Sabtu, 26 Oktober 2019

MENJEJAK PERCAYA


Kemarau menyisakan candu, pada hujan yang lama dirindu
Kelopak-kelopak mati suri, menanti rinai yang datang membumi
Di sudut hati terapal sesal yang kian membuntal
Tercetak sendu dari keinginan untuk bertemu
Tunggu aku, kekasihku
Akan kusucikan khianat yang pernah tertancap
Tunggu di batas kemarau yang mengeringkan sedan
Kita bertemu  saat gerimis fajar  dengan bunga-bunga yang tergelar

***
Kepel tangkas meloncat dari satu dahan ke dahan lain. Sesekali berhenti mengambil nafas lalu kembali meloncat. Kemampuan berburu yang dia miliki sangat membantu dalam kondisi seperti ini. Setelah lama tak pernah dilakukan, kali ini kembali dipakainya baju berburu buatan ayahnya. Kemben dan jarit dia tinggalkan, tak cocok untuk keperluannya.  Busur dan panah terikat di punggung, matanya awas, mengamati setiap jengkal.

Misinya kali ini sedikit berbahaya. Demi keselamatan hutan dan suami, dia terpaksa harus menumpas sendiri Toktok Kerot, raksasa perempuan yang berniat mengambil alih hutan. Sudah tugasnya untuk menjaga warisan dari ayah dan ibu yang sangat dia sayangi. Adanya Toktok Kerot di sana akan membahayakan seisi hutan dan tempat pesarehan ayah dan ibunya yang suci.

Tugas pertamanya untuk menjauhkan Panji, sang suami sudah dia lakukan. Meski dengan cara yang tidak dia inginkan. Yang terpenting saat ini Panji tidak berada di sini dan jauh dari jangkauan Toktok Kerot.
***
Setelah beberapa jam menyisir hutan, Kepel akhirnya menemukan persembunyian Toktok Kerot di sebuah lembah tak jauh dari air terjun sebelah selatan. Perlahan didekatinya raksasa itu. Busur siap di tangan.

“Wahai anak kecil, untuk apa kau kesini?”, Kepel hampir saja terpeleset karena kaget dengan suara Toktok Kerot yang menggelegar. Perlahan Kepel meloncat turun dari atas dahan pohon tempatnya berpijak.

Ngapunten Nyai saya sudah mengganggu istirahat Nyai”, Kepel perlahan mengatupkan tangan di depan dada sebagai salam. Bertindak sangat hati-hati namun tetap awas akan apa yang akan terjadi. Di tangan kirinya busur tergenggam siap untuk digunakan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Dengan santun Kepel mendekat ke arah Toktok Kerot. Berusaha membicarakan apa yang diinginkan oleh raksasa itu. Mencoba memberi solusi bagaimana agar keseimbangan hutan tidak terganggu. Namun Toktok Kerot menolak dan langsung menyerang Kepel dengan ganas. Sigap Kepel meloncat beberapa meter ke belakang. Bersiap menerima serangan selanjutnya. Sebenarnya mudah saja bagi Kepel untuk menumbangkan Toktok Kerot jika jaraknya agak jauh. Kemampuan memanah Kepel di atas rata-rata. Sekali tembak panah akan menancap tepat diantara kedua mata Toktok Kerot begitu saja. Namun kali ini jarak yang terlalu dekat memaksa Kepel bertarung dengan tangan kosong. Mencoba melindungi diri dan mencari celah untuk bisa menyaru jarak untuk melepaskan tembakan.

Selang beberapa lama, Toktok Kerot yang murka karena serangannya selalu mampu ditangkis dengan mudah oleh Kepel mulai kehabisan tenaga. Badan yang besar menguras tenaganya lebih cepat dari yang dia kira. Saat itulah Kepel langsung meloncat ke atas dahan dan mencari jarak yang tepat untuk membidik Toktok Kerot.

Toktok Kerot yang murka bertambah murka dengan menghilangnya Kepel secara tiba-tiba, tak menyadari sebatang anak panah mengarah tepat ke arahnya dan menembus dada kirinya seketika. Suara berdebum sangat keras terdengar saat Toktok Kerot roboh sambil memegangi dada. Kepel tak beranjak dari tempatnya beberapa saat. Kemudian turun perlahan, mendekat ke arah Toktok Kerot untuk memeriksa kondisinya. Dipegangnya pergelangan tangan sang raksasa untuk memastikan tak ada lagi denyut nadi di sana. Lalu beranjak pergi dengan segera.
***
Kepel memastikan tak ada lagi ancaman untuk hutan tempatnya tinggal. Paringga Nabastala harus bersih dari segala gangguan. Sejenak dia tertegun berdiri di depan pusara ayah dan ibunya. Pamit pada mereka dan juga seluruh isi hutan yang dia sayangi. Sudah waktunya untuk pergi. Menjemput suaminya kembali. Meski dia tahu mungkin tak akan pernah mudah untuk bisa menemukan suami di dunia yang tak pernah dia kenal. Tapi hati dan pikirannya sudah mantap.

Lalu dengan tangkas busur dan panah disampirkan di punggungnya. Satu buntalan berisi pakaian dan persediaan makanan juga diletakkan di tangan kanannya. Kepel siap pergi. Dengan gesit Kepel meloncati dahan-dahan pohon. Melampaui jarak dengan kecepatan angin, hasil dari latihan-latihan yang dilakukan bersama ayahnya dulu.

Sesaat sebelum tiba di batas hutan. Langkahnya terhenti saat melihat kidang angin melaju dengan anggun ke arahnya. Menunduk memberikan ucapan selamat tinggal pada tuannya. Kepel membelai pelan jalinan tanduk rumit di atas kepala kidang angin. Memberikan perintah untuk tetap tinggal dan menjaga hutan, menggantikan tugasnya selama pergi. Kidang angin mengangguk dan bersimpuh di depan Kepel. Menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Kepel memandang sekilas. Lalu kembali dengan gesit berlari menuju batas hutan. Bersiap menjelajah dunia luar.
***
Sekejap Kepel dikejutkan dengan pandangan matanya yang menangkap serumpun anggrek hitam berputik emas di salah satu pohon jati yang dia lalui. Heran, bagaimana bisa tanaman endemik Paringga Nabastala bisa ada di sana. Sepengetahuan Kepel bunga ini tidak akan ditemui di tempat lain selain di Paringga Nabastala. Demikian yang diberitahukan oleh ayahnya saat masih hidup. Karena anggrek hitam itu adalah bunga langit yang dikirim Mahadewa sebagai hadiah untuk ibu Kepel.

Disentuhnya perlahan bunga itu. Memetik sebuah dan diselipkan pada ikatan rambut. Mengenang janjinya dengan Panji, sang suami saat mereka menikah dulu. Lalu dilanjutkannya perjalanan.

Kepel sempat bingung akan kemana arah yang diambil. Dia benar-benar buta dengan dunia luar dan tak tahu menahu tentang jati diri Panji. Sampai dilihatnya kembali serumpun anggrek hitam itu di salah satu pohon. Dia yakin itu adalah tanda yang ditinggalkan oleh Panji untuknya. Kembali bersemangat, Kepel mulai memacu langkah menemukan kembali anggrek hitam di sepanjang perjalanan.
***
Entah sudah berapa hari berlalu. Kepel masih belum menemukan apa yang dia cari. Sudah beberapa desa dia lalui. Persediaan makanan yang dibawa sudah hampir habis. Meski Kepel tak memusingkan masalah makanan, tapi berkelana seorang diri tanpa arah yang jelas membuatnya semakin gelisah. Setiap orang yang dia temui selalu mengatakan tidak mengenal suaminya.

Kepel berhenti di salah satu lembah setelah dua minggu berjalan. Dicarinya pohon rindang tempatnya beristirahat. Dengan cekatan Kepel memanjat pohon itu dan memilih salah satu dahan untuk tempatnya tidur. Busur dan panah dia letakkan di salah satu ranting beserta dengan buntalan kainnya. Baru saja hendak memejamkan mata, Kepel dikejutkan dengan suara seorang perempuan yang bersenandung. Kepel mengintip dari balik daun-daun. Nampak seorang perempuan tua sedang berjalan menggendong kayu di punggungnya. Merasa aman, Kepel perlahan turun dari atas pohon dan menemui perempuan itu.

Mbok Rondo nama perempuan itu. Dia adalah seorang janda tua yang tinggal tak jauh dari situ. Merasa iba dengan kondisi Kepel, Mbok Rondo mengajak Kepel untuk singgah di rumahnya. Di sana Kepel diberi makan dan minum, lalu beristirahat sejenak di bale bambu di salah satu bilik yang ada di rumah itu.

Malamnya saat Kepel dan Mbok Rondo sedang berbincang, Kepel menceritakan tentang tujuannya berkelana. Bagaimana dia selama berhari-hari mencari dimana suaminya tinggal bukanlah hal yang mudah. Mbok Rondo sangat sedih mendengar cerita Kepel dan bertanya siapa sebenarnya nama suaminya. Kepel memberi tahu Mbok Rondo nama suami dan pengawal yang selalu bersama dengan suaminya. Mbok rondo kaget bukan kepalang.
***
Esoknya Mbok Rondo meminta Kepel untuk ikut bersamanya. Pergi jauh ke selatan desa, melewati beberapa pemukiman penduduk dan sampai di kota besar yang ramai. Mbok Rondo baru berhenti saat memasuki aula keraton yang dijaga para prajurit kerajaan. Kepel bingung kenapa Mbok Rondo membawanya ke tempat ini. Apakah Mbok Rondo harus meminta pertolongan pada pihak kerajaan untuk menemukan dimana suaminya tinggal.

Kepel memilih menyingkir dari aula. Berteduh di bawah pohon beringin yang ada di depan aula. Menanti Mbok Rondo yang sedang serius berbincang dengan salah satu prajurit istana. Tak lama mendekat seorang patih kerajaan. Kepel tahu dari perawakan yang kharismatik, ikut berbincang dengan Mbok Rondo. Lalu mereka mengiring Mbok Rondo ke dalam menuju istana. Kepel ditinggalkan begitu saja.

Tak berapa lama Mbok Rondo keluar dengan dikawal satu prajurit untuk menemui Kepel. Kepel menurut saja saat Mbok Rondo menuntunnya ke dalam istana. Mengira bahwa dia dibutuhkan untuk memperjelas laporan Mbok Rondo tentang suaminya.
***
“Akhirnya kamu datang juga Nimas, aku sudah lama menunggu kedatanganmu”, Panji menatapnya dengan penuh rindu.

Kepel begitu terkejut, di depannya berdiri Panji, suami yang sekian hari dia cari. Begitu terkejutnya hingga Kepel hanya mampu tertegun di tempatnya. Terbelalak tak percaya. Mbok Rondo mendekati Kepel dan menceritakan bahwa Panji bernama asli Panji Seputro adalah Raja dari kerajaan Kediri.

Kepel mendekat dengan sedikit ragu. Apakah Panji mau menerima kembali dirinya setelah apa yang dilakukan untuk membuat Panji pergi dari sisinya. Apalagi dengan status Panji yang adalah raja. Meski rindu membuat Kepel ingin merengkuh suaminya saat itu, namun dia tidak berani untuk melakukannya. Hanya diam di tempat sambil menahan airmata agar tidak jatuh.

Kangmas aku minta maaf sudah lancang menyakitimu saat itu. Bukan maksudku untuk mengusirmu dari Paringga Nabastala, tapi situasi yang mengharuskanku untuk melakukannya. Demi keamananmu”, Kepel seketika mengatupkan tangan menjura.

Dengan sigap Panji memeluk wanita yang lama sekali ingin ditemuinya. Sungguh rindu tak mampu lagi dia bendung saat itu. Merasakan hangat tubuh Kepel dalam pelukannya adalah mimpi yang lama dia tera. Perlahan dibimbingnya Kepel menuju rumah ndalem dan mendudukkannya di salah satu bangku panjang yang ada di sana.

Perlahan Panji menceritakan bahwa kesempatan untuk bisa pergi dari hutan sudah dinantikan sejak lama. Namun Panji tahu bahwa Kepel akan sangat sulit untuk diajak meninggalkan hutan tempatnya dibesarkan. Maka saat Kepel melakukan tindakan yang lancang saat itu, rencana Panji untuk pergi menjadi beralasan. Panji tahu Kepel akan menyusulnya kembali untuk bertemu. Dengan begitu Kepel akan keluar dari hutan atas keinginan sendiri tanpa paksaan.

Panji meninggalkan anggrek hitam berputik emas, bunga kesayangan Kepel di sepanjang jalan. Sebagai jejak untuk Kepel dapat melacaknya dengan gampang. Panji tahu bahwa Kepel adalah wanita cerdas yang akan mampu melihat tanda yang ditinggalkan.

Kepel terbeliak mendengar cerita dari Panji. Bertanya-tanya masih adakah kesempatan untuknya bisa bersama, lagi. Perlahan dilepaskan pelukan suaminya. Dipandangi wajah yang membuatnya jatuh cinta. Perlahan diceritakannya kejadian sebenarnya. Tentang ancaman dari raksasa perempuan yang ingin mengambil alih hutan dan Panji. Toktok Kerot ingin memiliki Panji untuk dirinya sendiri, meski harus menggunakan cara apapun. Maka Kepel memutuskan untuk menemui raksasa itu dan membuatnya bertekuk lutut, kalah. Kepel meminta maaf pada suaminya karena dia tidak jujur tentang keahlian kanuragan yang dia punya. Dia hanya takut Panji tidak akan menyukai perempuan yang bertingkah seperti lelaki.

Panji kaget dengan apa yang dia dengar. Tidak disangka ternyata Kepel yang lembut dan ayu itu adalah seorang yang memiliki kemampuan bela diri tangguh dan sanggup mengalahkan raksasa seorang diri. Takjub. Semakin bertambahlah cinta dalam hatinya.

Nimas, aku minta maaf membuatmu harus keluar dari Paringga Nabastala tempatmu dibesarkan. Aku hanya ingin memberimu kemewahan istana, aku tidak tega melihatmu harus terus berada di hutan tanpa teman dan fasilitas yang baik. Bukannya aku enggan untuk terus berada di sana bersamamu, namun tak pantas rasanya seorang permaisuri kerajaan Kediri harus tinggal di tengah hutan. Rakyat perlu tahu dan mengenal permaisuri secantik dirimu. Seseorang yang pantas mendampingiku”. Panji kembali merengkuh istrinya lebih erat. Dadanya menghangat dengan seketika.

“Terima kasih karena Kangmas masih percaya padaku dan mau menungguku”, Kepel memandang suaminya dengan tatapan penuh haru. Lega, itu yang sejatinya dirasa. Segala yang dia sangkakan ternyata hanya sebatas imajinasi tak berarti. Panji tak pernah berkhianat atas janji yang sudah disepakati.

Karena cinta bukan hanya tentang aksara dan kata, harus ada percaya dan pengorbanan di dalamnya.



2 komentar: