Halaman

Selasa, 01 Oktober 2019

TENTANG DIA


Entahlah bagaimana aku mendeskripsikan tentang dia. Seseorang yang kukenal sejak berpuluh tahun yang lalu. Saat aku masih belia. Aku mulai mengenal dia sesaat setelah hari pertama aku masuk SMP. Saat itu aku dan teman-teman sedang ditugaskan untuk berbelanja peralatan tulis untuk keperluan pentas seni penyambutan siswa baru. Tidak jauh sebenarnya dari sekolah, hanya saja waktu itu motor masih jarang, dan aku pun belum bisa naik motor. Jadi aku dan teman-teman naik colt angkutan umum. Kami berhenti tepat di sampingnya menjajakan dagangan.

Dia seorang bapak penjual legen. Legen itu bahasa yang kami gunakan untuk menyebutkan air nira yang sudah disadap. Rasanya manis segar dan ada rasa seperti sodanya. Waktu itu karena memang aku sekolah di area pesisir, maka jangan heran kalau air nira atau legen itu menjadi salah satu minuman favorit penghilang dahaga. Segar tak terkira. Nah saat itu waktu kutanya, si bapak bilang kalau memang sudah lama jualan legen di situ. Di pinggir jalan raya di samping jajaran tepi laut yang membentang panjang. Di bawah pohon perindang jalan. Tanpa warung atau gerobak. Hanya dua wadah seperti “boran” atau wadah dari bambu untuk menampung berbotol-botol legen jualannya. Gelasnya unik karena terbuat dari potongan bambu. Mungkin gelas itulah yang membuat cita rasa legen miliknya berbeda dengan legen lain.


Tadi waktu aku sedikit sengaja lewat tempatnya berdagag sepulang dari mengantar siswa ke tempat magang. Aku temukan si bapak sedang duduk termenung menunggui dagangan. Masih sepi pembeli, mungkin karena masih agak pagi. Biasanya kalau pas sore ramai sekali anak-anak muda nongkrong di sana.

Aku menepi sejenak. Berniat membeli legen darinya. Sekedar melepas kangen. Si bapak tersenyum melihatku. Mungkin beliau familier dengan wajahku karena memang agak sering aku di mampir di sana. Kuminta segelas legen untuk kuminum di sana dan sebotol untuk kubawa pulang. Berbasa-basi sejenak dengan beliau menanyakan kabar. Lalu aku pulang sambil membawa sebotol legen yang sudah beliau cantolkan di motorku.

Si bapak tersenyum melepas kepergianku. Aku sedikit belajar darinya tentang bagaimana setia. Bertahan pada satu pekerjaan hingga bertahun lamanya. Bersyukur untuk rezeki yang tak seberapa namun cukup untuk melanjutkan hidup. Belajar memotivasi diri saat jenuh dengan pekerjaan yang begitu-begitu saja, dan belajar untuk bisa mencintai apa yang menjadi pekerjaan kita apapun itu.

Matursuwun pak, sudah memberikan cerita-cerita hidupmu saat sedikit waktuku kuhabiskan denganmu sambil menikmati laut dan legen punyamu yang segar. Sesegar wejangan yang kau berikan agar aku menjadi tegar.

2 komentar:

  1. Cerita sederhana tapi bagus.
    Penggunaan mu & ku tlong dikurangi ya


    Kita sama2 sedang ikut odop7 ... Mf jika sy terlalu cerewet

    BalasHapus