Selasa, 06 April 2021

NORWEGIAN WOOD : DEPRESI DAN ANXIETY HISTERIA PADA TOKOH-TOKOHNYA

"Kematian bukan lawan dari kehidupan, tetapi ada sebagai bagiannya"- Toru Watanabe

 Membaca Norwegian Wood karya Haruki Murakami membuat saya merasakan sebuah emosi asing yang belum pernah saya alami sebelumnya. Kisah yang begitu suram menyangkut psikologis tokoh-tokoh di dalamnya. Saya sendiri menilai Haruki Murakami sangat piawai menciptakan tokoh. Begitu alami sekaligus rumit. Sisi psikologis tokoh selalu mampu dijabarkan dengan sudut pandang yang sangat unik. Digambarkan dengan sangat kuat dan akurat, tokoh-tokoh itu seakan mewujud nyata di sekeliling kita.

tentang depresi dan anxiety histeria yang menyerang warga jepang


Saya sendiri merasa gelap sekali saat membaca buku ini. Apa benar di masa itu masyarakat Jepang sudah seperti yang digambarkan dalam buku. Murakami menulis buku ini di tahun 1987 dengan judul asli Noruwei No Mori kemudian diterjemahkan dalam bahasa inggris pertama kali pada tahun 2000. Saya melihat genre novel ini lebih ke coming-of-age yaitu sebuah genre yang mengupas perkembangan moral dan psikologis tokoh dari muda menuju dewasa. Toru Watanabe, sang tokoh utama mengalami kejadian-kejadian yang pasti mempengaruhi perkembangan psikologisnya dari umur 19 tahun saat cerita bermula hingga 20 tahun kemudian, yaitu ketika dia berusia 39 tahun.


Lagu Norwegian Wood The Beatles yang mengalun dari speaker pesawat menuju Jerman menjadi awal pembuka novel ini. Dimana Watanabe yang sedang duduk di seat pesawat menjadi terkenang akan hidupnya 20 tahun yang lalu saat bersama Naoko cinta pertamanya. Secara garis besar novel ini menceritakan tentang persahabatan Watanabe, Kizuki, dan Naoko. Kizuki dan Naoko adalah sepasang kekasih. Watanabe hadir di tengah-tengah mereka sebagai sahabat Kizuki, Watanabe mencintai Naoko. Lalu tiba-tiba Kizuki meninggal di usia 17 tahun akibat bunuh diri. Dari sini konflik demi konflik psikologis yang diderita tokoh-tokohnya dimulai.

Ada beberapa kasus bunuh diri dalam novel ini selain Kizuki di atas. Apakah kemudian masyarakat Jepang memang cenderung memiliki sebuah perang batin yang begitu rupa hingga banyak dari mereka yang melakukan bunuh diri sebagai keputusan terakhir?

Saya akan fokus pada masalah kesehatan mental yang diderita oleh dua tokoh dalam novel ini, yaitu Toru Watanabe dan Naoko. Naoko adalah perempuan di antara persahabatan Kizuki dan Watanabe. Semenjak Kizuki meninggal, masalah kesehatan mental yang Naoko alami menjadi semakin berat. Di novel diceritakan bahwa Naoko mengalami depresi yang lebih mengarah ke anxiety histeria yang menyebabkan dia dirawat pada sebuah fasilitas kesehatan semacam sanatorium di pegunungan. Di sana para pasien diberi keleluasaan berkegiatan dan bersosialisasi untuk bisa menyembuhkan sendiri permasalahan mental mereka.

Kesehatan mental Naoko berpengaruh pada psikologis Watanabe. Watanabe mengalami kecemasan baik dalam bentuk realistic, neurotik maupun moral yang berdampak pada gangguan psikologis yang kemudian dia alami dan rasakan. 

Mengenal Depresi dan Anxiety Histeria

Anxiety Histeria adalah salah satu neurosis (gangguan jiwa) yang ditandai dengan reaksi emosional yang tidak terkendali sebagai sebuah cara untuk mempertahankan diri dari rangsang emosi yang diterima. Tentu saja penderita histeria ini akan mengalami swing mood yang drastis. Tiba-tiba menangis, tiba-tiba tertawa. Anxiety Histeria ini adalah jenis histeria mayor yang dapat mengakibatkan terpisahnya fungsi kepribadian satu dan yang lain akibat kecemasan yang berlebihan.

"Anxiety histeria adalah histeria mayor dimana penderita bisa mengalami swing mood yang drastis akibat kecemasan yang berlebihan"

Depresi adalah sebuah gangguan suasana hati yang ditandai dengan perasaan sedih dan rasa tidak peduli yang mendalam. Tetapi tidak lantas semua orang didiagnosa depresi. Patinya semua orang pernah merasa sedih tetapi baru bisa dikatakan depresi jika sudah lebih dari dua minggu merasa sedih, putus harapan dan merasa diri tidak berguna dan tidak berharga. Jika tidak mendapat penanganan dengan baik akan menimbulkan penurunan produktivitas kerja dan gangguan hubungan sosial serta tak jarang menimbulkan keinginan bunuh diri.

"Depresi adalah gangguan suasana hati dalam jangka waktu lebih dari dua minggu dan mengakibatkan penurunan kinerja dan hubungan sosial"

Bagaimana Sih Gejala Depresi dan Anxiety Histeria Itu?

Ciri-ciri orang yang terkena depresi bisa dibedakan menjadi ciri psikologis dan ciri fisik. Ciri psikologis yang bisa dilihat antara lain:
  • Tidak stabil secara emosional
  • merasa putus asa atau frustasi
  • mengalami kecemasan berlebihan
Sedangkan ciri fisiknya antara lain:
  • Menurunnya selera makan
  • pusing dan nyeri tanpa sebab jelas
  • merasa lelah dan tidak bertenaga
Untuk anxiety histeria sendiri ada beberapa gejala yang bisa dijadikan petunjuk, antara lain:
  • Amnesia
  • Somnabulisme
  • Fugue
  • Kepribadian ganda

Beberapa Penyebab Depresi dan Anxiety Histeria

Pada dasarnya depresi bisa menyerang siapa saja di rentang umur berapapun. Namun lebih sering di derita oleh remaja hingga dewasa. Penyebab terjadinya dpresi antara lain:
  • mengalami tekanan batin, misalnya karena perundungan atau target kerja yang menumpuk.
  • memiliki riwayat gangguan kesehatan mental lainnya.
  • mengalami penyakit traumatis, misalnya kerabat meninggal, atau ditinggalkan oleh orang tercinta.
Sedangkan untuk anxiety histeria disebabkan karena mengalami pengalaman traumatis atau pengalaman yang menyakitkan dimana pengalaman tersebut di tekan di alam bawah sadar. Maksudnya dia ingin menghilangkan trauma tersebut namun tidak bisa dihilangkan begitu saja tetapi tersimpan di alam bawah sadar. Suatu ketika pengalaman tersebut bisa muncul ke alam sadar dalam bentuk gangguan jiwa.

Pengobatan yang bisa dilakukan adalah dengan membawa penderita berkonsultasi pada psikiater. Di sana akan dilakukan beberapa tindakan seperti psikoterapi, pemberian obat anti depresan, dan melakukan kegiatan-kegiatan positif setiap hari untuk membantu diri sendiri agar lebih tenang dan mampu menghadapi depresi yang diderita.

Bagaimana Gangguan Mental yang Dialami Tokoh pada Novel Norwegian Wood

  1. Naoko
Naoko adalah seorang gadis cantik namun memiliki psikologis yang rapuh. Kemungkinan besar depresi dan histeria yang dialami oleh Naoko disebabkan karena kematian kakak perempuan dan pacarnya (Kizuki) yang tiba-tiba. Trauma yang disebabkan oleh kematian dua orang tersebut mengguncang psikologis Naoko dan menyebabkan kecemasan berlebih pada dirinya. Perubahan emosi yang sangat drastis dialami oleh Naoko sampai ke halusinasi dan menurunnya kinerja serta sosialnya. Meski sempat dirawat di sebuah sanatorium hingga rumah sakit namun tekad Naoko untuk mengakhiri hidup sudah bulat. Dia tidak mampu menghadapi perubahan dan gangguan psikologis dalam tubuhnya dan memilih menyerah.
  1. Toru Watanabe
Toru Watanabe sebagai narator dalam novel ini adalah pemuda dengan akademis rata-rata. Terdampak oleh gangguan mental yang dialami oleh Naoko dan menyebabkan gangguan secara psikologis pada dirinya. Watanabe kesulitan mengontrol kestabilan psikologis dengan baik karena merasa bertanggung jawab pada Naoko. Kebingungan demi kebingungan dialami hingga puncaknya saat Naoko bunuh diri Watanabe mengalami goncangan jiwa. Dia akhirnya melakukan perjalanan selama sebulan menjauh dari siapapun untuk dapat berfikir dengan tenang terkait dengan psikologisnya. Untungnya Watanabe berhasil melewati gangguan tersebut dan kembali menjadi manusia biasa dan menjalani kehidupan secara normal.

Dari paparan novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami dapat disimpulkan bahwa bunuh diri pada masyarakat Jepang bukan hal asing. Tekanan dan tujuan hidup menjadi alasan yang paling mendasar saat melakukan hal ini. Tentu saja bunuh diri akan menyisakan duka bagi orang yang ditinggalkan dan tidak sedikit yang kemudian menyebabkan pola pikir mereka akan kehidupan.

Dalam novel ini ada setidaknya empat orang yang melakukan bunuh diri karena tidak kuat menghadapi gangguan mental yang mereka alami. Pertama adalah Kizuki (pacar Naoko), kemudian Hitsumi-san (pacar Nagasawa-san), kemudian ada kakak perempuan Naoko, dan terakhir Naoko.

Ketika permasalahan yang dialami oleh remaja dianggap hal remeh oleh keluarga, bisa menimbulkan permasalahan yang lebih pelik. Awalnya mungkin hanya perundungan, atau kebergantungan pada seseorang, namun yang demikian bisa menyebabkan depresi berkepanjangan jika tidak ditolong oleh orang lain. Penderita gangguan mental membutuhkan kasih sayang dan perhatian penuh dari banyak pihak agar bisa menjadi lebih percaya diri dan mampu keluar dari kecemasan yang dialami.

Adanya hubungan  dan komunikasi yang baik dengan keluarga dan teman adalah salah satu jalan agar kasus bunuh diri tidak lagi terjadi. Bagaimana masalah-masalah yang hadir pada kehidupan seseorang dan memberatkan psikologisnya akan mampu berkurang dengan menguraikannya secara bercerita pada orang-orang terdekat. Adanya kasih sayang dan perhatian yang tulus saya rasa akan melahirkan manusia-manusia kuat yang mampu berjuangbagi dirinya.

"What makes us most normal is knowing that we're not normal"- Reiko

Sebagai catatan, novel ini saya kira diperuntukkan untuk dibaca oleh pembaca di atas 20 tahun. Banyak adegan seks yang disajikan secara vulgar dan berturut-turut. Dan seperti gaya Murakami dalam novel-novel yang lain, ending novel dibuat menggantung. 

Secara umum novel ini sangat bagus. Saya sendiri merekomendasikan ovel ini sebagai bahan bacaan. Saya pun banyak belajar bagaimana menarasikan kejadian dengan baik dan runut, juga menyajikan tokoh-tokoh yang solid. Murakami sangat piawai menuturkan kisah dengan gamblang dan rinci. Selamat membaca teman-teman. 

 Judul Buku : Norwegian Wood
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan Pertama : Juli 2005
Penerjemah : Jonjon Johana
Penyunting : Yul Hamiyati
Ilustrator : Deborah Amadis Mawa
Layouter : Wendie Artswenda
ISBN : 978-602-6208-94-1
Halaman : 423, 13,5 x 20cm

#RCO9
#ReadingChallengeOdop
#OneDayOnePost

7 komentar:

  1. Aku penasaran tentang mood swing, mereka tiba-tiba tertawa dan menangis gitu nggak ada sebabnya ya, jadi tiba2 aja pengen nangis.. nwgitu kayaknya ya Mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya disini sih dikisahkan seperti itu, jadi kayak dia g bisa kontrol emosinya sendiri karena merasakan tekanan berat dan banyaknya halusinasi yang dia rasakan

      Hapus
  2. Buku-buku murakami emang bernuansa muram, ya? Tapi, selalu disukai. Mungkin, karena dekat dengan kita. Awareness atas mental health ini mungkin sangat perlu bagi kita. Terutama, dengan makin tingginya tuntutan hidup dan sibuknya kita mengejar pemenuhan atas kebutuhan hidup yg sifatnya Materi. Efeknya,terjadilah ketudak seimbangan mental.. Duh, ini pr buat kita semua ya, mbak Marwita..

    Anyway, bukunya tebal banget. Keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dannnn bukunya Murakami banyak adegan dewasanya. Aduh pingin hengkang tapi kok bagus2. Baca yg 1Q84 ngeri2 sedap 😁
      Dannn semuanya gantung akhirnya

      Hapus
  3. Aku belum perrnah membaca bukunya Murakami, yertarik untuk membacanya, sepertinya masalah kesehatan mental ini bisa dikurangi kasusnya engan bentuk perhatian dan kasih sayang serta dorongan dari diri pribadi untuk sembuh

    BalasHapus
  4. Sering banget lihat buku Norwegian Wood bersliweran. Tapi baru kali ini baca review bukunya. Nggak nyangka ternyata kisahnya kelam banget ya. Sebenarnya penasaran, soalnya belum pernah baca bukunya Mukarami. Tapi kok kelihatannya sedih banget yak :(

    BalasHapus