Halaman

Sabtu, 12 Oktober 2019

ENTAH BAGAIMANA HARUSNYA


Pantaskah aku bertanya perihal benarkah ini cinta saat bahagia hanya miliknya tanpa aku ada di dalamnya. Salahkah jika aku bilang ini hanya asmara berbalut entah apa jika segala yang tertera hanyalah palsu belaka. Bukankah seharusnya bahagia adalah milik berdua bukan hanya satu pihak saja?

Tapi entah bagaimana aku selalu mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Dibalik semua resah, gelisah, duka. Aku selalu bilang bahwa aku baik-baik saja. Meski dalam malam-malam aku habiskan waktu dengan menangisi hidupku yang hampa.

Apa benar aku mencintainya, ataukah hanya sekedar mempertahankan entah apa. Jika semua yang aku punya sudah aku serahkan untuknya dan aku masih belum bisa bahagia?

Ataukah aku sudah mati rasa. Berbilang tahun mencoba menuruti semua maunya. Menekan semua ego untuk bisa memuaskannya. Dan semua tak pernah cukup, segala yang sudah aku usahakan untuk membuatnya bahagia.

Aku harus bagaimana. Jika saat-saat bersamanya justru membuatku tertekan dan menahan duka. Hanya bisa tertawa saat tak lagi ada dia di sekeliling. Hanya bisa menikmati waktu saat benar-benar sendiri tanpa pantauannya.

Ataukah memang sejatinya aku sudah mati dalam arti sebenarnya. Bukan kehilangan nyawa, tapi kehilangan diri. Dia yang sedari dulu berusaha memupus semua mimpi. Membunuh satu-persatu hingga tak lagi bersisa kini. Bukankah mereka yang mati adalah mereka yang kehilangan mimpi?.

Sampai saat ini aku masih bisa terus berpura-pura bahagia. Menampakkan wajah ceria di depan semua. Menunjukkan bahwa semua baik-baik saja. Tapi aku sungguh lelah. Lelah dengan semua sandiwara. Tak mudah untuk selalu terlihat baik-baik saja.

Lalu bolehkah sekali ini aku bilang bahwa aku tidak baik-baik saja?. Mungkin dengan begitu aku bisa merasa lega.

2 komentar: