Kamis, 14 November 2019

REVIEW CERPEN

Kali ini aku akan mencoba me review salah satu cerpen yang ada di www.ngodop.com. cerpen yang aku pilih berjudul "Sesuatu Yang Merasuki Lemariku" karya mbak Sabrina Lasama. Cerpen ini bercerita tentang seseorang yang dikaruniai anugerah bisa merasakan energi dari benda-benda. Salah satunya adalah lemari usang yang ada di kamarnya. Keistimewaannya itu bisa sampai melihat semua kisah yang pernah dialami oleh benda-benda tersebut. Sayangnya keistimewaan yang dia punya tidak mendapat respon yang cukup baik dari orang-orang disekitarnya. Di akhir cerita justru menimbulkan kesalahpahaman yang cukup fatal dan menyebabkan hilangnya nyawa salah satu tokoh tambahan.

Memiliki satu tokoh utama yaitu aku, seorang remaja 15 tahun yang bisa melihat dan merasakan energi dari benda yang disentuhnya. Dan tiga tokoh tambahan, yaitu Ayah, yang merupakan ayah kandung aku yang sering pergi ke luar kota untuk bertugas. Anita, istri dari ayah yang dibelakang ayah sering menerima tamu, selingkuhannya di rumah. Dan lemari usang yang seperti aku bilang, ada sesuatu yang merasuki lemari itu.

Plot yang digunakan pada cerpen kalau menurutku plot campuran karena berupa plot maju dengan beberapa bagian berisi flashback. Plot kesukaanku sih sebenarnya. Membuat pembaca menikmati cerpen dengan menyenangkan dan tidak bosan.

Sudut pandang yang digunakan pada cerpen ini adalah sudut pandang orang pertama. Dimana aku dikisahkan berkonflik batin dengan dirinya sendiri. Karena ketidakpercayaan orang sekitar tentang kemampuannya yang dapat merasakan energi dan melihat kisah-kisah dari setiap benda yang disentuhnya.

Latar yang divisualisasikan dalam cerpen ini adalah kamar seorang remaja berusia 15 tahun dengan sebuah lemari usang yang memenuhi sepertiga ruangan.

Secara tata bahasa aku sih cukup yakin mbak Sabrina sudah ahli dalam bidang ini. Tulisan tertata dengan baik dan sesuai dengan kaidah penulisan yang baku. Bahasanya mudah dimengerti, jadi sebagai pembaca tidak disulitkan untuk memahami kata-kata sulit.

Secara umum aku sangat menikmati membaca cerpen ini. Meskipun kisahnya agak sedikit horor, tapi idenya sangat segar. Bagiku yang sangat menyukai jenis tulisan fiksi fantasi, cerpen ini seperti nutrisi baru bagiku.

Buat teman-teman yang ingin membaca cerpen ini bisa dibaca langsung di http://www.ngodop.com/art/14/Sesuatu-yang-Merasuki-Lemariku

Aku tunggu cerpen selanjutnya ya mbak Sabrina. J

Minggu, 03 November 2019

PART 5

Dingin sekali. Musim dengin sedang puncak-puncaknya di Eropa. Aku merapatkan mantel dan bergegas menuju hotel. Musim seperti ini sangat tidak cocok untuk orang tropis yang sejenak tinggal di sini. Tak terbiasa terpapar suhu dingin hingga dibawah 0o membuatku sering sekali menggigil tak karuan meski sudah dibebat dengan berlapis-lapis pakaian. Hanya pemanas ruangan yang mampu membuatku kembali bergerak bebas tanpa gigil pada tubuhku.

Sudah dua bulan aku berada di sini. Melanjutkan studiku dengan beasiswa dari pemerintah. Alhamdulillah perlahan mimpi-mimpi itu aku peluk satu persatu. Inggris menjadi tujuan pertamaku dalam menempuh rangkaian studi. Setelahnya aku akan pergi ke Turki dan Amerika.

Usaha budidaya yang aku geluti membuahkan hasil di luar ekspektasiku. Mutiara-mutiara berkualitas bisa aku produksi dengan baik di awal-awal usaha. Meski banyak rintangan saat melakoninya, aku selelu berusaha bangkit lagi, semua karena ayah. Beliau memotivasiku dengan gigih.

Usaha itu berkembang berkat bantuan banyak pihak. Aku melakukan terobosan pada pemasaran mutiara melalui media sosial dan website. Mutiara-mutiara itu tidak aku jual begitu saja,, tapi dalam bentuk kerajinan dan perhiasan hasil karyaku yang alhamdulillah banyak diminati oleh konsumen. Karena banyaknya permintaan, aku akhirnya membuat keramba-keramba baru dan mengajak serta beberapa penduduk kampung untuk aku berdayakan sebagai peternak mutiara.

Kawasan kampung total aku ubah menjadi sentral budidaya mutiara kelas dunia. Ibu-ibu rumah tangga juga aku rekrut untuk membantu dalam produksi perhiasan dan kerajinan. Mereka tinggal mengerjakan sesuai pesanan yang desainnya aku buat khusus untuk masing-masing pelanggan. Mariam yang aku beri kepercayaan untuk mengawasi lini itu.

Beberapa waktu kemudian, berkah dari lokakisasi budidaya mutiara yang aku kembangkan, aku diundang untuk mengisi beberapa acara di berbagai kota di Indonesia sebagai praktisi. Kemudian aku diberi akses untuk mendapatkan beasiswa dari pemerintah propinsi untuk melanjutkan kuliah.

Senyum ayah aku saksikan saat hari wisudaku digelar. Kuboyong ayah dan Mariam untuk menyaksikan langsung wisudaku jauh dari kampung halaman. Sekali itu aku membawa ayah pergi melihat Indonesia dari kacamata yang lain, bukan hanya pemandangan kampungnya saja. Aku bawa mereka ke ibukota.

Sayang sekali kesempatanku untuk membawa ayah berkeliling dunia kandas suatu sore berangin. Kapal ayah terbalik saat melaut, badai tiba-tiba datang tanpa mendung atau hujan. Aku sedang berada di Jakarta saat itu terjadi. Dan sampai saat ini ayah tak juga ditemukan. Hanya perahunya yang terseret ombak dan menepi beberapa kilometer dari kampung kami.

Seandainya jasad ayah ditemkan, mungkin aku tak akan begitu berat menaggung kerinduan. Setiap kali teringat ayah aku hanya mampu melarungkan rindu dengan duduk di perahu milik ayah. Tanpa ada nisan, jasad ayah terkubur di luasnya lautan. Sore itu dan waktu-waktu berikutnya adalah hari terberat untukku. Tanpa ayah aku seperti kehilangan harapan.

“Pura babbara’ sompekku, pura tangkisi’ golikku”, kata-kata itu yang melecut kembali semangat hidupku. Petuah dari ayah yang kutemukan terukir di lambung perahu miliknya. Aku tidak boleh menyerah. Semua mimpiku harus kubayar tuntas untuk membayar janji padanya. Juga agar Mariam bisa hidup dengan nyaman dalam perlindunganku.

“Layarku sudah terkembang, kemudiku sudah terpasang, ketika layar sudah terkembang, pantang pulang sebelum sampai ke tanah harapan”.

Sabtu, 02 November 2019

PART 4

Pagi setelah pembicaraanku dengan ayah beberapa malam yang lalu kuhabiskan waktu menjelajah pantai, mengumpulkan apa saja yang bisa kurangkai menjadi kerajinan. Hidup harus terus berjalan, aku tak bisa hanya berpangku tangan dan mengangggur tanpa melakukan kegiatan apapun. Untuk saat ini yang terpikir hanya melanjutkan pembuatan kerajinan dan ikut ayah melaut. Meski sedikit aku harus bisa tetap menghasilkan uang. Sudah lulus sekolah sedikit banyak aku harus bisa membantu perekonomian di rumah.

Bersyukur sekali kerajinanku masih diminati banyak orang. Penghasilan tergolong lancar. Tapi aku masih merasa sangat kurang. Kasihan ayah masih harus banting tulang di usia senjanya. Setiap hari aku memikirkan jalan keluar agar ayah tak lagi melaut. Pekerjaan apa yang bisa kulakukan agar pendapatanku bisa memenuhi kebutuhan di rumah.

Suatu pagi aku ijin pada ayah akan ke kota. Membeli beberapa peralatan untuk membuat kerajinan dan bahan-bahan tambahan. Aku akan ikut truk Kak Dahlan yang berangkat pagi mengantarkan ikan ke kota. Mariam ikut denganku juga.

Sesampai di pasar kota aku langsung menuju toko alat-alat kerajinan langgananku, sedangkan Mariam masuk ke pasar untuk membeli kebutuhan rumah. Tak sengaja aku bertemu dengan salah satu temanku saat SMK dulu. Dia ternyata diterima kuliah jurusan perikanan di salah satu universitas negeri di Mataram. Dia bilang potensi perikanan di sini sangat bagus. Tak perlu lahan cukup menggunakan keramba sudah bisa jalan. Aku bertanya banyak hal padanya sebelum kami berpisah karena dia harus kembali ke Makasar.

Dari pertemuanku dengan temanku itu, aku sedikit punya ide untuk mengembangkan diri. Bukan lagi hanya bertumpu pada pembuatan kerajinan dan melaut, tapi juga ingin membuat sebuah usaha agar perekonomian lebih stabil. Selain itu juga untuk mengembangkan kemampuanku agar tak terbatas pada itu-itu saja.

Aku mengajak bicara ayah suatu sore tentang rencanaku tersebut, dan beliau menyerahkan semua keputusan padaku. Ayah mendukung 100 persen kemauanku. Setelah mengantongi ijin dari ayah, aku bergerak cepat. Aku meminta izin pada ayah untuk pergi selama sebulan untuk belajar seluk beluk usaha yang mau aku jalani. Jadi minggu selanjutnya langsung aku bertolak ke Lombok dengan hanya berbekal tas ransel dan alamat salah satu tempat budidaya yang mengadakan pelatihan juga untuk para calon wirausahawan.
***
Aku kembali dengan semangat baru. Setelah sebulan lebih, meleset dari prediksiku yang hanya sebulan, menghabiskan waktu belajar dengan sangat keras untuk bisa membuka usaha sendiri di Lombok. Ayah menyambutku di bandara, entah jam berapa berangkat dari rumah. Karena pesawatku landing pagi sekali.

Setelah sampai rumah aku mengajak ayah untuk mencari lahan yang pas untuk kujadikan tempat budidaya nantinya. Butuh tempat yang luas dengan arus yang tenang. Kami menemukan lahan itu di laut seberang hutan bakau di ujung desa. Untungnya pemerintah desa tidak meminta uang untuk sewa lahan di sana, jadi aku cukup memikirkan untuk dana peralatan dan pembelian bibit saja. Mariam yang saat ini libur aku ajak untuk berbelanja di kota dengan menyewa sebuah pick up. Terpaksa uang tabungan kuliah aku pakai sebagai modal. Biarlah nanti aku ganti setelah usahaku mulai berkembang.

Ayah membantu dengan membersihkan area lahan yang akan aku gunakan. Juga membuatkanku sebuah pondok sederhana untuk tempat istirahatku di tepi pantai. Itu saja sudah membuatku sangat senang. Mempersingkat waktuku untuk memulai usaha nanti.
***
Seminggu kemudian lahan sudah siap digunakan, keramba tertata dengan rapi dan terkendali. Beberapa kolam tempat penijahan juga sudah selesai dibuat. Tinggal menunggu bibit datang dalam beberapa hari ke depan. Selama itu aku masih melaut bersama ayah. Dan saat-saat siang kuhabiskan di pondok dekat keramba sambil membuat kerajinan.

Bibit datang sore hari diantar oleh mobil boks tukang pos. Segera kubawa ke pantai dan menaikkannya ke perahu. Ayah yang mengemudikan perahu menuju keramba. Aku memeriksa setiap kotak bibit yang dikirim. Memastikan semua baik-baik saja. Sesampai di keramba, kupisahkan indukan jantan dan betina di tempat berbeda. Sedang bibit yang sudah siap aku sebar di tiap keramba yang ada. Bismillah mulai hari ini sampai beberapa bulan ke depan aku akan disibukkan dengan pemeliaraan bibit-bibit ini.

Butuh pengawasan ekstra di saat awal seperti ini. Aku memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Menginap di pondok dekat keramba. Mariam mengirimiku makanan setiap pagi sambil berangkat ke sekolah. Bahkan aku tak melihat ayah selama beberapa waktu. Semua tenaga dan fikiran aku fokuskan untuk usaha budidayaku. Nanti selepas beberapa minggu, akan ada waktu untuk pulang ke rumah.

Jumat, 01 November 2019

PART 3

Masa-masa ujian sekolah telah lewat, serangkaian tes masuk perguruan tinggi juga sudah kulewati. Bersisa hari-hari libur saat menunggu pengumuman kelulusan. Aku memanfaatkan hari libur untuk ikut melaut bersama ayah. Melewatkan malam-malam di lautan hingga pagi menjelang. Menikmati belaian ombak dan angin laut dan berjibaku dengan jaring setiap kali ayah melemparkannya. Saat-saat seperti ini akan menjadi kenangan tak terlupakan. Saat dimana aku dan ayah hanya berdua saja, menikmati waktu sebagai lelaki sejati. Aku belajar banyak hal dari ayah tentang bagaimana membaca dan berbicara dengan alam. Tahu bagaimana bersikap saat mengambil hasil alam dengan benar dan tidak serakah.
***
Aku masih nyenyak tidur saat Mariam menggedor-gedor kamarku. Membangunkan tidur yang masih setengah jalan.  Menyerahkan sepucuk surat dari sekolah dan ikut duduk menungguku membuka amplop itu. Ada keterangan lulus di kertas yang ada di dalamnya. Aku bersujud syukur langsung di depan Mariam. Penantianku terbayar satu, tinggal menunggu pengumuman diterima atau tidak di universitas yang aku pilih. Masih sekitar seminggu lagi. Mariam tersenyum mengejek melihat tingkahku. Aku cuek saja, dia belum tahu bagaimana susahnya ujian nasional. Nanti kalau sudah waktunya, akan aku ejek balik Mariam saat mengikuti ujian nasional.

Sampai seminggu kemudian aku mendapatkan kabar yang membuat hidupku serasa ambruk. Di papan pengumuman kelulusan masuk universitas tidak tercantum namaku. Baik untuk pilihan pertama ataupun kedua. Aku pulang dengan wajah tertekuk. Kecewa. Begitu besarnya keinginanku, usahaku ternyata hanya sia-sia saja. Lalu apa yang akan kukatakan pada ayah tentang ini. Aku malu sekali.
***
“Sudah pulang, Pang? Bagaimana hasilnya?”, ayah yang melihat kedatanganku langsung berdiri menyambut. Aku hanya bisa menggeleng. Dan kulihat raut kecewa di wajah ayah.

Aku bergegas beranjak dari sana. Masuk ke dalam kamar, tak tega dengan wajah ayah, pun juga kecewa pada diri sendiri. Dengan usahaku yang sedemikian rupa saja belum mampu menembus perguruan tinggi yang aku inginkan. Aku pejamkan mata rapat, mengusir segala gundah.

Berhari-hari aku hanya berdiam diri, entah itu dalam kamar atau di pinggir pantai. Aku tak lagi menemani ayah melaut ataupun mengerjakan tugas rumah. Jangan tanya tentang kerajinan tangan, sudah kulupakan. Aku hanya menghabiskan waktu menyesali kebodohanku. Bahkan Mariam pun tak luput dari kediamanku. Dia jadi sering ngomel sendiri karenaku yang tak mau membantunya membereskan rumah.
***
Ayah memanggilku suatu malam, setelah berhari-hari aku hanya diam seperti seonggok batu. Memintaku mengikutinya ke laut, menuju perahu yang tertambat di pinggir pantai.

“Pang, mau sampai kapan kamu diam saja seperti ini?”, ayah bertanya padaku setelah sebelumnya mencari tempat yang enak dalam perahunya.

Aku diam tak berani memandangnya. Beberapa jeda kosong kubiarkan untuk menikmati semilir angin malam. Jujur sebenarnya aku malu pada ayah, dan malu pada diriku sendiri. Takut akan omongan teman-teman. Sindiran dari banyak pihak. Juga bingung mau apa setelah ini. Aku bahkan tidak punya rencana kedua, karena saking optimisnya bisa masuk ke universitas.

“Masalah itu diantarkan ke kita biar kita bisa berfikir dan bertindak sesuai fitrah kita sebagai manusia, kalau kamu selalu saja lurus tanpa masalah, kamu nggak akan bisa menjadi manusia”, ayah bergumam di sebelahku.

Etta tahu persis kamu, anak Etta tidak akan berhenti hanya karena satu masalah. Bukankah kamu ini anak Bugis?, anak Bugis akan terus maju apapun yang terjadi. Berhenti meratapi kegagalan, sudah saatnya kamu bangkit kembali. Mungkin saat ini bukan waktumu. Buatlah menjadi lain kali”, ayah menepuk bahuku pelan dan meninggalkannku sendiri di atas perahu yang terombang-ambing ombak.

Kutatap punggung ayah saat menjauh. Berkelebat berbagai hal dalam benakku. benar kata ayah, aku harus bangkit. Melempar jauh keterpurukan yang mengungkung. Mimpiku masih sama seperti dulu. Kalau tidak hari ini, maka akan kukejar esok hari. Kembali aku mengepalkan tangan menyemai harapan.