Senin, 08 Februari 2021

KISAH TERJADINYA DANAU TOBA


Hari ke-4 ya temans. Sepertinya saya mengalami sedikit kebosanan. Mau lanjut malenya masyaAllah, nggak lanjut eman. Hari ke-4 saya masih akan mengambil cerita rakyat dari propinsi Sumatera Utara. Kalian pasti semua tahu tentang Danau Toba yang indah mempesona kan? setiap kali nama Sumatera Utara atau Medan disebut pasti langsung terbayang Danau Toba. Nah kali ini saya kan bercerita tentang legenda bagaimana danau Toba terjadi.

Di sebuah desa di tanah Karo hiduplah seorang pemuda bernama Toba. Ia bekerja mengolah sawah sebagai petani. Seringkali setelah mengolah sawah Toba pergi memancing ikan di sungai. Ikan itu ia pakai sebagai lauk makan sehari-hari. Sungai yang jernih menghasilkan banyak sekali ikan sehingga mudah ditangkap.

Suatu hari setelah mengolah sawah, Toba memancing kembali di sungai. Tidak seperti biasa, kali itu ia tidak mendapatkan ikan satu pun hingga sore. Karena kesal Toba berniat melempar kailnya. Tetapi tiba-tiba seekor ikan besar berwarna jingga menyambar kail itu. Toba tertawa senang dan membawa ikan itu untuk dimasak di rumah. 

Ketika ditinggalkan di atas meja karena Toba ingin menghidupkan tungku, ikan itu tiba-tiba menghilang. Yang tersisa hanya beberapa keping uang emas di atas meja. Karena marah Toba akhirnya memutuskan untuk tidur saja. Betapa kagetnya Toba saat membuka kamarnya, ia mendapati seorang wanita cantik sedang menghadap cermin di kamarnya.

Perempuan itu bercerita bahwa ia adalah jelmaan ikan dan koin emas di atas meja adalah perwujudan sisiknya. Toba yang terpikat kecantikan perempuan itu meminta agar menjadi istrinya. Ia menyetujui keinginan Toba dengan syarat Toba tidak akan pernah mengungkit asal usulnya.

Akhirnya mereka menikah dan dikaruniai seorang putra yang diberi nama Samosir. Saosir tumbuh menjadi anak yang malas dan manja. Ibunya terlalu memanjakan anak semata wayangnya itu.

Samosir hanya bermalas-malasan saja di rumah dan tidak mau membantu Toba di sawah. Suatu hari sang ibu memintanya untuk mengantarkan bekal makanan untuk ayahnya di sawah karena sang ibu sedang sibuk melakukan hal lain.

Dengan bersungut-sungut Samosir akhirnya berangkat membawa bekal tersebut. Karena lapar Samosir memakan bekal untuk ayahnya hingga tinggal sisa sedikit saja. Sesampai di sawah ia serahkan bekal itu pada sang ayah.

Toba sangat murka melihat bekal makannya tinggal sisa-sisa padahal dirinya sudah sangat lapar. Samosir dipukul olehnya dan dikatai sebagai anak ikan. Samosir yang ketakutan berlari pulang sambil menangis.

Sesampai di rumah Samosir menceritakan kejadian di sawah dengan lengkap pada ibunya.

"Pergilah ke atas bukit tertinggi dan jangan kembali".

Samosir segera berlari ke atas bukit. Sang ibu memastikan sang anak sudah sampai di puncak bukit sebelum berlari ke arah sungai. Setiba di sungai sang ibu segera menerjunkan diri ke arus sungai yang kencang dan kembali berubah menjadi ikan.

Luapan air membuncah seketika menenggelamkan lembah tempat tinggal Toba hingga menjadi sebuah danau seperti saat ini. Toba dan Samosir tak terlihat lagi sejak itu. Itulah kenapa dinamakan Toba dan pulau yang ada ditengahnya dinamakan Samosir.


Demikian kisah tentang terjadinya danau Toba. Dari kisah tersebut saya membuat puisi sebagai berikut:

PEREMPUAN IKAN

By: Marwita Oktaviana

 

Karo dan gemah ripah

Adalah penggarap sawah, Toba namanya

Di sisa-sisa hari, kail disauh ikan-ikan berlabuh

Bahagia disandang meski hanya seorang

 

Suatu kali, hari terik

Kail tak nampak dikait, Toba berjenggit

Senja telah terhampar di langit barat, semacam firasat

Seketika rona terpampang, daya disandang juang

Kail memikat ikan sewarna jingga bertubuh agam

 

Perempuan dari wujud ikan, Toba tercengang

Secantik khayangan, perempuan tak mau pulang

Sisik emas dan pelaminan sebagai taruhan

“Jangan kau ungkit asal mulaku”

Satu kalimat sebagai pengikat,

Toba dan perempuan berikrar bergandengan

 

Samosir buah cinta pekat tak berjeda

Tubuh manja tak kenal nestapa

Perempuan jengah, coba berkilah

Samosir dan pangan sebakai bekal disandang dalam gamang

Sawah dan sang ayah dalam pandangan, Samosir gundah

Tinggal separuh, Toba mengucap serapah

“Dasar anak ikan!”

 

Samosir pulang, airmata membanjir genang

Perempuan mendengar sumpah dipatahkan

“Naik ke puncak tertinggi dan jangan kembali”

Perempuan melabuh pada gemericik air

Sungai mengalir semacam banjir

 

Serupa Adam dan Hawa, terusir nirwana

Janji semacam mantra, segala bermula

Karo tergenang, Toba tertinggal dalam kubangan

Perempuan malih rupa berkawan sesal




Tidak ada komentar:

Posting Komentar