Sabtu, 28 September 2019

PEREMPUAN DI BALE BAMBU

Kujumpai lagi dia. Perempuan tua yang selalu duduk di bale bambu setiap pagi dan sore. Dengan pakaian yang menurutku tidak layak pakai. Dan dandanan kumuh yang tak sedap dipandang mata. Aku baru tahu kalau perempuan itu bukan gelandangan. Dia punya rumah tinggal. Rumah di depan bale bambu tempatnya duduk setiap pagi dan sore. Pernah kujumpai seorang laki-laki tua dan seorang lagi berumur dewasa di dalam rumah itu. Tapi  kenapa perempuan tua itu seperti tak terurus?.

Kadang karena seringnya aku lewat di depannya saat pagi dan sore, sekedar menyapa. Dia memanggilku dengan lambaian tangannya. Karena penasaran kudekati dia. Ternyata dia minta sedikit makanan untuknya sarapan. Aku heran bukannya di rumah ada yang bisa memasak untuk makan. Pun perempuan itu juga terlihat masih kuat untuk sekedar memasak. Dia jawab di rumah hanya ada nasi tanpa lauk. Akhirnya aku kembali ke rumah untuk membungkus makanan dan kuantarkan kepadanya. Kejadian itu terjadi tidak hanya sekali, berkali-kali. Aku sebenarnya santai saja. Kuanggap sedekah. Namun tetangga kiri kanan mulai  jengah dengan kejadian itu.

Suatu pagi seorang ibu tetangga samping rumahku bercerita bahwa perempuan itu memiliki banyak anak. Laki-laki semua. Yang sulung tergolong mampu bagi sebagian tetangga, dia tinggal tak jauh dari rumah orangtuanya. Yang tinggal di rumah perempuan tua itu suami dan anak keduanya yang masih bujang. Aku heran, kenapa kalau anaknya mampu ibunya dibiarkan tak terurus seperti itu. Apalagi anak laki-laki masih memiliki kewajiban untuk menafkahi dan merawat ibunya. Kata tetanggaku memang perempuan itu sedikit malas. Tapi dia juga bilang kalau perempuan itu tak akur dengan menantunya. Aku menghela nafas mendengarnya.

Jujur aku iba pada perempuan itu. Kenapa di masa tuanya dia harus merasakan diabaikan oleh anak-anak yang seharusnya merawatnya dengan baik. Juga sedikit menyalahkan anak-anaknya, kenapa tidak sedikit menyisihkan waktu untuk sedikit merawat ibunya. Tapi aku tak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Karena memang aku baru saja pindah ke lokasi ini sebulan yang lalu. Maka aku hanya bisa diam saja, dan sesekali membawakan bungkusan makanan untuk dimakan perempuan tua itu bersama suaminya.
***
Kenyataan tentang perempuan itu kuperoleh malah dari ibu mertuaku. Cerita tentang kenapa di masa tuanya dia seperti tak dianggap, tak diperhatikan oleh mereka, anak-anaknya. Bahwa dulu sewaktu muda, perempuan tua itu tak pernah merawat anak-anaknya. Pagi sekali sudah berdandan rapi lalu pergi ke pasar untuk memamerkan diri. Di rumah anak-anaknya dirawat oleh suaminya. Sedari pagi, memasak, membersihkan rumah, memandikan dan menyuapi anak-anaknya sebelum berangkat ke sawah. Perempuan tua itu tidak pernah memperhatikan suami dan anak-anaknya. Bahkan saat suaminya pergi merantau ke luar negeri, perempuan tua itu malah berselingkuh dengan tetangganya. Tak mau peduli tentang yang lainnya, yang penting dia bahagia. Itulah sebabnya kenapa di masa tuanya kini tak ada anak yang mau merawatnya.

Mau tidak mau aku jadi percaya bahwa apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Menjadikan pelajaran juga bagiku untuk senantiasa menyayangi dan merawat suami dan anak-anakku. Semampuku. Memberikan mereka cinta berlimpah agar nanti cinta itu kembali padaku pada saatnya. Bukan mau pamrih, hanya mengajarkan kasih kepada mereka sebagai penerus kita. Agar nanti dunia berwarna dengan cinta yang mereka tera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar