Halaman

Sabtu, 02 November 2019

PART 4

Pagi setelah pembicaraanku dengan ayah beberapa malam yang lalu kuhabiskan waktu menjelajah pantai, mengumpulkan apa saja yang bisa kurangkai menjadi kerajinan. Hidup harus terus berjalan, aku tak bisa hanya berpangku tangan dan mengangggur tanpa melakukan kegiatan apapun. Untuk saat ini yang terpikir hanya melanjutkan pembuatan kerajinan dan ikut ayah melaut. Meski sedikit aku harus bisa tetap menghasilkan uang. Sudah lulus sekolah sedikit banyak aku harus bisa membantu perekonomian di rumah.

Bersyukur sekali kerajinanku masih diminati banyak orang. Penghasilan tergolong lancar. Tapi aku masih merasa sangat kurang. Kasihan ayah masih harus banting tulang di usia senjanya. Setiap hari aku memikirkan jalan keluar agar ayah tak lagi melaut. Pekerjaan apa yang bisa kulakukan agar pendapatanku bisa memenuhi kebutuhan di rumah.

Suatu pagi aku ijin pada ayah akan ke kota. Membeli beberapa peralatan untuk membuat kerajinan dan bahan-bahan tambahan. Aku akan ikut truk Kak Dahlan yang berangkat pagi mengantarkan ikan ke kota. Mariam ikut denganku juga.

Sesampai di pasar kota aku langsung menuju toko alat-alat kerajinan langgananku, sedangkan Mariam masuk ke pasar untuk membeli kebutuhan rumah. Tak sengaja aku bertemu dengan salah satu temanku saat SMK dulu. Dia ternyata diterima kuliah jurusan perikanan di salah satu universitas negeri di Mataram. Dia bilang potensi perikanan di sini sangat bagus. Tak perlu lahan cukup menggunakan keramba sudah bisa jalan. Aku bertanya banyak hal padanya sebelum kami berpisah karena dia harus kembali ke Makasar.

Dari pertemuanku dengan temanku itu, aku sedikit punya ide untuk mengembangkan diri. Bukan lagi hanya bertumpu pada pembuatan kerajinan dan melaut, tapi juga ingin membuat sebuah usaha agar perekonomian lebih stabil. Selain itu juga untuk mengembangkan kemampuanku agar tak terbatas pada itu-itu saja.

Aku mengajak bicara ayah suatu sore tentang rencanaku tersebut, dan beliau menyerahkan semua keputusan padaku. Ayah mendukung 100 persen kemauanku. Setelah mengantongi ijin dari ayah, aku bergerak cepat. Aku meminta izin pada ayah untuk pergi selama sebulan untuk belajar seluk beluk usaha yang mau aku jalani. Jadi minggu selanjutnya langsung aku bertolak ke Lombok dengan hanya berbekal tas ransel dan alamat salah satu tempat budidaya yang mengadakan pelatihan juga untuk para calon wirausahawan.
***
Aku kembali dengan semangat baru. Setelah sebulan lebih, meleset dari prediksiku yang hanya sebulan, menghabiskan waktu belajar dengan sangat keras untuk bisa membuka usaha sendiri di Lombok. Ayah menyambutku di bandara, entah jam berapa berangkat dari rumah. Karena pesawatku landing pagi sekali.

Setelah sampai rumah aku mengajak ayah untuk mencari lahan yang pas untuk kujadikan tempat budidaya nantinya. Butuh tempat yang luas dengan arus yang tenang. Kami menemukan lahan itu di laut seberang hutan bakau di ujung desa. Untungnya pemerintah desa tidak meminta uang untuk sewa lahan di sana, jadi aku cukup memikirkan untuk dana peralatan dan pembelian bibit saja. Mariam yang saat ini libur aku ajak untuk berbelanja di kota dengan menyewa sebuah pick up. Terpaksa uang tabungan kuliah aku pakai sebagai modal. Biarlah nanti aku ganti setelah usahaku mulai berkembang.

Ayah membantu dengan membersihkan area lahan yang akan aku gunakan. Juga membuatkanku sebuah pondok sederhana untuk tempat istirahatku di tepi pantai. Itu saja sudah membuatku sangat senang. Mempersingkat waktuku untuk memulai usaha nanti.
***
Seminggu kemudian lahan sudah siap digunakan, keramba tertata dengan rapi dan terkendali. Beberapa kolam tempat penijahan juga sudah selesai dibuat. Tinggal menunggu bibit datang dalam beberapa hari ke depan. Selama itu aku masih melaut bersama ayah. Dan saat-saat siang kuhabiskan di pondok dekat keramba sambil membuat kerajinan.

Bibit datang sore hari diantar oleh mobil boks tukang pos. Segera kubawa ke pantai dan menaikkannya ke perahu. Ayah yang mengemudikan perahu menuju keramba. Aku memeriksa setiap kotak bibit yang dikirim. Memastikan semua baik-baik saja. Sesampai di keramba, kupisahkan indukan jantan dan betina di tempat berbeda. Sedang bibit yang sudah siap aku sebar di tiap keramba yang ada. Bismillah mulai hari ini sampai beberapa bulan ke depan aku akan disibukkan dengan pemeliaraan bibit-bibit ini.

Butuh pengawasan ekstra di saat awal seperti ini. Aku memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Menginap di pondok dekat keramba. Mariam mengirimiku makanan setiap pagi sambil berangkat ke sekolah. Bahkan aku tak melihat ayah selama beberapa waktu. Semua tenaga dan fikiran aku fokuskan untuk usaha budidayaku. Nanti selepas beberapa minggu, akan ada waktu untuk pulang ke rumah.

1 komentar:

  1. Wuah, makin keren. Hm, bener. Jadi pengusaha itu jauh lebih smart😇

    BalasHapus