Halaman

Tampilkan postingan dengan label REVIEW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REVIEW. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Agustus 2021

KASUR TANAH, SEBUAH KRITIK SASTRA CERPEN KARYA MUNA MASYARI

Kasur tanah, sebuah kritik sastra

Sebuah karya sastra selalu memberikan stimulus yang tidak bisa diabaikan oleh banyak orang. Bukan hanya oleh penikmat sastra sendiri, tetapi juga masyarakat umum meskipun sangat awam dengan dunia kesusastraan. Cerpen memiliki sebuah ikatan khusus bagi saya di beberapa waktu ke belakang. Membaca cerpen memberikan sebuah ekstase tersendiri. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari sebuah cerita pendek. Bagaimana penulis menciptakan tokoh, memutar otak untuk membuat konflik, dan menutupnya dengan sebuah closing yang memukau.

Senin, 02 Agustus 2021

KETIKA CINTA TERALU EGOIS (Review Cerpen Cinta di Atas Perahu Cadik Karya Seno Gumirah Ajidarma)

Review Cinta di Atas Perahu Cadik

Membaca cerpen-cerpen media menjadi sebuah keasyikan baru bagi saya sejak, kapan ya...mungkin sejak saya bergabung di salah satu komunitas menulis yang memiliki kelas tembus media. Ada salah satu tugas yang mengharuskan kami, para anggota untuk membuat cerpen lalu mengirimkannya ke media. Karena ingin menembus media itu jadi saya riset dengan banyak-banyak membaca cerpen media di lakonhidup.com. Dari aktivitas membaca itu harapannya saya bisa mendapat ide tulisan, mengerti bagaimana karakter cerpen media, bagaimana penulisannya dan sebagainya. Karena saya bukanlah jenius di bidang tulis menulis seperti Faisal Odang, atau Muna Masyari, atau Seno Gumirah Ajidarma yang cerpennya akan saya review disini dimana cerpen-cerpennya sudah banyak menghiasi media.

Selasa, 06 April 2021

NORWEGIAN WOOD : DEPRESI DAN ANXIETY HISTERIA PADA TOKOH-TOKOHNYA

"Kematian bukan lawan dari kehidupan, tetapi ada sebagai bagiannya"- Toru Watanabe

 Membaca Norwegian Wood karya Haruki Murakami membuat saya merasakan sebuah emosi asing yang belum pernah saya alami sebelumnya. Kisah yang begitu suram menyangkut psikologis tokoh-tokoh di dalamnya. Saya sendiri menilai Haruki Murakami sangat piawai menciptakan tokoh. Begitu alami sekaligus rumit. Sisi psikologis tokoh selalu mampu dijabarkan dengan sudut pandang yang sangat unik. Digambarkan dengan sangat kuat dan akurat, tokoh-tokoh itu seakan mewujud nyata di sekeliling kita.

tentang depresi dan anxiety histeria yang menyerang warga jepang


Saya sendiri merasa gelap sekali saat membaca buku ini. Apa benar di masa itu masyarakat Jepang sudah seperti yang digambarkan dalam buku. Murakami menulis buku ini di tahun 1987 dengan judul asli Noruwei No Mori kemudian diterjemahkan dalam bahasa inggris pertama kali pada tahun 2000. Saya melihat genre novel ini lebih ke coming-of-age yaitu sebuah genre yang mengupas perkembangan moral dan psikologis tokoh dari muda menuju dewasa. Toru Watanabe, sang tokoh utama mengalami kejadian-kejadian yang pasti mempengaruhi perkembangan psikologisnya dari umur 19 tahun saat cerita bermula hingga 20 tahun kemudian, yaitu ketika dia berusia 39 tahun.

Kamis, 11 Maret 2021

HUJAN MATAHARI : SEBUAH REVIEW KARYA KURNIAWAN GUNADI

 Bagaimana kalian menafsirkan Hujan? atau Matahari? atau Hujan Matahari?

Ada banyak orang yang mencintai hujan, seperti saya salah satunya. Hujan yang basah, hujan yang sejuk dalam kungkungan mendung. Rela menunggu berbulan-bulan hingga ia datang. Sekedar mencumbui kaki-kaki hujan yang lancip itu menerpa wajah tengadah, atau kaki-kaki yang lincah berlari diantara genangan, atau cukup diam dan menikmati aliran air hujan itu jatuh dan memagari tubuh yang letih. Tapi bahkan banyak juga yang tidak menyukai hujan, dengan berbagai alasan. Hujan selalu menjadi alasan ketika melankolis itu tiba-tiba hinggap dan mampu menciptakan ribuan kata-kata bak pujangga sekaliber dunia.

Tapi ada pula yang begitu mencintai matahari. Dia yang terik, menghangatkan bumi dan menyinari hingga sudut-sudut. Dia yang membuat kita pontang-panting berteduh dari teriknya, entah di selasar, atau bawah pohon rindang. Tapi bukankah hujan pun melakukan itu. Saat usia mencederai masa, dimana kita seakan malu jika harus berhujan-hujan. Seperti anak kecil saja, katamu. Padahal bercumbu dengan hujan adalah saat yang paling dinantikan. Ketika dewasa hujan membawa kaki-kaki berlari di bawah atap-atap toko, berteduh. Dari basahnya, dari hangatnya.

Ketika hujan datang saat matahari terik, bukankah itu sebuah keindahan. Pelangi yang lahir dari tetes-tetes air yang mampu memecah putih dalam berbagai warna indah. Bukankah ketika itu bidadari turun dari langit untuk menjumpai bumi?

Review buku cerita dan prosa kurniawan gunadi

"Setiap harapan akan menimbulkan doa"

Hujan Matahari adalah buku pertama karya Kurniawan Gunadi yang dirangkum dari tulisan-tulisan yang dia buat di blog. Berisi berbagai cerita dan juga prosa tentang kehidupan sehari-hari, ikatan cinta yang islami dan juga nasehat orang tua pada anaknya. Membaca Hujan Matahari hampir sama rasanya dengan membaca karya-karya Kurniawan Gunadi yang lain, Lautan Langit Misalnya.

Buku ini terdiri dari empat bagian yang terinspirasi dari perpaduan hujan dan matahari dimana keduanya adalah sebuah sebab akibat dan saling bergantung satu sama lain.

Empat bagian Hujan Matahari karya Kurniawan Gunadi

  • Sebelum hujan
  • Gerimis
  • Hujan
  • Reda
Dari cerita-cerita pendek di buku ini pembaca sengaja diajak untuk merenung, terhadap setiap kejadian yang dialami saat hidup, sesederhana apapun itu. Selalu ada hikmah yang bisa diambil dan dijadikan pelajaran. Seperti masa lalu yang tidak akan mungkin bisa terulang, namun kita bisa menjadikannya pijakan berupa pembelajaran agar di masa depan bisa melangkah lebih baik lagi, dan lagi.

Ada banyak sekali pesan yang bisa diambil dari cerita-cerita pendek di buku Hujan Matahari ini. Kurniawan Gunadi mahir sekali menyelipkan pesan-pesan itu tanpa menggurui. Dan cerita-cerita di dalamnya sangat sesuai dengan kondisi saat ini dimana banyak orang yang berharap pada cinta, mencintai dan dicintai.

Pesan yang bisa diambil dari buku Hujan Matahari Karya Kurniawan Gunadi

  • Seorang laki-laki ibarat layang-layang dan perempuan adalah benang. Laki-laki tidak akan menjadi apa-apa tanpa perempuan. Maka jadilah perempuan yang tangguh sebagai benang agar layang-layang mampu terbang tinggi tanpa putus atau terbawa angin kencang.
  • Laki-laki itu pengembara, perempuan adalah tempat tinggal, maka laki-laki akan menetap saat dia temukan rumah untuk tinggal, yaitu pernikahan. Jadilah perempuan yang pantas untuk ditinggali agar laki-laki tidak pergi.
  • Laki-laki memiliki insting untuk melindungi, perempuan memiliki insting untuk ingin dilindungi semandiri apapun dia. Maka laki-laki akan kuat ketika ada perempuan. Dia akan berusaha semampunya untuk bisa melindungi, seperti fitrahnya.
  • Cinta antara dua orang seperti energi dan potensi. Saat mampu bersinergi maka akan melipatgandakan energi hingga tak berbatas. Bukan cinta yang saling meniadakan, saling menjatuhkan.
  • dan masih banyak lagi pesan-pesan di buku ini.
Bagi teman-teman yang suka membaca buku dengan cerita-cerita pendek atau prosa saya yakin sekali buku ini sangat cocok untuk kalian. Banyak pelajaran yang bisa diambil dan dimaknai meski dari hal-hal sederhana sekalipun.

