Jumat, 19 Maret 2021

CERPEN DIMUAT DI SOLOPOS : TULAH KEMARAU

 Lagi dan lagi saya bersinggungan dengan kebutuhan membuat cerpen. Sudah semakin rileks saat menulis dan cenderung lebih hemat waktu, maksudnya tidak selama awal-awal bikin cerpen. Kali ini saya membuat cerpen populer, sedikit berkisah tentang alam dan hal-hal yang terjadi didalamnya. Tetap sih nulisnya karena ada tugas juga dari kelas OTM (ODOP Tembus Media) dari komunitas ODOP. Tugasnya bikin cerpen yang kemudian dikirim ke media baik media cetak ataupun media daring/online.

Cerpen yang saya buat kali ini mendapat ide dari kejadian alam luar biasa menurut saya karena belum pernah terjadi dan saya rasakan sebelumnya. Genrenya mungkin masuk di populer ya karena memang base on kejadian yang sedang berlangsung.

cerpen populer


Ada banyak media yang bisa saya kirim cerpen tersebut, tapi karena memang saat itu masih belum pede dengan karya saya jadi saya coba masuk ke media yang sedikit banyak bersentuhan dengan tema cerpen yang saya buat.

Alasan memilih Solopos sebagai media yang dikirim

Solopos sendiri adalah sebuah media cetak yang berbasis di kota Solo. Banyak berita yang diangkat adalah seputar kejadian di area Solo dan sekitarnya. Kenapa antas saya pilih koran ini, antara lain:
  1. Saya sih berharap akan mendapat peluang lebih besar karena tema agak bersinggungan dengan wajah Solopos tersebut.
  2. Solopos adalah salah satu koran dengan oplah yang lumayan di tengah gempuran media online saat ini.
  3. Saya sendiri lebih suka membaca koran riil dibanding dengan membaca lewat gadget, meski Solopos sendiri juga memiliki media daring.

Nah ternyata saya tidak perlu menunggu lama untuk mendapat kabar bahwa cerpen saya diterima dan akan diterbitkan di rubrik jeda Solopos di minggu berikutnya. Cerpen ini dimuat tepat di hari Minggu tanggal 5 Januari 2020. Bagi teman-teman yang ingin membaca cerpen tersebut, berikut saya tuliskan:


TULAH KEMARAU

Oleh: Marwita Oktaviana


Riak-riak mendung sedang marah dan jengah, tak mau bahkan hanya mampir sebentar meneduhkan. Sudah lebih dari sepuluh bulan. Matahari sedang kasmaran menjumpai bumi tanpa jeda meski hanya sehari. Panas membara. Aku sedang berjibaku mengipas-ngipas keringat yang mengucur deras saking panasnya. Di malam hari pun tak mau beranjak, bahkan lebih gerah dari siang hari. Tidur susah, bangun susah. Istriku sedang ngomel-ngomel karena anak balita kami rewel sedari sore. Ngantuk tapi tak bisa tidur. Sudah dua kipas angin yang dipasang untuk menyejukkan, tapi anginnya justru terasa panas. Anomali yang menjengkelkan. Mungkin saja jika ada AC kamar akan lebih nyaman. Apalah daya penghasilanku sebagai buruh tani tak seberapa, untuk makan saja kadang masih hutang tetangga.


Karena risih aku beranjak dari pembaringan, mengambil tikar pandan dan beberapa bantal. Lantas dengan sigap tikar telah tergelar di halaman depan. Anakku kupindahkan dari gendongan ibunya ke atas tikar pandan, sesekali aku kipasi dengan kipas bambu. Mungkin saja di luar ada angin jadi lebih segar.


Semenjak panen semangka berakhir, otomatis penghasilanku sebagai buruh tani pun habis masa. Sepanjang hari hanya ongkang-ongkang kaki tanpa pekerjaan dan penghasilan. Untung saja upah panen semangka masih bersisa meski sedikit, jadi dapur masih bisa mengepul. Kadang aku banting setir jadi buruh bangunan, kadang jadi buruh angkut di pasar. Apa saja asal menghasilkan sambil menunggu hujan datang dan musim panen padi akan mengembalikan statusku menjadi buruh tani. Tapi hujan bahkan enggan bertandang.


Sebenarnya sawah di daerahku bukan sawah tadah hujan seratus persen. Adakalanya para petani mengalirkan air dari Bengawan Solo melalui saluran air jika intensitas hujan sedang rendah. Tanam padi di awal musim hujan dalam kondisi air yang masih sedikit disiasati dengan menanam langsung butir-butir padi tanpa melalui proses tampekan atau pembuatan wineh, bibit padi yang berumur kurang lebih tiga minggu sampai 1 bulan yang dicabut untuk ditanam di sawah. Tapi jangankan untuk icir pari, untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit sekali air didapat.


Beberapa bulan ini banyak buruh tani yang alih profesi menjajakan air dalam tandon besar ke pemukiman-pemukiman penduduk akibat langkanya air. Mereka harus merogoh kocek sampai seratus ribu per tandon yang cukup digunakan hanya untuk tiga hari saja. Bayangkan berapa banyak uang yang harus mereka habiskan hanya untuk membeli air. Uang sebanyak itu harusnya bisa dipakai untuk kebutuhan lain, kalau saja hujan sudah turun dan air mudah di dapat.


Dulu di masa-masa kemarau seperti ini, diesel-diesel besar dinyalakan di pinggir Bengawan Solo. Siap mengalirkan air ke seluruh pelosok melalui saluran air dan warga bebas menggunakan untuk mencuci atau mandi. Itu adalah saat panen kerukunan antar warga. Mereka berbondong-bondong tiap pagi dan sore menenteng cucian dan sabun mandi. Mencuci dan mandi bersama sambil bercengkrama. Anak-anak kecil bermain tanpa tahu waktu, berenang dan berloncatan sepanjang hari. Sampai kulit mereka penuh lumpur dan berlumut. Tak jarang para orang tua datang dan menjewer telinga anak-anak mereka yang tak kunjung pulang saat bermain di saluran air. Bagi anak kecil, saluran air dengan air yang mengalir adalah surga.


Petani-petani pun berdendang menyanyikan lagu riang, saat perlahan sawah mereka terisi air dan padi siap ditanam. Kami para buruh pun senang. Musim tanam tiba, uangpun di tangan. Tapi kondisi kali ini berbeda. Biasanya mereka yang tinggal di kota-kota yang dilewati Bengawan Solo akan mengeluh karena meluapnya sungai akibat hujan yang meluber ke kawasan perumahan mereka. Tapi kini itu tinggal mimpi. Sejak hujan tak mau bertandang Bengawan Solo kering kerontang.


Selama 34 tahun aku hidup, sekali pun belum pernah kujumpai Bengawan Solo yang mati. Hanya debit airnya saja yang berkurang saat musim kemarau, tapi masih bisa digunakan. Tapi tahun ini anomali itu terjadi. Di seluruh Jawa entah bagaimana tiba-tiba air yang ada di Bengawan Solo sirna. Hilang tanpa bekas, menyisakan kerak-kerak tanah yang gersang. Sungai tempat banyak nyawa menggantungkan diri tiba-tiba sat, lenyap. 


Kami para orangtua kelimpungan. Anak-anak kecil kegirangan. Mereka jadi punya tempat untuk sekedar bermain bola atau lari-larian. Tak perlu susah mencari lahan. Malah di salah satu desa di Lamongan, berkah dari keringnya Bengawan Solo dirasakan. Beberapa perahu baja yang biasa digunakan sebagai  moving bridge ditemukan. Dilansir perahu itu peninggalan sekutu yang digunakan untuk melucuti Jepang saat perang dunia II. Tapi berkah itu hanya sebentar dirasakan. Kekeringan memaksa kami memutar otak untuk bisa bertahan.


Para pemilik perusahaan air yang mengambil mata air Bengawan Solo pun gelagapan. Rumah-rumah warga yang menjadi langganan mereka akhirnya kekeringan. Luapan kemarahan warga ditumpahkan di depan kantor dengan garang. Para pengusaha itupun terdiam. Berdoa agar hujan lekas datang dan Bengawan Solo kembali berdendang.


Untungnya di depan rumah ibu ada satu sumur galian tua yang airnya tak putus-putus nyumber. Jadi aku tidak perlu beli air tandon yang dijual. Lambat laun para tetangga pindah lokasi bercengkrama. Dari saluran air ke depan rumahku dekat sumur. Berember-ember cucian dan berpuluh-puluh jerigen berjajar. Dalam hati sempat terpikir ini sumber uang baru yang potensial. Bisa saja aku menarik bayaran setiap kali mereka mencuci, mandi atau mengambil air dari sumur di depan rumah. Tapi aku tak mau nanti kena azab. Kalau aku nekat mungkin sumber air itu akan dihentikan oleh Tuhan. Sumur itu dibangun bapak untuk mengakomodasi kebutuhan berwudlu para calon jamaah sholat di langgar samping rumahku. Itu mungkin salah satu sebab sumber airnya tak pernah surut.


Kemarau panjang membingungkan banyak orang. Kami berbondong-bondong ke lapangan melakukan sholat istisqo, meminta hujan. Tidak hanya sekali, tapi entah kenapa hujan belum mau datang. Tak lama kulihat banyak sesajen yang dibakar di lapangan dan di sepanjang Bengawan Solo. Rupanya tingkat stres mereka sudah di atas rata-rata, sampai cara setan pun dipakai. Kalau saja mereka mau berpikir, Tuhan saja belum mau menurunkan hujan, apa kemudian setan bisa?


Aku terkantuk-kantuk dengan kipas bambu di tangan. Anakku sudah sedikit tenang dan mulai mengerjapkan mata mengantuk. Istriku sudah terlelap di seberang dengan satu tangan memeluk anakku. Uang di tabungan sudah menipis, entah harus kerja apa besok untuk mengepulkan dapur. Aku memandang sumur di depan rumah. Antrian jerigen masih mengular. Pikiran jahat muncul, kalau hujan tetap tak mau datang, kemungkinan besar sumur itu akan kugadaikan.


Demikian cerpen saya yang alhamdulillah bisa merasakan dimuat di media massa. Tentu saja saya sangat senang dan termotivasi untu lebih keras berusaha menciptakan cerpen-cerpen yang lain. Jangan lupa krisannya ya teman-teman.

Senin, 15 Maret 2021

TENTANG GHOSTING : ISTILAH BARU KAUM GAUL

Beberapa hari ini media sosial dihebohkan dengan berita tentang seorang anak presiden yang dikabarkan melakukan ghosting pada pasangannya. Sebab awal masalah ini menjadi publik karena sang mama pasangan merasa tidak terima dengan perlakuan anak presiden tadi dan berkoar-koar di media sosial.


Apa sih sebenarnya ghosting itu, kok bisa sampai beritanya tersebar seantero nusantara, atau mungkin bahkan merambah hingga ke seluruh dunia.


Ghosting adalah sebuah kata dari bahasa inggris yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan arti "berbayang". Namun istilah ghosting sendiri memiliki arti yang jauh dari terjemahan tadi. Di kalangan kaum gaul, yang notabene dipenuhi oleh anak-anak muda generasi 4.0, ghosting diartikan sebagai sebuah perilaku menghilang atau menjauh tanpa kabar. Nah saya sendiri mengenal satu istilah lagi yang artinya sama dengan ghosting tadi yaitu ngejin. Istilah ini lebih populer digunakan oleh anak-anak muda di lingkungan sekitar saya. Awalnya sebagai ibu-ibu saya bingung juga, kok mereka pada bilang ngejin., termasuk anak saya sendiri di perbincangan mereka sehari-hari.


Maklum rumah saya sering digunakan sebagai markas teman-teman anak saya. Mereka biasa membuat mainan, atau bermain di depan rumah. Karena penasaran saya tanya mereka, ternyata ngejin berasal dari kata jin (makhluk halus), nge-jin secara lugas diartikan menghilang, karena jin kan tidak terlihat, begitu kata mereka.




Ghosting atau ngejin biasa dilakukan oleh mereka yang ingin keluar dari sebuah hubungan dengan mudah. Meski cara ini sangat tidak elegan dan tidak bertanggung jawab. Tentu saja korban ghosting lah yang kena dampak. Mereka akan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, apa yang salah dalam hubungan tersebut, apa yang salah dengan pelaku ghosting, atau bahkan bertanya apa yang salah dengan dirinya.


Alasan ghosting


Apa sih sebenarnya alasan dibalik perilaku ghosting ini? kalau menurut saya ada beberapa alasan ya, misal:

  • Masalah kepribadian
Ada beberapa orang yang memang memiliki kepribadian suka menghindar atau tidak suka terlalu dekat dengan orang lain. Tipe-tipe seperti ini lebih suka saat sendiri. Jadi mereka mungkin merasa tidak nyaman saat ada orang lain yang terlalu dekat atau mulai mengerti jati diri mereka. Lalu dengan mudahnya mereka lantas menghilang begitu saja sebagai bentuk menghindar tadi.

  • Adanya masalah yang sulit dipecahkan
Memang dalam sebuah hubungan pasti akan timbul berbagai masalah. Tapi kadang ada beberapa masalah yang tidak bisa diselesaikan, bisa karena masalah komunikasi yang kurang, atau sebab yang lain. Laki-laki cenderung akan menghindar saat mereka mentok dalam sebuah masalah yang tidak bisa dipecahkan. Kadang ego lah yang sering menjadi penyebabnya.

  • Merasa tidak nyaman dengan pasangan
Ini sangat mungkin terjadi. Ketika sudah merasa tidak nyaman tapi sulit untuk mengatakan pada pasangan akan ada kecenderungan menghindar atau menghilang untuk bisa menjauh dan berpikir ulang tentang hubungan mereka.

 Dari tiga hal di atas memang tidak ada satu pun yang bisa menjadi pembenaran perilaku ghosting. Tapi tetap saja ada banyak yang memilih cara tersebut untuk istilahnya menyelamatkan diri. Lalu bagaimana dengan korban ghosting. Apa yang bisa mereka lakukan untuk menghadapi ini?


Cara jitu dan elegan menghadapi ghosting

Agar tidak terbawa hingga termehek-mehek, ada beberapa tips atau cara jitu saat kalian menjadi korban ghosting, yaitu:
  • Jangan salahkan diri sendiri
Ketika tiba-tiba pasangan hilang dan tidak bisa dihubungi dalam jangka waktu tertentu pasti kita akan merasa cemas di awal, namun lama-lama akan muncul prasangka ketika pasangan tidak muncul juga. Bertanya-tanya apa yang salah pada hubungan kita, apa yang salah dengan diri kita. Tapi stop, berhenti dulu. Coba pikirkan lagi dengan pikiran dan hati yang tenang, coba juga untuk logis. Cari tahu apa selama perjalanan hubungan kalian ada sesuatu yang mengganjal, jika tidak maka berhenti untuk menyalahkan diri. Seringnya bukan kesalahan dari diri kita lah yang menyebabkan pasangan melakukan ghosting.
  • Jangan menghubunginya
Kita tahu bahwa pelaku tidak bisa dan tidak mau dihubungi. Justru dengan tidak bisa dihubungi utulah dia melakukan aksinya. Berusaha terus menerus menghubungi meski tahu tidak akan diterima hanya akan memperburuk keadaan. Stop menghubunginya dan fokus pada diri sendiri. Carilah penghiburan dari teman atau keluarga.
  • Jangan curhat di medsos
Ini adalah sesuatu yang harus dihindari, jangan membuka aib sendiri dan menjadikan masalah pribadi sebagai konsumsi publik. Tindakan curhat di medsos hanya akan membuat diri kalian terlihat menyedihkan, dan justru pasangan akan bersembunyi lebih jauh lagi. Ingat curhatan kalian di medos tidak akan membuat dia kembali.

  • Jangan terlalu membenci pelaku
Memang diperlakukan seperti ghosting itu sangat tidak mengenakkan. Sudah khawatir dan cemas tapi ternyata memang si dia sengaja menghindar. Tapi jangan kemudian bersikap kasar pada pelaku ghosting. Cari tahu dulu sebab kenapa dia melakukan itu, jika dirasa logis maka terima alasannya. Cukup terima saja alasannya ya, jangan yang lain :D

  • Jangan memberi harapan untuk kembali bersama
Misal setelah beberapa hari, minggu, atau bulan dan tahun dia menghilang kemudian tiba-tiba nongol lagi di hadapan kalian dengan berbagai alasan yang diungkapkan jangan lantas kalian melupakan logika. Atau bahkan kembali ingin bersamanya. Pelaku ghosting tidak menutup kemungkinan melakukan hal yang sama di lain hari. Kalian mau di php lagi seperti itu. Jadi maafkan, tapi jangan kembali. Kalian berhak menapak ke depan dan mendapatkan kesempatan orang-orang baru yang bisa melengkapi kalian.

  • Jadikan sebagai pengalaman
Meski di-ghosting itu tidak enak, tapi nantinya bisa dibuat pelajaran. Jangan sampai kena ghosting lagi atau justru melakukan ghosting ke orang lain. Ingat di-ghosting itu tidak enak.

Fenomena gunung es di balik perilaku ghosting

Bisa dilihat baik dari media massa atau media sosial, terjadi kemunduran kepribadian yang diderita oleh banyak dari masyarakat Indoneso, terkhusus pada anak mudanya. Banyak ranah pribadi yang diumbar di media-media yang mereka punya, seperti efek bucin (budak cinta) misalnya. Tetapi tidak hanya anak muda, apa yang dilakukan oleh ibu dari pasangan anak presiden itu juga menunjukkan adanya masalah pada kepribadiannya.

Hal-hal seperti mengumbar ranah pribadi seperti masalah yang sedang terjadi pada dirinya adalah sebuah pertanda ada ketidakberesan. Di sini terlihat adanya kemunduran dalam hal kedewasaan emosional pada pribadi-pribadi tersebut. Kedewasaan emosional bisa didapatkan dari pengalaman hidup sehari-hari.

Apa saja yang masuk dalam kedewasaan emosi seseorang?


Ada beberapa tanda yang bisa dikenali saat seseorang tersebut dewasa secara emosional, yaitu:
  • Paham dan kenal dengan emosi yang sedang dirasakan
Seseorang yang emosionalnya dewasa akan mampu mengenali dan paham dengan emosi yang sedang dia rasakan. Entah itu bahagia, sedih, takut, marah atau yang lain. Ketika telah paham maka dia akan mampu menelaah kenapa emosi itu dia rasakan, mencari tahu penyebabnya dan mengendalikannya secara sadar.

Saya pernah punya teman yang dia bercerita suatu kali saat pulang dari kantor di depan gang tempat kosnya dia secara tiba-tiba merasa marah sekali, tapi di hati kecilnya dia bingung, kok bisa dia marah padahal dia sedang baik-baik saja sebelumnya. Bahagia karena mendapat bonus dari kantor tadi pagi. Lalu siapa yang marah itu, dia bergumul dengan dua kesadaran sampai di depan kos. Anjing penjaga yang biasanya jinak mendadak menggonggong tanpa henti melihat kedatanganya. Dia semakin bingung, sebagai seorang yang taat beragama, akhirnya dia membaca beberapa ayat yang dia ingat sampai merasa ada yang merayap melalui tulang belakangnya dan menghilang dari tengkuk. Setelah itu perasaan marah tadi lenyap begitu saja juga gonggongan anjing tadi. Dia jadi membatin apa tadi itu dia kesurupan ya? Tapi karena mampu mengenali emosinya dia jadi bisa mengendalikan diri dengan baik ketika itu. Dan dari sana dia mendapat sebuah pelajaran berharga.
  • Mampu menerima kritik dan saran secara terbuka
Dalam hidup bermasyarakat akan banyak sekali kritik dan saran yang dilontarkan oleh teman atau keluarga, niatnya ada yang baik bahkan ada yang sengaja untuk menjatuhkan. Orang yang dewasa secara emosi akan mampu menerima kritik dan saran tersebut dengan terbuka tanpa tersinggung sedikitpun atau marah dan membalikkan kata. Dari kritik dan saran tadi dia bahkan berterima kasih karena mendapat masukan untuk memperbaiki diri
  • Tidak bergantung pada orang lain
Ketika sudah dewasa secara emosional orang akan mampu menghindari bergantung pada orang lain. Cenderung mandiri dan percaya diri. Dia tahu betul bahwa kebahagiaan datang bukan dari orang lain tapi dari diri sendiri. 
  • Mampu mengontrol emosi dengan baik
Ketika ada masalah dan emosi tersulut, orang dengan kedewasaan emosional cenderung diam alih-alih melampiaskan emosinya. Dalam diamnya tersebut dia sebenarnya sedang menelaah akar masalah yang dihadapi dan berusaha menyelesaikannya secara logis.
  • Tidak suka menyalahkan orang lain
Pernah tidak kalian melihat ada orang yang salah tapi tidak mau meminta maaf malah justru menyalahkan orang lain? banyak ya terlihat baik di sekitar kita atau hingga ke para petinggi pemerintah. Orang yang emosionalnya dewasa akan langsung meminta maaf ketika dia tahu dirinya salah dan tidak menyalahkan orang lain.
  • Mampu memaafkan diri ketika melakukan kesalahan
Hidup memang adalah sebuah pembelajaran, ada banyak kegagalan maupun kesuksesan yang mengantarkan kita pada pemahaman. Orang-orang dengan kedewasaan emosional akan mampu menyadari kesalahan diri serta memaafkan dengan baik. Belajat dari kesalahan tadi dan kembali menapak ke depan dengan perbaikan-perbaikan yang sudah dia pikirkan agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi.

Tips agar kita dewasa secara emosional

Ada banyak cara sebenarnya yang bisa kita lakukan agar kita mampu dewasa secara emosional, antara lain:
  • Membuka diri pada lingkungan sekitar
Buang jauh-jauh cuek dan tidak pedulimu pada sekitar. Mulailah peka pada kondisi di sekelilingmu, tapi bukan yang kepo pada apapun ya. Belajarlah peka dan peduli pada perasaan orang lain. Itu akan menimbulkan sebuah reaksi yang baik dan rasional yang akan menguntungkan diri kalian.
  • Berpikir sebelum bertindak
Kadang kalau emosi sudah di ubun-ubun kita pingin saja langsung menyemburkan pada orang lain. Marah-marah tidak akan menjadikan solusi. Mulai saat ini belajarlah untuk mengontrol emosi dengan baik. Saat sedang emosi, diam dulu dan menepi. Pikirkan tindakan yang rasional yang bisa kamu lakukan lalu eksekusi setelah emosi reda.
  • Berlatih mencerdaskan emosi
Saat ini bukan hanya cerdas otak saja yang dibutuhkan, cerdas emosi juga sangat mempengaruhi kepribadian kalian. Berlatihlah terus secara konsisten untuk mampu mencerdaskan emosimu agar bisa reasonable dalam bertindak.
  • Meminta feedback dari orang-orang sekitar
Meminta saran pada orang terdekat atau teman-teman akan mampu menambah kosakata untuk perbaikan diri kalinu loh. Plus nya orang lain akan memandang diri kalian bukanlah orang yang self-centered dan mudah bekerja sama.


Memang tidak mudan mendapatkan kedewasaan secara emosional. Banyak jatuh bangun mencoba, berulang-ulang. Mau dan mampu belajar dari pengalaman sendiri dan orang lain akan membuat usaha kita menjadi lebih mudah. Dengan kedewasaan emosional kita akan mampu memfilter emosi-emosi yang kita rasakan dan mengontrolnya dengan baik sehingga tidak akan mendapatkan masalah di hari yang akan datang. 

Kamis, 11 Maret 2021

PUISI-PUISI YANG TERCIPTA DARI KISAH HUJAN MATAHARI KARYA KURNIAWAN GUNADI

Membaca Hujan Matahari karya Kurniawan Gunadi membuat saya auto flashback pada ingatan apa dan bagaimana perasaan saya ketika membaca karya Boy Candra. Ada banyak cerita dan prosa yang memenuhi buku tersebut. 

puisi yang diciptakan dari inspirasi cerita hujan matahari

Saya sendiri termasuk yang suka menulis puisi based on cerita-cerita yang saya baca. Di project saya yang terbaru saya mencoba menulis puisi dari cerita-cerita rakyat kondang dari penjuru nusantara. Setelah membaca buku Hujan Matahari ini saya jadi ingin membuat juga puisi based on beberapa cerita yang ditulis di sana.

Keinginan ini seperti mendapat dukungan dari kelas #Reading Challenge ODOP9 yang memberi tugas di pekan kedua untuk membuat puisi dari buku yang dibaca. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Ada tiga cerita yang saya ambil untuk dibuat puisi dari buku Hujan Matahari tersebut, yaitu:
  • Dialog
Puisi pertama saya terinspirasi dari cerita Dialog yang berkisah tentang sebuah dialog antara laki-laki, perempuan, dan Tuhan

ANTARA LAKI-LAKI, PEREMPUAN, DAN TUHAN

1/
Ada tanya menguarkan sengketa
Tentang laki-laki atau perempuan, pun mungkin keduanya
Manakala senja melarungkan nisbah
Sosok-sosok menghujam dalam pasrah doa
Siapa sebenarnya?

2/
Ketika tahu aku laki-laki
Ada tangis tak mampu redam di relung-relung
Di atas bahuku beban membatu
Empat perempuan dalam pikul tanggung jawab
Ibu, Istri, Anak Perempuan, Saudara Perempuan
mampukah?
sedang aku sibuk bermain-main dalam sungging 

Ketika tahu aku laki-laki
Ada ragu menyusupi waktu
Saat habis daya, juga upaya 
Nafkah, kuatkah mencukupi mereka
sedang aku hanya fakir yang mencari takdir

Ketika tahu aku laki-laki
Ada adil yang susul-menyusul ingin dirundung
Kepada bapak ibu lebih dari anak istri
Sepadankah?
sedang aku hanya anak dalam tempurung

Ketika tahu aku laki-laki
Ada gelisah tak kunjung pasrah
Sebagai nahkoda, rumah tangga berlayar dalam samudera
Amanahkah?
sedang surga sungguh kekal tak terjamah

3/
Ketika tahu aku perempuan
Airmata kutumpahkan pada kanal-kanal 
Penjagaanku begitu erat
berhargakah?
Sedang aku menggadai kemuliaan, sedikit demi sedikit

Ketika tahu aku perempuan
Ada durhaka menyempil ingin dicukil
Kepada suami lebih dari bapak ibu, bakti terasa pilu
mampukah?
Sedang aku hanya anak yang bergumul dalam sarung 

Ketika tahu aku perempuan
Ada ragu menggumpal dalam nadi
Bayi-bayi dalam lindunganku, taatkah kepadaMu
sanggupkah?
Sedang aku hanya hamba yang sering alpa

Ketika tahu aku perempuan
Ada kepantasan yang melekat tak mampu bersekat
Sebagai perantara kehidupan bagi manusia-manusia baru
bisakah?
sedang aku hanya kehidupan pertama bagi bapak dan ibu yang masih saja cemburu

4/
Ketika tahu ada laki-laki juga perempuan
Ada tanya mengharu biru di atas nakas berdebu
Mengapa Kau turunkan kami ke bumi
Siapa penabuh genderang
Sedang kami masih seorang diri
Bagaimana kami bersatu, satu sama lain


5/
Sudahkah kalian percaya
dan mempercayakan hidup
padaKu sepenuhnya?

  • Orang-Orang yang Mencari
Puisi kedua saya terinspirasi dari cerita tentang Orang-Orang yang Mencari yang berkisah tentang pencarian akan hidup.

SIAPAKAH SANG PENCARI

Ketika hidup disulap bagai warna warni
Pada manusia dalam beda kondisi, atau visi
Kasih sayang berlimpah, ataukah bahkan tak bersua
Kaya, atau miskin
Beragama, atau kafir

Dari perjalanan segala dirapal
Bagaimana memandang, bagaimana berkasih sayang
ataukah kemarahan yang dipendam dalam diam

Ketika tanya meruapi awang-awang
pencarian dihadang dalam nyalang
tentang hidup juga Tuhan
Akhir adalah pemahaman, lebih dalam

Para pencari itu
adalah aku, kamu, kita
Selayaknya hidup mesti bermakna
Carilah dalam tuang keping-keping
dan temukan dirimu di dalam dirimu
ada Tuhan di sana, dan sebentuk surga

  • Benang Layang-Layang
Puisi terakhir saya ambil dari cerita tentang benang layang-layang, tentang apakah itu?

TENTANG BENANG LAYANG-LAYANG

Ada layang-layang, elok dipandang
Sayang hanya tertunduk nyalang
Kemanakah benang, terbang begitu dirindukan

Ada benang, tergulung tenang
Sayang hanya teronggok gamang
Kemanakah layang, layang, terikat begitu diharapkan

Seindah layang-layang, warna beragam
Benang adalah jalan untuk mampu terbang
Tinggikah?
Putuskah?
Atau bahkan hilang arah?

Benang adalah jawab
atas segala nikmat
Layang-layang ingin memeluk langit
semakin tinggi, semakin baik

Ketika layang-layang adalah adam
dan benang mewujud Hawa
Adam tak berarti tanpa Hawa
Serumpun bijaksana, 
atau eksklusif disandang dalam tawa
Hawa mampu menyanding Adam tinggi hingga surga


Demikian ke-3 puisi yang mampu saya buat dari tiga cerita di buku Hujan Matahari karya Kurniawan Gunadi. Semoga menginspirasi dan salam literasi.

#RCO9
#OneDayOnePost
#ReadingChallengeOdop9




HUJAN MATAHARI : SEBUAH REVIEW KARYA KURNIAWAN GUNADI

 Bagaimana kalian menafsirkan Hujan? atau Matahari? atau Hujan Matahari?

Ada banyak orang yang mencintai hujan, seperti saya salah satunya. Hujan yang basah, hujan yang sejuk dalam kungkungan mendung. Rela menunggu berbulan-bulan hingga ia datang. Sekedar mencumbui kaki-kaki hujan yang lancip itu menerpa wajah tengadah, atau kaki-kaki yang lincah berlari diantara genangan, atau cukup diam dan menikmati aliran air hujan itu jatuh dan memagari tubuh yang letih. Tapi bahkan banyak juga yang tidak menyukai hujan, dengan berbagai alasan. Hujan selalu menjadi alasan ketika melankolis itu tiba-tiba hinggap dan mampu menciptakan ribuan kata-kata bak pujangga sekaliber dunia.

Tapi ada pula yang begitu mencintai matahari. Dia yang terik, menghangatkan bumi dan menyinari hingga sudut-sudut. Dia yang membuat kita pontang-panting berteduh dari teriknya, entah di selasar, atau bawah pohon rindang. Tapi bukankah hujan pun melakukan itu. Saat usia mencederai masa, dimana kita seakan malu jika harus berhujan-hujan. Seperti anak kecil saja, katamu. Padahal bercumbu dengan hujan adalah saat yang paling dinantikan. Ketika dewasa hujan membawa kaki-kaki berlari di bawah atap-atap toko, berteduh. Dari basahnya, dari hangatnya.

Ketika hujan datang saat matahari terik, bukankah itu sebuah keindahan. Pelangi yang lahir dari tetes-tetes air yang mampu memecah putih dalam berbagai warna indah. Bukankah ketika itu bidadari turun dari langit untuk menjumpai bumi?

Review buku cerita dan prosa kurniawan gunadi

"Setiap harapan akan menimbulkan doa"

Hujan Matahari adalah buku pertama karya Kurniawan Gunadi yang dirangkum dari tulisan-tulisan yang dia buat di blog. Berisi berbagai cerita dan juga prosa tentang kehidupan sehari-hari, ikatan cinta yang islami dan juga nasehat orang tua pada anaknya. Membaca Hujan Matahari hampir sama rasanya dengan membaca karya-karya Kurniawan Gunadi yang lain, Lautan Langit Misalnya.

Buku ini terdiri dari empat bagian yang terinspirasi dari perpaduan hujan dan matahari dimana keduanya adalah sebuah sebab akibat dan saling bergantung satu sama lain.

Empat bagian Hujan Matahari karya Kurniawan Gunadi

  • Sebelum hujan
  • Gerimis
  • Hujan
  • Reda
Dari cerita-cerita pendek di buku ini pembaca sengaja diajak untuk merenung, terhadap setiap kejadian yang dialami saat hidup, sesederhana apapun itu. Selalu ada hikmah yang bisa diambil dan dijadikan pelajaran. Seperti masa lalu yang tidak akan mungkin bisa terulang, namun kita bisa menjadikannya pijakan berupa pembelajaran agar di masa depan bisa melangkah lebih baik lagi, dan lagi.

Ada banyak sekali pesan yang bisa diambil dari cerita-cerita pendek di buku Hujan Matahari ini. Kurniawan Gunadi mahir sekali menyelipkan pesan-pesan itu tanpa menggurui. Dan cerita-cerita di dalamnya sangat sesuai dengan kondisi saat ini dimana banyak orang yang berharap pada cinta, mencintai dan dicintai.

Pesan yang bisa diambil dari buku Hujan Matahari Karya Kurniawan Gunadi

  • Seorang laki-laki ibarat layang-layang dan perempuan adalah benang. Laki-laki tidak akan menjadi apa-apa tanpa perempuan. Maka jadilah perempuan yang tangguh sebagai benang agar layang-layang mampu terbang tinggi tanpa putus atau terbawa angin kencang.
  • Laki-laki itu pengembara, perempuan adalah tempat tinggal, maka laki-laki akan menetap saat dia temukan rumah untuk tinggal, yaitu pernikahan. Jadilah perempuan yang pantas untuk ditinggali agar laki-laki tidak pergi.
  • Laki-laki memiliki insting untuk melindungi, perempuan memiliki insting untuk ingin dilindungi semandiri apapun dia. Maka laki-laki akan kuat ketika ada perempuan. Dia akan berusaha semampunya untuk bisa melindungi, seperti fitrahnya.
  • Cinta antara dua orang seperti energi dan potensi. Saat mampu bersinergi maka akan melipatgandakan energi hingga tak berbatas. Bukan cinta yang saling meniadakan, saling menjatuhkan.
  • dan masih banyak lagi pesan-pesan di buku ini.
Bagi teman-teman yang suka membaca buku dengan cerita-cerita pendek atau prosa saya yakin sekali buku ini sangat cocok untuk kalian. Banyak pelajaran yang bisa diambil dan dimaknai meski dari hal-hal sederhana sekalipun.

Selamat membaca temans

Judul    : Hujan Matahari
Penulis    : Kurniawan Gunadi
Ilustrator    : Ardyaksa Amy
Layouter    : Monika Paramitha, Sari A. Rahmawati
Penerbit    : Canting Press
ISBN    : 978-602-19048-1-7
Ukuran    : 14 x 20 cm, 206 halaman   










Senin, 08 Maret 2021

INTERNATIONAL WOMEN'S DAY : CHOOSE TO CHALLENGE

Hari ini serentak di seluruh penjuru dunia memperingati Hari Wanita Internasional. Timeline di media cetak maupun media online dipenuhi dengan seruan peringatan hari istimewa bagi seluruh perempuan di bumi. Di Indonesia sendiri ada hari ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember. Internasional Women's Day diperingati tiap tanggal 8 Maret setiap tahunnya. Apa saja yang mendasari adanya peringatan Hari Perempuan Internasional ini ya?

Ada berbagai macam tema yang diusung setiap tahun. Di tahun 2021 ini tema "Choose To Challenge" diusung dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya adalah seruan kepada semua pihak untuk menantang dan ikut aktif menyerukan tentang adanya ketidaksetaraan dan bias gender serta juga merayakan pencapaian-pencapaian yang dilakukan oleh perempuan.

apa saja yang bisa dilakukan untuk merayakan international womens day



 Sejarah peringatan International Women's Day (IWD)

Tahu tidak bahwa International Women's Day sudah diperingati sejak lama. Awal lahirnya peringatan hari perempuan internasional ini adalah untuk merayakan gerakan buruh tahunan yang diprakarsai oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Pada 8 Maret 1908 sejumlah lebih dari 15 ribu buruh perempuan melakukan aksi demonstrasi di New York City, menuntut jam kerja lebih pendek, gaji lebih tinggi, dan hak untuk memilih. Dari gerakan demonstrasi itulah akhirnya lahir hari Perempuan Internasional.

Ada tiga warna yang dipilih untuk memperingati International Women's Day tersebut, yaitu ungu, putih, dan hijau. Ungu sebagai simbol keadilan dan martabat, putih perlambang kemurnian, dan hijau adalah harapan. Dengan tiga warna tersebut perempuan ingin diakui martabatnya, mendapatkan keadilan dalam segala bidang dan melambungkan harapan-harapan untuk menjadi lebih baik ke depan.

Choose to Challenge sebagai tema International Women's Day 2021

Ada apa di balik tema "memilih untuk menantang" di tahun ini. Memang pada dasarnya perayaan hari perempuan internasional ini berbeda jauh dengan perayaan hari ibu. Jika di hari ibu kita merayakan bagaimana peran ibu terhadap keluarganya, baik itu untuk suami, anak-anak atau lingkungan. Biasanya dirayakan dengan mem-bebas tugaskan ibu dari tugas domestik sehari-hari pada hari itu. Istilahnya sang ibu dimanjakan dengan sungguh-sungguh oleh semua anggota keluarga pada hari itu. Tetapi di Hari perempuan internasional skalanya sudah berbeda. Perayaan ini lebih menitikberatkan pada perubahan positif perempuan di segala ranah kehidupan baik itu pada bidang politik, ekonomi, budaya, dan sosial.

Bias dan ketidaksetaraan gender juga menjadi pendorong tagar choose to challenge dimana pada perayaan kali ini diharapkan gaung tentang kesetaraan gender bisa disuarakan lebih keras dan jelas. Ada banyak hal yang menjadikan perempuan di-anak tirikan sejak masa lalu yang membuat mereka tidak mampu berkembang seperti laki-laki. Batasan-batasan yang tidak sesuai itu sepatutnya bisa dihapus agar perempuan bisa berkembang lebih jauh.

Tagar atau tema ini juga diambil sebagai salah satu bentuk dukungan pada platform-platform yang mendukung perubahan positif pada perempuan. Saat ini sudah banyak sekali perempuan-perempan yang mampu menjadi pendobrak dan bersinar di bidangnya. Tujuan inilah yang mendasari munculnya platform-platform tersebut. Dukungan dari banyak pihak akan sangat membantu mewujudkan impan tersebut.

Tagar atau tema ini bahkan diangkat Google sebagai Google Doodle dengan gambar tangan yang diangkat ke atas. Bisa jadi ini adalah sebuah ajakan untuk perempuan agar saling mendukung satu sama lain. Dalam video animasi tersebut disajikan pencapaian-pencapaian yang berhasil dilakukan perempuan baik di bidang  seni, sains, budaya, dan bidang lainnya.     


Apa saja "Choose to Challenge" saya

Sebagai apresiasi dan dukungan pada peringatan hari perempuan internasional kali ini saya ingin ikut andil menyuarakan apa-apa saja yang menjadi keresahan saya terkait dengan bias dan ketidaksetaraan gender yang melingkupi perempuan sejak lama, termasuk juga yang saya alami. Apa saja yang perlu ditentang untuk kemudian agar bisa berubah?

  • Stop eksploitasi tubuh perempuan
Eksploitasi tubuh perempuan bukan lantas dipandang dalam perspektif vulgar. Ajang kontes kecantikan yang menjamur saat ini pun bisa dipandang sebagai salah satu bentuk eksploitasi tubuh perempuan. Coba saja bayangkan apa sih korelasinya antara kecantikan perempuan dengan bikini? Biasanya kontes kecantikan diselenggarakan dengan dalih menjunjung kehebatan perempuan. Perempuan cantik, cerdas, dan hebat tidak butuh selendang atau bikini untuk mendefinisikan dirinya.
  • Mengakui kiprah perempuan
Sebagai istri dan ibu seorang perempuan diakui atau tidak sudah berkontribusi sebagai perekat antar anggota keluarga dan segala pekerjaan di lingkup domestik rumah tangga. Perempuan-perempuan itu tanpa disuruh akan dengan senang hati mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tak tiada henti karena memang sudah fitrahnya. Namun jika kemudian itu dijadikan kambing hitam agar perempuan tidak bisa berkembang di ranah luar, berkarir misalnya, tentu saja sangat salah.

 Selama ini perempuan selalu dihadapkan pada pilihan sulit, keluarga atau aktivitas-aktivitas di luar rumah, pekerjaan misalnya. Kenapa tidak justru difasilitasi agar bisa melakukan dua hal tersebut dengan baik sehingga tidak mengganggu porsi masing-masing. Padahal tidak bisa dipungkiri bahwa perempuan ikut andil dalam kemajuan peradaban, salah satunya sebagai madrasatul ula bagi anak-anaknya.

Meski demikian kewajiban mengasuh anak bukan hanya dibebankan pada perempuan (ibu) semata. Dalam Al-Quran peran ayah lebih banyak disebutkan dalam pengasuhan dari pada ibu. Jika kemudian ayah melimpahkan seluruh tanggung jawab tersebut dengan dalih untuk mencari nafkah, jelas ini bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk ketimpangan gender. Bekerja sama dan saling mendukung bisa dilakukan alih-alih membebankan pada satu pihak. Dan justru akan berdampak baik pada kondisi internal keluarga.

 
  • Mengembalikan otoritas perempuan atas dirinya
Pernah tidak kalian menyaksikan seorang ibu hamil yang akan melahirkan kemudian ada masalah dalam kehamilannya dan harus dioperasi cesar. Mengapa justru pihak rumah sakit meminta persetujuan suami untuk melakukan tindakan tersebut. Perempuanlah yang tahu kondisi tubuhnya. Dia bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak untuk dirinya. Jika lantas otoritas tersebut direnggut dari mereka, apalagi yang mereka punya. Kendali atas dirinya saja sudah tidak dimiliki apa lagi yang tersisa.

Otoritas atas dirinya harus dimiliki oleh para peremouan termasuk di dalamnya menjaga dan mencari pertolongan saat dibutuhkan. Jangan sampai kasus-kasus ibu meninggal banyak terjadi lantaran harus ada ijin suami terlebih dulu untuk hal-hal urget seperti contoh di atas. 

Sebenarnya masih banyak isu-isu lain yang bisa disuarakan. Sudah waktunya laki-laki dan perempuan berdiri sejajar. Bahkan dalam hadits pun disebutkan bahwa perempuan adalah saudara kandung laki-laki. tempatnya adalah di samping bukan di belakang atau di depan. Bila masih ada laki-laki yang abai akan hal ini bisa dibilang bahwa mereka memiliki inferiority complex terhadap perempuan sehingga takut "terkalahkan" jika perempuan diberikan kesempatan yang sama untuk maju. 

Sebagai perempuan saya sendiri mendobrak kewajaran dengan masuk pada bidang laki-laki sebagai mata pencaharian. Saya mengajar bidang mesin yang didominasi oleh laki-laki. Itu salah satu bentuk suara saya bahwa perempuan pun bisa melakukan hal yang sama dan sejajar dengan laki-laki jika diberi kesempatan. Semoga ke depan kesempatan dan peluang itu lebih banyak diberikan sehingga perempuan bisa maju dan berkembang. Selanjutnya mereka akan menjadi salah satu pion perkembangan bangsa dan dunia. Mari kita tunggu saatnya.