Sabtu, 28 September 2019

KEPEL

Diantara jejak-jejak durhaka
Kulepas peluk erat atasmu di sana
Bukan,
Bukan aku lupa
Di hati ini masih tertulis nama
Bukan siapa-siapa
Tetap kamu sebagai raja

Tunggu
Tunggu aku di singgasana
Biar kurekat rindu yang menjura
Di balik waktu-waktu terpenjara
Usah kau buang nafas percuma
Tunggu datangku sebagai tera
Nanti, setelah embun menetas di kebun pagi yang fana

***
Kepel memandang kembali Paringga Nabastala dari kerling matanya. Disapukan seluruh netranya, meresapi semua. Pepohonan yang rapat melindunginya. Binatang yang menjadi sahabatnya. Putik-putik bunga yang senantiasa menyayikan kidung surga untuknya. Aroma mistis hutan yang membiusnya. Di dekatinya pohon beringin tua tempatnya bermula. Diusapnya lembut dahan-dahan yang kokoh menjadi sandaran baginya. Pelan, dibisikkan sebuah pesan, lewat goresan-goresan lama tempatnya mendamba. Pesan untuk selalu menjaga ayah dan ibunya, serta seluruh isi Paringga Nabastala. Serta sebuah isyarat akan perginya Kepel dari sana.

Sungguh berat bagi Kepel untuk pergi. Seluruh hidupnya ada di sana. Diantara semua makhluk hutan yang menjaganya. Namun dia harus pergi. Cinta yang dia miliki untuk seorang lelaki memaksanya meninggalkan tempatnya yang nyaman. Kepel akan pergi untuk mencari kembali suami yang sengaja dia usir dari hutan. Kepel tahu tidak akan mudah. Baginya dunia luar adalah liar. Dia tak tahu akan seperti apa. Tapi dibulatkan tekadnya. Sulit baginya untuk kembali menikmati hari-hari sendiri.

Perlahan diusapkannya jemari di atas pusara ayah dan ibunya. Meminta restu untukny pergi dengan kesadaran pasti mungkin tanpa kembali. Dilanggamkan doa untuk kebaikan seluruh Paringga Nabastala. Lalu Kepel mulai beranjak. Menyusuri jejak yang ditinggalkan suami yang dia cintai. Kepel sangat yakin butirah gabah yang tersebar memanjang sengaja suaminya tinggalkan untuknya. Sebagai jalan untuk mereka dapat bertemu kembali.
***
Kepel mendongak menatap barisan burung yang mengarak di atasnya. Sebuah tanda perpisahan yang coba mereka berikan. Kicau bersahut-sahutan menggemparkan alam. Bahkan pepohonan pun tak mau kalah. Menundukkan rantingnya menyentuh sedikit Kepel sebagai doa. Kelopak-kelopak bunga melayang mengikuti di belakangnya dalam balutan angin yang menggila. Semua bersedih. Kepel adalah pusat Paringga Nabastala. Tanpanya hanya akan ada hampa. Sejenak Kepel menunduk, menitikkan setetes airmata tanda duka. Meresapi segala yang dia punya, di sini.

Lalu dengan mantap delangkahkan kembali langkahnya menuju barisan pohon pembatas untuk dapat keluar dari Paringga Nabastala. Memulai menapak dunia asing yang belum pernah dia temui.

Dari kejauhan sesosok rusa menatap tak berkedip kepergian tuannya. Bukan, bukan dia tak mau mengantar, tapi janji untuk tetap tinggal memaksanya menahan derita berpisah dengan Kepel. Suatu saat nanti rusa itu yakin akan bisa kembali bersama. Tidak hanya berdua tapi akan ada mereka-mereka yang lain bersamanya. Nanti, saat embun membasuh di kebun pagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar