Halaman

Senin, 25 Oktober 2021

EKSOTISME DESAKU: ANTARA SENI, KULINER, DAN BUAH LOKAL SUNGEGENENG

Sawah Desa Sungegeneng
Sawah desa Sungegeneng (Dokumen pribadi)

Saya menginjakkan kaki di sini kurang lebih sebelas tahun yang lalu. Desa ini bukan desa kelahiran saya, tetapi saya begitu jatuh cinta. Desa tempat saya tinggal saat ini bernama Sungegeneg, sebuah desa yang terletak di kawasan persawahan dan rawa-rawa. Ketinggiannya berkisar 0,6 m dari permukaan laut, mungkin cenderung rendah, tetapi nama Sungegeneng berarti sungai yang tinggi sehingga wilayahnya memang lebih tinggi dari desa-desa sekitar. 

Desa ini berbatasan langsung dengan empat desa, Ngayung di sebelah timur, Sungelebak di barat, Latukan di utara, dan Bugoharjo di selatan. Saya sering diledek teman-teman, mau-maunya tinggal di desa terpencil begitu. Jauh dari mana-mana. Desa ini memang letaknya terpencil karena harus melewati area persawahan luas sebelum sampai di gapura selamat datang, tapi saya sendiri merasa bahwa di sini ada semuanya. 

Meski terpencil ada banyak toko yang menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari, banyak warung juga, kafe-kafe dan tempat nongkrong ada banyak. Selama saya hidup di sini nyaris semua kebutuhan sudah bisa saya temukan di desa yang katanya terpencil ini. 

Desa ini luas sekali teman, ada 10 RW dan ratusan RT. Jangan ditanya berapa jumlah penduduknya ya. Kalau punya hajatan ada lebih dari 700 hantaran yang harus disiapkan untuk diberikan pada setiap rumah. Saya saja sampai sekarang masih belum hafal semua daerah. Di sini itu ada penyebutan khusus untuk wilayah-wilayahnya, mungkin karena saking luasnya jadi untuk mempermudah warga. Ada kampung Dowo tadi, Pendul, Gubandil, Dukuhan, dan masih banyak lagi

Ragam seni desa Sungegeneng yang memikat hati

Kata mbah-mbah tetangga saya, desa ini termasuk desa tua dibanding desa-desa di sekitarnya. Dari cerita yang saya dengar Sungegeneng sudah ada sejak sebelum Majapahit. Nenek moyang masyarakat Sungegeneng ternyata seorang perempuan pengemis yang kuburannya terletak di kampung Dowo dan dijuluki sebagai Nyai Ndowo. Tahu tidak, nama Nyai Ndowo disesuaikan dengan tinggi sang nenek moyang. Kuburannya memang panjang sekali. Wilayahnya disebut kampung Dowo karena ada kuburan panjang itu.

kuburan kuno desa Sungegeneng
Banyak kuburan kuno di pemakaman desa (Sumber: dokumentasi pribadi)

Sebagai desa yang sudah memiliki pemerintahan sejak zaman Majapahit, dinamika masyarakat juga berkembang sejak dulu. Apresiasi terhadap seni pun mulai berkembang sejak abad ke-16. Mulai dari pagelaran wayang Songsong sebagai media dakwah Islam oleh Ki Banyu. Saat ini wayang Songsong biasanya digunakan sebagai media ruwatan desa atau personal. Meski dikatakan kuno dan ketinggalan zaman , namun kesenian ini mampu bertahan hingga sekarang. Bahkan wayang Songsong mulai menarik minat pemuda pemudi desa. Dalang, waranggana (penyanyi wanita), dan niyaga (penabuh gamelan atau pengrawit) mulai beregenerasi. Di tangan generasi muda semoga nantinya wayang Songsong desa Sungegeneng akan berbenah menjadi lebih baik lagi.

Sejarah seni di Sungegeneng diramaikan pula dengan munculnya grup orkes yang booming di tahun 70an. Ada Om Florida di tahun 1976, Om Soraya dan Om Karya Melati di tahun 1978. Namun ketiga grup orkes kebanggaan desa itu hanya mampu bertahan hingga awal tahun 90-an. Selepas redupnya grup orkes, muncul jenis kesenian baru, yaitu lahirnya Reog di akhir tahun 90-an dan bertahan hingga sekarang.

Oh iya sampai lupa, di desa terpencil ini juga ada stasiun radionya lo. Namanya Radio Bintang 9 yang diprakarsai oleh bapak Imam Rosyadi. Radio ini bisa bertahan hingga pengaruh smartphone menggusur kejayaan radio. Dulu radio ini adalah salah satu hiburan warga. Setiap hari banyak ragam acara yang disajikan. Atensi masyarakat pun datang dari warga desa dan luar desa. Stasiun radio ini terletak di sebelah barat kuburan umum di depan rumah seorang warga bernama Mbak Titik

Saya sedikit akan berbicara banyak tentang kesenian Reog yang berkembang dan masih tetap aktif sampai saat ini. Ternyata ekspansi kebudayaan itu benar-benar terjadi. Reog ini sejatinya adalah kesenian khas dari Ponorogo. Jarak yang jauh tidak memberikan hambatan besar berkembangnya kesenian ini di luar daerah asalnya. Di Sungegeneng reog pertama kali dibawa oleh pendatang dari Ponorogo yang menikah dengan penduduk desa. Awalnya kesenian reog ini hanya dimainkan oleh generasi awal yang membentuk grup kesenian ini. Terakhir saya bisa menikmati reog yang dimainkan oleh generasi awal itu waktu perayaan Agustusan sebelum pandemi menyerang.

Reog pendul jaya generasi lama
Reog Pendul Jaya, reog generasi lama (Sumber: Arsip organisasi reog)

Reog memang dulu hanya ditampilkan saat ada hajatan di desa, seperti perayaan Agustusan atau ada pagelaran kesenian lain, termasuk wayang. Kesenian reog ini hanya berhenti di desa saja, tidak kemana-mana. Untungnya beberapa tahun ke belakang pemuda pemudi desa mulai tertarik, dan berlangsunglah regenerasi grup reog ini. Oh iya nama grup reog desa Sungegeneng adalah Singo Yudho Budoyo, nanti jika teman-teman melihat grup reog ini sedang berlaga di luar desa bisa berkomentar di sini ya.

Reog singo yudho budhoyo generasi baru
Reog Singo Yudho Budhoyo, reog generasi baru Sungegeneng (Sumber: Arsip organisasi reog)

formasi lengkap pemain reog singo yudho budhoyo
Formasi lengkap pemain reog Singo Yudho Budhoyo (Sumber: arsip organisasi reog)

Kesenian reog wajah baru ini geliatnya begitu gegar. Perekrutan anggota masih tetap dibuka, anak-anak dan remaja putri sebagai jathilan, anak-anak laki-laki sebagai bujang ganong, remaja putra untuk warok, dan beberapa pemain musik pengiring. Sebagai pemeran utama, saat ini dadak merak memiliki dua punggawa. Dua-duanya berbadan besar sesuai dengan tugasnya memainkan dadak merak yang beratnya bisa mencapai 50 kg.

Logo grup reog Singo Yudho Budhoyo desa Sungegeneng

Bayangkan dadak merak sebesar itu kuat digigit hanya dengan gigi dan masih bisa sambil atraksi. Hebat sekali. Tentu saja masyarakat pun antusias dan sangat mendukung perkembangan positif kesenian ini. Terbukti jika reog sedang di-gembyang pasti berbondong-bondong warga ikut menyaksikan.

reog singo yudho budhoyo

Ingin nonton reog Singo Yudho Budhoyo saat di-gembyang ? langsung saja klik channel youtube Reog Singo Yudho Budhoyo

Tidak hanya saat digelar, saat latihan pun menjadi hiburan tersendiri. Minggu malam bisa dipastikan base came Reog Singo Yudho Budhoyo meriah sekali. Para pemain latihan dengan semangat karena banyak warga yang ikut menonton mereka berlatih. Saya sering ikut terbawa suasana dan ingin ambil peran dalam kesenian ini. Tapi mungkin di belakang layar saja, biar generasi muda yang mengambil alih melestarikan budaya. Tidak hanya mengenal tetapi juga ikut serta di dalamnya.

Nikmatnya kuliner Sungegeneng

Sudah capek menikmati kesenian yang beragam, saatnya mengisi perut. Jangan salah, meski katanya terpencil, Sungegeneg memiliki ratusan warung yang menyediakan berbagai sajian kuliner nikmat. Dulu saya sempat heran, kenapa warungnya banyak sekali, apa iya laku semua. Tapi kalau dipikir lagi, warung-warung itu pasti sudah tutup lama kalau tidak laku, nyatanya sampai sekarang masih tetap buka.

Tapi perlu diketahui juga, di sini itu jenis warungnya bukan yang buka nonstop dari pagi sampai malam. Tetapi sudah terbagi-bagi menjadi warung yang buka pagi penyedia sarapan dan warung yang buka malam penyedia makan malam. Jenis kulinernya pun berbeda. Saat pagi diramaikan dengan nasi pecel, nasi jagung, ketan, dan primadona masyarakat yakni bermacam-macam kare. Saat malam kare tetap disajikan dan ada jenis kuliner lain yang melengkapi seperti penyetan, sate, soto, tahu tek, tahu campur, atau lontong duduhan. Makanan yang dijual di malam hari variasinya lebih beragam. 

Saya tertarik untuk menuliskan kare, makanan khas Sungegeneng yang hanya bisa ditemui di desa ini atau di sekitar desa. Kare di sini bukan seperti kare umumnya, kalau saya sih menyebutnya lodeh, karena bumbu yang digunakan memang seperti bumbu lodeh, bukan bumbu kare. Kuliner ini terdiri dari bumbu-bumbu yang dididihkan bersama santan kental, lalu di beri macam-macam lauk. 

Bumbu yang digunakan antara lain: bawang merah, bawang putih, cabai (pakai yang banyak biar ekstra pedas), kunyit,lengkuas, jahe, kencur, kemiri, merica, ketumbar, jinten, pala, daun jeruk, serai, dan daun bawang. Biasanya disebut bumbu jangkep (lengkap).

Yang unik di Sungegeneng itu tidak ada daging sapi. Masyarakat Sungegeneng lebih suka kuliner berbahan dasar daging kambing. Jadi untuk kare pun digunakan daging kambing. Bagi yang tidak suka kambing masih ada jenis lauk lain, ada ayam, ikan goreng, atau ikan asap. Nah yang paling asyik menurut saya kare pakai ikan asap, asap ikan gabus, di sini sih dinamakan ikan kothok / kotes. Pedasnya kalau pakai ikan asap itu lebih terasa dan bikin maknyus.

kuliner sungegeneng
Kuliner Sungegeneneg (sumber: dokumentasi pribadi)

Selain makanan utama Sungegeneng juga punya banyak jajanan khas, misalnya saja rangen, dodol dang, wingko, atau aneka kue modern semua tersedia. Bahkan saat ini ada Gita Roti yang menerima pesanan aneka kue kelas premium. Dibuat sendiri oleh pemudi desa di rumah. Istilahnya home industry tapi rasanya sekelas kue-kue yang dijual di mall-mall. Keren kan....

jajanan khas Sungegeneng
Jajanan khas Sungegeneng (Sumber: dokumentasi pribadi)

Yang sedang singgah di Sungegeneng pasti betah sekali. Lidah mereka dimanjakan oleh berbagai makanan dan jajanan yang banyak tersedia. Saya juga kalau sedang malas memasak, santai saja. Untuk sarapan pagi dengan uang Rp. 5000 saja sudah dapat sebungkus nasi pecel lengkap dengan lauk dan peyeknya. Atau kalau malam saya suka makan lontong duduhan, yaitu lontong yang diberi kuah lodeh, rasanya mantap dengan harga amat sangat terjangkau.

Buah lokal, rejeki sultan

blewah, buah lokal sungegeneng
Blewah, buah lokal Sungegeneng (sumber: dokumentasi pribadi)

Selain kesenian dan kuliner Sungegeneng juga merupakan salah satu produsen buah. Yaitu semangka, blewah, salmon, atau melon. Kondisi tanahnya cocok untuk ditanami jenis buah-buah tersebut saat musim kemarau. Senengnya kalau panen raya, ramai dan semarak sekali, plus bebas petik buah langsung di sawahnya. 

semangka buah lokal sungegeneng
Semangka, buah lokal Sungegeneng (sumber: dokumentasi pribadi)



Dulu semangka adalah harapan bagi para petani. Karena harga semangka yang bagus, istilahnya laba petani ya pas panen semangka itu. Dibanding hasil dari panen padi, panen semangka bisa mendapat dua sampai tiga kali lipatnya. Namun hasil tersebut sepadan dengan effort para petani. 

Menanam semangka jelas tidak mudah, pertama kondisi tanah harus cenderung kering, cuaca panas (kalau bisa tidak ada hujan), harga bibit semangka pun mahal sekali. Bibit itu harus direndam dulu di air panas sebelum disemai. 

Perawatan semangka juga butuh ketlatenan tinggi, sekali kena hujan dan berkubang dapat dipastikan semangka akan layu dan mati.

Tapi karena krisis iklim saat ini petani jelas gigit jari, saya sendiri menghitung ada mungkin 3 kali musim semangka gagal panen. Musim yang tidak bisa diprediksi jelas menyulitkan petani. Kecuali mereka yang menanam menggunakan rumah kaca.

Meski demikian gegar panen semangka masih dinantikan setiap tahun oleh masyarakat, dan saya tentunya. Semoga iklim lekas baik agar semangka bisa tumbuh dengan mudah kembali di tanah ini.

Ketiga hal di atas adalah beberapa alasan kenapa saya jatuh cinta dengan desa ini. Semakin lama tinggal, semakin banyak hal yang bisa dipelajari dan membuat saya semakin betah. Nah bagaimana, menyenangkan bukan hidup di desa?











Tidak ada komentar:

Posting Komentar