Halaman

Senin, 30 Agustus 2021

CERPEN PEMENANG LOMBA CV. IKUT LOMBA KREASI MEDIA

 Cerpen ini idenya sudah lama sekali saya simpan diam-diam. Waktu itu muncul karena membaca sebuah kisah di buku entah apa saya juga lupa. Lalu mulai mencari dan riset tentang para Nyai di jaman Belanda. Bagaimana kehidupan mereka, pro kontra yang terjadi terkait status tersebut di masa lalu, dan kisah setelah suami Belanda mereka kembali ke negara asal.

Memang ide itu lama sekali saya simpan dan tidak juga saya eksekusi. Baru ketika ada lomba yang diadakan oleh Ikutlomba saya coba bikin realnya.


Alhamdulillah cerpen ini diapresiasi dengan sangat baik oleh panitia dan mendapat juara 3. Berikut saya cantumkan cerpen tersebut untuk dibaca oleh teman-teman.

SEPASANG MATA DI BALIK SENJA

 

Kasmaran mring rasa jati

Ngudi pakerti ning rasa

Rasa tresna budayane

Mangulah kridha ning swara

Sekar alit rinipta

Macapat winastan tuhu

Mula becik kawruhana

 

Lantunan tembang macapat samar-samar membuat mata yang hendak terpejam kembali berpendar. Agni memalingkan pandangan, menatap ke arah jendela besar sebelah barat rumah. Di sana duduk perempuan tua dengan sanggul rapi menghiasi kepala, tegak memandang ke arah matahari yang mulai terbenam. Mulutnya komat kamit menembangkan Asmarandana1 dengan laras slendro2 yang menelusup ke relung-relung kalbu. Matanya berkabut meriakkan entah apa. Masih saja sama meski puluhan tahun telah berlalu.

 

Agni beranjak dari dipan bambu di teras belakang, mendekati perempan yang sedang menikmati waktu dengan menghayati lirik-lirik tembang yang dia nyanyikan.

 

Mbah sampun badhe manjing3.

 

Agni memaksa perempuan tua itu  menoleh dan menyudahi aktivitas diam yang menggelisahkan Agni sejak lama. Senja selalu membuat perempuan tua itu duduk diam di singgasana, sebuah kursi kayu tua. Menatap matahari yang kembali dari perputaran hari. Menyisakan semburat jingga yang akan menjadi saksi bisu perempuan tua itu mengakhiri hari, dan hatinya.

 

Perempuan tua itu berdiri, mengalungkan jemari keriputnya di lengan Agni. Tersenyum pelan dan membawa Agni melangkah bersama ke kamar miliknya. Umurnya sudah hampir seabad, secara fisik pun masih sangat sehat. Tapi Agni tahu di dalam hati perempuan itu terdapat luka yang masih menganga.

 

***

 

Agni kecil berlarian di ruang tengah rumah besar milik neneknya. Rumah yang sangat luas membuatnya bebas berlarian kesana kemari. Tapi langkah kaki kecilnya terhenti begitu telinganya mendengar tembang macapat didengungkan di sore yang cerah. Tidak cocok menurutnya. Lalu dilihatnya sang nenek yang duduk diam memandang ke jendela yang mengguratkan senja di langit barat. Terdiam dalam waktu yang lama.

 

Lama Agni baru tahu kenapa neneknya melakukan ritual menjelang senja itu setiap hari sepanjang ingatan Agni. Kisah itu diceritakan padanya tepat ketika usianya menginjak 12 tahun. Dan Agni menegang saat melihat butiran airmata yang tak pernah terlihat di mata neneknya tumpah ruah saat mengisahkannya. Pasti sangat berat, terlampau berat untuk mengingat kembali apa yang telah membuat hati perempuan tua itu terluka begitu dalam. Begitu lama.

 

Beranjak remaja Agni tahu apa yang harus dia lakukan. Terlebih untuk neneknya. Dia tahu pasti berat sekali apa yang disimpan lama di hati tua neneknya. Sejak itu satu mimpi dan tekad tertanam kuat dalam hatinya. Menyembuhkan luka di hati nenek, dengan begitu dia sekaligus menyembuhkan sendiri luka hatinya.

 

Agni remaja mulai mengejar mimpinya. Bertekad bulat harus mampu menguak informasi dari neneknya meski itu akan membuka luka. Agni sangat bergantung pada cerita sang nenek untuk dapat menggapai mimpi itu.

 

Asmane4 Ranu Van Lovink, simbah5 tidak ingat bagaimana wajahnya sekarang”.

 

Wajah Agni berseri begitu mendengar satu nama yang akan menjadi kunci. Diciumnya sang nenek dengan perasaan bahagia, lalu beranjak pergi tanpa mengucap sepatah kata.

 

***

 

Udara dingin menyambut Agni begitu menginjakkan kaki keluar dari Schiphol. Jaket dua lapis yang dia pakai tak mampu membendung hawa dingin yang menggigilkan tubuhnya. Cepat dia larikan mata mencari seseorang yang akan menjemput.

 

“Agni, come here!”

 

Suara baritone khas milik Baron mengalihkan konsentrasi Agni. Dia berlari menuju tempat Baron yang sedang bersandar di mobilnya.

 

Goedendag6 Agni, welcome to Holland”.

 

Agni menghambur dalam pelukan Baron. Sudah lama sekali tidak bertemu membuatnya rindu. Baron adalah salah satu teman masa kecilnya. Sejak SMA memutuskan untuk tinggal bersama ayahnya di Belanda. Melanjutkan sekolah dan kuliah di sana. Baron pula yang selama ini membantu Agni dalam pencarian panjangnya menggapai mimpi. Setiap perkembangan baru selalu diberitahukan oleh Baron padanya.

 

“Jadi sudah ada titik terang?”.

 

Agni memandang Baron yang tengah sibuk mengemudi. Dia tak sabar lagi. Setelah berjuang selama sepuluh tahun Baron mengatakan ada informasi penting yang didapatnya dari teman ayahnya yang seorang intelejen di Belanda. Agni tak sabaran ingin melalukan pengecekan informasi dari Baron semasa di Indonesia. Tapi dia sedang berjuang mendapatkan beasiswa S2 dari pemerintah untuk kuliah di Belanda.

 

“Jangan terburu-buru, selesaikan dulu administrasi kuliahmu. Nanti akan kutemani untuk mencarinya”.

 

Agni terdiam. Ini hari pertamanya menginjakkan kaki di Belanda. Setelah mendapat kabar aplikasi beasiswanya diterima di Utrecht University dia segera berkemas. Agni berburu dengan waktu. Usia neneknya menjadi sesuatu yang menggelisahkan. Dia tak mau mimpinya hancur karena kepergian sang nenek.

 

Agni sudah melakukan berbagai cara. Mencari keberadaan seseorang yang telah lama meninggalkan Indonesia tanpa adanya koneksi memang membutuhkan kerja keras. Pencariannya menjadi lebih mudah saat dia tahu Baron sedang berada di Belanda tujuh tahun yang lalu. Selama itu baik Agni maupun Baron bekerja sama menggenapkan pencarian Agni.

 

***

 

“Dia berada di Almelo. Butuh waktu kurang dari 2 jam untuk sampai di sana”.

 

Agni menangkupkan tangan di dada meredam gelisah yang membuat tak nyaman. Entah bagaimana nanti pertemuan mereka. Baron memandang Agni dengan tatapan prihatin, tak mudah menata hati untuk bertemu dengan seseorang yang menjadi prioritas hidup namun tak mengenal Agni sama sekali. Cinta dalam hati Baron yang membuatnya rela membantu Agni hingga saat ini. Bagi Baron seseorang yang dicari Agni itu adalah tiket untuknya memenangkan hati Agni.

 

***

 

Sebuah rumah pedesaan sederhana terpampang saat Agni keluar dari dalam mobil. Baron menuntunnya mendekati pintu rumah yang terlihat nyaman dengan bunga-bunga menghiasi taman.

 

Pardon7”.

 

Baron mengetuk pelan pintu beberapa kali sebelum seseorang berambut hitam legam membukanya. Agni terkesiap. Baron lebih dominan dalam percakapan dengan lelaki di depannya setelah mereka dipersilahkan masuk. Bahasa Belanda Agni belum mahir tapi dia bisa menangkap beberapa patah kata dan mengasumsikan sendiri artinya.

 

“Apa Anda mengenal Waginah dari Indonesia?”.

 

Agni bertanya dengan tak sabar pada lelaki di depannya. Lelaki itu menatap tajam Agni dengan tubuh bergetar.

 

Cerita mengalir dari bibir Agni tentang bagaimana neneknya begitu menderita setelah terpaksa berpisah dengan Ranu saat masih bayi. Statusnya yang hanya seorang Nyai mau tak mau merelakan tuannya kembali ke Belanda dengan terpaksa. Jepang yang telah mengalahkan Belanda mengusir semua orang Belanda dari bumi Indonesia. Ranu dibawa serta sang ayah yang menyisakan airmata dan luka di hati Waginah. Seharusnya dia bisa ikut pergi jika sang Tuan mau meresmikan hubungan mereka ke pernikahan. Tapi itu hal yang mustahil. Tuannya telah beristri. Waginah merelakan dirinya terpenjara dalam kerinduan pada buah hati lebih dari separuh abad.

 

Lelaki di depannya terpaku. Lalu beranjak masuk dan mengambil satu kotak kecil dari kamarnya. Agni terbelalak memandang liontin ukiran separuh hati di depannya. Tangannya reflek merogoh ke dalam kemeja yang dia pakai, mengeluarkan liontin satunya dari baliknya. Itu adalah pemberian sang ibu sebelum meninggal.

 

Mereka berdua sama-sama berair mata. Pertemuan ini adalah pintu menuju penyembuhan luka. Baron hanya mampu diam dan mendekap bahu Agni untuk menguatkan.

 

***

 

Tembang macapat kembali terdengar di senja entah keberapa. Perempuan tua itu lekat memandang langit barat yang mulai dipenuhi jingga. Mulutnya komat-kamit menyanyikan tembang Asmarandana dengan merdu. Tegak memandang matahari yang pelan-pelan pergi meninggalkan bumi.

 

Mbah sampun badhe manjing”.

 

Agni menepuk pelan bahu neneknya. Senyum terllihat dari bibir tua yang membeku tiba-tiba. Di samping Agni berdiri seorang lelaki dengan wajah serupa dirinya. Airmata membanjir di wajah perempuan tua itu. Airmata kesekian yang dilihat Agni. Namun tidak lagi dia rasakan perih. Hati Agni lega. Bebannya terangkat pelan seiring pertemuan ibu dan anak yang lama dia mimpikan.

 

 

Asmarandana1, salah satu tembang macapat yang bercerita tentang kisah asmara.

laras slendro2, salah satu cara menyanyikan tembang macapat.

Mbah sampun badhe manjing?”3, Jawa, “Nek sudah mau Maghrib”.

Asmane4, Jawa, Namanya.

Simbah5, Jawa, Nenek.

Goedendag6, Belanda, Selamat Siang.

Pardon7”, Belanda, Permisi.

Bagaimana? suka dengan cerpennya?

Saya sangat mengharapkan feedback dari teman-teman sebagai refleksi untuk saya agar lebih berkembang. Terima kasih sudah membaca 😊

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar