Senin, 12 Juli 2021

Saya Belajar Menjadi Ibu

 "Anak'e guru kok ra iso opo-opo (anaknya guru kok tidak bisa apa-apa?"

Mendengar perkataan seperti itu, baik langsung maupun di belakang saya dari tetangga atau orangtua teman anak saya rasanya setajam silet, menohok dan tentu membuat saya sebagai ibu sedih. Memang anak saya yang pertama belum pintar (saya tidak mau mengatakan dia tidak pintar). Kecepatan belajarnya jauh di bawah teman-temannya yang lain.

Bagaimana menjadi seorang ibu

Waktu akan masuk sekolah dasar, saya sempat agak ragu. Rendra (anak saya) saat itu belum bisa apa-apa. Untuk angka mungkin bisa, tapi abjad hanya beberapa saja yang dia kenal. Dengan kemampuannya itu tentu saja dia belum bisa membaca saat itu. Saya karena tidak ingin terjadi sesuatu pada Rendra saat berlangsungnya pembelajaran (misalnya dibodoh-bodohkan oleh teman atau guru) akhirnya nekat menemuai kepala sekolah. Saya jujur mengatakan pada beliau kondisi anak saya. Apakah masih bisa diterima di sekolah tersebut?


Karena ada beberapa sekolah dasar yang untuk masuk ke sana anak harus sudah menguasai beberapa kompetensi dasar, diantaranya membaca dan berhitung. Tapi ternyata ibu kepala sekolah tersebut malah tertawa dan bilang memang belum waktunya di pendidikan taman kanak-kanak diajari membaca dan berhitung, justru malah kasihan otaknya. Bahkan beliau membesarkan hati saya, nanti Rendra akan bisa sendiri membaca saat sudah tiba saatnya. Dan alhamdulillah di tahun ke-2 Rendra sudah lancar membaca.

Nah kalau tidak bisa membaca, bagaimana anak mengerjakan ujiannya? Ini juga sempat membuat saya ketar-ketir. Pasti hasilnya akan jeblok. Ternyata kekhawatiran saya itu tidak beralasan. Di tahun pertama saat ujian semester ganjil, guru berinisiatif membacakan soal ujian bagi anak-anak yang belum bisa membaca. Saat itu nilai Rendra lumayan. Nah di semester genap guru sudah tidak membacakan lagi soal yang akan dikerjakan. Rendra saat itu belum bisa membaca. Saya sudah pasrah saja, kalaupun tidak naik tidak apa-apa toh umurnya juga sebenarnya masih kurang untuk masuk usia sekolah dasar. Saya juga takut Rendra menjadi takut dan malu pada teman-temannya karena tidak bisa mengerjakan ujian di sekolah.

Ternyata lagi kekhawatiran saya sangat tidak beralasan. Saat saya tanya 

"Mas gimana tadi ujiannya, bisa?". Dia mengangguk mantap. 

Heran dong saya. 

"Kamu nyontek teman?". Dia menggeleng

Bingung dong saya. "Terus gimana ngerjainnya, kamu bisa bacanya tadi?"

Dia menggeleng dan bilang kalau ngawur aja di soal pilihan ganda. Saya kejar terus dia.

"Terus soal yang pakai jawaban ditulis gimana mas?"

Dia dengan enteng bilang kalau jawabannya diisi dengan pertanyaan yang ditulis ulang. Spontan saya ngakak waktu itu. Ya Allah ternyata dia enteng saja mengatasi masalah dan saya terlalu under estimate dan khawatir. Dari sana saya jadi tahu bahwa he has his own confidence. Saya tidak perlu khawatir dia minder atau merasa dikecilkan di sekolah. Untuk nilai saya tidak pernah mempermasalahkan. Yang saya tanamkan pada anak saya itu yang penting paham. Jadi meski rapotnya berjajar nilai C saya biasa saja, tidak lantas ngamuk-ngamuk menyalahkan anak.

Anak-anak itu unik

Alhamdulillah saya diberi pola pemikiran yang terbuka, jadi tidak lantas menjadi gupuh ketika anak dikatakan belum bisa apa-apa oleh sebagian besar orang. Anak-anak itu diciptakan unik, jadi mereka tumbuh dengan bermacam-macam karakter. Dan ini berpengaruh pada pola belajar mereka. Karena saya paham betul Rendra itu tidak suka belajar (maksudnya yang belajar di depan meja menghadapi sebuah buku), it's a big no buat dia. Bahkan kalau saya paksa pun keadaannya tidak berubah. Jadi saya lebih ke berusaha buat dia belajar di sela-sela main, atau kalau tidak saya bacakan itu materi yang harus dipelajari di dekat dia. Saya tahu dia mendengarkan, meski sambil lalu, tapi biasanya sih nyambung. Habis itu saya kasih macam-macam pertanyaan dari materi itu, itu juga sambil main. Dan biasanya bisa jawab dia.

“Untuk Anda jadi kenangan anak-anak di masa depan, Anda harus hadir dalam hidup mereka saat ini” - Anonim-

Anak-anak memang punya tipe belajar masing-masing. Ada yang visual (belajarnya lebih ke membaca, melihat, mengamati), auditory (belajarnya lebih ke mendengar, menyimak), dan kinestetik (belajarnya dengan bergerak, berlatih, ber-eksperimen). Saya menyadari sebagai ibu tentunya saya bukanlah ibu sempurna. Apalagi peran ibu itu saya selingi sambil bekerja. Jadi waktu bersama anak lebih sedikit dibanding dengan full mom. Karena anak saya tipenya lebih banyak ke kinestetik dan auditory saya bebaskan dia dari belajar secara visual (membaca). Tidak jarang saya mendongeng sebelum mereka tidur lalu menyelipkan materi-materi di dalamnya. Kecil sih mungkin dibanding jumlah materi yang harus dikuasai tapi itu sudah lebih dari cukup daripada tidak sama sekali.

“Tidak ada cara sempurna untuk jadi orang tua. Jadi, jadilah sosok yang selalu hadir saat mereka butuh,” – Sue Atkins

Alhamdulillah meski belum bisa dikatakan pintar secara akademis, tapi Rendra punya kepintaran sendiri di bidang lain. Contohnya saja dia suka mengotak-atik barang. Mobil-mobilan remote yang ada sirkuit kelistrikannya dia bongkar, lalu dipakai untuk merangkai sistem kelistrikan lain. Dia ambil dinamo dan kabelnya lalu membuatkan saya lampu dengan daya dari aki. Katanya sih buat jaga-jaga kalau listrik padam. Lain waktu pas musim layangan dia bikin layangan besar, meski dengan bantuan bapaknya. Atau bikin truk dari kardus, atau bom-boman dari kaleng. Baru-baru ini dia inisiatif bikin rumah pohon di atas pohon samping rumah buat base camp teman-temannya (dia sendiri yang bikin bersama teman-temannya). Dan kemarin dia nekat mencabut bambu pagar untuk dijadikan rakit. Pokoknya idenya ada saja. Saya jadi tidak khawatir lagi. Memang kecepatan menerima dan memahami sesuatu terkesan agak lambat, tapi saya tahu ada kemajuan disana.

hasil karya rendra

"Yang terpenting dalam pendidikan adalah kasih sayang dan anak yang bahagia"-Ki Hajar Dewantara
Seperti kata Ki Hajar Dewantara "Ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani". Di depan sebagai teladan, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan. Karena filosofi dari bapak pendidikan tersebut saya melakukan introspeksi ke dalam diri saya sendiri. 

Di depan sebagai teladan. Dari filosofi itu saya mengurangi menyuruh-nyuruh anak untuk melakukan apa yang saya mau. Percuma ternyata, paing masuk telinga kanan keluar telinga kanan. Jadi sekarang saya lebih ke mengajak, maksudnya saya ikut serta di dalamnya. Misalnya untuk sholat atau mengaji sekarang saya tidak bilang "Mas sholat sana", tapi "Mas ayo sholat bareng". Atau agar anak suka membaca saya perlihatkan di depan mereka kalau saya membaca juga (untungnya saya memang suka membaca). Ternyata itu lebih efektif karena ada bonding yang tercipta antara saya dan anak dibanding dengan menyuruh dan membuat anak merasa terpaksa melakukan.


Di tengah memberi semangat. Yang ini apa ya? mungkin contoh sederhanyanya saat saya sekeluarga harus isoman karena covid beberapa waktu lalu. Untuk orang-orang dewasa mungkin sudah mengerti, tapi lain lagi dengan anak-anak. Mengharuskan mereka stay di rumah saja itu susah, apalagi dengan tipe anak saya yang lebih suka bermain di luar. Jadi ketika mereka bosan, saya kasih mereka semangat dan mengalihkannya dengan mengajak bermain, atau melakukan aktifitas yang bermanfaat dan menghilangkan kebosanan. Menularkan canda tawa di tengah-tengah kondisi yang tidak bersahabat dan memberikan pengertian pada mereka. Susah sekali memang, tapi ibu harus serba bisakan ya? bisa menjadi apa saja dan bisa mengontrol emosi di segala suasana. Ya memang saya masih lebih sering marah-marah kalau sikon sangat absurd terjadi. Tapi saya belajar dan terus belajar meredam emosi.

kegiatan selama isoman
Kegitan selama isoman

Ada yang saya pelajari saat isoman itu. Ternyata anak tantrum itu obatnya mudah sekali. Kenapa juga saya tidak sadar sejak lama dan memeilih ikut-ikutan tantrum (marah). Anak tantrum dan rewel itu ternyata karena mereka kurang merasakan kasih sayang dari kita. Misalnya saja untuk anak perempuan saya (anak ke-2) dia suka rewel sekali kalau bosan. Saya juga karena banyak yang harus dikerjakan jadi suka membiarkan dia main sendiri. Akibatnya dia makin rewel. Kalau sudah begitu saya peluk dia, lama, sambil saya bilang 
"Ibu jahat ya Dek, ibu nggak main sama Adek dan sibuk sendiri. Adek bosan ya". 
"Maaf ya Dek sebentar lagi ibu selesai, habis itu ibu akan main sama Adek, Adek mau nunggu sebentar saja?"
Dan ajaib, tantrumnya hilang. Dia jadi lebih pengertian dan kalem. Menunggu saya selesai mengerjakan tugas. Dan kembali tertawa saat main bersama-sama.

“Anak-anak yang sangat membutuhkan cinta, akan meminta pada kamu dengan cara yang paling tidak menyayangi,” – Russel Barkley.

Nah untuk yang di belakang memberi dorongan ini yang paling mudah menurut saya. Sebagai orang tua harus bisa memberi dorongan dan semangat pada anak, meski mungkin apa yang menjadi minat anak itu kadang bertolak belakang dengan keinginan kita. Pernah beberapa kali saya emosi karena Rendra susah sekali diajak belajar untuk ujian. Saya kan juga pengen Rendra itu pintar seperti teman-teman yang lain dan nilainya sedikit meningkat dari jajaran huruf C. Tapi ya bagaimana lagi, wong anaknya memang tidak minat. Yang bisa saya lakukan hanya memberi semangat agar dia mau belajar sendiri dengan caranya, dia minta saya bacakan materi, saya baca. Dia minta saya buatkan soal-soal latihan secara interaktif, saya buatkan. Dia minta apa saja untuk belajarnya saya kasih. Alhamdulillah dengan cara itu nilainya akhirnya lebih bervariasi.

Seperti itulah ibu di hidup anak. Meski berat tapi saya yakin semua ibu dibekali fitrah untuk mau dan mampu berusaha sekuat tenaga untuk buah hatinya. Mengusahakan yang terbaik meski harus pontang-panting. Kita kan punya keyakinan bahwa lelah kita adalah pahala :)

Bagaimana saya belajar dari anak saya

Bisa dibilang sejak menjadi ibu saya kembali mengalami namanya belajar dari dasar. Belajar banyak hal karena anak dan dari anak. Terus terang saya ini merasa sekali kalau saya itu tidak keibuan. Besar dalam kondisi tomboy saya jadi ragu apa bisa menjadi ibu yang baik. Tetapi memang hidup itu adalah belajar tanpa henti. Jadi saya belajar, terutama dari mengamati. 

rendra anak aktif
Rendra saat bermain dengan bermacam permainan


Untuk anak saya, sebenarnya saya tidak memiliki ekspektasi harus jadi apa mereka nanti saat besar. Mereka bukan milik saya, hanya dititipkan. Jadi saya tidak merasa punya hak untuk mengatur hidup mereka. Lha wong  saya sendiri tidak suka diatur-atur.

"Buk, mben aku tak dadi sopir truk yo?" (Bu, besok aku boleh jadi supir truk ya?). 

Suatu kali Rendra mengejutkan saya dengan pertanyannya. Wah ternyata dia sudah punya angan-angan mau jadi apa. Kalau di bayangan orang pasti supir truk itu keras, miskin, dll. Tapi saya kalem saja, saya tanya sama dia kenapa kok pengen jadi supir truk?

"Ben iso keliling nak ndi-ndi" (Biar bisa keliling kemana-mana) jawabnya.

Saya bilang boleh saja, tapi nanti jadi sopir truknya sendiri ya, punya banyak armada yang ramai dan pergi ke seluruh penjuru dunia. Dia tertawa. Saya bilang kalau mimpi jangan tanggung Nak, buat setinggi mungkin. Tidak ada yang mustahil.

Dari mimpi-mimpi itu saya lantas mengamati banyak orang-orang yang berhasil. Apa yang membuat mereka kok jadi seperti itu. Ternyata kunci utama ada di ibu. Benar di ibu. Rata-rata mereka yang sukses lahir dari ibu yang bahagia dan menghargai hidupnya. Ibu yang mendedikasikan malam-malam untuk sujud mendoakan anak dan meminta kepada-Nya agar anak-anaknya sukses. Terlebih jika ibu-ibu itu sangat mudah berderma.

Saya berkaca dari bapak dan ibu saya sendiri. Meskipun bukan menjadi pejabat atau orang penting, tapi alhamdulillah anak-anaknya sudah tidak bergantung lagi pada mereka. Ibu saya meskipun sedikit kolot tetapi setiap malam selalu bangun dan berdoa berjam-jam lamanya untuk kami. Bapak juga demikian, meski tidak se-konsisten ibu. Saya ingat betul pesan bapak pada saya yang saya pegang sampai saat ini. 
"Ojo mbalikno wong sing kesusahan, tulungen sak isoe sampean" (Jangan pernah menolak orang yang minta tolong karena kesusahan, tolonglah sebisamu)

Karena saya tahu itu membawa berkah, maka saya laksanakan. Sebisa dan semampu saya. Sebab saya ingin berkahnya diberikan untuk anak-anak saya menjemput masa depannya. Jadi saya belajar untuk bisa bersabar merelakan waktu istirahat saya untuk pasrah pada-Nya.

saya dan anak-anak

Karena anak-anak juga saya jadi banyak belajar, bagaimana bersabar, bagaimana membagi waktu, bagaimana bersikap, bagaimana menjadi ibu yang bahagia. Dan juga yang tidak kalah penting belajar macam-macam permainan dan update-update terbaru tentang pergaulan masa kini. Saya tahu saya tidak sempurna.

Anak-anak itu sangat mudah memaafkan. Kadang kalau saya terbawa emosi karena capek, mereka mudah saja bergelayut manja ke saya setelah saya marahi. Saya kok jadi malu sendiri. Hmmm menjadi ibu memang harus terus belajar. Karena ibu juga seorang manusia yang tidak sempurna. Bisa juga sedih, marah, kecewa. Tapi saya sangat berusaha menjadi ibu yang bahagia untuk mereka. Semoga.

“Ketika kita sedang berjuang untuk membimbing anak sebuah pelajaran hidup, mereka justru sedang mengajarkan kita makna kehidupan.” ESQ Team

Tidak ada komentar:

Posting Komentar