Halaman

Selasa, 09 Februari 2021

LOMBA CERPEN ULANG TAHUN GANDJELREL (Komunitas Blogger Semarang)

 


Kali ini saya mencoba mengikuti kompetisi lomba menulis cerpen yang diadakan oleh komunitas blogger Semarang @gandjelrel dalam rangka memperingati hari jadinya. Tema yang dipakai untuk lomba cerpen kali ini adalah "Ulang Tahun" karena memang didedikasikan untuk memperingati hari jadi GanjelRel.


Alasan saya mengikuti lomba cerpen yang diadakan oleh Gandjel Rel adalah:
  1. Untuk memeriahkan hari jadi Gandjel Rel, meski bukan orang Semarang tapi saya termasuk penggemar lumpia dan tahu bakso khas Semarang. Nah lo kan jadi ngelantur 😅
  2. Mengasah ketrampilan menulis tentunya. Semakin banyak berlatih semakin bagus nanti tulisannya, ya kan?
  3. Belajar ngeblog biar makin mahir. 
  4. Berharap menjadi pemenang pastinya ya. Yang penting usaha dulu kan, bagaimana hasilnya serahkan pada Sang Pemilik Hidup 😀

Berikut cerpen yang saya buat untuk lomba kali ini. Selamat membaca.

KADO YANG DIRINDUKAN

Oleh: Marwita Oktaviana

 

Kawi Sekar

Gones Sekar pepundhen Sri Kresna

Lir puspita warnane kusumeng pura1

 

Tembang sekar mulya mengalun mengiringi malam yang semakin pekat tak terbendung. Gemintang tengah pendar bersinar namun di dalam sebuah ruang ada kepedihan yang melingkupi tak terhadang.

 

Lintang gamang, dalam genggaman tangannya sebuah foto usang menampakkan seraut wajah perempuan dengan sanggul di kepala. Tersenyum dengan pandangan mata membius. Cantik. Pelan-pelan ada airmata mengalir di pipi tanpa dia sadari. Mata sayu itu menampakkan riak hati yang coba dia sembunyikan.

 

Waktu berlalu tanpa disadari. Sudah satu jam Lintang terpaku menatap foto perempuan bersanggul itu. Mungkin inilah sakit yang paling sakit, terkurung dalam badai yang terus merongrong hati. Cinta, tak cinta, kebingungan melingkupi hari-harinya

 

Nduk wes dalu, ndang turu!2

 

Simbok3 mengelus  pucuk kepala Lintang penuh sayang. Lintang mendesah dan menaruh foto itu di atas meja kecil di samping tempat tidur. Simbok tak luput melihat wajah perempuan di foto yang coba Lintang sembunyikan.

 

Wes to Cah Ayu, ojo mikir jeru, uripmu lakoni tansah becik, Gusti Allah ora sare3

 

Lintang memeluk simbok erat sekedar sebagai penguat. Perempuan dalam pelukannya adalah sumber kebahagiaan. Dia yang bukan siapa-siapa tapi mau merawatnya semenjak bayi hingga kini. Sudah seperti ibu sendiri, bahkan lebih

 

***

 

Tembang Ratna Mulya berlaras slendro memenuhi aula. Puluhan penari sedang melenggak-lenggokkan tubuhnya mengikuti irama. Lintang salah satunya. Sebagai penari adalah sebuah jalan menuju tujuan yang lama dia pendam. Ini adalah jalan agar kebingungan dalam hatinya bisa sedikit terobati.

 

Sebentar lagi pagelaran sakral akan digubah di Sasana Sewaka. Raja baru akan dinobatkan sebagai penerus tahta. Keraton sibuk dengan berbagai persiapan. Saat itulah Bedhaya Ketawang dimainkan di depan raja sebagai persembahan.

 

***

 

Lintang sedang menggulung selendang yang dipakainya berlatih. Senja telah berdiam di langit barat. Keringat yang menutupi wajah Lintang justru memancarkan kehangatan. Sudah banyak sekali lelaki yang meminta bersanding, namun tak pernah ditanggapi olehnya. Ada tujuan besar yang harus dia tuntaskan sebelum bisa berfikir untuk hidupya sendiri.

 

Mbok sampun sore, mboten wangsul to?4

 

Lintang menghampiri simbok yang masih sibuk membereskan dapur. Sambil menunggu dia ikut membantu meletakkan berbagai peralatan masak dan makan di tempatnya. Mereka pulang bersama.

 

Wes siap kanggo sesuk Nduk?5

 

Lintang mengangguk mantap. Bertahun-tahun sudah dia berlatih untuk dapat menarikan Bedhaya Ketawang dengan luwes dan penuh penghayatan. Tarian itu memang berkisah tentang jalinan asmara Nyai Ratu Kidul dengan Sultan Agung, tapi bagi Lintang itu adalah dialog cinta yang ingin dia sampaikan pada seseorang.

 

***

 

Riuh Sasana Sewaka mengalihkan Lintang dari lamunan. Seorang teman tergopoh-gopoh menghampirinya dengan senyum sumringah.

 

“Kita berhasil Lintang”.

 

Rona bahagia tak bisa hilang di wajah dua orang teman itu. Mereka terpilih sebagai anggota dari sembilan penari yang akan memainkan Bedhaya Ketawang di depan raja. Satu langkah sudah digenggam.

 

Esoknya Lintang mulai berpuasa mutih sebagai syarat ritual untuk melancarkan pagelaran. Dia tidak perlu khawatir akan datangnya haid, Lintang masih akan suci pada hari pertunjukan nanti, kalau tidak dia harus melaksanakan caos dhahar6 sebagai syarat bisa tampil di Sasana Sewaka.

***

Sembilan penari telah bersiap. Lintang menunduk dalam, mencoba meredam segala gemuruh yang mengusik dada.

 

Tenangno atimu Nduk!7

 

Simbok menepuk-nepuk pelan pundak Lintang. Perempuan paruh baya itu tahu bagaimana gejolak di hati putri semata wayangnya.

 

Lintang berada paling utara. Sebagai penari buncit8 sehingga sosoknya akan terlihat paling akhir ketika pertunjukan berlangsung. Sudah sehari semalam kesembilan penari menjalani pingitan di Gedhong Budaya dan dirias hingga malih rupa.

 

Tembang Durma sedang mengalun ketika Lintang menatap langsung perempuan di depannya. Sang ratu. Wajah itu begitu anggun menampakkan kecantikan paripurna meski usia telah lebih dari paruh baya. Wajah itu serupa dirinya dalam gurat usia. Perempuan dalam foto menjelma semacam fatamorgana. Sungguh dekat tapi tak tergapai, betapapun ingin Lintang memeluk meski hanya sekejap.

 

Perempuan itu yang mengandung dan melahirkannya ke dunia, tapi takdir merampas hak untuk hidup bersama. Hari ini tepat di hari Lintang lahir. Perayaan ulang tahun yang bersamaan dengan Tingalan Jumenengan9 dirayakan seluruh rakyat Kasunanan. Berkah melimpah diperoleh Lintang

 

Menatap wajah itu dalam jarak sepenggalan adalah hadiah yang diidamkan Lintang sejak kanak-kanak. Cukup bisa menatap tak lebih, tak kurang. Karena dia tahu tak mungkin untuk mereka bersama. Lintang hanyalah anak haram yang dilupakan.

 

Nduk ayo”

 

Simbok menuntun Lintang meninggalkan Sasana Sewaka dengan airmata. Cinta itu bukan hanya tumbuh dari seorang ibu, bagi simbok Lintang adalah hidupnya. Cintanya telah mampu melebihi cinta sang ibu kandung yang tak pernah dia rasakan.

 

Lintang tersenyum menatap simboknya. Ada cinta meluap yang hanya bisa dia pendam, tak cukup dengan kata-kata. Kepada perempuan itu terima kasih tak terhingga dia berikan.

 **********************************************************************************

Kawi Sekar

Gones Sekar pepundhen Sri Kresna

Lir puspita warnane kusumeng pura1, Jawa, Lirik tembang sekar mulya

 Nduk wes dalu, ndang turu!2, Jawa, “Nak sudah malam, tidak tidur?”

 Simbok3, Jawa, Panggilan untuk ibu

 Wes to Cah Ayu, ojo mikir jeru, uripmu lakoni tansah becik, Gusti Allah ora sare3”, Jawa, “Sudahlah anak cantik, jangan terlalu dipikirkan, Jalani hidupmu dengan baik, Allah tidak tidur”

 Mbok sampun sore, mboten wangsul to?4”, Jawa, “Bu sudah sore, tidak pulang?”

 Wes siap kanggo sesuk Nduk?5”, Jawa, “Sudah siap untuk besok, Nak?”

 caos dhahar6, Jawa, Menyiapkan makanan/sesaji lengkap untuk Kanjeng Nyi Ratu Kidul

 Tenangno atimu Nduk!7”, Jawa, “Tenangkan hatimu Nak”

 Buncit8, Jawa, Paling akhir.

 Tingalan Jumenengan9, Jawa, Peringatan kenaikan tahta Sultan.

 Semoga teman-teman menikmaticerita yang saya tulis untuk lomba cerpen Gandjel Rel kali ini. Kritik dan saran pastinya saya tunggu agar lebih baik ke depannya. Terima kasih, sampai jumpa di postingan berikutnya.

Cerita ini adalah fiksi yang diikutsertakan dalam Lomba Blog Menulis Fiksi “Ulang Tahun” yang diselenggarakan oleh Komunitas BloggerSemarang Gandjel Rel

Poster Lomba Cerpn GandjelRel



#LombaCerpenUltahGR

3 komentar:

  1. Bayangin rasanya jadi lintang. Periiih...

    BalasHapus
  2. Teriris-iris rasanya kalau jadi Lintang yaaa.. ih Sang Ratu kok gitu siiihh...

    BalasHapus
  3. Karena Lintang lahir sebab orang lain 😁

    BalasHapus