Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Maret 2021

CERPEN DIMUAT DI SOLOPOS : TULAH KEMARAU

 Lagi dan lagi saya bersinggungan dengan kebutuhan membuat cerpen. Sudah semakin rileks saat menulis dan cenderung lebih hemat waktu, maksudnya tidak selama awal-awal bikin cerpen. Kali ini saya membuat cerpen populer, sedikit berkisah tentang alam dan hal-hal yang terjadi didalamnya. Tetap sih nulisnya karena ada tugas juga dari kelas OTM (ODOP Tembus Media) dari komunitas ODOP. Tugasnya bikin cerpen yang kemudian dikirim ke media baik media cetak ataupun media daring/online.

Cerpen yang saya buat kali ini mendapat ide dari kejadian alam luar biasa menurut saya karena belum pernah terjadi dan saya rasakan sebelumnya. Genrenya mungkin masuk di populer ya karena memang base on kejadian yang sedang berlangsung.

cerpen populer


Ada banyak media yang bisa saya kirim cerpen tersebut, tapi karena memang saat itu masih belum pede dengan karya saya jadi saya coba masuk ke media yang sedikit banyak bersentuhan dengan tema cerpen yang saya buat.

Alasan memilih Solopos sebagai media yang dikirim

Solopos sendiri adalah sebuah media cetak yang berbasis di kota Solo. Banyak berita yang diangkat adalah seputar kejadian di area Solo dan sekitarnya. Kenapa antas saya pilih koran ini, antara lain:
  1. Saya sih berharap akan mendapat peluang lebih besar karena tema agak bersinggungan dengan wajah Solopos tersebut.
  2. Solopos adalah salah satu koran dengan oplah yang lumayan di tengah gempuran media online saat ini.
  3. Saya sendiri lebih suka membaca koran riil dibanding dengan membaca lewat gadget, meski Solopos sendiri juga memiliki media daring.

Nah ternyata saya tidak perlu menunggu lama untuk mendapat kabar bahwa cerpen saya diterima dan akan diterbitkan di rubrik jeda Solopos di minggu berikutnya. Cerpen ini dimuat tepat di hari Minggu tanggal 5 Januari 2020. Bagi teman-teman yang ingin membaca cerpen tersebut, berikut saya tuliskan:


TULAH KEMARAU

Oleh: Marwita Oktaviana


Riak-riak mendung sedang marah dan jengah, tak mau bahkan hanya mampir sebentar meneduhkan. Sudah lebih dari sepuluh bulan. Matahari sedang kasmaran menjumpai bumi tanpa jeda meski hanya sehari. Panas membara. Aku sedang berjibaku mengipas-ngipas keringat yang mengucur deras saking panasnya. Di malam hari pun tak mau beranjak, bahkan lebih gerah dari siang hari. Tidur susah, bangun susah. Istriku sedang ngomel-ngomel karena anak balita kami rewel sedari sore. Ngantuk tapi tak bisa tidur. Sudah dua kipas angin yang dipasang untuk menyejukkan, tapi anginnya justru terasa panas. Anomali yang menjengkelkan. Mungkin saja jika ada AC kamar akan lebih nyaman. Apalah daya penghasilanku sebagai buruh tani tak seberapa, untuk makan saja kadang masih hutang tetangga.


Karena risih aku beranjak dari pembaringan, mengambil tikar pandan dan beberapa bantal. Lantas dengan sigap tikar telah tergelar di halaman depan. Anakku kupindahkan dari gendongan ibunya ke atas tikar pandan, sesekali aku kipasi dengan kipas bambu. Mungkin saja di luar ada angin jadi lebih segar.


Semenjak panen semangka berakhir, otomatis penghasilanku sebagai buruh tani pun habis masa. Sepanjang hari hanya ongkang-ongkang kaki tanpa pekerjaan dan penghasilan. Untung saja upah panen semangka masih bersisa meski sedikit, jadi dapur masih bisa mengepul. Kadang aku banting setir jadi buruh bangunan, kadang jadi buruh angkut di pasar. Apa saja asal menghasilkan sambil menunggu hujan datang dan musim panen padi akan mengembalikan statusku menjadi buruh tani. Tapi hujan bahkan enggan bertandang.


Sebenarnya sawah di daerahku bukan sawah tadah hujan seratus persen. Adakalanya para petani mengalirkan air dari Bengawan Solo melalui saluran air jika intensitas hujan sedang rendah. Tanam padi di awal musim hujan dalam kondisi air yang masih sedikit disiasati dengan menanam langsung butir-butir padi tanpa melalui proses tampekan atau pembuatan wineh, bibit padi yang berumur kurang lebih tiga minggu sampai 1 bulan yang dicabut untuk ditanam di sawah. Tapi jangankan untuk icir pari, untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit sekali air didapat.


Beberapa bulan ini banyak buruh tani yang alih profesi menjajakan air dalam tandon besar ke pemukiman-pemukiman penduduk akibat langkanya air. Mereka harus merogoh kocek sampai seratus ribu per tandon yang cukup digunakan hanya untuk tiga hari saja. Bayangkan berapa banyak uang yang harus mereka habiskan hanya untuk membeli air. Uang sebanyak itu harusnya bisa dipakai untuk kebutuhan lain, kalau saja hujan sudah turun dan air mudah di dapat.


Dulu di masa-masa kemarau seperti ini, diesel-diesel besar dinyalakan di pinggir Bengawan Solo. Siap mengalirkan air ke seluruh pelosok melalui saluran air dan warga bebas menggunakan untuk mencuci atau mandi. Itu adalah saat panen kerukunan antar warga. Mereka berbondong-bondong tiap pagi dan sore menenteng cucian dan sabun mandi. Mencuci dan mandi bersama sambil bercengkrama. Anak-anak kecil bermain tanpa tahu waktu, berenang dan berloncatan sepanjang hari. Sampai kulit mereka penuh lumpur dan berlumut. Tak jarang para orang tua datang dan menjewer telinga anak-anak mereka yang tak kunjung pulang saat bermain di saluran air. Bagi anak kecil, saluran air dengan air yang mengalir adalah surga.


Petani-petani pun berdendang menyanyikan lagu riang, saat perlahan sawah mereka terisi air dan padi siap ditanam. Kami para buruh pun senang. Musim tanam tiba, uangpun di tangan. Tapi kondisi kali ini berbeda. Biasanya mereka yang tinggal di kota-kota yang dilewati Bengawan Solo akan mengeluh karena meluapnya sungai akibat hujan yang meluber ke kawasan perumahan mereka. Tapi kini itu tinggal mimpi. Sejak hujan tak mau bertandang Bengawan Solo kering kerontang.


Selama 34 tahun aku hidup, sekali pun belum pernah kujumpai Bengawan Solo yang mati. Hanya debit airnya saja yang berkurang saat musim kemarau, tapi masih bisa digunakan. Tapi tahun ini anomali itu terjadi. Di seluruh Jawa entah bagaimana tiba-tiba air yang ada di Bengawan Solo sirna. Hilang tanpa bekas, menyisakan kerak-kerak tanah yang gersang. Sungai tempat banyak nyawa menggantungkan diri tiba-tiba sat, lenyap. 


Kami para orangtua kelimpungan. Anak-anak kecil kegirangan. Mereka jadi punya tempat untuk sekedar bermain bola atau lari-larian. Tak perlu susah mencari lahan. Malah di salah satu desa di Lamongan, berkah dari keringnya Bengawan Solo dirasakan. Beberapa perahu baja yang biasa digunakan sebagai  moving bridge ditemukan. Dilansir perahu itu peninggalan sekutu yang digunakan untuk melucuti Jepang saat perang dunia II. Tapi berkah itu hanya sebentar dirasakan. Kekeringan memaksa kami memutar otak untuk bisa bertahan.


Para pemilik perusahaan air yang mengambil mata air Bengawan Solo pun gelagapan. Rumah-rumah warga yang menjadi langganan mereka akhirnya kekeringan. Luapan kemarahan warga ditumpahkan di depan kantor dengan garang. Para pengusaha itupun terdiam. Berdoa agar hujan lekas datang dan Bengawan Solo kembali berdendang.


Untungnya di depan rumah ibu ada satu sumur galian tua yang airnya tak putus-putus nyumber. Jadi aku tidak perlu beli air tandon yang dijual. Lambat laun para tetangga pindah lokasi bercengkrama. Dari saluran air ke depan rumahku dekat sumur. Berember-ember cucian dan berpuluh-puluh jerigen berjajar. Dalam hati sempat terpikir ini sumber uang baru yang potensial. Bisa saja aku menarik bayaran setiap kali mereka mencuci, mandi atau mengambil air dari sumur di depan rumah. Tapi aku tak mau nanti kena azab. Kalau aku nekat mungkin sumber air itu akan dihentikan oleh Tuhan. Sumur itu dibangun bapak untuk mengakomodasi kebutuhan berwudlu para calon jamaah sholat di langgar samping rumahku. Itu mungkin salah satu sebab sumber airnya tak pernah surut.


Kemarau panjang membingungkan banyak orang. Kami berbondong-bondong ke lapangan melakukan sholat istisqo, meminta hujan. Tidak hanya sekali, tapi entah kenapa hujan belum mau datang. Tak lama kulihat banyak sesajen yang dibakar di lapangan dan di sepanjang Bengawan Solo. Rupanya tingkat stres mereka sudah di atas rata-rata, sampai cara setan pun dipakai. Kalau saja mereka mau berpikir, Tuhan saja belum mau menurunkan hujan, apa kemudian setan bisa?


Aku terkantuk-kantuk dengan kipas bambu di tangan. Anakku sudah sedikit tenang dan mulai mengerjapkan mata mengantuk. Istriku sudah terlelap di seberang dengan satu tangan memeluk anakku. Uang di tabungan sudah menipis, entah harus kerja apa besok untuk mengepulkan dapur. Aku memandang sumur di depan rumah. Antrian jerigen masih mengular. Pikiran jahat muncul, kalau hujan tetap tak mau datang, kemungkinan besar sumur itu akan kugadaikan.


Demikian cerpen saya yang alhamdulillah bisa merasakan dimuat di media massa. Tentu saja saya sangat senang dan termotivasi untu lebih keras berusaha menciptakan cerpen-cerpen yang lain. Jangan lupa krisannya ya teman-teman.

Selasa, 09 Februari 2021

LOMBA CERPEN ULANG TAHUN GANDJELREL (Komunitas Blogger Semarang)

 


Kali ini saya mencoba mengikuti kompetisi lomba menulis cerpen yang diadakan oleh komunitas blogger Semarang @gandjelrel dalam rangka memperingati hari jadinya. Tema yang dipakai untuk lomba cerpen kali ini adalah "Ulang Tahun" karena memang didedikasikan untuk memperingati hari jadi GanjelRel.

Alasan saya mengikuti lomba cerpen yang diadakan oleh Gandjel Rel adalah:
  1. Untuk memeriahkan hari jadi Gandjel Rel, meski bukan orang Semarang tapi saya termasuk penggemar lumpia dan tahu bakso khas Semarang. Nah lo kan jadi ngelantur 😅
  2. Mengasah ketrampilan menulis tentunya. Semakin banyak berlatih semakin bagus nanti tulisannya, ya kan?
  3. Belajar ngeblog biar makin mahir. 
  4. Berharap menjadi pemenang pastinya ya. Yang penting usaha dulu kan, bagaimana hasilnya serahkan pada Sang Pemilik Hidup 😀

Berikut cerpen yang saya buat untuk lomba kali ini. Selamat membaca.

KADO YANG DIRINDUKAN

Oleh: Marwita Oktaviana

 

Kawi Sekar

Gones Sekar pepundhen Sri Kresna

Lir puspita warnane kusumeng pura1

 

Tembang sekar mulya mengalun mengiringi malam yang semakin pekat tak terbendung. Gemintang tengah pendar bersinar namun di dalam sebuah ruang ada kepedihan yang melingkupi tak terhadang.

 

Lintang gamang, dalam genggaman tangannya sebuah foto usang menampakkan seraut wajah perempuan dengan sanggul di kepala. Tersenyum dengan pandangan mata membius. Cantik. Pelan-pelan ada airmata mengalir di pipi tanpa dia sadari. Mata sayu itu menampakkan riak hati yang coba dia sembunyikan.

 

Waktu berlalu tanpa disadari. Sudah satu jam Lintang terpaku menatap foto perempuan bersanggul itu. Mungkin inilah sakit yang paling sakit, terkurung dalam badai yang terus merongrong hati. Cinta, tak cinta, kebingungan melingkupi hari-harinya

 

Nduk wes dalu, ndang turu!2

 

Simbok3 mengelus  pucuk kepala Lintang penuh sayang. Lintang mendesah dan menaruh foto itu di atas meja kecil di samping tempat tidur. Simbok tak luput melihat wajah perempuan di foto yang coba Lintang sembunyikan.

 

Wes to Cah Ayu, ojo mikir jeru, uripmu lakoni tansah becik, Gusti Allah ora sare3

 

Lintang memeluk simbok erat sekedar sebagai penguat. Perempuan dalam pelukannya adalah sumber kebahagiaan. Dia yang bukan siapa-siapa tapi mau merawatnya semenjak bayi hingga kini. Sudah seperti ibu sendiri, bahkan lebih

 

***

 

Tembang Ratna Mulya berlaras slendro memenuhi aula. Puluhan penari sedang melenggak-lenggokkan tubuhnya mengikuti irama. Lintang salah satunya. Sebagai penari adalah sebuah jalan menuju tujuan yang lama dia pendam. Ini adalah jalan agar kebingungan dalam hatinya bisa sedikit terobati.

 

Sebentar lagi pagelaran sakral akan digubah di Sasana Sewaka. Raja baru akan dinobatkan sebagai penerus tahta. Keraton sibuk dengan berbagai persiapan. Saat itulah Bedhaya Ketawang dimainkan di depan raja sebagai persembahan.

 

***

 

Lintang sedang menggulung selendang yang dipakainya berlatih. Senja telah berdiam di langit barat. Keringat yang menutupi wajah Lintang justru memancarkan kehangatan. Sudah banyak sekali lelaki yang meminta bersanding, namun tak pernah ditanggapi olehnya. Ada tujuan besar yang harus dia tuntaskan sebelum bisa berfikir untuk hidupya sendiri.

 

Mbok sampun sore, mboten wangsul to?4

 

Lintang menghampiri simbok yang masih sibuk membereskan dapur. Sambil menunggu dia ikut membantu meletakkan berbagai peralatan masak dan makan di tempatnya. Mereka pulang bersama.

 

Wes siap kanggo sesuk Nduk?5

 

Lintang mengangguk mantap. Bertahun-tahun sudah dia berlatih untuk dapat menarikan Bedhaya Ketawang dengan luwes dan penuh penghayatan. Tarian itu memang berkisah tentang jalinan asmara Nyai Ratu Kidul dengan Sultan Agung, tapi bagi Lintang itu adalah dialog cinta yang ingin dia sampaikan pada seseorang.

 

***

 

Riuh Sasana Sewaka mengalihkan Lintang dari lamunan. Seorang teman tergopoh-gopoh menghampirinya dengan senyum sumringah.

 

“Kita berhasil Lintang”.

 

Rona bahagia tak bisa hilang di wajah dua orang teman itu. Mereka terpilih sebagai anggota dari sembilan penari yang akan memainkan Bedhaya Ketawang di depan raja. Satu langkah sudah digenggam.

 

Esoknya Lintang mulai berpuasa mutih sebagai syarat ritual untuk melancarkan pagelaran. Dia tidak perlu khawatir akan datangnya haid, Lintang masih akan suci pada hari pertunjukan nanti, kalau tidak dia harus melaksanakan caos dhahar6 sebagai syarat bisa tampil di Sasana Sewaka.

***

Sembilan penari telah bersiap. Lintang menunduk dalam, mencoba meredam segala gemuruh yang mengusik dada.

 

Tenangno atimu Nduk!7

 

Simbok menepuk-nepuk pelan pundak Lintang. Perempuan paruh baya itu tahu bagaimana gejolak di hati putri semata wayangnya.

 

Lintang berada paling utara. Sebagai penari buncit8 sehingga sosoknya akan terlihat paling akhir ketika pertunjukan berlangsung. Sudah sehari semalam kesembilan penari menjalani pingitan di Gedhong Budaya dan dirias hingga malih rupa.

 

Tembang Durma sedang mengalun ketika Lintang menatap langsung perempuan di depannya. Sang ratu. Wajah itu begitu anggun menampakkan kecantikan paripurna meski usia telah lebih dari paruh baya. Wajah itu serupa dirinya dalam gurat usia. Perempuan dalam foto menjelma semacam fatamorgana. Sungguh dekat tapi tak tergapai, betapapun ingin Lintang memeluk meski hanya sekejap.

 

Perempuan itu yang mengandung dan melahirkannya ke dunia, tapi takdir merampas hak untuk hidup bersama. Hari ini tepat di hari Lintang lahir. Perayaan ulang tahun yang bersamaan dengan Tingalan Jumenengan9 dirayakan seluruh rakyat Kasunanan. Berkah melimpah diperoleh Lintang

 

Menatap wajah itu dalam jarak sepenggalan adalah hadiah yang diidamkan Lintang sejak kanak-kanak. Cukup bisa menatap tak lebih, tak kurang. Karena dia tahu tak mungkin untuk mereka bersama. Lintang hanyalah anak haram yang dilupakan.

 

Nduk ayo”

 

Simbok menuntun Lintang meninggalkan Sasana Sewaka dengan airmata. Cinta itu bukan hanya tumbuh dari seorang ibu, bagi simbok Lintang adalah hidupnya. Cintanya telah mampu melebihi cinta sang ibu kandung yang tak pernah dia rasakan.

 

Lintang tersenyum menatap simboknya. Ada cinta meluap yang hanya bisa dia pendam, tak cukup dengan kata-kata. Kepada perempuan itu terima kasih tak terhingga dia berikan.

 **********************************************************************************

Kawi Sekar

Gones Sekar pepundhen Sri Kresna

Lir puspita warnane kusumeng pura1, Jawa, Lirik tembang sekar mulya

 Nduk wes dalu, ndang turu!2, Jawa, “Nak sudah malam, tidak tidur?”

 Simbok3, Jawa, Panggilan untuk ibu

 Wes to Cah Ayu, ojo mikir jeru, uripmu lakoni tansah becik, Gusti Allah ora sare3”, Jawa, “Sudahlah anak cantik, jangan terlalu dipikirkan, Jalani hidupmu dengan baik, Allah tidak tidur”

 Mbok sampun sore, mboten wangsul to?4”, Jawa, “Bu sudah sore, tidak pulang?”

 Wes siap kanggo sesuk Nduk?5”, Jawa, “Sudah siap untuk besok, Nak?”

 caos dhahar6, Jawa, Menyiapkan makanan/sesaji lengkap untuk Kanjeng Nyi Ratu Kidul

 Tenangno atimu Nduk!7”, Jawa, “Tenangkan hatimu Nak”

 Buncit8, Jawa, Paling akhir.

 Tingalan Jumenengan9, Jawa, Peringatan kenaikan tahta Sultan.

 Semoga teman-teman menikmaticerita yang saya tulis untuk lomba cerpen Gandjel Rel kali ini. Kritik dan saran pastinya saya tunggu agar lebih baik ke depannya. Terima kasih, sampai jumpa di postingan berikutnya.

Cerita ini adalah fiksi yang diikutsertakan dalam Lomba Blog Menulis Fiksi “Ulang Tahun” yang diselenggarakan oleh Komunitas BloggerSemarang Gandjel Rel

Poster Lomba Cerpn GandjelRel



#LombaCerpenUltahGR