Halaman

Rabu, 09 Oktober 2019

NASI MUDUK

Satu suapan cukup membuatku auto flashback ke masa 13 tahun silam. Saat pertama kali kujejakkan kaki di tanah Sendangagung. Satu suapan yang membuatku mengingat masa-masa perjuangan menjadi santri. Satu suapan nasi muduk yang dulu selalu aku nantikan saat sebulan sekali dijadwalkan jalan-jalan keliling desa. Keluar dari lingkungan pondok. Nasi yang kutemui di jalan atas bukit. Di depan rumah salah satu guru pondok. Biasanya kami berebutan mengantri. Berlari menanjak dengan semangat 45 untuk dapat mengantri paling pertama, takut kehabisan. Waktu itu hanya seharga Rp. 500 saja sudah dapat sebungkus nasi muduk.

Dulu aku akan membungkus beberapa nasi muduk pesanan teman-teman yang tidak ikut keluar pondok. Lalu nanti akan dimakan bersama-sama di pondok. Saling rebutan takut dihabiskan oleh teman. Jadinya makan seperti sedang perang perebutan nasi. Memang saat itu nasi muduk adalah menu paling enak bagi kami yang terbiasa makan hanya ditemani nasi, sepotong tempe atau tahu dan sayur.

Nasi muduk adalah nasi khas dari daerah Sendangagung kecamatan Paciran, Lamongan. Nasinya berupa nasi kuning dengan rempah khusus dengan rasa yang gurih dan harum yang memikat. Ditambah sambal khas nasi muduk dan beberapa lauk seperti bakwan, kering tempe, dadar atau ayam goreng. Yang paling bikin kangen tentu saja sambalnya. Aku tidak pernah menjumpai sambal seperti sambal nasi muduk di lain tempat. Hanya di desa Sendangagung ini saja. Yang bikin istimewa juga adalah pembungkusnya. Kalau biasanya nasi bungkus dikemas dengan kertas minyak atau sterofom, nasi muduk ini justru dikemas dengan daun jati yang membuat rasanya semakin khas.




Hari ini alhamdulillah bisa dapat nasi muduk dari teman menulis. Kita memang berjanji bertemu di salah satu tempat wisata terkenal di daerah Lamongan, yaitu WBL (wisata bahari lamongan). Aku dan empat teman penulis antologi bertemu di sana. Kopdar pertama kita setelah sekian lama bersua di dunia maya. Jadinya aku dan keempat temanku langsung tanjak’an nasi muduk itu sebungkus berempat. Berebut seperti para santri. Padahal usia kami sudah emak-emak semua. Tapi seru dan bisa menambah nafsu makan. Tak berselang lama ludes sudah nasi muduk itu.

Banyak cerita terlontar di antara suapan-suapan itu. Mengkristalkan sekian waktu yang kami habiskan di dunia maya menjadi jalinan cerita di dunia nyata. Semoga kelak kami akan bisa berjumpa kembali di lain waktu. Dengan cerita baru dan hidangan baru.

6 komentar:

  1. Wah, kok aq melewatkan nasi muduk ini ya, 2 tahun aq di lamongan tp tak pernah berjumpa sama nasi ini 😀

    BalasHapus
  2. waahhh baru denger nasi muduk ini ... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hampir seperti nasi kuning cuma pakai rempah lebih komplit

      Hapus
  3. Baru denger nasi munduk, taunya nasi uduk..😊

    BalasHapus