Selasa, 29 Oktober 2019

PART 1


“PURA BABBARA’ SOMPEKKU, PURA TANGKISI’ GOLIKKU”

Kutatap lagi barisan huruf dari ukiran kayu yang menempel lekat di badan perahu milik ayah yang mulai lapuk dan menguning. Ada rasa yang tak bisa aku definisikan meluber dari degupan jantung. Rindu, hanya itu yang mungkin bisa kunamai untuk perasaan yang campur aduk tak menentu.

Deburan ombak pelan menggoyang perahu. Mengombang-ambingkan dengan gerakan yang membuatku semakin tergugu dalam dudukku. Sengaja aku datang kali ini, pada senja yang mulai pulih. Kilatan jingga menghias langit barat, penuh. Aku memilih senja untuk menemaniku, mendulang kenangan yang sudah lapuk.
***
Semesta masih gelap saat ayah menggoyang-goyang tubuhku. Aku masih teramat sangat mengantuk setelah semalam baru beranjak tidur setelah jam 11 malam karena menyelesaikan tugas membuat kreasi produk kewirausahaan untuk dijual di sekolah besok. Aku memutuskan membuat beberapa kerajinan dari benda-benda yang kudapat dari pantai.

Pang, ayo cepat bangun, Etta sudah siap berangkat. Kau kunci lagi pintunya baru tidur lagi”, ayah semakin kencang menggoyang tubuhku. Khawatir akan terlambat melaut dan tidak mendapatkan ikan.

Etta, Ippang barusan tidur sudah dibangunkan, masih ngantuklah”, aku mengucek mataku dan dengan gontai melangkah ke pintu depan. Ayah sudah berada di luar rumah dengan jaring di atas punggungnya. Kedua tangannya penuh dengan peralatan untuk mencari ikan. Segera kucium punggung tangannya dan kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan tidurku.

Aku sudah terbiasa ditinggal ayah setiap tengah malam untuk melaut. Sesekali aku ikut saat libur. Sekedar membantu meringankan tugas ayah. Ayah melaut seorang diri dengan menggunakan perahu warisan dari kakekku. Ayah memang Bugis sejati. Laut adalah jiwanya, seluruh hidupnya dihabiskan di laut. Sejak masih sangat belia. Ibu sudah lama tiada, sejak melahirkan adikku, Mariam. Maka segala pekerjaan rumah harus bisa kulaksanakan bersama dengan adikku.

Bangun pagi langsung mengisi bak mandi dengan air yang kutimba dari sumur di ujung desa. Lalu membersihkan rumah. Sedangkan Mariam bertugas mencuci dan menghangatkan makanan yang sudah dibuat ayah semalam. Ayah selalu memasak makanan untuk kami di malam hari sebelum berangkat melaut. Sejak ibu meninggal ayah mengurus kami sendirian. Dia bilang perah berjanji akan merawat kami dengan baik, jadi ayah tak pernah alpa menyiapkan makanan untuk sarapan dan makan siang kami, selelah apapun dia.

“Kak ayo sarapan, sudah selesai kan nimba airnya?”, Mariam berteriak dari meja makan, di tangannya ada satu piring ikan goreng. Aku yang baru saja selesai menimba air langsung duduk di meja makan. Lapar. Ada tumis sayur dan sambal sebagai pendamping ikan goreng yang dibawa Mariam tadi. Langsung kuisi piringku penuh-penuh.

“Kata ayah mungkin hari ini nggak pulang, ayah mau melaut sedikit jauh, angin kencang membuat ikan jarang”, Mariam membawa piring kotor untuk dicuci ke belakang.

Kalau ayah tidak pulang berarti tugasku bertambah satu, menyiapkan makanan untuk esok hari. Mariam yang masih SMP belum diberi kepercayaan untuk menyiapkan makanan untuk kami. Jadi nanti sepulang sekolah aku harus mampir ke warung untuk membeli sayur. Untungnya masih ada persediaan ikan di box yang bisa dimasak.

Aku segera berangkat bersama Mariam ke sekolah sambil menenteng kerajinan tangan yang semalam kubuat. Setiap hari kubonceng Mariam dengan satu-satunya sepeda yang kami punya. Lalu melanjutkan perjalanan ke SMK yang ada di kota. Butuh satu jam perjalanan untuk sampai ke sana.
***
Senyum tak lepas dari bibirku saat sampai di rumah. Mariam memandang ke arahku, namun tak kuindahkan. Aku sedang bahagia karena semua kerajinan yang aku buat ludes diborong oleh Pak Ahmad, guru kesenianku. Sedari kecil memang aku sudah sangat suka dengan kerajinan. Dan ayah bilang memang aku berbakat. Sering aku iseng membuat apa saja dari bahan-bahan yang kutemukan di laut saat sedang senggang menunggu ayah datang.

Ada uang 50 ribu di katong hasil penjualan kerajinan tadi. Nanti akan kutabung untuk menggenapi dana untuk kuliahku nanti. Terus terang saja memang aku sangat berambisi untuk bisa melanjutkan sekolah. Cita-citaku untuk bisa melihat dunia tidak akan bisa kuraih jika aku hanya berdiam di desa pesisir pantai ini. Tapi aku tahu ayah tidak akan punya uang untuk menyekolahkanku, jadi sejak SD aku mengumpulkan uang jajan dan uang hasil berjualan kerajinan buah karyaku untuk misi ini. Kurang dua tahun lagi aku lulus, sekarang dana yang terkumpul sudah lumayan menutupi sepertiga biaya kuliah.

Ayah dan Mariam tak pernah tahu tentang simpanan uangku. Sengaja setiap minggu aku langsung setorkan ke Bank tanpa pernah bilang. Aku takut ayah akan sedih jika tahu aku tak pernah menggunakan uang saku untuk jajan di sekolah. Nanti jika saatnya akan kuberitahukan tentang mimpiku itu padanya. Saat ini cukuplah aku bisa membantu meringankan bebannya dengan membantu menjaga rumah dan Mariam saat ayah tak ada. Menikmati pantai dengan ombak yang memukul ringan di belakang rumah.

6 komentar: