Halaman

Kamis, 04 Februari 2021

CERITA RAKYAT ACEH: LEGENDA BANTA BARENSYAH


Beberapa hari lalu saya memberanikan diri mengikuti tantangan 100 hari berpuisi yang diadakan oleh salah satu komunitas menulis di kota saya. 

Setelah beberapa hari mencari ide, saya putuskan untuk membuat puisi based on folklore atau cerita rakyat dari seluruh nusantara. Nantinya saya berharap untuk menjadikannya sebuah buku. Selain sebagai portofolio juga akan bermanfaat untuk menunjang kinerja saya ke depan.

Hari pertama saya mulai dengan puisi tentang Banta Barensyah. Cerita ini lahir dari Nangroe Aceh Darussalam. Berkisah tentang seorang anak yang hidup berdua dengan ibunya di sebuah gubuk reyot. Mereka bekerja sebagai buruh penampi sekam di ladang milik saudara mereka yang congkak, Jakub.

Jakub meskipun masih saudara tetapi sangat pelit dan serakah. dia tidak mau membantu kesulitan Banta dan ibunya.

Suatu hari Banta dan sang ibu mendengar sayembara dari raja yang ingin menikahkan putrinya yang bernama Putri Terus Mata dengan syarat membawa mahar berupa pakaian yang terbuat dari emas dan sausa (campuran emas dan tembaga). Meski miskin tapi tekat Banta sangat kuat untuk mengikuti sayembara itu karena ingin meningkatkan derajat hidup dan membahagiakan ibunya.

Sang ibu memberi restu dan membekali Banta dengan daun talas dan seruling. Banta pun pergi bertualang mencari orang yang bisa menenun kain dari emas dan sausa. saat itu Jakub juga akan pergi untuk berdagang jadi Banta menumpang di kapal milik Jakub. Namun di tengah perjalanan Banta meminta turun karena arah yang mereka tuju berlawanan. Banta melanjutkan perjalanan dengan menaiki daun talas yang ternyata mampu menahan tubuhnya tetap mengambang di atas air.

Singkat cerita sampailah Banta di sebuah pulau. Rupanya kain dari emas dan sausa tidaklah mudah didapatkan. Tidak banyak yang mau menenun kain mahal itu. Setelah berkeliling Banta akhirnya menemukan penenun tersebut. Kendala baru muncul lantaran Banta tidak memiliki uang untuk membayar kain itu. Maka dia menawarkan satu-satunya keahlian yang ia bisa, yaitu memainkan seruling. Tukang tenun itu akhirnya setuju memberikan kain emas dan sausa setelah mendengar Banta bermain. Permainan yang dibawakan Banta sangat apik dan membius tukang tenun tersebut.

Banta pun pulang dengan wajah sumringah, bersanding dengan Putri Terus Mata sudah di depan mata. Sayangnya saat kembali Banta menumpang kapal milik Jakub yang mengetahui bahwa Banta memiliki kain emas itu. Muncullah sifat licik Jakub yang kemudian mencuri kain tersebut dan menjatuhkan Banta ke laut.

Selama beberapa hari Banta terombang-ambing di laut sampai terdampar di sebuah tempat. Ia ditolong oleh sepasang suami istri hingga sehat kembali.setelah sehat Banta berpamitan untuk kembali ke rumahnya.

Ketika bertemu sang ibu Banta bercerita bahwa dia kehilangan kain yang berharga itu. Sang ibu mengatakan bahwa kesempatan Banta untuk bisa memenangkan sayembara sudah hilang, karena saat ini Jakub sedang bersanding dengan sang putri. Banta pun tergolek pasrah.

Melihat anaknya putus asa sang ibu memberi semangat dan menyaranan untuk meminta bantuan dari Yang Maha Kuasa. Doa Banta dan ibunya didengar. Seekor gagak tiba-tiba berkata-kata di seluruh kerajaan bahwa kain itu bukan milik Jakub tapi milik Banta.

Jakub yang malu berusaha melarikan diri, namun sayang karena cerobohia justru jatuh dari jendela yang tinggi dan meninggal. Raja akhirnya memberi titah untuk menyandingkan Banta dan putri Terus Mata.

Ketika akhirnya raja meninggal Bantalah yang meneruskan tahta. Ibunya diajak untuk tinggal di istana dan hidup bahagia.


Itulah kisah yang mendasari terciptanya puisi saya di hari pertama. Berikut saya tuliskan puisi tersebut:



SERULING BERDAUN TALAS

By: Marwita Oktaviana 

1/

Anak lelaki dan ibu janda

Gubuk renta memeluk nestapa

Makan dari sekam, tidur bergelung hujan

 

2/

Jakub congkak dan hati bengkak

Harta dijarah tak kenal kenyang

Saudara, ah lupakan saja

Biar saja sengsara, dia berjaya

 

3/

Banta Barensyah dan tekad baja

Laut dipeluk beralaskan talas

Putri Terus mata bertitah sebagai sabda

Kain emas dan sausa sebagai tumbal juara

Seruling sakti dan restu bumi

Banta merekah sepulang bahtera singgah

 

4/

Sayang oh sayang Jakub serakah, Banta meringkuk pasrah

Sesaji dirampas, hilang sudah berangas

Lunglai dalam pelukan, sang ibu memintal harapan’

Tak perlu habis akal, doa dilantun kekal

Kleueng mengucap mantra sepanjang sisa

Kedok terbuka, Jakub memanen nestapa

 

5/

Banta dan Terus Mata duduk bersanding

Ibu dan airmata berkalung sungging

Istana serupa tahta suka cita

Banta beroleh bahagia sebab tak berkawan dusta


Demikian kisah saya di hari pertama. Kisah cerita rakyat dari Aceh lainnya bisa dinikmati di sini dan juga di sini. Sampai jumpa di hari ke-2 besok. Semoga teman-teman menikmati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar