Halaman

Senin, 21 Oktober 2019

GADIS CANDALA

Daun jati kering menguar di depannya. Hutan jati yang tadinya rimbun, kini meranggas gersang panas tak terkira. Kemarau tahun ini memang tergolong lama. Namun terik tak membuatnya ingin untuk beranjak.  

Adalah Jati, sesosok lelaki yang entah bagaimana mengisi hatinya dengan penuh sejak pertemuan pertamanya di hutan jati ini setahun berlalu. Lelaki itulah yang memberinya alasan duduk termenung di antara jajaran pohon jati yang kian meranggas setiap hari selama setengah kalender berjalan.

Gadis itu tetap terjaga, menunggu baginya bukan hal yang membosankan, pun menyedihkan. Sekalipun tak pernah ada pikiran negatif atas perginya Jati dari hidupnya. Dua kata dari Jati cukup membuatnya tenang dengan kenangan indah mereka berdua. Tunggu aku. Hanya itu yang diucapkan Jati padanya. Dan itu saja cukup membuatnya bahagia.

Jati yang mau menerima dirinya apa adanya. Gadis dengan candala yang begitu parah. Yang menghindari manusia seperti menghindari dirinya. Jati yang mampu mengangkat keadaannya hingga kini diri sendiri tak menakutkan baginya. Jati yang membuatnya memiliki pemikiran indah tentang dirinya yang tak lagi sendiri. Jati yang baginya segalanya. Maka dibiarkan saja waktu berlalu seiring musim yang berganti. Gadis itu tetap menunggu tanpa layu. Dimatanya tetap terpancar rona. Renjana bukan penjara baginya, namun asa yang meyakinkannya akan hadirnya kembali Jati disana.

Saat ini cukuplah guguran daun jati dan jajaran pohon gersang yang menemani. Menghirup aroma Jati yang menguar hangat disana adalah pelukan tak nyata yang dibutuhkannya. Hanya itu. Dan indahnya angan mereka akan bersama suatu saat adalah pembakar yang membuatnya mampu melanjutkan apa yang pernah ada antara dia dan Jati yang belum kembali. Sesederhana itu.

5 komentar:

  1. Hm, sederhana memang, tapi, kok nyesek ya.

    BalasHapus
  2. aku itu mbak kelemahannya nggak bisa bikin cerita yang fokus trus selesainya ada makna. selalu ambyar.

    gimana ya biar tulisannya jadi bermakna?

    BalasHapus
  3. Hm, saya juga suka gitu sih mbak.
    Siasatnya kalau saya nempatin diri untuk jadi tokoh utamanya, masuk ke cerpen, yah, seolah kita yang ngalamin hal itu.
    Paling penting, selesai nulis dibaca ulang dan revisi kalau memang dirasa ada yang kurang.
    Oh iya, saya juga suka nulis cerpen atau cerbung endingnya dibuat gantung. Hihihi ....

    BalasHapus
  4. Awalan yang menarik kak. masyaallah

    BalasHapus