Selamat membaca temans

Judul    : Hujan Matahari
Penulis    : Kurniawan Gunadi
Ilustrator    : Ardyaksa Amy
Layouter    : Monika Paramitha, Sari A. Rahmawati
Penerbit    : Canting Press
ISBN    : 978-602-19048-1-7
Ukuran    : 14 x 20 cm, 206 halaman   










Kamis, 04 Maret 2021

L : SEKUMPULAN PUISI BY LINARA

"A

Angkasa tahu

Anganku menujumu

Aspirasiku adalah bahagiamu"


(L by Linara)


Saya menerima buku ini di pagi setiba di sekolah. Bahkan belum ada satu pun murid yang datang. Buku ini sudah saya tunggu sangat lama. Bukan apa-apa, saya kenal baik dengan kak Linara sang penulis. Tahu benar bagaimana hebatnya beliau merangkai kata-kata dalam puisi. Sudah dua buku antologi saya kerjakan dengan beliau (Move Off dan Move On), dan semua tulisannya memang membuat saya terpikat.

Semenjak lama saya sudah rewel bilang ingin sekali memeluk buku solo karya kak Linara. Tapi butuh waktu dua tahun ternyata sampai penantian saya akhirnya membuahkan hasil.


Sekumpulan puisi karya Linara


Buku ini adalah masterpiece, sebuah potret perjalanan yang dipigura dalam jalinan kata-kata mesra.

Terdiri dari lima bab, buku ini merangkum dengan sangat apik karya-karya beliau. L adalah belitan sepasang zarah yang bermesra dan menjadikannya kosakata bernyawa.

Lima pilar L

  1. Angka
  2. Abjad
  3. Kata Kelana
  4. Dalam Hitungan
  5. Sama Dengan
Saya sendiri membaca buku ini terkaget-kaget, bagaimana bisa menyuarakan angka dengan sangat unik namun mengena. Lalu abjad yang disusun semacam mozaik yang mampu menghiasi hati saya dengan keping-keping rasa yang...entahlah, saya sendiri bingung menjabarkan bagaimana perasaan saya membaca buku ini. Kak Linara benar-benar memusatkan seluruh fokus dan waktunya menyelesaikan buku ini. Dan effort yang beliau keluarkan saya pikir sangat sepadan dengan hasilnya.

Dengan desain sampul yang minimalis namun sangat elegan, menggambarkan L dari jalinan angka dan objek-objek yang sesuai saya pikir akan mampu membius pembaca untuk segera meminangnya.

Buku ini sangat layak menghuni sudut buku di sebuah rumah. Ikut meramaikan literasi dan semoga mampu menstimulus masyarakat untuk gemar membaca. Saya sendiri akhirnya justru semakin ingin menikmati hasil karya beliau yang lain. Bagaimana kak Lin, siap menerbitkan karya baru lagi?

Judul : L
Penulis : Linara
Penerbit : One Peach Media
Ilustrator : @opm_design
Cetakan pertama : 2021
ISBN : 978-623-6096-10-9
Jumlah halaman : 106


Rabu, 03 Maret 2021

PUTHUT EA : ISYARAT CINTA YANG KERAS KEPALA

Cerpen membawa saya harus jungkir balik mengejar ketertinggalan. Semenjak belia saya memang sudah kepincut dengan sastra. Hanya sebagai pembaca. Tapi kehidupan saya menjadi berubah sejak mengenal dunia tulis-menulis beberapa tahun ke belakang. Tertatih-tatih mencari pegangan untuk setiap karya dan tulisan yang saya buat.

Cerpen sendiri telah memberikan saya banyak hal, baik pelarajaran, teman, kompetisi dan penghargaan. Juga membawa nama saya menjadi salah satu pengisi rubrik di Jawa Pos.

"Seperti mereka, aku juga lelah, serba tergesa-gesa, tidak bahagia, dan tidak berguna"

Membaca Isyarat Cinta Yang Keras Kepala dari Puthut EA adalah salah satu cara saya untuk mengisi ilmu kembali. Sebagai acuan, dan bisa juga refleksi bagaimana nanti cerpen-cerpen baru saya tulis.

Kumpulan Cerpen Puthut EA



Buku ini termasuk karya lama dari Puthut EA. Terbit di tahun 2004 tapi baru saya miliki di tahun 2020. Alasannya lebih karena dulu saya lebih suka membaca buku-buku fiksi fantasi 😏 . Buku ini berisi 15 cerita pendek yang dirangkum menjadi satu dalam tema Isyarat Cinta Yang Keras Kepala. Ke-15 cerpen tersebut sebelumnya sudah pernah meramaikan berbagai media cetak sebelum dijadikan dalam satu buku.

Cerita-cerita seputar cinta dalam perspektif bermacam-macam digubah secara apik oleh beliau. Bagi yang suka cerita dengan banyak dialog di dalamnya siap-siap kecewa. Di buku ini Puthut EA sangat pelit menuliskan dialog. Narasi-narasi panjang semacam monolog sangat sering disajikan. Mungkin karena lulusan filsafat, Puthut EA membuat setiap cerita mengandung makna-makna yang harus digali dalam baru bisa ditemukan. Hal-hal remeh yang menjadi berat dan sangat sastra.

Cerpen dalam Isyarat Cinta Yang Keras Kepala

  1. Kamu, Ia, dan Kota Asing
  2. Anak Laki-Lakiku
  3. Pernikahan yang Hampa
  4. Rumah Hujan
  5. Empat Perempuan
  6. Sebuah Peristiwa Tentang Kematian
  7. Ruang Harapan yang Kembali Lengang
  8. Kitab Laknat : Mukadimah
  9. Gadis Kecil dan Perempuan yang Terluka
  10. Perempuan Tanpa Nama
  11. Isyarat Cinta yang Keras Kepala
  12. Cerita dari Lemari
  13. Orang Terakhir yang Ditunggu
  14. Seorang Pergi Mencari
  15. Tanpa Tanda Seru : Tiga Penggal Prosa-Lirik

Bagaimana penulis meramu cerpen-cerpennya? Dalam cerpen Empat Perempuan misalnya, Puthut menceritakan tentang 4 perempuan yang bekerja di satu tempat yang sama. Bersahabat namun mereka menyimpan rahasia-rahasia yang disimpan, tapi dalam cerpen itu dinarasikan oleh mereka masing-masing. Sesuatu yang sederhana seperti curhatan perempuan tapi ditulis dengan ringkas dan apik. Ada tamparan keras disajikan di lakon ke-empat dan membuat saya auto refleksi pada diri sendiri.

Gaya bercerita Puthut EA memang nyentrik seperti pada karya-karyanya yang lain. Bahkan di tulisan-tulisan non fiksi yang beliau buat pun tidak pakem pada kaidah-kaidah resmi. Selalu ada hal-hal nyeleneh yang dia singgung dan sampaikan pada mayarakat.

Seperti pada sampul buku yang dilukis dengan sederhana oleh Ega Fansuri. Seorang lelaki yang ingin menggapai sesuatu yang abstrak. Digambarkan sebagai tangan-tanga yang melingkup sebuah objek. Mungkin itu yang diartikan sebagai isyarat pada cinta, yang tidak setiap orang bisa membaca, atau menggapainya.

Buku ini sebenarnya sudah saya miliki sejak tahun 2020 lalu. Dan saya baca berulang-ulang saat sedang buntu dan butuh ide untuk membuat cerpen. Kali ini saya baca lagi ketika ada tantangan dari Reading Challenge dari ODOP. Membaca buku ini secara gamblang menambah referensi pada saya bagaimana menuliskan cerpen dari hal-hal sederhana menjadi sesuatu yang unik dan asyik. Dan juga bagaimana narasi panjang bisa menjadi penyelamat saat mengalami block menyusun dialog.

Cerpen-cerpen saya juga banyak didominasi narasi, ada seorang teman yang menjuluki saya sebagai penulis yang pelit dialog 😜. Jangan-jangan saya tertular mas Puthut EA ini. Oh iya favorit saya adalah Rumah Hujan, saya seperti diajak kembali menekuri buku Laut Bercerita milik Laila S. Chudori. Dan hujan adalah sesuatu yang saya suka dengan alasan yang tidak saya tahu.

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca, terutama bagi teman-teman yang sangat suka cerpen. Bisa menjadi referensi yang bagus juga untuk mulai menulis cerpen-cerpen baru.

Yang ingin memiliki bisa langsung DM penerbit Mojok.co dan mencari tahu karya-karya Puthut EA yang lain. Selamat membaca, mari giatkan literasi bangsa.

Judul : Isyarat Cinta yang keras Kepala
Penulis : Puthut EA
Penerbit : Mojok.co
Cetakan ke-4 : Tahun 2017
Ilustrator : Ega Fansuri
Layout : Azka Maula
Ukuran : 13 x 20 cm, 160 halaman
ISBN : 978-602-1318-56-0

Sabtu, 28 September 2019

REVIEW

Kali ini aku mau sedikit membahas dan me review salah satu buku yang pernah kubaca. Buku ini salah satu dari buku seri Supernova karya Dee. Dee itu salah satu penulis Indonesia favoritku. Tulisan-tulisannya apik, dengan diksi campuran, antara mudah dan sulit dimengerti membuatku dituntut berfikir untuk bisa memahami maksud tulisan Dee. Riset-riset yang dilakukan Dee untuk bukunya mendukung kualitas karya yang tercetak. Membuat kita mengetahui banyak hal dari membacanya. Bagiku Dee itu seperti penyihir. Bagaimana tidak, aku heran saja bagaimana dia bisa menciptakan kata-kata dan menghasilkan karya sebagus itu.

Sampai saat ini seri Supernova sudah sampai buku ke 6. Buku yang mau aku bahas ini adalah seri ke 2 dari Supernova. Tampilan bukunya di bawah ini.



Judul Buku         : Akar
Penulis                 : Dewi “Dee” Lestari Simangunsong
Penerbit              : Bentang Pustaka
ISBN                      : 978-602-291-053-4
Tebal buku         : 308 halaman
Jenis                      : Fiksi
Cetakan tahun  : 2014


Akar adalah buku kedua dari seri Supernova. Novel ini pertama kali terbit pada bulan Oktober 2002 kemudian mengalami beberapa kali cetak ulang. Ukuran novel ini dibuat sebagai buku saku, jadi mudah untuk dibawa kemana-mana. Desain sampul coner termasuk simple dengan gambar simbol akar sebagai fokus utama berlatar gambar vihara dan naga terbang. Dengan gradasi warma hitam dan orange.

Novel ini bercerita tentang perjalanan Bodhi Liong, seorang anak yatim piatu yang ditemukan di depan vihara yang kemudian diasuh oleh biksu Liong mencari kesejatian diri. Bodhi Liong adalah seorang yang kurus berkepala gundul, dimana di kepalanya ada susunan tulang seperti tulang belakang yang membelah mulai puncak dahi dan menghilang di pangkal tulang leher. Perjalanan pencarian jati diri Bodhi merambah mulai Belawan, Bangkok, Laos, Golden Triangle, Kamboja, dan Bandung. Bertemu dengan beberapa orang seperti Kell dan Star yang membuka jalan untuk Bodhi menemukan jati diri. Novel ini diakhiri dengan ditemukannya surat untuk akar oleh Bodhi di salah satu warnet di Bandung dari pengirim yang mengaku bernama Supernova.

Alur novel ini adalah alur campuran. Dimana novel dibagi dalam 3 keping, yaitu keping 34, 35, dan 36. Keping 34 menceritakan tentang serpihan novel seri berikutnya dengan tokoh Gio Alvarado yang diceritakan dengan alur maju. Kemudian keping 35 menceritakan kisah Bodhi Liong dengan alur maju dan mundur. Dan terakhir keping 36 diceritakan dengan alur yang sangat kompleks.

Diksi yang digunakan dalam novel ini relatif mudah dimengerti oleh pembaca, karena tidak terlalu rumit, namun tidak pula terlalu sederhana. Pembaca akan mudah mencerna cerita dalam novel ini. Dari segi penulisan juga sangat baik dan tertata rapi. Yang menjadi kelebihan novel ini adalah adanya footnote yang memudahkan pembaca memahami istilah atau bahasa asing.

Nah itu hasil review ku tentang Akar. Secara keseluruhan aku selalu menyukai semua tulisan dari Dee. Karena fresh, scientific, dan membuat candu. Saat ini aku sangat menunggu adanya buku ke 7 seri Supernova sebagai kelanjutan dari buku Intelegensi Embun Pagi.