Halaman

Jumat, 05 Februari 2021

MENTIKO BETUAH, CERITA RAKYAT ACEH


Masuk di hari kedua tantangan menulis 100 puisi saya masih mengambil cerita rakyat yang berasal dari Nangroe Aceh Darussalam. Kali ini bercerita tentang mustika mentiko betuah. Bagaimana ceritanya? 

www.witaksara.com

Dahulu kala di Semeulue hiduplah seorang raja bersama dengan permaisurinya. Raja dan permaisuri memimpin negeri dengan bijaksana sehingga kerajaan makmur sentosa. Rakyat sangat mencintai raja mereka karena kedermawanan sang raja. Sayangnya meski telah sekian tahun hidup bersama, raja dan permaisuri belum juga dikaruniai buah hati.

Karena sangat mendambakan keturunan, raja dan permaisuri akhirnya pergi ke hulu sungai yang sangat dingin airnya untuk bernazar dan meminta berkah. Perjalanan ke hulu bukanlah perjalanan yang mudah. Mereka harus melalui hutan belantara, menyeberangi sungai, naik turun gunung yang terjal untuk sampai di sana. Setelah sehari semalam bernazar dan berdoa mereka pulang kembali ke kerajaan di Semeulue. 

Beberapa minggu kemudian permaisuri hamil dan mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan. Raja dan permaisuri sangat menyayangi sang anak yang diberi nama Rohib tersebut. Rohib dilimpahi kasih sayang secara berlebihan oleh kedua orang tuanya sehingga tumbuh menjadi anak yang manja.

Saat sudah besar Raja mengirim Rohib ke perguruan untuk belajar. Sayangnya karena terbiasa dimanja Rohib tidak bisa menyelesaikan pendidikan dan pulang kembali ke kerajaan. Raja sangat marah mengetahui  hal itu hingga menyuruh salah satu pengawal untuk menggantung Rohib sampai mati.

Permaisuri yang sangat menyayangi anaknya mencegah raja melakukan itu dengan syarat Rohib harus keluar dari kerajaan dan mencoba hidup di luar. Raja memberi uang sebagai bekal Rohib berdagang. Rohib tentu saja bingung tidak tahu harus melalukan apa karena terbiasa hidup mewah dan semua tersedia.

Dengan langkah gamang Rohib meninggalkan istana. Di tengah jalan ia bertemu dengan sekelompok anak kampung yang membawa ketapel dan ingin menyiksa seekor burung.

"Wahai anak-anak jangan siksa burung itu, aku akan memberi uang sebagai gantinya".

Anak-anak itu pun pergi meninggalkan Rohib dengan uang di tangan. Rohib segera menolong burung malang itu dan melanjutkan perjalanan. Belum jauh melangkah Rohib kembali bertemu dengan anak-anak yang sedang memukuli seekor ular. Seperti sebelumnya Rohib memberikan uangnya sebagai ganti agar anak-anak kampung melepaskan ular itu. Demikian berlanjut di sepanjang jalan hingga uang di kantong Rohib habis.

Rohib yang kebingungan karena tak punya tujuan memberanikan masuk hutan untuk beristirahat. Kembali ke kerajaan sudah tidak mungkin lagi karena ia belum bisa membuktikan pada ayahnya bahwa ia telah berhasil mengumpulkan uang.

Saat sedang beristirahat Rohib didatangi seekor ular raksasa. Rohib terkejut bukan main. Ternyata itu adalah raja ular.

"Jangan takut, aku tidak akan mengganggumu. Terimalah ini sebagai balasan karena kamu telah menolong para binatang dari gangguan manusia. Ini adalah Mentiko Betuah yang sakti, mintalah apa saja yang kamu inginkan dan ia akan mengabulkannya".

Rohib menerima pemberian sang ular dengan tangan gemetar. Karena penasaran Rohib mencoba meminta uang yang banyak pada mentiko betuah. Tiba-tiba di depannya teronggok uang dalam jumlah yang banyak. Rohib sangat senang, ia bisa kembali ke kerajaan dengan uang sebanyak itu di tangannya. Akhirnya Rohib kembali ke rumah dan raja sangat senang melihat Rohib telah berhasil.

Untuk menjaga agar mentiko betuah tidak hilang, Rohib berniat memesan cincin sebagai pengikat mentiko betuah pada seorang pengrajin emas. Namun sayang pengrajin itu justru membawa lari mentiko betuah. 

Rohib marah sekali dan memberi perintah pada tikus, anjing dan kucing untuk menemukan kembali 
mentiko betuah. Anjing dan kucing tidak berhasil menemukan batu itu.

"Hai tikus apa kamu menemukan batu itu?"

Sang tikus menggeleng. Mereka kembali ke kerajaan dengan wajah lesu. Namun tanpa diketahui oleh kucing dan anjing tikus sebenarnya menemukan mentiko betuah dan menyimpannya di mulut kecilnya. Batu itu ia serahkan langsung pada Rohib agar Rohib menyukainya. Mengetahui itu kucing dan anjing sangat murka. Itulah awal mula kucing dan aning tidak pernah bisa akur dengan tikus sampai saat ini.

www.witaksara.com

Begitulah cerita rakyat tentang mentiko betuah itu. Dari cerita itu inspirasi membuat puisi datang pada saya. Berikut hasil tulisan saya mengenai mentiko betuah:

MENTIKO BETUAH

By: Marwita Oktaviana

 

Semeulue terberkati, gemah ripah tak kurang apa

Raja bersedih hati, telah lama dinanti

Seorang bocah sebagai penerus tradisi

Dalam dingin air dan lebat hutan

Doa dilantun, nazar dituntun

“Beri kami keturunan wahai Zat Pemilik Jagad”

 

Rohib berselimut mewah, megah

Tumbuh manja tak kenal nestapa

Raja berduka, salah didikan menuai petaka

Terusir rohib dari nyaman dunia

 

Uang dikepal tegang, jalan disapu terjal

Niaga dan kesuksesan sebagai syarat kembali nyaman

Sayang oh sayang, rintang berduri tajam

Uang hilang sebagai penebus siksaan

Hewan-hewan riang, Rohib tegang

 

Dalam pekat pepohonan tumbang dilantakkan

Kemana lagi pulang, tak ada rumah untuk datang

Ulee dalam wujud temaram dewa dewi

Mentiko Betuah dijampi-jampi

 

Suka cita uang dalam genggaman, Rohib kembali pulang

Raja memeluk senang,

Istana sebagai tempat pulang telah didendang

 

Sebuah hasrat, memikat tulah berikat

Cincin sebagai pengikat hilang sudah terbawa khianat

Rohib tercekat

 

Mie, Asee, juga Tikoih

Titah diringkus dalam gegap rinai

Mentiko Betuah dan mulut tikus tanah serakah membawa tulah

Sebagai sebab Tikoih dan Mie tak lagi saling percaya

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar