jakub congkak dan hati bengkak

Harta dijarah tak kenal kenyang

Saudara, ah lupakan saja

Biar saja sengsara, dia berjaya

 

3/

Banta Barensyah dan tekad baja

Laut dipeluk beralaskan talas

Putri Terus mata bertitah sebagai sabda

Kain emas dan sausa sebagai tumbal juara

Seruling sakti dan restu bumi

Banta merekah sepulang bahtera singgah

 

4/

Sayang oh sayang Jakub serakah, Banta meringkuk pasrah

Sesaji dirampas, hilang sudah berangas

Lunglai dalam pelukan, sang ibu memintal harapan’

Tak perlu habis akal, doa dilantun kekal

Kleueng mengucap mantra sepanjang sisa

Kedok terbuka, Jakub memanen nestapa

 

5/

Banta dan Terus Mata duduk bersanding

Ibu dan airmata berkalung sungging

Istana serupa tahta suka cita

Banta beroleh bahagia sebab tak berkawan dusta


Demikian kisah saya di hari pertama. Kisah cerita rakyat dari Aceh lainnya bisa dinikmati di sini dan juga di sini. Sampai jumpa di hari ke-2 besok. Semoga teman-teman menikmati.

Selasa, 05 Januari 2021

LET'S READ, KOLABORASI DONGENG DAN GAMBAR SEBAGAI PEMANTIK KECINTAAN MEMBACA PADA ANAK

 

Sumber: Google Picture
Sumber: Google Picture

Mungkin sangat terlambat jika ingin membahas mengenai salah satu drama korea popular di tahun 2020 kemarin. It’s Oke Not To Be Oke bercerita tentang seorang penulis dongeng yang memiliki kelainan jiwa dalam mencari jati diri. Di sana banyak disajikan bermcam buku dongeng yang berhasil membawa penulisnya pada kemampuan finansial yang bagus. Buku-buku dongeng itu disajikan dengan ilustrasi yang menarik dan apik. Dari ilustrasi dan isi cerita itu mengalir pundi-pundi kekayaan dari royalty. Semakin banyak pembeli semakin besar pula nilai royalty yang dibayarkan. Melihat banyaknya penggemar saat acara launching buku dongeng terbaru menandakan bahwa ketertarikan masyarakat pada buku dongeng milik Ko Moon Yeong sangatlah tinggi.

 

Buku dongeng di drama It's Oke Not To Be Oke
Sumber: Google Picture

Melihat itu secara naluriah saya merasa iri. Saya termasuk salah satu generasi dengan masa kecil yang jauh dari hiruk pikuk media. Melihat aneka gambar dalam sebuah buku pasti menarik dan menambah minat baca. Membaca atau mendengar dongeng dapat membantu meningkatkan perkembangan anak. Saya sendiri salah satu objek yang terbiasa mendengar dongeng langsung dari Bapak dan Ibu sebelum tidur. Dongeng-dongeng itu dilafadzkan langsung tanpa adanya media cetak. Kreatifitas dan daya ingat Bapak Ibu bercerita lah yang membangkitkan minat kami, anak-anaknya untuk terus mendengar.

 

Kegiatan mendongeng itu ternyata banyak bermanfaat bagi saya dan mungkin bagi banyak anak-anak lain, diantaranya:

  1. Melatih dan mengembangkan imajinasi anak

Menurut Efnie anak usia 3-7 tahun biasanya memiliki “dunia” nya sendiri. Masa-masa ini anak sangat aktif berimajinasi. Dengan pembacaan dongeng secara konsisten akan membentuk imajinasi yang bagus dan terarah. Banyak juga yang kemudian mengembangkan imajinasi sendiri sebagai feedback dongeng yang dibacakan atau diceritakan menjadi cerita yang lain dan menarik.

2. Membangun dan meningkatkan kecerdasan emosional.

Setiap dongeng pasti memiliki pesan khusus yang di-input dalam torehan kalimat-kalimat yang mudah dimengerti anak. Anak akan mudah menangkap nilai-nilai moral yang berlaku di masyarakat karena disajikan secara menarik dan sesuai dengan dunia mereka

3. Melatih dan meningkatkan kosa kata serta kemampuan berbahasa.

Kemampuan awal yang dikuasai oleh anak adalah kemampuan verbal. Dengan sering mendengar cerita akan menjadi stimulus untuk merangsang kemampuan berbahasa. Kisah-kisah pada dongeng biasanya disajikan dalam bahasa yang positif, dengan demikian akan membantu anak untuk berkomunikasi dan bertutur dengan bahasa yang sopan

4. Menjalin bonding yang lebih erat dengan orang tua.

Saat ibu atau ayah membacakan dongeng pada anak secara tidak langsung mereka sedang memberikan pembelajaran tentang “bahasa ibu”. Bagaimana bertutur, bagaimana bersikap, bagaimana menghidupkan kisah-kisah itu agar melekat di benak anak dan anak mampu menangkap pesan-pesan yang tersirat. Sesi mendongeng akan menambah waktu interaksi dan jalinan kasih sayang antara orangtua dan anak.

5. Meningkatkan minat membaca

Secara alami anak-anak yang biasa dibacakan atau membaca dongeng akan memiliki ketertarikan dan rasa penasaran yang tinggi pada cerita-cerita lain yang belum dibaca. Dengan sendirinya rasa penasaran itu akan menstimulus mereka untuk lebih banyak membaca.

6. Membangun konsep bercerita

Ini saya rasakan pribadi, bagaimana jalinan dongeng-dongeng yang diceritakan saat kecil dulu begitu melekat. Dan itu membantu dalam meningkatkan kemampuan menulis saya. Bagaimana mengawali cerita, membuat konfik danmengakhiri dengan bagus dan mulus.

 


Mendongeng juga bisa menjadi salah satu langkah untuk memberikan hak anak. Hak anak sendiri diumumkan oleh PBB pada tahun 1954 dan disahkan sebagai Konvensi Hak-Hak Anak pada tahun 1989. Di Indonesia Keputusan Presiden No. 36/1990 yang disahkan pada tanggal 28 Agustus 1990 dibuat sebagai bukti pengakuan hak anak tersebut. Dari 10 hak anak yang tertuang, mendongeng bisa dimasukkan sebagai bentuk pemberian hak untuk bermain, mendapatkan pendidikan dan rekreasi.

 

Kemajuan zaman membuat tradisi mendongeng mengalami penurunan. Orangtua lebih banyak menyediakan gadget sebagai hiburan untuk anak. Anak-anak jadi lebih senang bermain dengan gadget  tersebut dibanding mendengar dongeng karena secara alamiah pada usia tersebut anak menyukai gambar atau animasi disbanding sesuatu yang abstrak. Mungkin di era serba digital saat ini dongeng perlu disajikan dengan format berbeda untuk menstimulus ketertarikan anak. Pemberian gambar-gambar yang menarik pada cerita dongeng akan banyak berpengaruh pada minat anak untuk mendengar atau membaca. Bisa juga disajikan dalam bentuk digital yang dilengkapi animasi. Format penyajian seperti itu akan menarik perhatian anak dari bentuk hiburan yang tidak bermanfaat untuk beralih pada dongeng digital yang dapat membantu membentuk karakter positif pada tumbuh kembang anak.

 

Saya memiliki keinginan besar untuk menyediakan banyak bacaan untuk anak-anak dan teman-temannya di rumah. Untuk menstimulus kemauan mereka membaca dan meminimalisasi waktu yang dihabiskan bermain gadget dengan mencari berbagai hal menarik yang disajikan lewat buku cerita. Memotivasi kembali semangat bercerita atau membacakan cerita pada anak agar kelak mereka tumbuh sebagai pecinta buku dan literasi.

 

LET”S READ SEBAGAI APLIKASI DONGENG YANG MENARIK


Let's Read adalah perpustakaan digital buku cerita anak persembahan komunitas literasi dan The Asia Foundation. Let's Read! diprakarsai oleh Books for Asia, yakni program literasi yang telah berlangsung sejak 1954. Program tersebut menerima U.S. Library of Congress Literacy Awards atas inovasi dalam promosi literasi pada Desember 2017. Let’s Read memiliki misi membudayakan kegemaran membaca pada anak Indonesia sejak dini melalui:

1.    Digitalisasi cerita bergambar;

2.    Pengembangan cerita rakyat yang kaya kearifan lokal; dan

3.  Penerjemahan buku cerita anak berkualitas terbitan dalam dan luar negeri ke dalam bahasa nasional dan ibu.

Aplikasi ini sangat bagus sebagai edia untuk mengenalkan dongeng pada anak. Disajikan dengan gambar menarik dan pilihan bahasa yang beragam menjadikan Let’s Read sebagai media yang mumpuni untuk menggantikan tradisi mendongeng zaman dahulu. Dongeng yang disajikan pun beragam dan diambil dari beberapa Negara. Hal tersebut juga sangat bagus untuk mengenalkan keragaman tradisi yang ada di dunia.


Mengunduh aplikasi Let's Read bisa menjadi solusi untuk para orang tua yang ingin menumbuhkan minat membaca pada anak dan memperkaya anak-anak dengan bermacam memori cerita dongeng yang beragam. Segera lengkapi smartphone ayah ibu dengan aplikasi ini sebagai salah satu ikhtiar membentuk hal positif pada anak.

 

Mari kita galang kembali tradisi mendongeng melalui banyak media yang tersedia. Mendongenglah dan saksikan generasi anak-anak kita akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kecerdasan literasi yang bagus. Generasi dengan kecerdasan literasi baik akan tumbuh menjadi generasi yang berdaya saing tinggi dan mampu bertahan di era yang penuh komplikasi saat ini.