Sabtu, 28 September 2019

AKHIR BULAN DAN PERUT YANG BERISIK

Riuh yang biasanya memenuhi atmosfir ruang hilang begitu saja hari ini. H-1 akhir bulan selalu membuat kami yang biasanya sibuk wara wiri antar kubikel untuk konsultasi pekerjaan menjadi makhluk pendiam anti sosial yang mengurung diri dalam kubikel dengan memelototi komputer di depan mata. Kulirik sebentar makhluk-makhluk yang biasanya usil di samping kubikelku. Gayanya sudah bisa masuk Guiness word Record untuk kostum kantor terunik. Mulai dari tempelan post it yang memenuhi wajah dan membuatnya berwarna-warni pelangi, atau dasi yang ganti posisi dari dada ke kepala. Membebat otak yang mulai penat. Sampai yang paling parah, Andre yang posisinya tepat di depan kubikelku. Entah dia mau ronda atau ngantor. Mungkin akibat dinginnya AC yang membekukan tubuh kami, atau memang tubuhnya sudah tak kuat untuk diminta lembur lagi, Sarung di mushola berganti fungsi sebagai kepompong yang membungkus tubuhnya rapat. Dengan kaki yang sengaja diangkat ke atas kursi seperti bersila. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.

Jangan tanya, akupun menjadi salah satu badut dengan kostum aneh di sana. Sebagai anak kos dengan asupan gizi minimal, saat ini mungkin akulah makhluk paling menyedihkan di ruangan. Perut keroncongan akibat tak makan semalam dan lupa sarapan tadi pagi. Ditambah asma yang kambuh kalau AC terlalu dingin, sampai kepala pening yang tak mau hilang sejak kemarin akibat flu. Membuatku menjadi anomali. Kepala penuh dengan tempelan koyo. Lalu kubebat dengan pita kain yang kutemukan di gudang sebulan kemarin. Tak tahan dengan peningnya. Jaket rangkap dua untuk menghalau udara dingin.kaos kaki dan sarung tangan. Cukuplah kalau dibilang aku mau naik gunung dan bukannya kerja  di kantor. Sebenarnya aku mau izin tidak masuk hari ini. Badanku tak bisa diajak kompromi. Tapi Bos besar meminta laporan akhir bulan harus dikumpul hari ini. Terpaksa aku berangkat juga.

Masih kurang laporan untuk 14 hari terakhir yang harus kubuat. Tapi sudah jam sebelas. Entah nanti selesai atau tidak. Beberapa makhluk di sekitarku ada yang mulai berdiri mondar-mandir pertanda pekerjaannya telah selesai. Semakin stress lah aku.
“Sial, macet lagi”, kugetok-getok layar komputerku dengan beringas. Kenapa pula harus macet disaat genting seperti ini. Memang harusnya komputer ini sudah diganti sejak setahun yang lalu. Programnya sering eror dan macet. Tapi tiap kali kuminta ganti selalu ditolak Bos dengan alasan efisiensi.
“Aduhhhh gimana nihhhh”, aku berteriak saking tertekan. Wajah-wajah di sekitarku memandangku dengan malas.Aku rasanya sudah mau nangis saking bingungnya.
“Kenapa sih Ra? komputermu macet lagi?”, tanya Andre sambil menyorongkan tubuhnya ke kubikelku. Aku hanya mengangguk lesu. Membayangkan kemarahan Bos akibat laporanku yang belum selesai.
“Sini pakai punyaku saja. Laporanku sudah selesai. Komputermu biar kuperbaiki, kali aja bisa”, Andre berdiri melangkah ke kubikelku.
“Baik banget sih Ndre...”, aku tertawa senang dan langsung loncat ke kubikel Andre.
Perut yang sedari tadi berbunyi tak kuperhatikan lagi. Sudah jam istirahat. Tapi aku tak mampu merehatkan tubuhku sekedar untuk beli makan dan berselonjor. Laporanku harus selesai dalam hitungan jam. Terpaksa kurelakan jam istirahatku untuk berkutat dengan komputer.
Seang serius-seriusnya ada tangan yang tiba-tiba menepuk punggungku dan membuatku terlonjak kaget sampai jatuh dari kursi. Aku meringis menahan sakit. Ternyata Andre yang datang.
“Ya ampun serius amat Cin..., gitu aja sampai jatuh saking kagetnya”, Andre terbahak menyaksikanku yang menahan sakit.
“Ih... iseng banget sih, lagi konsen nih. Sakit tau”, kutabok lengannya sebagai kompensasi.
“Udah selesai belum laporannya?, tuh komputermu sudah bisa jalan. Besok-besok jangan save data di situ. Back up aja semua ke HD eksternal. Nanti biar aku bantu ngomong ke bos buat ganti komputermu”,
“Bentar lagi Ndre, tinggal laporan dua hari terakhir, makasih ya udah mau benerin komputerku. Tapi aku di sini dulu aja ya, nanggung”, jawabku santai.
“Pake aja, aku mau sholat dulu. Itu di mejamu ada gado-gado sama lumpia basah. Buruan makan kalau sudah selesai. Perutmu berisik”,
Aku menunduk menahan malu.
“Makasih banget ya Ndre, kamu emang paling ngerti. Nanti kutraktir deh kalau laporannya di ACC bos”,
“Sambalnya aku pisah, aku taruh di plastik lumpia”, Andre tersenyum dan ngeloyor pergi.
Alhamdulillah hajat hidupku terpenuhi. Kucomot satu lumpia untuk mengganjal perut yang sejak tadi berbunyi. Indahnya punya teman yang pengertian dan mau diajak susah di saat begini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar