Halaman

Senin, 15 Maret 2021

TENTANG GHOSTING : ISTILAH BARU KAUM GAUL

Beberapa hari ini media sosial dihebohkan dengan berita tentang seorang anak presiden yang dikabarkan melakukan ghosting pada pasangannya. Sebab awal masalah ini menjadi publik karena sang mama pasangan merasa tidak terima dengan perlakuan anak presiden tadi dan berkoar-koar di media sosial.


Apa sih sebenarnya ghosting itu, kok bisa sampai beritanya tersebar seantero nusantara, atau mungkin bahkan merambah hingga ke seluruh dunia.


Ghosting adalah sebuah kata dari bahasa inggris yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan arti "berbayang". Namun istilah ghosting sendiri memiliki arti yang jauh dari terjemahan tadi. Di kalangan kaum gaul, yang notabene dipenuhi oleh anak-anak muda generasi 4.0, ghosting diartikan sebagai sebuah perilaku menghilang atau menjauh tanpa kabar. Nah saya sendiri mengenal satu istilah lagi yang artinya sama dengan ghosting tadi yaitu ngejin. Istilah ini lebih populer digunakan oleh anak-anak muda di lingkungan sekitar saya. Awalnya sebagai ibu-ibu saya bingung juga, kok mereka pada bilang ngejin., termasuk anak saya sendiri di perbincangan mereka sehari-hari.


Maklum rumah saya sering digunakan sebagai markas teman-teman anak saya. Mereka biasa membuat mainan, atau bermain di depan rumah. Karena penasaran saya tanya mereka, ternyata ngejin berasal dari kata jin (makhluk halus), nge-jin secara lugas diartikan menghilang, karena jin kan tidak terlihat, begitu kata mereka.




Ghosting atau ngejin biasa dilakukan oleh mereka yang ingin keluar dari sebuah hubungan dengan mudah. Meski cara ini sangat tidak elegan dan tidak bertanggung jawab. Tentu saja korban ghosting lah yang kena dampak. Mereka akan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, apa yang salah dalam hubungan tersebut, apa yang salah dengan pelaku ghosting, atau bahkan bertanya apa yang salah dengan dirinya.


Alasan ghosting


Apa sih sebenarnya alasan dibalik perilaku ghosting ini? kalau menurut saya ada beberapa alasan ya, misal:

  • Masalah kepribadian
Ada beberapa orang yang memang memiliki kepribadian suka menghindar atau tidak suka terlalu dekat dengan orang lain. Tipe-tipe seperti ini lebih suka saat sendiri. Jadi mereka mungkin merasa tidak nyaman saat ada orang lain yang terlalu dekat atau mulai mengerti jati diri mereka. Lalu dengan mudahnya mereka lantas menghilang begitu saja sebagai bentuk menghindar tadi.

  • Adanya masalah yang sulit dipecahkan
Memang dalam sebuah hubungan pasti akan timbul berbagai masalah. Tapi kadang ada beberapa masalah yang tidak bisa diselesaikan, bisa karena masalah komunikasi yang kurang, atau sebab yang lain. Laki-laki cenderung akan menghindar saat mereka mentok dalam sebuah masalah yang tidak bisa dipecahkan. Kadang ego lah yang sering menjadi penyebabnya.

  • Merasa tidak nyaman dengan pasangan
Ini sangat mungkin terjadi. Ketika sudah merasa tidak nyaman tapi sulit untuk mengatakan pada pasangan akan ada kecenderungan menghindar atau menghilang untuk bisa menjauh dan berpikir ulang tentang hubungan mereka.

 Dari tiga hal di atas memang tidak ada satu pun yang bisa menjadi pembenaran perilaku ghosting. Tapi tetap saja ada banyak yang memilih cara tersebut untuk istilahnya menyelamatkan diri. Lalu bagaimana dengan korban ghosting. Apa yang bisa mereka lakukan untuk menghadapi ini?


Cara jitu dan elegan menghadapi ghosting

Agar tidak terbawa hingga termehek-mehek, ada beberapa tips atau cara jitu saat kalian menjadi korban ghosting, yaitu:
  • Jangan salahkan diri sendiri
Ketika tiba-tiba pasangan hilang dan tidak bisa dihubungi dalam jangka waktu tertentu pasti kita akan merasa cemas di awal, namun lama-lama akan muncul prasangka ketika pasangan tidak muncul juga. Bertanya-tanya apa yang salah pada hubungan kita, apa yang salah dengan diri kita. Tapi stop, berhenti dulu. Coba pikirkan lagi dengan pikiran dan hati yang tenang, coba juga untuk logis. Cari tahu apa selama perjalanan hubungan kalian ada sesuatu yang mengganjal, jika tidak maka berhenti untuk menyalahkan diri. Seringnya bukan kesalahan dari diri kita lah yang menyebabkan pasangan melakukan ghosting.
  • Jangan menghubunginya
Kita tahu bahwa pelaku tidak bisa dan tidak mau dihubungi. Justru dengan tidak bisa dihubungi utulah dia melakukan aksinya. Berusaha terus menerus menghubungi meski tahu tidak akan diterima hanya akan memperburuk keadaan. Stop menghubunginya dan fokus pada diri sendiri. Carilah penghiburan dari teman atau keluarga.
  • Jangan curhat di medsos
Ini adalah sesuatu yang harus dihindari, jangan membuka aib sendiri dan menjadikan masalah pribadi sebagai konsumsi publik. Tindakan curhat di medsos hanya akan membuat diri kalian terlihat menyedihkan, dan justru pasangan akan bersembunyi lebih jauh lagi. Ingat curhatan kalian di medos tidak akan membuat dia kembali.

  • Jangan terlalu membenci pelaku
Memang diperlakukan seperti ghosting itu sangat tidak mengenakkan. Sudah khawatir dan cemas tapi ternyata memang si dia sengaja menghindar. Tapi jangan kemudian bersikap kasar pada pelaku ghosting. Cari tahu dulu sebab kenapa dia melakukan itu, jika dirasa logis maka terima alasannya. Cukup terima saja alasannya ya, jangan yang lain :D

  • Jangan memberi harapan untuk kembali bersama
Misal setelah beberapa hari, minggu, atau bulan dan tahun dia menghilang kemudian tiba-tiba nongol lagi di hadapan kalian dengan berbagai alasan yang diungkapkan jangan lantas kalian melupakan logika. Atau bahkan kembali ingin bersamanya. Pelaku ghosting tidak menutup kemungkinan melakukan hal yang sama di lain hari. Kalian mau di php lagi seperti itu. Jadi maafkan, tapi jangan kembali. Kalian berhak menapak ke depan dan mendapatkan kesempatan orang-orang baru yang bisa melengkapi kalian.

  • Jadikan sebagai pengalaman
Meski di-ghosting itu tidak enak, tapi nantinya bisa dibuat pelajaran. Jangan sampai kena ghosting lagi atau justru melakukan ghosting ke orang lain. Ingat di-ghosting itu tidak enak.

Fenomena gunung es di balik perilaku ghosting

Bisa dilihat baik dari media massa atau media sosial, terjadi kemunduran kepribadian yang diderita oleh banyak dari masyarakat Indoneso, terkhusus pada anak mudanya. Banyak ranah pribadi yang diumbar di media-media yang mereka punya, seperti efek bucin (budak cinta) misalnya. Tetapi tidak hanya anak muda, apa yang dilakukan oleh ibu dari pasangan anak presiden itu juga menunjukkan adanya masalah pada kepribadiannya.

Hal-hal seperti mengumbar ranah pribadi seperti masalah yang sedang terjadi pada dirinya adalah sebuah pertanda ada ketidakberesan. Di sini terlihat adanya kemunduran dalam hal kedewasaan emosional pada pribadi-pribadi tersebut. Kedewasaan emosional bisa didapatkan dari pengalaman hidup sehari-hari.

Apa saja yang masuk dalam kedewasaan emosi seseorang?


Ada beberapa tanda yang bisa dikenali saat seseorang tersebut dewasa secara emosional, yaitu:
  • Paham dan kenal dengan emosi yang sedang dirasakan
Seseorang yang emosionalnya dewasa akan mampu mengenali dan paham dengan emosi yang sedang dia rasakan. Entah itu bahagia, sedih, takut, marah atau yang lain. Ketika telah paham maka dia akan mampu menelaah kenapa emosi itu dia rasakan, mencari tahu penyebabnya dan mengendalikannya secara sadar.

Saya pernah punya teman yang dia bercerita suatu kali saat pulang dari kantor di depan gang tempat kosnya dia secara tiba-tiba merasa marah sekali, tapi di hati kecilnya dia bingung, kok bisa dia marah padahal dia sedang baik-baik saja sebelumnya. Bahagia karena mendapat bonus dari kantor tadi pagi. Lalu siapa yang marah itu, dia bergumul dengan dua kesadaran sampai di depan kos. Anjing penjaga yang biasanya jinak mendadak menggonggong tanpa henti melihat kedatanganya. Dia semakin bingung, sebagai seorang yang taat beragama, akhirnya dia membaca beberapa ayat yang dia ingat sampai merasa ada yang merayap melalui tulang belakangnya dan menghilang dari tengkuk. Setelah itu perasaan marah tadi lenyap begitu saja juga gonggongan anjing tadi. Dia jadi membatin apa tadi itu dia kesurupan ya? Tapi karena mampu mengenali emosinya dia jadi bisa mengendalikan diri dengan baik ketika itu. Dan dari sana dia mendapat sebuah pelajaran berharga.
  • Mampu menerima kritik dan saran secara terbuka
Dalam hidup bermasyarakat akan banyak sekali kritik dan saran yang dilontarkan oleh teman atau keluarga, niatnya ada yang baik bahkan ada yang sengaja untuk menjatuhkan. Orang yang dewasa secara emosi akan mampu menerima kritik dan saran tersebut dengan terbuka tanpa tersinggung sedikitpun atau marah dan membalikkan kata. Dari kritik dan saran tadi dia bahkan berterima kasih karena mendapat masukan untuk memperbaiki diri
  • Tidak bergantung pada orang lain
Ketika sudah dewasa secara emosional orang akan mampu menghindari bergantung pada orang lain. Cenderung mandiri dan percaya diri. Dia tahu betul bahwa kebahagiaan datang bukan dari orang lain tapi dari diri sendiri. 
  • Mampu mengontrol emosi dengan baik
Ketika ada masalah dan emosi tersulut, orang dengan kedewasaan emosional cenderung diam alih-alih melampiaskan emosinya. Dalam diamnya tersebut dia sebenarnya sedang menelaah akar masalah yang dihadapi dan berusaha menyelesaikannya secara logis.
  • Tidak suka menyalahkan orang lain
Pernah tidak kalian melihat ada orang yang salah tapi tidak mau meminta maaf malah justru menyalahkan orang lain? banyak ya terlihat baik di sekitar kita atau hingga ke para petinggi pemerintah. Orang yang emosionalnya dewasa akan langsung meminta maaf ketika dia tahu dirinya salah dan tidak menyalahkan orang lain.
  • Mampu memaafkan diri ketika melakukan kesalahan
Hidup memang adalah sebuah pembelajaran, ada banyak kegagalan maupun kesuksesan yang mengantarkan kita pada pemahaman. Orang-orang dengan kedewasaan emosional akan mampu menyadari kesalahan diri serta memaafkan dengan baik. Belajat dari kesalahan tadi dan kembali menapak ke depan dengan perbaikan-perbaikan yang sudah dia pikirkan agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi.

Tips agar kita dewasa secara emosional

Ada banyak cara sebenarnya yang bisa kita lakukan agar kita mampu dewasa secara emosional, antara lain:
  • Membuka diri pada lingkungan sekitar
Buang jauh-jauh cuek dan tidak pedulimu pada sekitar. Mulailah peka pada kondisi di sekelilingmu, tapi bukan yang kepo pada apapun ya. Belajarlah peka dan peduli pada perasaan orang lain. Itu akan menimbulkan sebuah reaksi yang baik dan rasional yang akan menguntungkan diri kalian.
  • Berpikir sebelum bertindak
Kadang kalau emosi sudah di ubun-ubun kita pingin saja langsung menyemburkan pada orang lain. Marah-marah tidak akan menjadikan solusi. Mulai saat ini belajarlah untuk mengontrol emosi dengan baik. Saat sedang emosi, diam dulu dan menepi. Pikirkan tindakan yang rasional yang bisa kamu lakukan lalu eksekusi setelah emosi reda.
  • Berlatih mencerdaskan emosi
Saat ini bukan hanya cerdas otak saja yang dibutuhkan, cerdas emosi juga sangat mempengaruhi kepribadian kalian. Berlatihlah terus secara konsisten untuk mampu mencerdaskan emosimu agar bisa reasonable dalam bertindak.
  • Meminta feedback dari orang-orang sekitar
Meminta saran pada orang terdekat atau teman-teman akan mampu menambah kosakata untuk perbaikan diri kalinu loh. Plus nya orang lain akan memandang diri kalian bukanlah orang yang self-centered dan mudah bekerja sama.


Memang tidak mudan mendapatkan kedewasaan secara emosional. Banyak jatuh bangun mencoba, berulang-ulang. Mau dan mampu belajar dari pengalaman sendiri dan orang lain akan membuat usaha kita menjadi lebih mudah. Dengan kedewasaan emosional kita akan mampu memfilter emosi-emosi yang kita rasakan dan mengontrolnya dengan baik sehingga tidak akan mendapatkan masalah di hari yang akan datang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar