Selasa, 20 Juli 2021

MENIKMATI AWAN DI LANGIT TORAJA

"Ada' todolo mandiong tangdisurrukki, mandiong tangditengkai (Adat tidak boleh diubah dengan sewenang-wenang, bahkan oleh saman yang ada saat ini)"

Pertama kali saya mengenal Toraja adalah dari "Bunga". Ya Bunga, dia adalah salah satu teman saat saya kuliah di Bali. Namanya benar-benar sangat sesuai dengan orangnya. Awal ketemu saya sampai ternganga saking terpukaunya. MashaAllah kok ada perempuan secantik ini. Dia benar-benar cantik. Kulitnya seputih susu dengan rambut hitam lebat dan matanya, aduh matanya itulah pusat pesonanya. Sayangnya saya tidak mungkin mencintai sesama perempuan :). Tapi seandainya saya laki-laki pastilah saya jatuh hati. Belum pernah saya menjumpai perempuan secantik dia.

Menikmati awan di langit toraja


Ya benar dia berasal dari Toraja. Darinya lah saya mendengar bermacam cerita mengenai kampung halamannya. Dari malam-malam yang kami habiskan sambil mengunyah kacang dan minum kopi. Saya seperti diajak bertualang melalui imajinasi. Dan caranya bercerita memang melambungkan imajinasi saya. Benar-benar piawai. Menurut saya dia sangat pantas mendapat kepercayaan menjadi duta wisata Toraja. Selain cantik dia juga sangat pintar berbicara.

Tapi cerita-cerita itu telah berlalu bertahun-tahun lalu. Imajinasi tentang Toraja terlupakan begitu saja seiring hidup saya yang telur bergulir. Tapi ternyata saya kembali berjodoh dengan Toraja. Dari kecintaan saya membaca, saya seperti diantar menuju langsung ke Toraja lewat buku karya Faisal Odang yang berjudul Puya ke Puya. Secara garis besar buku ini bercerita tentang adat Rambu Solo yang dilakukan untuk mengantar orang mati ke surga. Di dalam buku ini sangat pekat dengan tradisi Toraja dan apa saja konflik yang biasa timbul dalam pelaksanaannya dalam kehidupan.

Novel puya ke puya karya faisal odang

Nah habis baca buku ini saya malah semakin terpompa untuk bisa kapan-kapan berkunjung ke Toraja. Selain penasaran kenapa perempuan-perempuan di sana cantik-cantik juga ingin melihat sendiri keindahan Toraja dan adat yang masih kental di sana.

Apa saja yang ingin saya saksikan di Toraja

Saya memang sangat mencintai tradisi meskipun saat ini banyak warga yang justru mulai meninggalkan pelan-pelan. Yang saya sesalkan adalah kenapa mereka tidak mampu melihat adanya pelajaran hidup yang diselipkan dari tradisi-tradisi itu. Seperti saat pandemi sekarang, dulu nenek moyang kita sudah memberikan tradisi yang begitu relevan dengan kondisi saat ini. Bagaimana mereka menempatkan padasan (wadah pancuran air) di depan rumah untuk cuci kaki dan tangan sebelum masuk rumah. Tetapi nyatanya tradisi itu terlupakan begitu saja. 

Karena saya suka yang berbau tradisi, maka tujuan saya di Toraja juga tidak jauh-jauh dari tradisi tersebut. Setelah membaca Puya ke Puya ada beberapa list tempat tujuan saya ke Toraja. Mau tahu? ini dia:

  • Tongkonan
Di buku Puya ke Puya, Tongkonan disebutkan berkali-kali sebagai rumah adat bagi masyarakat Toraja. Sayangnya tidak ada gambar atau penjelasan yang rinci tentang tongkonan tersebut. Ketika Rante (Ayah Allu) yang meninggal karena diracun disemayamkan di salah satu ruang di tongkonan sebelum upacara Rambu Solo dilaksanakan. Saya kurang jelas disini apakah memang mayat orang yang meninggal itu begitu saja diletakkan di ruangan tongkonan. Kenapa diletakkan di sana dan apakah kemudian mayatnya tidak berbau?

"Setiap pagi Tina akan menyanyi untukku ketika membawa sarapan, tembakau beserta kertas lintingnya. Dan yang tidak pernah ia lupa adalah daun-daun sirih segar buat kukunyah. Ia meletakkannya di sampingku. Selamat sarapan, aku mencintaimu, tenanglah di sana. Begitu katanya, sebelum beranjak ke kolong tongkonan untuk menenun kain toraja." -Puya ke puya, halaman 26 

Karena setahu saya ada mayat yang harus disemayamkan sekian lama sebelum akhirnya bisa dilaksanakan upacara Rambu Solo. Apa masyarakat adat Toraja mengaplikasikan proses pengawetan mayat?

Ini sangat membuat saya penasaran. Kalau di Trunyan Bali memang mayat hanya diletakkan begitu saja di bawah pohon Trunyan. Tetapi memang tidak berbau atau baunya bisa dinetralisir oleh bau pohon trunyan yang harum. Tapi kalau di Toraja apa yang dipakai untuk menghilangkan bau dan memperlambat pembusukan mayat?

Selain tentang persemayaman mayat saya juga ingin sekali tahu kenapa tongkonan di desain mirip dengan perahu? dan kenapa semua menghadap ke utara. Apa saja sih yang menjadi unsur dalam pembuatan tongkonan tersebut. 

Untuk itulah saya ingin datang langsung ke sana dan menyaksikan betapa megah dan sakralnya tongkonan bagi masyarakat adat Toraja. 

rumah adat toraja (tongkonan)
Picture taken from google picture

  • Upacara adat Rambu Solo
Di buku puya ke puya dengan gamblang Faisal Odang mengisahkan tentang konflik yang timbul ketika ada yang meninggal. Di sini dikisahkan tentang kebingungan Allu dan ibunya untuk menguburkan mayat ayahnya. Jika dikuburkan di Toraja harus melalui ritual rambu solo dulu agar Rante bisa masuk ke puya (alam roh) padahal untuk melakukan itu dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.

"Kau paham pasti. Jika tak ada rambu solo, wajah kerabat akan tercoreng. Gengsi keluarga Ralla akan jatuh mirip buah ranum yang menimpa bebatuan. Akan remuk harga diri mereka."-Puya ke Puya halaman 33 

Upacara adat Rambu Solo sendiri memang dikatakan sebagai upacara pemakaman paling mahal di Indonesia. Apalagi jika dilakukan pada mayat bangsawan. Paling tidak puluhan kerbau dan ratusan babi harus disiapkan. Saya jadi tahu dari buku tersebut bahwa orang Toraja menganggap suci kerbau karena meyakini nantinya kerbau itulah kendaraan menuju ke puya. Karena itu selalu ada kerbau di ritual-ritual Toraja.

Saya baru pernah menyaksikan prosesi pemakaman yang dilakukan di Bali, Ngaben. Ngaben adalah upacara pemakaman dengan membakar mayat menjadi abu. Untuk ngaben sendiri saya tahu jumlah uang yang dihabiskan bikin saya geleng-geleng kepala. Sebenarnya ini pemakaman atau pesta?

upacara rambu solo
Picture taken from google picture

Karena itu justru saya semakin penasaran dengan rambu solo. Kemegahan yang bagaimana yang ditampilkan dalam tradisi ini sehingga harus merogoh kocek begitu dalam. Saya juga sangat penasaran dengan pemahaman masyarakat Toraja yang menganggap jika rambu solo belum dilaksanakan maka kematian itu belumlah sempurna. Mayat yang disemayamkan di tongkonan tetap diperlakukan seperti oarang hidup dengan memberi makan, minum, dan sirih. Bagaimana ya hidup seatap dengan mayat?

Suatu saat saya ke Toraja semoga bersamaan dengan adanya rambu solo. Saya ingin berada di sana menyaksikan rangkaian ritual yang wajib dilakukan untuk mengantar jenazah menuju ke puya. Bagaimana mayat diperlakukan dari awal upacara hingga sampai ke kompleks pemakaman. Apa saja yang harus disiapkan untuk menggelar upacara itu. Pokoknya saya mau mengikuti dan banyak-banyak mencari informasi saat ritual dilakukan kemudian menuliskannya dalam diari perjalanan di blog.

"Kenapa semua sisa hasil usaha orang Toraja dilakukan untuk penguburan, karena harta harus dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk sosial supaya membiasakan anak-anaknya (mendiang) tidak tergantung pada warisan." 

  • Makam batu
Di buku puya ke puya juga disebutkan bahwa setelah upacara rambu solo selesai barulah mayat bisa dikuburkan. Biasanya akan diarak menuju kompleks pemakaman yang bernama Lakkian. Uniknya di Toraja mayat disemayamkan di kubur batu. Lalu akan dibuatkan semacam boneka yang mirip dengan wajah mayat dari kayu yang dinamakan tau-tau. Tau-tau dipakai sebagai personifikasi orang yang meninggal dan simbol prestise. Karena untuk membuat tau-tau ada syarat harus menyembelih 24 kerbau.
makam batu toraja
Picture taken from google picture

Mahal sekali ya upacara pemakaman di Toraja. Begitu mewah dan megah. Ada beberapa spot Lakkian yang ingin saya datangi ketika nanti bisa mengunjungi Toraja. Karena memang ada keunikan tersendiri pada tiap spot tersebut, berikut rinciannya:

  1.  Tampang alo, terletak di Kecamatan Sangalla berupa gua dengan peti mati kuno dan patung-patung bangsawan. Saya penasaran ada berapa banyak mayat yang disemayamkan di sana dan ingin merasakan bagaimana perasaan suasana, apakah mistis?
  2.  Lemo, terletak 9 km dari kota Makale berupa kuburan batu pahat sebagai pemakaman purba bagi kepala suku Toraja di masa lalu. Saya ingin tahu bagaimana batu-batu itu dipahat, apakah mayatnya masih utuh seperti mumi Mesir?
  3.  Suaya, terletak sekitar 9 km dari Makale, di sini ada tebing dengan beberapa patung serta peti berukir dari kayu yang biasa disebut erong. Makam ini khusus untuk raja-raja Sangalla. Wuih tebing batu sebagai kuburan? bagaimana memahat tebing dan mengangkat mayat ke atas ya? jadi penasaran saya.
  4.  Londa, terletak di kecamatan Sanggalangi berupa bebatuan curam yang dijadikan makam. Di dalamnya ada peti mati, tulang, dan tengkorak mayat, dan sesaji bagi orang yang sudah mati, juga beberapa patung. 
  5.  Sirope, terletak 6 km dari kecamatan Makale Utara berupa pemakaman batu pahat di tebing-tebing batu. Ada erong dan patung-patung juga, katanya ada jalan naik ke atas tebing untuk melihat pemandangan juga.

Lihat betapa uniknya Toraja. Kompleks pemakamannya sangat unik dan menimbulkan penasaran bagi saya khususnya. Apalagi Toraja memang dikelilingi batu karst yang membuat udara di sana cenderung lebih dingin dibanding dengan sekitar. Sepertinya akan sangat menyenangkan melakukan perjalanan spiritual di sana. 

  • Ibu Pohon
"Ibu pohon sedih sekali hari ini. Batang-batangnya pucat seperti tak menampung air. Daun-daunnya layu. Banyak juga yang tiba-tiba kering, ang gugur tiba-tiba jangan dihitung lagi."-Puya ke Puya halaman 90

Ada juga yang membuat penasaran di Toraja, yaitu apa yang disebut dengan ibu pohon di buku puya ke puya tersebut. Ibu pohon adalah tempat pemakaman bagi bayi yang meninggal di bawah 6 bulan. Dijelaskan di sana bahwa pohon-pohon itu dilubangi kemudian bayi-bayi diletakkan dan hanya ditutup dengan ijuk. Menurut kepercayaan Toraja, mayat-mayat itu akan berada di sana hingga waktunya tiba untuk menuju puya.

makam pohon toraja
Picture taken from google picture

Makam pohon yang biasa disebut Passiliran ini memakai pohon Tarra yang banyak tumbuh di Toraja dan mengandung banyak getah. Salah satu spot makam pohon yang ingin saya kunjungi ada di Kambira. Saya ingin tahu apakah benar bayi-bayi itu akan "melekat" di pohon. Apa yang dimaksud melekat itu habis tak bersisa?

Benar-benar cara pemakaman yang unik dan menarik. Filosofinya itu yang bikin saya semakin ingin pergi melihatnya. Ternyata orang Toraja sangat menjunjung tinggi adat dan alam. 

Itu beberapa tempat yang ingin saya kunjungi saat nanti bisa mengunjungi Toraja. Bagaimana dengan alat transportasi? mungkin, ini mungkin ya, saya inginnya naik kapal laut dibanding pesawat. Karena setahu saya saat menuju ke sana kapal akan bersandar di beberapa tempat sebelum tiba di Makassar. Jadi saya bisa sambil mengunjungi banyak tempat dalam sekali jalan. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui :). 

Saya sih inginnya pergi bersama anak-anak dan suami biar punya kenangan bersama. Tapi untuk ke sana butuh waktu yang lumayan ya, tidak bisa sehari atau dua hari. Mungkin saat liburan sekolah bisa diagendakan. Tentunya saat pandemi sudah berakhir. Semoga ada rejeki agar mimpi melihat awan di langit Toraja bisa terpenuhi. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar