BLANTERORBITv102

DIGITAL DETOX ASYIK KAMPUNG LALI GADGET SIAPKAN GENERASI TANGGUH INDONESIA

Friday, December 30, 2022


"Technology is a usefull servant but a dangerous master", Cristian Louis Lange.

Begitu baca satu quotes di atas, pikiran saya langsung seperti diputar, dan bunyi "klik". Seperti dinyalakan otomatis untuk menuliskan satu hal yang sudah lama mengganggu di benak saya.

Akhir-akhir ini kalau lewat di jalan, baik itu di desa atau di jalan besar, saya banyak sekali menemui anak-anak seusia SD yang nongkrong di warung-warung kopi. Sambil memegang gawai dan sibuk dengan dunianya sendiri.

Bahkan di jam-jam yang harusnya mereka masih berada di kelas untuk belajar. Mereka bukan sedang ngopi, tetapi mencari wifi gratis untuk main game atau bersosial media.

Fenomena warung kopi yang menjamur dan penetrasi internet yang masiv (dengan adanya stimulus pandemi) memang menciptakan semacam budaya. Dampak yang timbul tentu saja ada, baik yang sifatnya positif juga yang negatif.

Teknologi tentu saja amat sangat membantu manusia di kehidupan sehari-hari. Bayangkan jika teknologi tidak ada, pasti peradaban manusia masih sama seperti ketika jaman batu dulu. Teknologi membantu manusia untuk maju.

Tetapi ketika manusia sudah menjadikan teknologi sebagai Tuhan, maka bukan lagi hal positif yang didapat tetapi kehancuran.

Anak-anak yang masih pada masa pertumbuhan, harusnya bebas bermain. Mengeksplor banyak hal bersama teman-temannya. Berinteraksi dengan lingkungan. Sehingga pertumbuhan fisik dan mentalnya dapat berjalan dengan baik dan sempurna.

Masalahnya saat ini banyak sekali anak-anak yang sudah difasilitasi gadget oleh orang tuanya. Mereka sibuk bermain dengan gadget. Bukan bersosialisasi secara nyata tetapi digital socialization. Tentu saja ini sangat mengganggu perkembangan pribadi mereka.



Jujur saya sempat kaget ketika adik saya, yang baru melaksanakan magang di salah satu rumah sakit jiwa (dia ambil psikologi klinis) bercerita pada saya tentang banyaknya pasien dari kalangan anak-anak sampai anak muda. Ada yang karena adiksi narkoba dan adiksi pada gadget. Kebanyakan mereka mengkonsumsi narkoba setelah ter-adiksi gadget (untuk menstimulus tubuh agar terus terjaga saat main gadget). Akibatnya banyak dari mereka yang mengalami penurunan fungsi otak. Kata adik kebanyakan mereka berusia belasan tahun tetapi bertingkah seperti masih balita.

Saya sendiri juga menyaksikan, bagaimana anak-anak sekarang sangat sulit untuk fokus. Contohnya saat pembelajaran di kelas, atau mengerjakan soal ujian. Rata-rata mereka mengerjakan soal durasi satu jam hanya dalam hitungan menit. Paling lama 15 menit sudah selesai. Padahal rata-rata jawaban yang diberikan tidak tepat. Bagi mereka yang penting segera selesai dan bisa main gadget lagi.

Nyatanya saya juga dibuat kaget dengan berita yang saya dengar dari teman-teman tentang banyaknya anak yang mengalami adiksi gadget sampai melakukan hal-hal ekstrem. Contohnya saja gampang marah, mencuri, bahkan sampai punya keinginan untuk membunuh orangtuanya karena melarang mereka memakai gadget.

Setelah stimulus pandemi, rata-rata anak-anak memakai gadget antara 5-8 jam sehari. Bahkan ada yang sampai 18 jam sehari. Tentunya hal itu mengakibatkan banyak dampak buruk.

Mulai dari kelelahan pada mata sampai mata minus, sulit tidur dan fokus, timbulnya kecemasan, dan mudahnya perubahan suasana hati, autisme (mudah marah dan agresif), hambatan pada tumbuh kembang, tantrum, bahkan juga keterlambatan kognitif.

Anak yang sudah adiktif pada gadget akan terhambat dalam perkembangan mentalnya, seperti pengendalian diri, cara berpikir, pengendalian emosi, keterlambatan pada kemandirian, sampai enggan berinteraksi dengan orang lain.

Padahal di waktu kembang mereka, interaksi dengan orang lain akan menumbuhkan beberapa hal, seperti refleks, cara mencari solusi, mandiri, berani dan kepemimpinan. Tetapi hal itu menjadi luput karena mereka sibuk bermain gadget sendiri.

Lantas apa jadinya generasi penerus bangsa jika mereka justru merusak diri sendiri. Indonesia akan suram jika penerusnya saja tidak mampu menjadi sosok yang layak untuk membangun bangsa di tengah perkembangan dunia yang semakin cepat.

"Masa depan Indonesia bukan berada di tangan pemuda-pemudi utopis, tetapi pada genggaman pemuda-pemudi yang kritis terhadap permasalahan yang ada dan bekerja nyata untuk menyelesaikannya",- dr. Gamal Albinsaid


Berangkat dari keprihatinan akan kodisi yang terjadi belakangan, membangkitkan keinginan dari pemuda Indonesia bernama Achmad Irfandi dan sahabatnya Nicho Priambodo untuk melakukan digital detox pada anak-anak. Dusun Bendet desa Pagerumbuk, Wonoayu, Sidoarjo disulap menjadi sebuah tempat konservasi budaya bernama Kampung Lali Gadget.

“Saya punya ide memvariasikan literasi dengan permainan tradisional. Di sini saya punya konsep untuk melawan kecanduan gadget dengan permainan tradisional dan muncul istilah dolanan tanpo gadget yang sekarang jadi Kampung Lali Gadget,” jelas Achmad Irfandi beberapa waktu lalu.

Bermula pada April 2018 Achmad Irfandi dan kawan-kawannya melakukan kegiatan literasi bersama komunitas Sidoarjo, kemudian kegiatan dilakukan secara konsisten per dua bulan sekali. Diksi "Kampung Lali Gadget" sendiri baru dinarasikan pada 5 Agustus 2018 dalam sebuah event yang diikuti oleh 475 anak dan sekitar 100 lebih relawan. Event besar yang tidak diduga-duga ini mengharuskan para penggerak untuk membagi kegitan di dua pos yang berjauhan.

Membayangkan anak-anak ke depan akan semakin melupakan budaya. Sopan santun telah hilang, dan akhlak anak-anak muda generasi mendatang digantikan dengan akhlak yang meniru tontonan dalam dunia digital. Kemudian juga kebebasan anak-anak untuk berinteraksi dalam dunia digital dan bermain game tanpa pengawasan. Pastinya mudah bagi mereka menyaksikan tontonan yang berupa contoh buruk. Bahasa lokal mulai pudar berganti kata-kata viral yang sebenarnya sangat tidak mendidik.

Lantas siapa yang akan bertanggung jawab nantinya. Bagaimana Indonesia akan mampu bersaing ke depan di tengah begitu cepatnya perubahan yang terjadi. Dengan calon generasi muda yang tidak memiliki daya saing, pastinya itu hal yang sangat mustahil.

Adalah sebuah ide yang jenius, inovasi sosial dan budaya yang dilakukan oleh Achmad Irfandi dengan Kampung Lali Gadgetnya. Menggunakan Kampung Lali Gadget, inovator muda ini ingin membangkitkan kembali kecintaan anak-anak muda pada budaya lokal yang sebenarnya sangat beragam. Bentuk Digital Detox yang dilakukan di Kampung Lali Gadget adalah dengan mengajak anak-anak untuk bermain bersama. Memainkan permainan tradisional yang mungkin sebelumnya banyak dilupakan.

Tujuannya banyak sekali, selain membaurkan anak-anak tersebut untuk bersosialisasi bersama, juga memupuk kemandirian dan naluri kepemimpinan. Dengan permainan tradisional seperti lompat tali, egrang, ketapel, congklak, atau cublek-cublek suweng, Achmad Irfandi secara tidak langsung juga ingin mengasah motorik anak, membebaskan mereka bergerak sehingga fungsi tumbuh kembangnya bisa berlangsung dengan baik.

Anak-anak dengan energi tak terbatas itu dengan bebas bisa menyalurkan energi tersebut dengan berlarian, memikirkan solusi dari sebuah permainan, meningkatkan kreativitas dengan membuat kerajinan berbahan alam, atau mengasah sensorik mereka dengan bermain lumpur. Jadi energi tersebut digunakan dengan positif, bukan untuk mengamuk saat dilarang main gadget.

Tentu saja dengan banyaknya variasi permainan tradisional dan tutorial membuat kerajinan dari bahan alam, pikiran anak-anak akan dijauhkan dari keinginan untuk bermain gadget. Fitrah anak-anak adalah bermain, apalagi bersama banyak teman, tentunya sangat mengasyikkan. Sungguh bagi saya itu adalah solusi cerdas. 

Selain dapat memperbaiki perkembangan tumbuh mereka, juga secara tidak langsung anak dikenalkan dengan budaya lokal yang mereka lupakan. Karena kita tahu semakin maju peradaban, budaya-budaya lokal akan semakin memudar. Padahal kita tahu karakter bangsa adalah dari budaya, maka seharusnya budaya juga dibawa untuk maju agar karakter bangsa tidak hilang tergerus zaman.

"Permainan tradisional adalah bentuk kebudayaan, tetapi tidak diwariskan", kata Achmad Irfandi

Maka dengan mengenalkan permainan tradisional pada anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa, secara tidak langsung Kampung Lali Gadget juga turut serta bangkit memajukan karakter Indonesia agar tetap terjaga dan dikenal sampai ujung masa. 

Awalnya anak-anak tidak bermain permainan tradisional karena beberapa sebab. Selain tidak ada alat bermainnya, lahannya tidak ada, mereka tidak kenal dengan permainannya, dan yang paling penting sudah tidak ada lagi yang mengajak mereka bermain permainan tradisional. Gagasan Kampung Lali Gadget dibuat sangat unik namun memiliki potensi inovasi ke depan yang begitu ciamik menurut saya.

Permainan tradisional digunakan sebagai kunci masuk untuk mengatasi adiksi gadget yang nantinya akan bisa membuka pintu pada merdeka belajar atau pendidikan merdeka pada masyarakat. Dampaknya akan ada pertumbuhan kreatifitas, baik di sisi ekonomi dengan ekonomi kreatifnya, kemudian meningkatnya kemampuan literasi, serta perlindungan pada anak (baik berupa penjaminan akan perkembangan tumbuh kembang maupun pada daya kreasi mereka).

Sepertinya Kampung Lali Gadget mendorong pada sustainability of civilitazion development atau pembangunan masyarakat berkelanjutan. Intinya Achmad Irfandi dkk menjadikan Kampung Lali Gadget sebagai pusat budaya lokal dalam bentuk yang merdeka bagi banyak komunitas.

Saya dengar Achmad Irfandi punya cita-cita untuk membuat sekolah alam yang ramah di kantong. Karena saat ini sekolah alam yang sudah ada memang berbiaya yang tinggi. Ke depan mungkin Kampung Lali Gadget akan dikembangkan sebagai sekolah alam yang ditunjang dengan kearifan lokal. Tidak heran jika saat ini Achmad Irfandi dkk terus menggodok kurikulum yang sesuai untuk tujuan tersebut kelak.


Achmad Irfandi yang lulusan S2 Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Surabaya memang sangat pantas jika disebut sebagai inovator. Dengan background di dunia pendidikan yang dimiliki, Kampung Lali Gadget dijadikan sebagai laboratorium alam untuk melihat perkembangan keefektivan dari permainan tradisional untuk melakukan digital detox pada adiksi gadget yang dialami anak-anak.

Kalau diperhatikan memang cara yang dilakukan sangat menyenangkan. Bermain bersama dengan kawan sebaya bagi anak-anak adalah kegiatan yang menciptakan adiksi baru. Euforia saat bertanding misalnya akan memberikan keriuhan yang nyata dan menjadi pengalaman berharga bagi mereka.

achmad irfandi kampung lali gadget

Banyak hal yang ditawarkan oleh Kampung Lali Gadget untuk membuat anak lali pada gadgetnya. Di sana kita bisa menikmati berbagai permainan tradisional yang murah meriah dan menggunakan bahan-bahan yang tersedia di alam. Meski awalnya Achmad Irfandi meminjam lahan desa seluas 45x50 meter sebagai lahan untuk melakukan permainan tradisional. Saat ini Kampung Lali Gadget memiliki beberapa wahana tambahan yang bisa dieksplor.

Yang ditawarkan Kampung Lali Gadget adalah konservasi budaya dengan mengenalkan sekaligus mengajak langsung anak-anak untuk bermain permainan tradisional. Ada banyak ragam permainan, misalnya saja: egrang, congklak, layangan, gelembung sabun, kopralan (saya juga suka main ini dulu), lompat tali, dakonan, bermain wayang, dan masih banyak lagi. Tahu kan kalau anak melakukan permainan tradisional ini maka akan terjadi stimulus pada perkembangan kognitifnya yang berupa imajinasi; kreativitas; problem solving, antisipatif dan pemahaman, perkembangan sosial yang berupa: melatih kerjasama; adanya relasi; melatih kematangan sosial baik dengan teman sebaya maupun orang yang lebih tua, perkembangan motorik yang berupa: daya tahan, daya lentur, dan sensori motorik, perkembangan emosi yang berupa pengendalian diri, perkembangan bahasa, serta perkembangan pada nilai moral.

dolanan kampung lali gadget

Ketika bermain anak senang. Di sini mereka akan melakukan kegiatan fisik, mengobrol dengan teman, bertukar pikiran, saling membantu satu sama lain, mengatur strategi dan belajar memecahkan masalah. Banyak hal yang akan didapat anak hanya dari bermain permainan tradisional tersebut.

Selain edukasi budaya dengan pengenalan permainan tradisional, di Kampung Lali Gadget juga akan diberikan edukasi mengenai kearifan lokal, seperti tradisi tanam padi, panenan, atau kearifan lokal lain yang ada. 

kearifan lokal kampung lali gadget


Konsep olahraga juga diberikan di sini. Tetapi dalam bentuk yang menyenangkan, seperti lomba tangkap ikan lele, lomba egrang, menanam padi dan bentuk olah tubuh lain yang menyenangkan bagi anak. 

Nah yang suka dengan satwa, jangan pesimis dulu. Di Kampung Lali Gadget juga ada edukasi satwa lo, misalnya saja memberi makan pada hewan ternak (sapi, kambing, ayam, bebek) atau melihat banyaknya burung kicau yang dipelihara warga.

pengenalan satwa kampung lali gadget

Untuk orangtua tidak perlu cemas akan bosan, saat anak-anak bermain Kampung Lali Gadget memberi fasilitas untuk edukasi masalah parenting. Kegiatan ini bekerja sama dengan komunitas Cangkrukan Surabaya. Mereka bertugas memberikan edukasi seputar pengasuhan anak pada para orangtua yang bisa diterapkan di rumah. Seru kan.....

Selain itu anak-anak diajarkan untuk mengasah kreativitas mereka dengan membuat alat-alat permainan dari bahan alam yang tersedia, misalnya saja membuat wayang dari daun singkong, membuat terompet daun, gasing, telepon kaleng, dan mainan dari gedebog pisang. 

membuat mainan sederhana kampung lali gadget

Kampung Lali gadget juga menyediakan semacam pojok baca, berisi banyak koleksi judul buku yang bisa dimanfaatkan oleh anak-anak untuk membaca. Kegiatan yang sangat seru dan dicintai anak-anak adalah tangkap ikan lele, meski harus berkotor-kotor dalam lumpur namun terlihat sekali kebahagiaan di wajah mereka. Anak-anak yang ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi petani juga nisa ikut dalam kegiatan tanam padi yang diadakan di Kampung Lali Gadget ini.

Achmad Irfandi cerdas sekali mengemas literasi kebangsaan dan penanaman nilai-nilai Pancasila pada anak-anak di balik serunya permainan tradisional. Anak-anak belajar dengan natural tanpa merasa sedang digurui, sungguh cara yang sangat elegan menurut saya.


Berawal dari nol, Achmad Irfandi berusaha untuk bangkit dan menjalankan ide-idenya untuk mengedukasi anak-anak agar lali gadget. Tentu saja bukan hal yang mudah untuk menularkan semangat pada anak-anak agar tidak melulu main gadget. 

Butuh banyak usaha, modal yang minim membuat Achmad Irfandi harus door to door mengenalkan konsep pada penduduk dan meyakinkan mereka agar mau ikut serta dalam praktek meminimalkan gadget pada anak.

Dengan usaha keras, akhirnya pihak desa mengijinkan Achmad Irfandi untuk memakai tanah desa berukuran 45 x 50 meter sebagai lahan bermain.

Seiring berjalannya waktu dengan semakin dikenalnya Kampung Lali Gadget dan banyaknya pengunjung yang datang,  Achmad Irfandi berhasil menambah fasilitas yang bisa digunakan anak-anak untuk bermain. Kerja keras dan semangat yang dimiliki olehnya berhasil mendapatkan apresiasi yang sesuai. Saat ini Kampung Lali Gadget sudah memiliki infrastruktur yang cukup memadai sebagai laboratorium alam.

Balai Among adalah fasilitas utama yang dimiliki Kampung Lali Gadget. Bangunan balai among berbentuk limas seperti rumah jaman dulu. Balai among digunakan sebagai sekretariat Kampung Lali Gadget. Selain itu juga berfungsi sebagai ruang pertemuan, ruang arsip dan foto kegiatan, dan juga ruang bermain santai.

balai among kampung lali gadget

Balai among juga bisa dimanfaatkan warga sebagai fasilitas sosial. Biasanya digunakan untuk melakukan rapat atau pertemuan. Balai among cukup menampung antara 60-70 orang sekali pakai.

Di samping balai among ada gubuk ilmu. Ini semacam perpustakaan lokal tempat berbagai jenis judul buku disimpan dan dimanfaatkan oleh anak-anak untuk kegiatan literasi. Selain itu gubuk ilmu dilengkapi dengan alat bantu belajar dan beberapa mainan tradisional yang bisa digunakan oleh anak.

gubuk ilmu kampung lali gadget

Yang mau foto di spot foto unik, ada kandang babok yang bisa dieksplor. Kandang babok terbuat dari bekas kandang sapi yang diperbaiki. Memiliki tampilan tradisional yang unik, di sini pengunjung bisa berfoto sebagai kenang-kenangan. Selain itu pengunjung juga bisa belajar tetntang peralatan pertanian jaman dulu sambil kongkow-kongkow.

kandang babok kampung lali gadget

Fasilitas untuk bermain di luar ada di kebon gayam. Kebon gayam adalah lahan dengan tumbuhan gayam dan bambu yang asri. Memiliki uas hampir setengah hektar, kebon gayam digunakan untuk outbond dan permainan outdor lain yang asyik. Karena rindang dengan akar-akar pohon gayam yang estetik, biasanya pengunjung dan anak-anak suka sekali menghabiskan waktu di sana.

kebun gayam kampung lali gadget


Saat ini kebon gayam sudah difasilitasi dengan toilet dan warung-warung jajanan yang bisa mengakomodasi kebutuhan pengunjung.

Kampung Lali Gadget memiliki dua petak sawah untuk digunakan sebagai lahan kegiatan menanam padi untuk edukasi pertanian dan pangan dan satu lagi untuk kegiatan bermain lumpur sambil mencari ikan.

petak sawah kampung lali gadget

Yang paling baru ada rumah Mudori (Museum Dolanan Rakyat Indonesia). Di tempat ini adalah tempat display dan disimpannya aneka permainan tradisional yang ada di penjuru Nusantara. Pengunjung dan anak-anak bisa belajar tentang ragam permainan tradisional sekaligus memainkannya.

Asyiknya di beranda rumah Mudori disediakan amphi teater mini yang bisa digunakan untuk pertunjukan. Tapi masih dalam tahap pembangunan sih ya, tunggu selesai terus bisa dipakai buat belajar bareng-bareng.

Saya sendiri tidak menyangka Kampung Lali Gadget akan berkembang sepat seperti sekarang ini. Anak-anak sangat menikmati waktu berada di Kampung Lali Gadget dan bermain bersama teman-teman. Rata-rata mereka sudah lupa sama sekali dengan gadgetnya saat berada di Kampung Lali Gadget. Ternyata Achmad Irfandi mampu menularkan semangatnya pada anak-anak untuk mau belajar tentang kebudayaan Indonesia melalui permainan tradisional yang menyenangkan.


Dibilang sok minteri sering sekali Achmad Irfandi terima. Para orangtua sering sekali mencibir dengan mengatakan "wong anak iki diwenehi gadget gawe sinau kok dilarang", dan banyak kata-kata bernada pesimis yang diterima tidak menyurutkan tekad dan semangat Achmad Irfandi untuk meminimalkan penggunaan gadget berlebih pada anak-anak.

Orangtua banyak yang tidak mengerti bahwa gadget di tangan anak-anak bukan digunakan untuk belajar tetapi bermain game dan sosial media. Di warung kopi hanya dengan uang Rp. 2000 saja bisa menikmati wifi gratis berjam-jam. 

Kegiatan mendongeng, menggambar dan mewarnai yang dilakukan Achmad Irfandi di awal menggagas kegiatan sering dipandang sebelah mata. Tidak mudah meyakinkan para orangtua yang sibuk mencari uang untuk membiarkan anak-anaknya mengikuti kegiatan positif yang diberikan olehnya.

Tetapi semangat pantang menyerah tidak pernah pupus dari inovator satu ini. Bayangan Indonesia suram karena generasi yang teracuni gadget membuatnya terus berjuang. Meski berkali-kali mendapat penolakan. 

Ada salah paham yang terjadi antara Achmad Irfandi dan pemerintah desa. Jadi Achmad Irfandi pernah mendapat surat peringatan dan di "sidang" oleh 7 orang pejabat desa. Namun kesalahpahaman itu bisa diatasi.

Bahkan pernah saat Achmad Irfandi akan melakukan kegiatan KLG yang sudah diplanning jauh hari mendapat ganjalan karena bersamaan dengan kegiatan BPD (Badan Pemilihan Desa). Achmad Irfandi harus memindahkan kegiatan ke tempat lain atau kegiatan itu akan diblokir sepenuhnya oleh aparat desa.

Meski bingung, setelah berdiskusi dengan RT Bendet, Achmad Irfandi mendapat solusi untuk memindahkan kegiatan ke desa sebelah. Lobi dilakukan berkali-kali dengan pemerintah desa Wonokalang sampai akhirnya disetujui.

Nyatanya kegiatan itu justru menimbulkan kemeriahan dan mendapat sambutan positif warga desa Wonokalang.

Semangat pantang menyerah dan inovasi yang dilakukan, nyatanya saat ini menjadikan KLG besar. Tahu Elingpiade? ini semacam olimpiade permainan tradisional yang dilakukan secara kolosal. Melibatkan ratusan peserta dengan berbagai ragam permainan yang dilombakan. Prestasi sebesar ini akan mustahil didapat jika founder KLG bukan orang yang bermental kuat. 

"Terbentur, terbentur, terbentuk"

Sebanyak apapun KLG mendapatkan rintangan, sebanyak itu pula KLG akan menjadi semakin besar. Cita-Cita Achmad Irfandi untuk menjadikan generasi muda lebih mengenal dan menyukai budaya dan kearifan lokal Indonesia mendapat titik terang seiring semakin dikenalnya KLG di kancah nasional.

Elingpiade sebenarya adalah singkatan dari Eling Permainan Dewe (Ingat Permainan Sendiri). Digelar pada tahun 2021 dan siikuti sekitar 120 peserta dari Sidoarjo, Malang, Bojonegoro dan Mojokerto. Yang bikin semakin keren hadiah dari lomba ini anak-anak mendapatkan Alutsisdol (Alat Utama Sistem Dolanan), kalau disimak lebih jauh kok namanya mirip Alutsista (Alat Utama Sistem Senjata Tentara Nasional Indonesia). Kata tim memang itu plesetan dari Alutsista. Maknanya sama, yaitu alat untuk berperang, bedanya yang satu untuk berperang melawan musuh, yang satu berperang melawan adiksi gadget. 

elingpiade kampung lali gadget

Anak-anak senang sekali dan sumringah mendapat hadiah ini. Semoga di tahun-tahun ke depan Elingpiade bisa terus digelar dan menjangkau lebih banyak peserta dari lebih banyak daerah.

Kemudahan yang didapat warga untuk mengakses kegiatan KLG patut diacungi jempol. KLG tidak mematok biaya, semuanya dilakukan seadanya, sebisanya, semampunya. Bahkan ketika ada warga yang ingin sekali bisa merasakan ekstase KLG tetapi terhalang jarak, Achmad Irfandi menawarkan untuk datang ke tempat mereka dengan dana seadanya yang dimiliki. Istilahnya roadshow.

Tim KLG sudah pernah mendatangi 4 desa di sekitar dusun Bendet untuk melakukan aksi sama seperti di dusun Bendet. Ke-empat desa itu adalah desa Mulyodadi di kecamatan Wonoayu dua kali, TPID (Tim Pelaksana Inovasi Desa) kecamatan Sukodono, dan desa Kemantren kecamatan Tulangan.

Meski terkesan ribet dan dengan sarana prasarana terbatas, tetapi tetap dilakukan demi dapat memberikan pelayanan maksimal pada anak-anak di seluruh wilayah.

Kampung Lali Gadget adalah pemantik awal agar anak dapat menyeimbangkan penggunaan gadget dengan literasi budaya dan kearifan lokal yang mendorong mereka untuk menjadi generasi penerus yang mampu mempertahankan identitas Indonesia yang berbudaya di mata dunia.


Setiap kerja keras akan membuahkan hasil. Meski tidak serta merta namun akan ada waktunya. Mungkin demikian yang dialami oleh Achmad Irfandi. Setelah jatuh bangun melakukan inovasi berupa konservasi budaya untuk meminimalkan penggunaan gadget pada anak dengan penggunaan permainan budaya, akhirnya ada apresiasi yang nyata didapatkan.

Di tahun 2019 Achmad Irfandi mendapat juara ke II sebagai Pemuda Pelopor Jawa Timur di bidang pendidikan. Penghargaan diserahkan langsung oleh gubernur Jawa Timur saat itu, ibu Khofifah Indar Parawangsa tepat saat upacara Sumpah Pemuda.

juara II pemuda pelopor jatim 2019

Tahun berikutnya, 2020 Achmad Irfandi mendapatkan kembali juara untuk Pemuda Pelopor Jawa Timur bidang pendidikan. Kali ini menjadi juara I. Sama seperti sebelumnya penghargaan diberikan langsung oleh gubernur Jawa Timur saat upacara Sumpah Pemuda. Penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras Achmad Irfandi sebagai pemuda pelopor yang mampu menggerakkan masyarakat menuju lebih baik.

juara I pemuda pelopor jatim 2020

Tidak berhenti di sana, pada tahun 2021 Achmad Irfandi akhirnya berhasil mendapatkan penghargaan tingkat nasional berupa Satu Indonesia Award setelah gagal dua tahun berturut-turut. Penghargaan ini diberikan oleh Astra pada pemuda pemudi yang pantang menyerah dan terus bangkit menciptakan perubahan di masyarakat.

Tahun 2021 itu Achmad Irfansi sang founder dari Kampung Lali Gadget berhasil mengungguli 13.148 peserta lain dari seluruh penjuru Indonesia yang sama-sama mengirimkan proposal di bidang pendidikan. Keren sekali ya

Satu Indonesia Award 2021 bidang pendidikan

Berkat kemenangan tersebut, Kampung Lali Gadget semakin dikenal secara nasional, dan warga dari berbagai penjuru mendatangi dusun Bendet untuk ikut serta menikmati waktu tanpa gadget.


Semangat yang dimiliki Achmad Irfandi memang begitu besar. Dengan banyaknya kemenangan dan penghargaan yang diterima saat ini Kampung Lali Gadget semakin berkembang. Tim KLG tentu saja bekerja sama dengan banyak komunitas untuk kelancaran kegiatan.

Lembaga seperti SD Kreatif Insan Rabbani pada tahun 2018 menjalin mitra kerjasama dengan KLG, disusul Asia Wangi BCA dan MI Assyafiiyah yang juga bergabung menjadi mitra pada tahun 2019.

Dengan semakin banyaknya komunitas dan organisasi yang bergabung, serta lembaga yang menjadi mitra, Achmad Irfandi tidak lantas bertopang dagu. Guna meningkatkan performa dan kualitas KLG Achmad Irfandi sering meminta saran dari banyak pihak. Tidak luput Sujiwo Tejo dan Komnas Perlindungan Anak pun diminta saran untuk membangun KLG lebih baik.

Buntutnya pada Mei 2020 Kampung Lali Gadget akhirnya diakui sebagai kawasan ramah anak yang memiliki badan hukum dengan nama Yayasan Kampung Lali Gadget

Melihat banyaknya hal positif yang dirasakan oleh warga berkat adanya KLG saat ini Forkopimka (Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan) mempermudah memberi izin kegiatan dan keamanan setiap ada event di KLG. Pihak aparat desa juga seringkali meminjamkan perlengkapan milik desa untuk keperluan kegiatan. Tak jarang mereka bahkan menawarkan teras rumah untuk digunakan.

Event yang dilakukan KLG juga semakin meningkat seiring semakin dikenal di masyarakat. Saat ini ada namanya KLG on season. Yaitu program edukasi berskala mayor dengan bermacam tema yang konsisten dilakukan. Pesertanya berkisar antara 200-300 anak-anak. Temanya juga menarik, ada dongeng, dolanan tradisional, budaya, satwa, alam, cita-cita, bahkan ada juga tema Pancasila, dirgantara, kehidupan desa sampai IPTEK.

Selain KLG on season KLG juga punya event Sidoasik. Yaitu event yang diselenggarakan lintas komunitas, baik secara pribadi maupun bersama-sama untuk melaksanakan acara Bermain menjadi Indonesia untuk memperingati Hari Anak Nasional.

Ternyata keberhasilan Kampung Lali Gadget menginspirasi banyak orang. Saat ini ada sekitar 4 kecamatan di Sidoarjo sendiri yang mereplika kegiatan KLG, yaitu di kecamatan Jabon, kecamatan Sukodono, kecamatan Buduran, dan Kecamatan Prambon.

Selain di Sidoarjo rupanya kota lain pun tidak tinggal diam ingin ikut serta ikut dalam kurikulum KLG. Ada Demak yang membuat kegiatan sama dengan nama Dolaget (dolanan Lali Gadget) dan Probolinggo serta Pasuruan dengan nama Negeri Dolanan Anak Desa.

Rupanya KLG dilirik juga oleh lembaga pendidikan. Tahu kan saat ini di dalam kurikulum Merdeka ada pelajaran P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Nah KLG memang sangat relevan dengan materi-materi yang ada di P5 tersebut. Ada sekitar 15 sekolah yang belajar di KLG terkait materi P5 tersebut, bahkan pihak kampus pun juga ikut serta belajar bersama di sana.


Ada yang spesial dengan Kampung Lali Gadget. Achmad Irfandi pastinya telah berhitung secara matang sebelum merealisasikan idenya. Multiple effect dari KLG nyatanya juga berjalan seiring semakin besarnya KLG itu sendiri.

Pertama, jelas ekonomi masyarakat dusun Bendet mengalami peningkatan. Dari datangnya banyak pengunjung pastinya meniupkan pundi-pundi rupiah yang tidak sedikit. Juga berkembangnya banyak UMKM lokal, seperti industri udeng khas Sidoarjo yang bernama Udeng Pacul Gowang yang mendapat banyak pesanan saat ini sejak Achmad Irfandi gencar mengenalkan salah satu kearifan lokal tersebut ke masyarakat.

Kedua, sopan satun anak-anak yang semakin terlihat. Ini dibuktikan dengan bagaimana mereka tersenyum dan menyapa ketika bertemu Achmad Irfandi atau orang yang lebih tua. Anak-anak juga lebih sering tersenyum dan terlihat bahagia, tidak lagi lekas marah. Mereka juga lebih terdidik dalam tanggung jawab dan gotong royong.

Ketiga, literasi baik itu dalam hal melek digital atau kebudayaan serta kearifan lokal semakin dikenal oleh anak-anak sebagai generasi penerus. Ketika mereka sudah kenal, maka akan mampu meneruskan kebudayaan tersebut sehingga tidak lantas pudar.

Keempat, anak-anak dan warga menjadi lebih kreatif. Ketemu apa dijalan dipungut dan dijadikan mainan sederhana. Daun-daun atau botol dan plastik bekas tidak lantas dibuang dan dibakar begitu saja.

Kelima, anak-anak akan tahu mana prioritas dan mana yang bisa dikesampingkan. Gadget jelas masih dibutuhkan untuk keperluan mereka, baik itu pendidikan atau hiburan. Namun bedanya anak-anak jadi tahu bahwa gadget hanya alat, dan mereka bisa menggunakan itu hanya ketika dibutuhkan saja bukan lantas terus-menerus memakainya.

Keenam, melihat semangat dan keberhasilan dari Achmad Irfandi pasti menimbulkan keinginan juga di benak anak-anak penerus bangsa ini untuk kemudian meniru jejak yang ditinggalkan seniornya. Memang bukan lagi hal yang sama, tetapi mereka akan terstimulus untuk ikut serta bersemangat membangkitkan Indonesia menuju lebih baik lagi dengan cara mereka sendiri.

Ketujuh, ternyata semangat untuk bangkit dari Achmad Irfandi dengan Kampung Lali Gadgetnya untuk meminimalkan dampak adiksi gadget pada anak juga menular di desa kami secara tidak langsung. Melihat semakin banyaknya anak yang terkena adiksi gadget, pemuda pemudi desa turun tangan. Bukan lewat permainan tradisional tetapi membangkitkan kembali kesenian lokal

Jadi di desa kami ada grup reog yang sudah tua umurnya. Karena generasi pemain kesenian ini sudah berumur setengah abad atau lebih menjadikan kesenian reog mati suri. Untungnya pemuda pemudi desa concern dengan keadaan ini dan mulai bersemangat kembali membangkitkan kesenian reog tersebut dengan wajah baru.

Reog Singo Yudho Budoyo namanya. Karena sudah mulai bangkit, akhirnya perekrutan besar-besaran dilakukan. Grup butuh pemain dadak merak, jathilan, warok, bujang ganong, raja kelana dan pemain gamelan.

grup reog singo yudho budoyo

Positifnya anak-anak bersemangat ikut latihan. Mereka belajar menarikan gerakan sesuai dengan pilihan posisi yang diinginkan. Yang perempuan main jathilan, yang laki-laki ada yang jadi bujang ganong dan warok, beberapa berlatih memainkan gamelan sebagai musik pengiring. Lain lagi dengan penari dadak merak, karena butuh stamina tinggi untuk bisa menyangga topeng berbobot 50 kg lebih dengan gigi jadi penarinya pun khusus. Entah bagaimana di desa yang bisa memainkan dadak merak adalah mereka dengan badan besar dan tegap.

Karena sibuk latihan dan seringnya berkumpul di markas reog, anak-anak mulai mengurangi pemakaian gadgetnya. Akhirnya mereka lebih kreatif dan kenal dengan budaya lokal yang awalnya hanya dilihat sambil lalu saat perayaan Agustusan.

Dari reog saya pun berharap nantinya pemuda pemudi desa itu juga mampu membangkitkan kesenian wayang songsong yang sempat meraja di masa lalu (kita punya pengrajin wayang yang asli warga desa) dan juga orkes. Uniknya lagi meski desa kami berada jauh dari pusat keramaian tetapi sempat punya stasiun radio sendiri. Semoga kelak juga bisa mulai mengudara kembali dengan semangat pemuda pemudi desa.


Harus selalu diingat bahwa teknologi akan sangat berguna sebagai alat bantu di kehidupan manusia, tetapi lain halnya jika diagungkan layaknya Tuhan maka akan menimbulkan bencana yang sangat buruk.

Batasi penggunaan gadget pada anak dan selalu dampingi agar tidak terjadi penyalahgunaan gadget dan paparan hal buruk yang tidak terkendali.

Achmad Irfandi sebagai founder Kampung Lali Gadget mengerti betul bahwa anak-anak adalah aset berharga, merekalah penerus bangsa. Jadi patut kiranya generasi yang lebih tua memberikan teladan yang baik dan layak untuk dicontoh.

Pendidikan bukan hanya didapat dari ruang tertutup dan dibatasi sekat. Pendidikan lahir dari interaksi dengan masyarakat dan lingkungan seperti yang dikatakan bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara.

Dengan permainan tradisional anak-anak belajar, memaksimalkan tumbuh kembang fisik dan psikis. Menyiapkan diri menjadi kreatif dan solutif untuk bisa berguna bagi bangsa.

Nantinya dengan kebudayaan dan kearifan lokal yang melekat erat dalam tubuh mereka, dimanapun mereka berada akan tetap mampu menjaga dan menjunjung tinggi identitas Indonesia di mata dunia. Semoga.

#BangkitBersamaUntukIndonesia #KitaSATUIndonesia


Referensi:

www.iniklg.com

@kampunglaligadget

 


Author

Marwita Oktaviana

Blogger, Book lover, Writing Enthusiast, A friend of a many students