Halaman

Sabtu, 06 Februari 2021

LEGENDA PAYA NIE


Masuk hari ke-3 ya teman. Hari ini masih cerita rakyat dari Nangroe Aceh Darussalam. Saya pilih legenda Paya Nie yang bercerita tentang seorang perempuan yang memiliki nasib yang malang. Kisahnya bisa teman-teman simak berikut ini.

Dahulu kala di sebuah pulau hiduplah perempuan tua yang sangat sholehah bernama Cut Nie bersama dengan ketujuh putrinya. Suami perempuan itu sudah lama meninggal. Mereka hidup di sebuah rumah di tengah pulau yang dilengkapi dengan berbagai peralatan yang biasa dipakai sehari-hari.

Keenam putri Cut Nie sudah meninggalkan rumah untuk bekerja dan tersisa satu orang putri bungsunya yang cantik jelita melebihi kakak-kakaknya yang lain. Namanya Putroe Nie. Cut Nie sangat menjaga putri bungsunya ini karena takut akan terpengaruh dengan dunia luar yang liar. Sebab itu Cut Nie tidak pernah mengijinkan Putroe Nie untuk keluar dari rumah.

Suatu hari Cut Nie sedang menjemur padi-padi hasil panen di depan rumahnya. Matahari sangat terik saat itu sehingga Cut Nie berharap padi-padinya cepat kering. 

Cut Nie berpamitan pada Putroe Nie akan meninggalkan rumah untuk mencari -bahanbahan yang digunakan untuk persiapan pernikahan kakak Putroe Nie dan mengantar undangan pada sanak kerabat. Cut Nie berpesan agar Putroe Nie tidak turun dari rumah apapun yang terjadi. Jika tidak maka musibah akan menimpa mereka.

Putroe Nie yang penurut mengiyakan perintah sang ibu dan duduk di tangga sambil mengawasi padi-padi yang dijemur. Tapi sang putri menjadi resah saat Cut Nie tidak kunjung pulang padahal hari menjelang sore.

Tiba-tiba di langit mendung bergulung-gulung tanda akan turun hujan. Putroe Nie bimbang. Dia tidak boleh turun dari rumah oleh ibunya, tetapi padi-padi yang dijemur akan basah lagi jika terkena hujan. Akhirnya Putroe Nie turun berniat mengumpulkan padi agar tidak terkena hujan.

Saat kaki Putroe Nie menapak tanah tiba-tiba saja tanah merekah dan mengeluarkan air dari dalamnya. Putroe Nie tenggelam dan meninggal. Cut Nie yang baru kembali tidak dapat menemukan putri bungsunya dan menangis. Air yang keluar dari dalam tanah akhirnya menenggelamkan semua. 

Paya Nie yang sebelumnya adalah tanah yang kering merubah menjadi sebuah danau yang indah. 


Demikian kisah bagaimana Paya Nie terbentuk. Paya Nie sendiri merupakan sebuah kawasan yang dikelilingi 7 gampong yaitu Gle Putoh, Blang Mee, Kulu Kuta, Paloh Raya, Crueng Kumbang, Tanjung Siron, dan Buket Dalam. Dari udara Paya Nie nampak seperti elang yang memiliki 44 sayap. Kawasan ini sangat membantu saat terjadinya konflik. Banyak pimpinan pejuang yang bersembunyi disana karena pesawat udara tidak bisa mendeteksi lokasi mereka.


Dari cerita di atas saya terinspirasi membuat sebuah puisi yang saya ikut sertakan pada tantangan 100 hari menulis puisi tersebut. Silahkan simak puisinya berikut.

PERAWAN MALANG

By: Marwita Oktaviana

 

Dari Paya Nie dan 44 sayap elang membentang

Perempuan tua dan tujuh perawan

Sederhana dalam tindakan juga segala hal

Telah jauh terbawa langkah, ke-enam putri antah berantah

Putroe Nie tinggal sebagai sacral,

Sang perawan jelita bak malam penuh bintang

 

“Usah kau turun”

Perempuan tua dan titah tak terbantah

Mengantar kabar pada sanak, tertinggal segala nampak

Padi dihampar, terik terpapar

Sang putri duduk menahan kantuk, sungguh terkutuk

Perempuan tua tak kunjung datang, sore telah memanjang

 

Dilema sang putri gulana

Hujan jatuh tanpa patuh

“Oh tidak padi-padi itu”

Titah telah dibantah, sang putri menjejak tanah

Seketika bumi merekah, menelan segala tulah

 

Perempuan tua dan kepedihan

Telah hilang putri semata wayang

Jauh dipeluk tanah, berganti air meruah

 

Dari Paya Nie yang kerontang mata air meniupkan kesegaran

Usah mendekat, tanah adalah pikat

Sekali sesat, tamat segala riwayat




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar