Sabtu, 28 September 2019

SORE YANG PEDIH


Suara bel sepeda terdengar nyaring sekali. Aku yang hendak melangkah sejenak mengistirahatkan tubuhku di kamar berbalik arah ke depan, melihat siapa yang datang. Ternyata kelima kawanku, Doni, Ari, Bayu, Toriq, dan Sasa sudah di depan rumah di atas sepedanya masing-masing.

“Ar, ayo ikut, kita mau main bola di lapangan desa. Ada sparring sama desa sebelah. Yang lain sudah siap di lapangan”, Bayu berteriak saat melihat wajahku mengintip di pintu depan.

“Tunggu aku ambil sepatu dulu”, segera aku beranjak ke belakang, mengambil sepatu dan pamit pada ibu yang sedang menjemur pakaian.

Tak lebih dari sepuluh menit kami sampai, lapangan sudah terlihat penuh. Meski hanya sebatas tanding antar desa tapi selalu ramai penonton. Tak kalah dengan pertandingan profesional. Aku biasa bermain sebagai deffender.

Pertandingan kami menangkan dengan telak. Kepiawaianku menahan serangan lawan dikombinasi dengan skill Bayu sebagai penyerang membuahkan hasil memuaskan. 3-0 kami kantongi. Euforia kemanangan memenuhi atmosfer lapangan. Aku dan teman-temanku diarak bagai pahlawan.

Selepas perayaan singkat itu. Aku dan kawan-kawanku masih bercengkrama di lapangan. Sampai penonton bubar menyisakan lapangan yang lengang.

“Belum petang nih, gimana kalau kita mandi dulu di sungai, sambil main-main nunggu maghrib”, Bayu yang sedari tadi berbaring tiba-tiba berdiri dan mengibaskan pantat yang penuh dengan rumput kering.

“Aku capek banget Bay, nggak pulang aja?, lagian laper jiga habis tanding”, aku sebenarnya malas ke sungai. Kemarau membuat debit air sungai menurun drastis, tidak segar seperti biasa. Aku berniat pulang saja. Makan, mandi lalu berbaring sebentar menunggu maghrib.
Tapi Bayu tetap memaksa. Aku terpaksa mengikuti mereka menuju bibir sungai. Teman-temanku langsung masuk sungai dan berenang kesana kemari sambil bercanda. Aku masih malas untuk sekedar cuci kaki atau cuci muka. Kulangkahkan kakiku ke batu dekat sugai dan memanjatnya. Lalu kuluruskan kakiku sambil memandang teman-temanku yang sedang bergembira.

Aku terbangun kaget saat kudengar teriakan-teriakan dari sungai. Tak sengaja aku tertidur tadi. Angin sepoi-sepoi melenakanku. Entah berapa lama. Segera aku berdiri melihat apa yang terjadi. Di sungai ada Bayu dan Ari yang terlihat berenang ke tepi, selebihnya tidak ada orang. Mungkin teman yang lain sudah pada pulang. Aku sempat bingung kenapa juga Bayu teriak-teriak, sambil melambai-lambaikan tangannya lagi. Kubalas dengan lambaian tangan pula. Sampai kusadari ada yang aneh dri Bayu. Kuperhatikan dia tak lagi berenang, hanya menggapai-gapai tak jelas.

Langsung aku berlari dan masuk ke sungai. Gelagat Bayu kukenal jelas dalam memori. Adik kandungku pernah seperti itu waktu dia hampir tenggelam di kolam renang dekat rumah nenekku. Serabutan berenang, kuhampiri Bayu. Memegang kuat tangannya untuk kuseret ke tepi. Namun karena paniknya, Bayu justru seperti ikut menarikku ke dalam. Aku gelagapan. Tubuhnya yang lebih besar dariku menyusahkan untukku berusaha mempertahankan posisi. Beberapa kali aku ikut tenggelam karenanya. Namun masih bisa kembali ke permukaan untuk menghirup udara.

Saat itu aku berteriak pada Ari untuk mengambil tali atau kayu yang bisa kugunakan untuk menarik Bayu. Namun entah bagaimana Ari seperti tak mendenganr atau melihatku dan Bayu yang sedang berjuang mempertahankan hidup. Sampai serak suaraku.

Kucoba kembali menarik Bayu, sambil kuteriakkan agar dia jangan berontak. Gerakannya yang memberontak justru akan mencelakakan kami berdua. Aku hampir menangis saking frustasinya. Tenagaku hampir habis, dan kami masih jauh dari tepi. Bayu tak mau mengindahkan kata-kataku dan terus saja berontak.

Lalu kurasakan aku seperti ikut terseret ke dalam bersama Bayu. Sempat megap-megap kehabisan udara dengan tangan Bayu yang masih mencengkeram erat bahuku. Aku panik dan reflek melepaskan pegangan Bayu di bahuku. Lalu segera berenang ke permukaan untuk mengambil udara. Terbatuk berkali-kali dan megap-megap mengambil sebanyak mungkin udara. Dan kusadari Bayu sudah tidak ada lagi. Seperti terseret begitu saja ke dalam sungai dan tak muncul hingga beberapa menit. Aku memutuskan berenang ke tepi mengembalikan tenaga. Ari sudah ada disana. Dengan panik kuberitahukan Ari agar mencari bantuan untuk menemukan Bayu sebelum terlambat. Ari ikut panik dan lari tunggang langgang mencari bantuan. Aku masuk kembali ke air, menyelam mencari keberadaan Bayu. Hingga beberapa waktu belum juga kutemukan.

Senja semakin hilang, berganti dengan gelap. Aku menangis akibat frustasi belum bisa menemukan Bayu. Terus aku menyelam sambil berdoa agar Bayu bisa selamat. Lalu kudengar suara-suara orang datang bersamaan dengan adzan manghrib. Sedikit lega, aku akhirnya berenang ke tepi. Pak RT yang datang bersama puluhan warga lantas kuberitahu kronologi kejadian. Keudian memerintahkan beberapa warga untuk ikut mencari.

Semua bertindak. Ada yang menyelap, melemparkan jala, mencari menggunakan galah panjang, mencari dengan pancing, namun belum berhasil. Ibu Bayu histeris dan terus menangis. Aku hanya bisa mendekapnya erat agar tak ikut terjun ke sungai. Entah dimana bapaknya.

Bayu baru diketemukan setelah hampir waktu Isya’. Tubuhnya tersangkut di salah satu pancing warga dan kemudian ditarik bersama-sama. Tubuhnya sudah kaku dan tergores di sana sini. Dan ada luka besar menganga akibat tersangkut pancing. Aku ikut menangis saat menyaksikan ibu Bayu ambruk saat melihat kondisi anaknya.

Jenasah langsung dikebumikan setelah dimandikan dan disholatkan. Hari ini aku kehilangan salah satu sahabat baikku. Dan aku menyalahkan diri sendiri atas tidak becusnya aku menyelamatkannya. Salahku tidak berusaha lebih kuat lagi untuk menariknya. Bayu pergi dengan luka hati yang kurasakan semakin pedih. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar