Senin, 09 Desember 2019

REVIEW HISTORICAL FICTION


MAHAPRALAYA BUBAT
Oleh: Heru Sang Amurwabhumi

Untuk tugas pekan 3 kelas lanjutan fiksi ODOP Batch 7 ini kami diberi kebebasan untuk me-review salah satu cerpen dengan tema historical fiction. Cerpen yang aku pilih untuk di review adalah milik kak Heru Sang Amurwabhumi yang terkenal dengan cerpen-cerpennya yang bertema Sejarah. Mahapralaya Bubat yang sempat dibawa oleh kak Heru ke Ubud Writer and ReadersFestival lah yang akhirnya aku pilih untuk diulas.

Tema yang diangkat pada cerpen ini adalah tentang cerita cinta antara Gajah Mada sebagai patih Majapahit dengan Pitaloka gadis dari Sunda. Dimana cinta Gajah Mada harus kandas ketika Raja Hayam Wuruk ternyata menaruh hati pada Pitaloka dan meminangnya. Gajah Mada yang merasa bingung memilih antara cintanya pada Pitaloka dan janjinya yang akan setia pada Majapahit dan Raja Hayam Wuruk. Dilema itu akan membawanya pada peperangan yang terjadi di tanah Bubat. Aku rasa cerpen ini ditulis oleh kak Heru dilatar belakangi oleh mitos yang beredar bahwa orang Sunda dilarang untuk menikah dengan orang Jawa dan dikembangan dengan sangat manis melalui sentuhan sejarah Majapahit.

Alur yang digunakan pada cerpen ini adalah alur maju yang memudahkan pembaca untuk mengikuti cerita dengan baik. Disajikan secara ciamik oleh kak Heru dengan beberapa dialog yang mengandung kosa kata Jawa dan beberapa sisipan sejarah yang memang terjadi. Mengambil sudut pandang orang pertama, yaitu aku (Patih Gajah Mada) yang mengalami pergolakan batin akibat cintanya pada Pitaloka yang terhalang oleh keinginan Raja Hayam Wuruk. Sudut pandang orang pertama dalam sebuah cerpen membuat pembaca seakan-akan melakoni sendiri cerita yang dipaparkan.

Ada beberapa tokoh yang diceritakan pada cerpen kali ini. Namun aku hanya akan memaparkan beberapa tokoh utama. Yang pertama adalah Gajah Mada, seorang patih kerajaan Majapahit yang akhirnya jatuh cinta pada putri Sunda bernama Pitaloka setelah pertemuan mereka beberapa hari berselang. Seorang yang tegas dan berwibawa. Berjanji akan menjaga Majapahit dan Raja Hayam Wuruk dengan nyawanya. Yang kedua ada Pitaloka, yaitu putri dari kerajaan Galuh yang mempesona. Memiliki wajah ayu memikat dengan tingkat kesopanan setara ratu. Karena sifatnya yang anggun bisa menggaet Gajah Mada dengan daya pikatnya. Yang ketiga Raja Hayam Wuruk, merupakan raja Majapahit yang berkharisma dan sangat kuat. Memiliki jajaran pengawal dan anak buah yang setia padanya. Menyukai Pitaloka pada pandangan pertama saat melihat lukisan Pitaloka yang dibuat oleh Sungging Prabangkara untuk Gajah Mada.

Latar yang digunakan pada cerpen ini adalah sekitar tahun 1270an Saka di kerajaan Majapahit. Mengangkat kepopuleran Majapahit sebagai kerajaan besar di Indonesia dengan beberapa peristiwa yang melingkupinya. Salah satu yang diangkat adalah terjadinya peperangan Bubat yang menewaskan Baginda Raja Lingga Buana dan anaknya Pitaloka yang merupakan penguasa kerajaan Galuh di Sunda. Bagi sebagian besar orang membaca cerita dengan latar sejarah yang kental mungkin terasa memberatkan, tapi kak Heru berhasil membuatnya begitu mudah dinikmati oleh banyak pembaca.

Penggunaan bahasa pada cerpen ini tidak perlu lagi dibahas, bisa masuk ke ajang bergengsi sekelas Ubud Writers and Readers Festival sudah pasti masalah bahasa sudah tidak ada. Kekuatan cerpen ini terletak pada banyaknya penggunaan kosakata berbahasa Jawa pada dialog yang dilakukan. Meski bukan orang Jawa namun untuk bisa mengerti tentang cerita ini sangat mudah, karena setiap kosakata asing dilengkapi dengan terjemahannya.

Nilai yang bisa diambil dari cerpen ini adalah harusnya kita bisa jujur terhadap apapun perasaan kita. Jangan menutup-nutupi hanya karena hormat kita pada seseorang karena nantinya akan ada sesal di belakang yang membuat kita justru mungkin memiliki penilaian lain untuk orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Secara umum aku sangat menikmati membaca karya-karya kak Heru. Cerpen-cerpennya anti mainstream dan menambah khazanah pengetahuan akan sejarah dan kebudayaan. Terima kasih kak Heru. Semoga lain kali aku bisa menuliskan cerita-cerita yang berkualitas seperti Njenengan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar