Minggu, 03 November 2019

PART 5

Dingin sekali. Musim dengin sedang puncak-puncaknya di Eropa. Aku merapatkan mantel dan bergegas menuju hotel. Musim seperti ini sangat tidak cocok untuk orang tropis yang sejenak tinggal di sini. Tak terbiasa terpapar suhu dingin hingga dibawah 0o membuatku sering sekali menggigil tak karuan meski sudah dibebat dengan berlapis-lapis pakaian. Hanya pemanas ruangan yang mampu membuatku kembali bergerak bebas tanpa gigil pada tubuhku.

Sudah dua bulan aku berada di sini. Melanjutkan studiku dengan beasiswa dari pemerintah. Alhamdulillah perlahan mimpi-mimpi itu aku peluk satu persatu. Inggris menjadi tujuan pertamaku dalam menempuh rangkaian studi. Setelahnya aku akan pergi ke Turki dan Amerika.

Usaha budidaya yang aku geluti membuahkan hasil di luar ekspektasiku. Mutiara-mutiara berkualitas bisa aku produksi dengan baik di awal-awal usaha. Meski banyak rintangan saat melakoninya, aku selelu berusaha bangkit lagi, semua karena ayah. Beliau memotivasiku dengan gigih.

Usaha itu berkembang berkat bantuan banyak pihak. Aku melakukan terobosan pada pemasaran mutiara melalui media sosial dan website. Mutiara-mutiara itu tidak aku jual begitu saja,, tapi dalam bentuk kerajinan dan perhiasan hasil karyaku yang alhamdulillah banyak diminati oleh konsumen. Karena banyaknya permintaan, aku akhirnya membuat keramba-keramba baru dan mengajak serta beberapa penduduk kampung untuk aku berdayakan sebagai peternak mutiara.

Kawasan kampung total aku ubah menjadi sentral budidaya mutiara kelas dunia. Ibu-ibu rumah tangga juga aku rekrut untuk membantu dalam produksi perhiasan dan kerajinan. Mereka tinggal mengerjakan sesuai pesanan yang desainnya aku buat khusus untuk masing-masing pelanggan. Mariam yang aku beri kepercayaan untuk mengawasi lini itu.

Beberapa waktu kemudian, berkah dari lokakisasi budidaya mutiara yang aku kembangkan, aku diundang untuk mengisi beberapa acara di berbagai kota di Indonesia sebagai praktisi. Kemudian aku diberi akses untuk mendapatkan beasiswa dari pemerintah propinsi untuk melanjutkan kuliah.

Senyum ayah aku saksikan saat hari wisudaku digelar. Kuboyong ayah dan Mariam untuk menyaksikan langsung wisudaku jauh dari kampung halaman. Sekali itu aku membawa ayah pergi melihat Indonesia dari kacamata yang lain, bukan hanya pemandangan kampungnya saja. Aku bawa mereka ke ibukota.

Sayang sekali kesempatanku untuk membawa ayah berkeliling dunia kandas suatu sore berangin. Kapal ayah terbalik saat melaut, badai tiba-tiba datang tanpa mendung atau hujan. Aku sedang berada di Jakarta saat itu terjadi. Dan sampai saat ini ayah tak juga ditemukan. Hanya perahunya yang terseret ombak dan menepi beberapa kilometer dari kampung kami.

Seandainya jasad ayah ditemkan, mungkin aku tak akan begitu berat menaggung kerinduan. Setiap kali teringat ayah aku hanya mampu melarungkan rindu dengan duduk di perahu milik ayah. Tanpa ada nisan, jasad ayah terkubur di luasnya lautan. Sore itu dan waktu-waktu berikutnya adalah hari terberat untukku. Tanpa ayah aku seperti kehilangan harapan.

“Pura babbara’ sompekku, pura tangkisi’ golikku”, kata-kata itu yang melecut kembali semangat hidupku. Petuah dari ayah yang kutemukan terukir di lambung perahu miliknya. Aku tidak boleh menyerah. Semua mimpiku harus kubayar tuntas untuk membayar janji padanya. Juga agar Mariam bisa hidup dengan nyaman dalam perlindunganku.

“Layarku sudah terkembang, kemudiku sudah terpasang, ketika layar sudah terkembang, pantang pulang sebelum sampai ke tanah harapan”.

6 komentar:

  1. Semoga ayah tenang di lautan sana T_T
    Finish ya. Akhirnya. Congrats mbak, dinantikan tulisan menggugah lainnya ;)

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. finally, susah banget ya ternyata bikin cerbung :)

      Hapus
  3. Masyaallah tulisannya menginspirasi kak. Penataan bahasanya juga master pokoknya.

    BalasHapus
  4. Ini Selvi pake akun yang di HP. Hehe

    BalasHapus