Kamis, 03 Oktober 2019

TENTANG REJEKI

Dua puluh lima. Bukan hari atau bulan. Dua puluh lima tahun aku menunggu. Bukan waktu yang sebentar. Menunggu selama itu bukan hanya butuh sabar ekstra, namun juga motivasi yang harus selalu kujaga. Jangan ditanya sudah berapa kali harus kutepikan tangis di malam-malam sujudku padaNya atas tanya, nyinyir dan segala yang memojokkan. Aku pasrahkan segala duka lara hanya kepadaNya. Tidak ada satu orang pun yang bisa aku percaya untuk sekedar berkeluh kesah setelah Ibu pergi ke surga. Saat ini hanya ada Dia yang aku kirimi segala resah yang kian buncah.

Usia yang tak lagi muda tak pernah menyurutkan asa yang lama terpendam. Aku dan suami masih tetap berusaha untuk mendapatkan kepercayaan seorang yang bisa melanjutkan nama keluarga. Seseorang yang akan menyemarakkan suasana rumah dan hati kami. Berbagai macam cara dari klinis maupun tradisional sudah kami lakukan, namun hasilnya masih nihil.

Tapi meski demikian, aku sangat bersyukur memiliki seorang suami yang sabar dan mau bertahan bersamaku yang belum bisa memberikan padanya keturunan. Bersyukur atas hari-hari pernikahan yang berjalan baik. Meski terkadang ada onak-onak kecil yang menghalang. Namun dengan kesabarannya masih bisa kami pertahankan. Tak jarang dia memberiku motivasi mungkin tidak di dunia ini aku diberikan buah hati. Tapi nanti di surga telah menanti.

Doa selalu kupanjatkan kepadaNya. Agar buah hati itu segera tiba. Ingin rasanya menjadi istri yang sebenarnya, menjadi ibu yang sebenarnya. Menjalani hari-hari menyiapkan keperluan dan momong. Mendoakan yang terbaik untuk dia saat besar nanti. Ingin mengalami capeknya menjadi ibu rumah tangga sejati. Entah sampai kapan akan bisa kutemui.

Ya, mungkin memang bukan rejekiku untuk diberi momongan di dunia. Mungkin aku belum cukup pantas untuk bisa membesarkan seorang anak. Mungkin Tuhan memberiku kepercayaan yang lain untuk bisa mengabdi padaNya. Aku cukup bersyukur atas karunia hidup yang telah diberikan. Dan rejeki yang mengalir lancar sejak masa pernikahan.

Aku tatap lagi jajaran gedung bertingkat di sekeliling rumah. Terlihat gagah. Aku tersenyum. Melangkahkan kaki menuju salah satu bangunan untuk sekali lagi memberikan pelajaran bagi mereka. Anak-anak tanpa ibu dan bapak yang ditemukan dari mana saja. Anak-anak yang kusyukuri adanya, meski bukan dari rahimku. Aku bertekad menjadikan mereka anak-anak penerus bangsa yang berbudi mulia. Meski mereka hadir dari tempat yang tidak semestinya mereka ada.

Alhamdulillah Allah masih sudi memberiku percaya untuk dapat mengurus nasib mereka. Anak-anak terlantar yang tak diindahkan keberadaannya. Aku dan suamiku diberi rejeki melimpah untuk dapat kumanfaatkan melayani mereka, anak-anak masa depan bangsa. Anak-anakku dari rahim berbeda.

3 komentar: