Halaman

Rabu, 04 Agustus 2021

KASUR TANAH, SEBUAH KRITIK SASTRA CERPEN KARYA MUNA MASYARI

Kasur tanah, sebuah kritik sastra

Sebuah karya sastra selalu memberikan stimulus yang tidak bisa diabaikan oleh banyak orang. Bukan hanya oleh penikmat sastra sendiri, tetapi juga masyarakat umum meskipun sangat awam dengan dunia kesusastraan. Cerpen memiliki sebuah ikatan khusus bagi saya di beberapa waktu ke belakang. Membaca cerpen memberikan sebuah ekstase tersendiri. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari sebuah cerita pendek. Bagaimana penulis menciptakan tokoh, memutar otak untuk membuat konflik, dan menutupnya dengan sebuah closing yang memukau.


Dari banyak cerpen saya tertarik dengan cerpen milik Muna Masyari yang berjudul Kasur Tanah. Muna Masyari sendiri adalah penulis yang berasal dari pulau garam Madura. Beliau salah seorang penulis yang tumbuh bukan dari kalangan berpendidikan. Muna bahkan tidak menyelesaikan pendidikan dasar. Namun kecintaannya membaca membuatnya mampu menciptakan banyak karya sastra berkualitas dan dimuat di berbagai media. Patut bagi saya memberikan sungkem atas keberhasilan beliau di tengah keterbatasan.

Cerpen yang ditulis oleh Muna Masyari mayoritas mengangkat kebudayaan lokal Madura. Martabat Kematian, Tanah Air, Munajat Sesayat Doa, Doa Yang Terapung, Celurit Warisan, dan Kasur Tanah adalah beberapa cerpen yang beliau tulis dan dimuat oleh media besar di Indonesia. Kasur Tanah sendiri bahkan berhasil memenangkan Cerpen Terbaik Kompas di tahun 2017. Di hampir semua cerpennya, Muna memakai sudut pandang orang pertama bukan pelaku utama. Sudut pandang seperti ini tergolong susah bagi sebagian besar penulis dan kurang diminati. Di sini Muna justru berkembang sangat baik. Cerpen-cerpennya mengalir dengan lancar dan apik.

Kali ini saya bermaksud menguraikan struktur yang membangun cerpen Kasur Tanah karya Muna Masyari serta memberikan kritik terhadap karya tersebut dengan menggunakan pendekatan psikologis. Pendekatan psikologis adalah pendekatan penelaahan sastra yang menekankan pada segi-segi psikologis yang terdapat dalam sebuah karya sastra yang bertujuan untuk memahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung dalam sebuah karya sastra. Cerpen Kasur Tanah selain menjadi pemenang dalam ajang cerpen terbaik Kompas pada tahun 2017 juga memiliki hal-hal unik termasuk adanya ketidaksejalanan aspek psikologi mengenai Id, Ego, dan Superego pada tokoh sentral (Aku, Kau dan Embu) dengan teori Sigmund Freud. Freud sendiri pada tahun 1923 merumuskan hipotesis yang berhubungan dengan seluk-beluk jiwa manusia. Dia menyimpulkan bahwa jiwa manusia tersusun dalam tiga hal. Yaitu Id (libido atau dorongan dasar), Ego (peraturan secara sadar antara ide dan realitas luar), dan Superego (penuntun moral dan aspirasi seseorang).

Unsur intrinsik yang bisa dijabarkan dari cerpen Kasur Tanah antara lain: tema, penokohan, latar, alur, sudut pandang, dan amanat.

1.      Tema

Tema yang diangkat dalam cerpen Kasur Tanah adalah Kau (seorang anak) yang dijadikan sortana bagi Embu’ (seorang ibu). Tema ini terlihat pada kutipan berikut:

Kaulah sortana bagi Embu. Keberadaanmu tentu semakin melekatkan ingatan lelaki itu padanya.”

2.      Penokohan

Tokoh-tokoh pada cerpen Kasur Tanah dapat dilihat pada pembahasan berikut:

a.       Aku

Aku dalam cerpen ini digunakan sebagai sudut pandang tetapi bukan sebagai tokoh utama. Aku digambarkan sebagai seseorang yang setia dalam menjaga rahasia dan sebagai seorang yang religius. Aku berwatak santun dan kalem.

·         Setia menjaga rahasia bisa dilihat dalam kutipan berikut:

Ada satu amanah lagi yang embu’ titipkan padaku; menjaga rahasianya. Rahasia identitasmu”.

·         Religius bisa dilihat dalam kutipan berikut:

Sebagai perempuan yang dulu menjadi santri abdi di rumah Keh Sadulla, akulah saksi cinta mereka yang kandas karena status sosial dan tradisi perjodohan”.

b.      Kau

Kau dalam cerpen ini adalah tokoh utama. Aku digambarkan sebagai seorang anak yang mencintai ibu dan taat kepadanya. Aku berwatak hampir sama dengan aku yaitu santun dan kalem. Penggambaran karakter dapat dilihat dalam kutipan berikut:

“”Tapi aku tidak ingin ditinggalkan Embu’,” rusuh di dadamu tergetar jelas dari suaramu.”

c.       Embu’

Embu’ adalah seseorang yang taat pada orangtua, terbukti dengan perkawinan yang dia lakoni karena adanya tradisi perjodohan bayi dan meninggalkan orang yang dia cintai begitu saja meskipun harus merasakan sakit sepanjang hidupnya. Embu’ juga seorang yang setia dan memiliki kasih sayang yang tinggi untuk putrinya. Penggambaran karakter bisa dilihat dalam kutipan berikut:

Namun, perbedaan status sosial, tradisi pertunangan sejak bayi, hingga martabat yang harus dijunjung tinggi telah menumbalkan sebiji cinta yang dimilikinya. Tidak ada pilihan baginya kecuali tunduk di hadapan orangtua. Pada tradisi takdir perjodohan bayi”.

 Setelah menikah, embu’memilih setia pada ayahmu, yang telah menjadi tunangannya sejak masih bayi dan memendam cintanya dalam-dalam. Katanya, kehormatan seorang perempuan setelah menjadi istri berada pada kesetiaannya.”

3.      Latar

Latar dalam sebuah cerpen dibagi menjadi 3, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar suasana. Penjabaran latar yang disuguhkan dalam cerpen kasur tanah adalah sebagai berikut:

a.       Latar tempat

·         Kamar

Tidak ada sortana berbahan keramik dan bergambar wajah embu’ yang bisa dihaturkan ke rumah guru ngaji. Perabot-perabot itu telah menjadi puing di lantai ketika pagi tadi kau memeriksa kamar embu’”.

b.      Latar waktu

·         Pagi hari

Meskipun pekerjaan dapur sudah kau bereskan sejak sebelum subuh, dan baju-baju kotornya kau cuci sebelum sinar matahari mengecup gorden jendela kamarnya, embu’ masih bersikeras menyapu lantai dan halaman yang banyak mengepulkan debu saat disapu, hingga berakibat nafasnya kian sengal gara-gara batuk panjang”.

c.       Latar suasana

·         Mengharukan.

““Tapi aku tidak ingin ditinggalkan Embu’,” rusuh di dadamu tergetar jelas dari suaramu.”

·         Menyedihkan

Puing-puingnya berserak di lantai, dekat kaki pembaringan. Kau sempat histeris mendapati tubuh embu’ terbujur kaku dengan wajah mengapas di atas pembaringan. Raung tangismu menggegerkan para tetangga.”

·         Cemas.

“”Apakah menikah dengan orang yang jauh lebih tua dari kita banyak menimbulkan prasangka di kemudian hari, Bu?” tanyamu suatu malam, sepulang dari langgar dan gulungan mukena masih terdekap di dada.”

4.      Alur

Alur yang digunakan pada cerpen ini adalah alur campuran. Pemahaman alur dapat dilihat pada kutipan berikut:

Pada hari pernikahan sekaligus kematian ini, barangkali kau tidak merasa bahwa embu’ sengaja menjadikan dirimu sebagai pengganti perabot sortana yang pernah diperlakukan istimewa itu”.

“”Kegunaan sortana sebenarnya untuk apa sih, Bu’?” suatu senja kau sengaja menghampiri embu’ yang sedang mengelap cangkir dengan sobekan kain beludru bekas baju hantaran dari ayahmu waktu mereka menikah dulu”.

5.      Sudut pandang

Sudut pandang yang digunakan pada cerpen ini adalah sudut pandang orang pertama bukan pelaku utama. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:

Setibaku di sana bersama tetangga lain yang berduyun-duyun, kau telah terkulai di lantai, di antara puing-puing perabot keramik yang berserakan. Kau baru tersadar ketika embu’ sudah diusung ke pemandian. Hanya kau dan lelaki itu yang menungguimu di kamar, menunggu kau tersadar”.

6.      Amanat.

Amanat yang ingin disampaikan penulis dalam cerpen ini adalah ketaatan seorang anak pada orang tua dan kesetiaan pada ikatan suami istri adalah sesuatu yang mulia dan harus dijunjung tinggi. Meskipun dalam menjalankan ketaatan dan kesetiaan itu harus mengorbankan sesuatu yang besar.

Andre Hardjana pernah menuliskan bahwa jika seseorang dapat mengamati tingkah laku tokoh-tokoh di dalam sebuah roman atau drama dengan memanfaatkan bantuan psikologi sehingga mendapatkan gambaran tingkah laku tokoh-tokoh itu sesuai dengan apa yang diungkapkan teori-teori psikologi, maka orang itu (kritikus) telah berhasil menerapkan prinsip-prinsip psikologi dalam kritik sastra.

Oleh karena itu dalam kritik sastra kali ini saya ingin menggunakan pendekatan psikologi dan teori struktur kepribadian manusia yang dikemukakan Sigmund Freud. Beliau menyimpulkan bahwa struktur kepribadian seseorang terbagi menjadi tiga, yaitu Id, Ego, dan Superego. Id berkaitan dengan ketidaksadaran yang merupakan bagian paling primitive  dari kepribadian. Kekuatan yang berkaitan denga Id mencakup insting seksual dan agresif. Id membutuhkan pemenuhan dengan segera tanpa memandang obyektivitas. Id juga tidak bisa dimusnahkan tetapi dapat ditahan atau dikawal dengan logika. Freud menyebutnya sebagai prinsip kenikmatan.  Ego adalah kesadaran tentang realitas. Yaitu dorongan untuk menyesuaikan diri dengan realitas. Ego biasanya menekan dan mengawal dorongan kuat dan mengubah sifatnya saat masuk kea lam bawah sadar, Freud menyebutnya sebagai prinsip realitas. Sedangkan Superego berfungsi sebagai lapisan yang menolak semua yang melanggar prinsip moral atau memuji sesuatu yang dianggap baik. Jika ketiganya seimbang dan stabil akan mewujudkan struktur watak atau kepribadian manusia biasa.

Kepribadian masyarakat Madura yang mayoritas beragama Islam adalah orang-orang yang religius dan menjunjung tinggi nilai moral berdasarkan ajaran agama yang dianut. Dalam tulisan Muna Masyari ini ada beberapa hal yang tidak sejalan dengan kepribadian religius yang dimiliki masyarakat Madura. Hal ini tergambar dalam perwatakan tokoh-tokoh yang memiliki ketidaksejalanan kepribadian yang akan dijabarkan di bawah.

Ada satu kalimat yang membuat saya bingung, yaitu:

“”Jika aku meninggal, haturkan perabot-perabot ini ke guru ‘ngajimu,” ,irih, seolah Malaikat Jibril sudah menunggu embu’ di luar pintu pagar, hingga kecemasan kian membelukar di matamu.”

Saya sendiri tidak mengerti apakah itu sebuah kekeliruan penulisan atau memang sengaja dibuat demikian. Dalam ajaran Islam malaikat pencabut nyawa adalah Izrail. Tetapi di sana ditulis Malaikat Jibril. Atau memang digambarkan bahwa kematian bagi embu’ adalah sesuatu yang sangat ditunggu dan membuat beliau bahagia seperti memperoleh wahyu dari Tuhan.

Seperti yang dikemukakan di atas bahwa dalam cerpen Kasur Tanah memiliki tokoh sentral yang tidak sejalan dengan teori Sigmund Freud. Penjelasannya dijabarkan di bawah ini:

a.       Tokoh Aku

Struktur kepribadian yang mengacaukan tokoh Aku sebagai pribadi yang santun, kalem dan religius adalah Ego dan Superego. Perhatikan kutipan berikut:

Hari inilah hari kematian embu’, sekaligus hari pernikahanmu. Memang demikian pesan yang embu’ titipkan padaku; menikahkanmu di dekat kerandanya.

Ada satu amanah lagi yang embu’ titipkan padaku; menjaga rahasianya. Rahasia identitasmu. Kau dan siapapun tak boleh tahu, bahwa Keh Sadulla, lelaki yang baru saja menikahimu adalah ayah biologismu. Sebagai perempuan yang dulu menjadi santri abdi di rumah Keh Sadulla, akulah saksi cinta mereka yang kandas karena status sosial dan tradisi perjodohan.”

 

Dari kutipan tersebut dapat dilihat bahwa Id Aku adalah seorang yang penyayang. Terlihat dari rasa kasihnya pada Embu’ yang adalah sahabatnya dan Kamu, anak dari sahabatnya tersebut. Sebagai teman Aku sangat setia dan mampu menjaga rahasia. Pertentangan kepribadian terjadi saat Aku diamanahi tugas untuk menikahkan Kamu dengan Keh Sadulla. Jika mengedepankan Superego maka pernikahan itu seharusnya bisa dia cegah karena melanggar moral dan nilai agama terlepas dari Aku yang adalah santri dengan pengetahuan agama lebih dari cukup. Dalam agama yang diyakini Aku, pernikahan antara anak dengan ayah biologis adalah haram hukumnya. Tetapi, karena Ego yang setia terhadap Embu’ maka Aku menekan dalam-dalam Superegonya demi memenuhi amanat dari Embu’.

b.      Tokoh Kamu

Dalam tokoh Kamu sebenarnya tidak terjadi pertentangan yang dramatis. Hanya pertentangan antara Ego dengan Superego yang ringan. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:

Kalau aku menikah dengan lelaki yang sudah seusia embu’, apa tidak keberatan?”

Dalam kutipan di atas ada ketidaksejalanan antara Superego yang memandang pernikahan dengan seseorang yang sudah berumur adalah sebuah hal yang tidak wajar dengan Ego yang sangat menginginkan pernikahan itu tetap terjadi. Dalam hal ini Kamu menekan Superegonya dalam-dalam dan mengunggulkan Ego meski ada sedikit rasa keberatan yang disampaikan embu’ secara tidak tersirat.

 

c.       Tokoh Embu’

Struktur kepribadian yang menjadi dasar pertentangan dalam tokoh embu’ adalah Id, dan Ego dan Superego. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:

Alis embu; terangkat, sebuah isyarat agar kau melanjutkan kalimat.”

“Beliau adalah guru mengajiku, Keh Sadulla!”

“Cangkir di tangan embu’ terlepas jatuh. Kau tersentak. Tatapan embu’ tiba-tiba serupa bilik yang kosong yang sunyi meskipun sempat terbelalak sebentar dan menatapmu penuh kejut. Wajah embu’ mendadak beku. Ia tidak memedulikan cangkir yang berpuing di lantai. Lidahmu kelu. Kesunyian berkelindan. Kau terpaku heran.

Dari kutipan di atas dapat terlihat Id embu’ yang penyayang kepada Kamu, anaknya. Namun sebagai ibu dia tidak mampu melakukan hal yang seharusnya dia lakukan, yaitu mencegah pernikahan Kamu dan Keh Sadulla. Ego embu’ telah membuatnya menekan Id sebagai ibu dan Superego yang harusnya mampu mencegah terjadinya sesuatu yang menyalahi norma agama dan sosial. Ego seorang embu’ telah membuatnya mampu tetap tutup mulut demi menjaga kehormatannya sebagai seorang istri dan perempuan yang harus menjaga martabat keluarga. Meskipun itu harus dibayar dengan menjerumuskan putrinya ke dalam dosa besar seumur hidupnya.

 

Dunia sastra saat ini mengalami banyak kemajuan. Dimana banyak sekali penulis-penulis baru yang muncul dan meramaikan dunia literasi di Indonesia. Hal ini sejalan dengan banyaknya kelas menulis yang diadakan oleh media-media partner baik secara langsung maupun daring. Tentu saja ini mengakibatkan sebuah gairah baru dalam dunia tulis-menulis.

Banyaknya lomba-lomba menulis yang diadakan baik secara lokal, nasional maupun internasional juga menciptakan sebuah ekstase bagi penulis untuk berlomba-lomba meningkatkan kualitas menulis agar mampu bersaing dalam setiap lomba yang diadakan. Tentu saja sebuah kemenangan menjadi tujuan utama. Selain mendapatkan hadiah yang menggiurkan juga menambah prestise sebagai seorang penulis.

Perkembangan ini tentu saja sangat bagus jika diikuti dengan meningkatnya nilai indeks literasi Indonesia yang terjun bebas setelah masa penjajahan berakhir. Peran pemerintah tentu saja sangat diperlukan untuk mendorong warga agar melek terhadap literasi. Perlu diadakan sebuah kebiasaan untuk membaca, dimulai dari anak-anak agar kelak menjadi manusia yang mencintai literasi. Dengan manusia-manusia yang kemampuan literasinya bagus akan berdampak pada meningkatnya kemampuan intelektualitas mereka.

Kelak diharapkan agar masyarakat Indonesia mampu bersaing dengan masyarakat dunia dan mampu mendongkrak citra Indonesia di mata dunia.

Demikian ulasan yang bisa saya jabarkan dari cerpen Kasur Tanah karya Muna Masyari dan kondisi dunia sastra saat ini. Semoga menjadi tambahan literasi dalam membuat kritik sastra yang lain. Permohonan maaf saya haturkan sedalam-dalamnya apabila ada tulisan saya yang keliru dalam tafsiran dan perkataan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar