Halaman

Minggu, 06 Oktober 2019

KEPEL part 2

Lanjutan dongeng berjudul Kepel saya tuliskan di sini. Kenapa akhirnya saya buat dua part karena menurut saya terlalu panjang untuk dijadikan satu. Inilah salah satu yang menyebabkan naskah tidak lolos kurasi. Untuk cerita seperti dongeng anak ini memang tidak dianjurkan terlalu panjang. Anak akan merasa sangat bosan membaca cerita yang panjang. Apalagi jika karakter anak yang cenderung suka bosan. Pasti tidak mau membaca.

Mungkin cerita ini lebih cocok dibaca oleh remaja atau dewasa :D
Tapi tidak apa-apa setidaknya saya sudah belajar dan berusaha membuat sebuah cerpen dengan genre fantasi. Masalah cocok tidak cocok memang tergantung selera kan?

Nah selamat membaca temans
lanjutan kepel part 1



KEPEL part 2
By: Marwita Oktaviana

Karena tidak menemukan satu pun hewan buruan di wilayah luar hutan, Panji Seputro dan Wasanta segera merambah hutan bagian dalam. Baru saja memasuki wilayah dalam hutan rimba, Wasanta melihat kelebatan seekor rusa hutan.
            “Wasanta apa kau juga melihatnya?”, Panji Seputro menyandang busur dan menyiapkan anak panahnya.
            “Sendika5 Kanjeng, saya rasa larinya ke arah timur”, jawab Wasanta sambil menarik tali kekang.
            Berdua mereka bergegas mengejar rusa yang masuk jauh ke dalam hutan, setelah berputar-putar beberapa lamanya Panji Seputro dan Wasanta kehilangan jejak rusa buruan mereka.
            “Kemana larinya rusa tadi, kita sudah berputar-putar dari tadi tetap tidak telihat kelebatannya”, Panji Seputro menghentakkan tali kekang kudanya dengan keras.
            “Saya juga merasa rusa tadi menghilang begitu saja Kanjeng, karena mengejar rusa tadi kita sampai harus masuk begitu dalam ke hutan ini”, jawab Wasanta.
            Mereka masih berputar-putar selama beberapa waktu di area itu, berharap rusa buruan mereka memperlihatkan diri kembali. Tiba-tiba Panji Seputro menarik kekang kudanya dan berhenti mendadak.
            “Wasanta, kau dengar itu?”, Panji Seputro membalik posisi kudanya menghadap Wasanta.
            “Seperti ada suara orang menangis dan bersenandung Kanjeng, tapi apa mungkin ada orang yang tinggal di hutan belantara seperti ini”, Wasanta menajamkan pendengarannya.
            Panji Seputro dan Wasanta kebingungan dan berputar-putar mencari arah suara yang mereka dengar. Setelah berputar beberapa waktu mereka tiba di pohon Beringin yang menaungi sendang, tempat Kepel mengikat dirinya.
            “Sumber suaranya dari sini Kanjeng, tapi saya tidak melihat ada orang di sekitar sini, tempat ini membuat saya merinding Kanjeng”, ujar Wasanta.
            “Kau benar Wasanta, tempat ini memang terlihat agak suram, pohon Beringinnya begitu besar, mari kita berputar barangkali suara tangis dan senandung itu berasal dari bagian belakang pohon”, tukas Panji Seputro.
            Panji Seputro dan Wasanta mengitari pohon Beringin besar itu sambil meneliti sekeliling, namun tetap saja mereka tidak menemukan sosok manusia disana.
            “Wasanta benarkah yang kita dengar tadi suara manusia, atau mungkin itu suara makhluk halus?tempat ini membuatku merinding”, kata Panji Seputro pada Wasanta.
            Wasanta yang bertambah ragu dengan pendengarannya, sedari tadi mencari tetap tidak ditemukan sosok manusia di sekitar mereka.
            “Kulo jalma manungsa, Kanjeng5”, tiba-tiba ada suara di atas mereka.
            Panji Seputro dan Wasanta terkejut bukan main mendengarnya. Spontan mereka menengok ke atas, di dahan pohon di atas mereka terlihat seperti buntalan kain kotor, setelah mereka teliti ternyata ada sesosok manusia kecil, kurus dan sangat kotor. Sepintas jika tidak memperhatikan dengan teliti terlihat seperti dahan yang dibuntal kain.
            “Siapa kamu?, kenapa kamu terikat di dahan seperti itu?”, Tanya Panji Seputro.
            “Saya Kepel, Kanjeng, saya mengikat diri di dahan pohon ini karena saya sudah tidak punya siapa-siapa, lebih baik saya mati di pohon ini”, jawab Kepel.
            Panji seputro langsung memerintahkan Wasanta mengambil parang dan memutus ikatan yang melilit tubuh Kepel. Butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk dapat melepaskan Kepel dari dahan tersebut. Karena sudah terikat begitu lama di dahan pohon, tubuh Kepel jadi menempel kuat di dahan pohon.
            “Sudah berapa lama kamu terikat di pohon ini, kenapa sampai melekat kuat begini?’, tanya Wasanta.
            “Saya tidak tahu Kanjeng, saya sudah tidak lagi menghitung waktu sejak ayah dan ibu saya meninggal, saya hanya menangis dan menangis tiap harinya”, jawab Kepel.
            “Apa kamu tidak lapar, tidak haus, kenapa tidak keluar saja dari hutan ini dan melanjutkan hidup di kampung?”, Tanya Panji Seputro
            “Saya sudah tidak punya siapa-siapa Kanjeng, hidup di luar hutan ini saya tidak sanggup, biarlah saya mati saja”, Kepel menjawab sambil menangis.
            Selama beberapa waktu Panji Seputro dan Wasanta berusaha melepaskan Kepel. Setelah terlepas Panji Seputro memandikan Kepel di sendang karena Kepel memang sangat kotor sekali.
            Setelah bilasan pertama, kotoran di tubuh Kepel larut dalam air sendang, menjelmalah sesosok putrid cantik yang kecantikannya seperti rembulan pertama. Panji membilas Kepel sampai 14 kali dan setiap bilasan membuat Kepel menjelma menjadi semakin cantik. Pada bilasan terakhir Kepel sudah berubah menjadi secantik bidadari.
            Panji Seputro kebingungan karena ternyata Kepel adalah seorang wanita. Dan karena kain yang tadi digunakan Kepel sangat kotor dan sudah lapuk, kain itu hancur saat Panji Seputro meloloskan Kepel dari dahan pohon.
            “Kepel kamu ini sebenarnya siapa?, tidak mungkin kamu hanya gadis biasa, kecantikanmu ini setara putri”, Panji Seputro menanyai Kepel.
            “Nama saya sebenarnya Dewi Limarang, Kanjeng. Tetapi ayah dan ibu saya biasa memanggil saya Kepel, saya bukan putri hanya gadis biasa saja”, jawab Kepel.
            Panji Seputro dan Wasanta bertukar pandang tak percaya, tidak mungkin gadis secantik ini hanya orang biasa. Panji Seputro berfikir, mungkin Kepel merasa dirinya gadis biasa saja karena tidak mengetahui silsilah keluarganya. Tak heran karena Kepel hanya tinggal bertiga bersama ayah dan ibunya.
            Saat ini panji Seputro kebingungan karena Kepel sama sekali tidak punya pakaian yang bisa menutupi tubuhnya.
            “Wasanta, tidak adakah kain yang bisa digunakan untuk menutup tubuh Kepel ini?”, Tanya Panji Seputro.
            “Maaf Kanjeng tapi kita tidak punya persediaan pakaian ataupun kain saat ini”, jawab Wasanta.
            “Mohon maaf Kanjeng, kalau Kanjeng kesulitan mencarikan saya kain, sudilah kiranya Kanjeng mencabut tongkat kayu yang ada di atas makam ayah saya dan mematahkannya”, kata Kepel pada Panji Seputro.
            Panji Seputro yang keheranan saling bertukar pandang dengan Wasanta. Namun meskipun heran dengan permintaan Kepel, Panji Seputro tetap berjalan kea rah makam ayah Kepel dan mencabut tongkat kayu yng menancap di situ. Tongkat kayu itu sebenarnya hanya tongkat kayu biasa saja, bahkan bisa dibilang jelek dan mulai rapuh. Panji Seputro menyerahkan tongkat kayu itu pada Kepel.
            “Ini tongkat kayunya Kepel, sekarang patahkan seperti yang tadi kamu bilang”, ujar Panji Seputro.
            “Maaf Kanjeng, tapi tongkat ini harus dipatahkan oleh Kanjeng, bukan saya, hanya orang yang tepat yang bisa membuat keajaiban pada tongkat ini”, jawab Kepel.
            “Baiklah jika itu maumu”, jawab Panji Seputro.
            Dengan sekali tekuk tongkat kayu itupun patah di tangan Panji Seputro. Tiba-tiba dari patahan tongkat kayu itu muncullah pakaian-pakaian indah seperti pakaian para putri dan jumlahnya sangat banyak lengkap dengan perhiasan yang sepadan dengan pakaian-pakaian itu.
            “Gusti Pengeran!6, bagaimana bisa muncul pakaian sebanyak ini”, teriak Wasanta kaget.
            Panji Seputro pun tak kalah kaget dengan Wasanta, namun Panji Seputro segera menepis kekagetannya dan memakaikan salah satu pakaian ke tubuh Kepel.
            “Kepel bagaimana kamu bisa memiliki tongkat ajaib ini?”, Tanya Panji Seputro.
            “Itu tongkat pemberian ayah saya Kanjeng, saya tidak tahu ayah saya mendapatkan tongkat itu dari mana”, jawab Kepel.
            Panji seputro kemudian memberikan makanan dan minuman kepada Kepel sambil berbincang-bincang. Banyak hal yang ditanyakan Panji Seputro pada Kepel hingga waktu tak terasa sudah semakin sore. Setelah berbincang cukup lama dengan Kepel, timbul ketertarkan pada di hati Panji Seputro pada Kepel.
            “Wasanta bagaimana menuutmu jika aku menjadikan Kepel istriku?, kasihan jika dia harus hidup sendiri di hutan seperti ini”, tanya Panji Seputro setelah mereka beranjak menjauh dari Kepel.
            “Menurut saya, apa yang Kanjeng katakana cukup beralasan, saya tidak melarang Kanjeng memperistri Kepel, dilihat dari tingkah laku dan tutur katanya Kepel sepertinya dididik dengan benar oleh ibu dan bapaknya”, jawab Wasanta.
###
Akhirnya Panji Seputro dan Kepel pun menikah dengan Wasanta sebagai saksinya. Karena Kepel tidak ingin meninggalkan hutan tempat kedua orang tuanya dimakamkan, akhirnya Panji Seputro memutuskan untuk membuat tempat tinggal di hutan tersebut.
“Wasanta tolong kamu kumpulkan peralatan dan bahan-bahan untuk membuat gubuk kecil disini untuk tinggalku dan Ndoro Putrimu6 disini”, perintah Panji Seputro kepada Wasanta.
Kakang7 tidak perlu susah-susah membuatkan saya tempat tinggal, saya minta tolong supaya kemenyan yang ada di buntalan kain warisan orang tua saya dibakar di tempat Kakang ingin membuatkan saya gubuk”, Kepel menyela pembicaraan Panji Seputro dan Wasanta.
“Maksudmu bagaimana Dewi?”, Tanya Panji Seputro pada Kepel.
“Kakang bakar saja kemenyannya, nanti Kakang akan tahu sendiri”, jawab Kepel.
Meskipun masih bingung dengan apa yang dikatakan Kepel, Panji Seputro menyuruh Wasanta untuk membakar kemenyan di sebelah barat sendang tempat Panji Seputro ingin mendirikan gubuk untuk Kepel. Betapa kagetnya Panji Seputro dan Wasanta ketika kemenyan terbakar tiba-tiba muncul sebuah istana megah dari bekas pembakaran kemenyan tersebut lengkap dengan isinya.
Akhirnya mereka bertiga tinggal di istana megah tersebut dan hidup dengan nyaman. Kepel tinggal di istana tersebut sambil bekerja membatik kain jarit, sementara Panji Seputro dan Wasanta berburu di sekitar hutan.
###
            Tanpa sepengetahuan mereka bertiga ternyata di dalam hutan tempat mereka tinggal juga merupakan tempat tinggal seorang raksasa perempuan bernama Tok Tok Kerot. Suatu hari ketika Panji Seputro dan Wasanta berburu, tanpa mereka sadari Tok Tok Kerot melihat mereka berdua. Melihat ketampanan Panji Seputro, Tok Tok Kerot jatuh hati dan ingin menjadikannya suami.
            Tanpa sepengetahuan Panji Seputro dan Wasanta, Tok Tok Kerot mengikuti mereka sampai di istana tempat mereka tinggal. Tok Tok Kerot mengira bahwa Panji Seputro belum memiliki istri. Dia kaget melihat ada perempuan berwajah cantik yang keluar menyambut Panji Seputro yang tak lain adalah istri Panji Seputro. Merasa tersaingi Tok Tok Kerot memasang rencana untuk menghadapi Kepel.
###
            Pagi harinya ketika Panji Seputro dan Wasanta pergi berburu, Tok Tok Kerot mendatangi rumah Kepel.
            “Bukakno lawangmu, yen ora tak rajang-rajang kaya kembang, tak iris-iris kaya buncis!7”, Tok Tok kerot menggedor pintu rumah Kepel.
            Kepel yang ketakutan karena melihat ada raksasa di depan rumahnya segera lari ke dalam rumah. Namun karena Tok Tok Kerot terus menggedor pintu rumahnya akhirnya Kepel membuka pintu rumahnya. Tok Tok Kerot segera menerjang masuk ke rumah. Kepel yang ketakutan langsung berlindung di balik tiang rumah. Tok Tok kerot mulai menjelajah rumah Kepel mencari-cari cara untuk bisa melenyapkan Kepel dan dapat memiliki Panji Seputro.
            Karena Kepel sehari-harinya membatik saat Panji Seputro pergi berburu, di dalam rumah terdapat peralatan memmbatik. Selain itu Kepel selalu menyiapkan hidangan untuk Panji Seputro agar ketika tiba dari berburu Panji Seputro bisa langsung menyantap makanan dan beristirahat.
            “Iku apa?8”, Tanya Tok Tok Kerot pada Kepel sambil menunjuk kompor tempat Kepel mencairkan malam.
            “Niku malam Bibi”9, jawab Kepel.
            “Mengko yen Kangmasmu teka siramen awak’e, yen ora tak rajang-rajang kaya kembang, tak iris-iris kaya buncis”,10 perintah Tok Tok Kerot pada Kepel.
            Selain memerintahkan Kepel menyiran Panji Seputro dengan malam panas, Tok Tok Kerot juga memerintahkan Kepel mengiris lidah Panji Seputro dan memukul kepalanya dengan Durian. Tok Tok Kerot berharap nantinya Panji Seputro akan membenci Kepel jika Kepel melakukan apa yang dia suruh.
            Meskipun Kepel tidak mau melakukan hal yang diperintahkan oleh Tok Tok Kerot, namun Kepel juga takut akan ancaman Tok Tok Kerot. Dalam kebungungannya tiba-tiba Panji Seputro datang dari berburu. Belum sempat beristirahat tiba-tiba Kepel langsung mengiris lidah Panji Seputro, darah pun bercucuran, namun segera diusap Kepel menggunakan kain jaritnya dan dengan serta merta lidah Panji Seputro kembali seperti semula. Setelah itu Kepel memukul kepala dengan durian  dan menyiram tubuh Panji Seputro dengan malam panas. Seperti ketika mengiris lidah Panji Seputro, Kepel langsung mengusap luka yang timbul dengan kain jaritnya dan Panji Seputro menjadi sehat seperti sedia kala.
            Panji Seputro kebingungan dengan tingkah istrinya, mengapa tiba-tiba Kepel melakukan hal-hal mengerikan pada dirinya. Panji Seputo pun memutuskan untuk pergi dari rumah bersama Wasanta.
            Tengah malam mereka berdua memacu  kuda pergi meninggalkan rumah dan hutan tempat Kepel tinggal. Sebelum pergi Panji Seputro memerintahkan Wasanta agar sepanjang perjalanan Wasanta menaburkan sekam agar nantinya jika Kepel mencari keberadaan Panji Seputro tidak tersesat.
###
            Pagi harinya ketika bangun tidur Kepel merasa sangat sedih karena tidak menemukan Panji Seputro, sambil menangis Kepel mencari dan memanggil suaminya di sekeliling rumah. Namun sampai siang Kepel tidak menemukan Panji Seputro.
            Saat sudah hampir putus asa, Kepel menemukan ada jejak sekam yang mengarah keluar hutan. Kepel yakin itu adalah jejak yang ditinggalkan suaminya untuk ia ikuti. Sambil berlari Kepel mengikuti jejak itu berharap dapat bertemu dengan suaminya. Sepanjang jalan Kepel terus menangis.  
###
            Setelah beberapa hari berjalan menembus hutan, Kepel akhirnya tiba di jalan desa. Karena seumur hidup belum pernah keluar hutan Kepel merasa takut dan bngung tidak tahu harus ke arah mana mencari suaminya. Jejak sekam yang ditinggalkan Panji Seputro sudah tidak ditemukan lagi setelah keluar dari wilayah hutan. Kepel terus berjalan tanpa tahu arah hanya pasrah kemana kakinya melangkah.
            Dalam keadaan lusuh, lapar dan haus Kepel terus berjalan. Sampai akhirnya Kepel bertemu dengan ibu pencari kayu bakar. Oleh ibu itu Kepel lantas dibawa pulang ke rumahnya tak jauh dari situ. Setiba di rumah Kepel diminta untuk mandi dan berganti baju kemudian diberi makan dan minum. Ibu tersebut menanyai siapa gerangan Kepel dan apa tujuannya. Kepel pun menceritakan kisah hidupnya pada ibu tersebut sambil berlinang air mata. Ibu pencari kayu itu pun trenyuh dan kemudian meminta Kepel tinggal dirumahnya sampai menemukan suaminya tersebut. Ibu itupun bercerita bahwa dirinya sempat menemukan jejak sekam diluar hutan mengarah ke selatan, tapi sudah dibersihkan olehnya pada saat mencari kayu bakar. Kepel merasa bersemangat setelah mendengar cerita ibu tesebut. Namun Kepel harus menahan keinginannya untuk kembali menyusuri jejak suaminya karena ibu pencari kayu bakar itu memaksa Kepel untuk beristirahat sejenak dirumahnya untuk memulihkan diri.
###
            Setelah dua hari beristirahat, Kepel akhirnya memulai lagi pencarian jejak suaminya, kali ini ditemani oleh ibu pencari kayu bakar yang memaksa ikut karena mencemaskan keselamatan Kepel. Mereka berjalan terus ke selatan mengikuti jejak sekam yang mereka temukan kembali tak jauh dari tempat ibu pencari kayu bakar membersihkan jejak sekam beberapa hari yang lalu.
###
            Setelah seminggu berjalan, Kepel dan ibu pencari kayu bakar memasuki kota. Ketika itu sedang hari pasar dan banyak penjual yang menjajakan dagangannya, sehingga suasana begitu ramai. Oleh ibu pencari kayu bakar Kepel di ajak beristirahat sejenak di sebuah kedai. Mereka makan dan minum sambil mengistirahatkan diri.
            “Ibu kalau boleh tahu apa nama tempat ini?”, Tanya Kepel pada pemilik kedai.
            “Nama tempat ini Kediri Nduk, kamu ada apa jauh-jauh datang kesini?”, Tanya ibu pemilik kedai.
            “Saya sedang mencari suami saya Bu, apa Ibu kenal dengan orang yang bernama Panji Seputro atau Wasanta?”, Tanya Kepel lagi.
            “Panji Seputro?, seluruh Kediri pasti kenal dengan nama itu, kenapa kamu mencari Panji Seputro?”, Tanya ibu pemilik kedai.
            “Tidak apa-apa Bu, apa Ibu tahu dimana saya bisa menemukan Panji Seputro?”, kata Kepel.
            “Pergi saja ke pendopo kota, minta penjaga di sana untuk bertemu dengan Panji Seputro”, kata ibu pemilik kedai.
            Kepel sangat penasaran siapa sebenarnya suaminya, mengapa semua orang di Kediri kenal dengannya dan bagaimana bisa suaminya tinggal di pendopo kota.
            Karena begitu ingin segera bertemu dengan suuaminya, Kepel meminta ibu pencari kayu segera berangkat ke pendopo kota. Sesampai di pendopo Kepel meminta izin kepada penjaga untuk bisa bertemu dengan Panji Seputro.
            “Namamu siapa, ada kepentingan apa sehingga kamu ingin bertemu dengan Tuan kami?”, tanya penjaga.
            “Nama saya Kepel, Tuan, tolong katakana saja pada Ndoro Tuan bahwa saya sudah berjalan berhari-hari untuk dapat bertemu Ndoro Tuan”, kata Kepel. Kepel sengaja merahasiakan jati dirinya sebagai istri Panji Seputro.
            “Baiklah, silahkan tunggu sebentar”, kata Penjaga.
            Kepel dan ibu pencari kayu bakar menunggu di teras pendopo. Tak berapa lama terdengar derap kaki seseorang dari belakang. Kepel pun segera berdiri. Sambil bercucuran air mata Kepel melihat Panji Seputro berlari ke arahnya. Setelah menatap Kepel dengan seksama, Panji Seputro langsung memeluk Kepel, melampiaskan kerinduanya. Penjaga dan ibu pencari kayu terbengong-bengong menyaksikan keduanya berpelukan.
            Panji seputro kemudian menjelaskan pada penjaga bahwa Kepel adalah istrinya. Dia pun menjelaskan pada Kepel bahwa dia adalah Pangeran kerajaan Kediri saat ini. Kepel tidak peduli siapa Panji Seputro, baik dia orang biasa ataupun pangeran. Kepel sudah teramat bahagia bisa bertemu kembali dengan suaminya.
            Akhirnya Kepel dan ibu pencari kayu bakar tinggal di pendopo atas permintaan Panji Seputro. Setelah beberapa hari, kerajaan mengadakan pesta pernikahan untuk Panji Seputro dan Kepel yang sekarang dikenal dengan nama Dewi Limarang dengan meriah. Dan akhirnya Kepel dan Panji Seputro hidup dengan bahagia.

Panggilan Ibu dalam bahasa Jawa1
Nduk/Genduk, Panggilan kepada anak perempuan Jawa2
Panggilan kepada orang yang derajatnya lebih tinggi dalam bahasa Jawa3

Bu Ibu, Ibu Ibu
Minta nasi tempatnya mangkok
Minta suami yang diiringi payung3
Siap4
Saya manusia, Tuan5
Sebutan pada Sang Pencipta6
Buka pintumu, jika tidak kucincangtubuhmu seperti bunga, kuiris seperti buncis7
Itu apa?8
Itu malam bibi9
Nanti kalau suamimu dating, siram tubuhnya dengan malam itu, kalo tidak kucincang tubuhmu seperti bunga, kuiris seperti buncis.10


Alhamdulillah selesai sudah cerita ini. Bagaimana pendapat teman-teman adakah yang perlu saya perbaiki?


**Diilhami dari dongeng ande-ande lumut dan keong mas yang dimodifikasi dan menghasilkan dongeng baru**


2 komentar: