Selasa, 05 Januari 2021

LET'S READ, KOLABORASI DONGENG DAN GAMBAR SEBAGAI PEMANTIK KECINTAAN MEMBACA PADA ANAK

 

Sumber: Google Picture
Sumber: Google Picture

Mungkin sangat terlambat jika ingin membahas mengenai salah satu drama korea popular di tahun 2020 kemarin. It’s Oke Not To Be Oke bercerita tentang seorang penulis dongeng yang memiliki kelainan jiwa dalam mencari jati diri. Di sana banyak disajikan bermcam buku dongeng yang berhasil membawa penulisnya pada kemampuan finansial yang bagus. Buku-buku dongeng itu disajikan dengan ilustrasi yang menarik dan apik. Dari ilustrasi dan isi cerita itu mengalir pundi-pundi kekayaan dari royalty. Semakin banyak pembeli semakin besar pula nilai royalty yang dibayarkan. Melihat banyaknya penggemar saat acara launching buku dongeng terbaru menandakan bahwa ketertarikan masyarakat pada buku dongeng milik Ko Moon Yeong sangatlah tinggi.

 

Buku dongeng di drama It's Oke Not To Be Oke
Sumber: Google Picture

Melihat itu secara naluriah saya merasa iri. Saya termasuk salah satu generasi dengan masa kecil yang jauh dari hiruk pikuk media. Melihat aneka gambar dalam sebuah buku pasti menarik dan menambah minat baca. Membaca atau mendengar dongeng dapat membantu meningkatkan perkembangan anak. Saya sendiri salah satu objek yang terbiasa mendengar dongeng langsung dari Bapak dan Ibu sebelum tidur. Dongeng-dongeng itu dilafadzkan langsung tanpa adanya media cetak. Kreatifitas dan daya ingat Bapak Ibu bercerita lah yang membangkitkan minat kami, anak-anaknya untuk terus mendengar.

 

Kegiatan mendongeng itu ternyata banyak bermanfaat bagi saya dan mungkin bagi banyak anak-anak lain, diantaranya:

  1. Melatih dan mengembangkan imajinasi anak

Menurut Efnie anak usia 3-7 tahun biasanya memiliki “dunia” nya sendiri. Masa-masa ini anak sangat aktif berimajinasi. Dengan pembacaan dongeng secara konsisten akan membentuk imajinasi yang bagus dan terarah. Banyak juga yang kemudian mengembangkan imajinasi sendiri sebagai feedback dongeng yang dibacakan atau diceritakan menjadi cerita yang lain dan menarik.

2. Membangun dan meningkatkan kecerdasan emosional.

Setiap dongeng pasti memiliki pesan khusus yang di-input dalam torehan kalimat-kalimat yang mudah dimengerti anak. Anak akan mudah menangkap nilai-nilai moral yang berlaku di masyarakat karena disajikan secara menarik dan sesuai dengan dunia mereka

3. Melatih dan meningkatkan kosa kata serta kemampuan berbahasa.

Kemampuan awal yang dikuasai oleh anak adalah kemampuan verbal. Dengan sering mendengar cerita akan menjadi stimulus untuk merangsang kemampuan berbahasa. Kisah-kisah pada dongeng biasanya disajikan dalam bahasa yang positif, dengan demikian akan membantu anak untuk berkomunikasi dan bertutur dengan bahasa yang sopan

4. Menjalin bonding yang lebih erat dengan orang tua.

Saat ibu atau ayah membacakan dongeng pada anak secara tidak langsung mereka sedang memberikan pembelajaran tentang “bahasa ibu”. Bagaimana bertutur, bagaimana bersikap, bagaimana menghidupkan kisah-kisah itu agar melekat di benak anak dan anak mampu menangkap pesan-pesan yang tersirat. Sesi mendongeng akan menambah waktu interaksi dan jalinan kasih sayang antara orangtua dan anak.

5. Meningkatkan minat membaca

Secara alami anak-anak yang biasa dibacakan atau membaca dongeng akan memiliki ketertarikan dan rasa penasaran yang tinggi pada cerita-cerita lain yang belum dibaca. Dengan sendirinya rasa penasaran itu akan menstimulus mereka untuk lebih banyak membaca.

6. Membangun konsep bercerita

Ini saya rasakan pribadi, bagaimana jalinan dongeng-dongeng yang diceritakan saat kecil dulu begitu melekat. Dan itu membantu dalam meningkatkan kemampuan menulis saya. Bagaimana mengawali cerita, membuat konfik danmengakhiri dengan bagus dan mulus.

 


Mendongeng juga bisa menjadi salah satu langkah untuk memberikan hak anak. Hak anak sendiri diumumkan oleh PBB pada tahun 1954 dan disahkan sebagai Konvensi Hak-Hak Anak pada tahun 1989. Di Indonesia Keputusan Presiden No. 36/1990 yang disahkan pada tanggal 28 Agustus 1990 dibuat sebagai bukti pengakuan hak anak tersebut. Dari 10 hak anak yang tertuang, mendongeng bisa dimasukkan sebagai bentuk pemberian hak untuk bermain, mendapatkan pendidikan dan rekreasi.

 

Kemajuan zaman membuat tradisi mendongeng mengalami penurunan. Orangtua lebih banyak menyediakan gadget sebagai hiburan untuk anak. Anak-anak jadi lebih senang bermain dengan gadget  tersebut dibanding mendengar dongeng karena secara alamiah pada usia tersebut anak menyukai gambar atau animasi disbanding sesuatu yang abstrak. Mungkin di era serba digital saat ini dongeng perlu disajikan dengan format berbeda untuk menstimulus ketertarikan anak. Pemberian gambar-gambar yang menarik pada cerita dongeng akan banyak berpengaruh pada minat anak untuk mendengar atau membaca. Bisa juga disajikan dalam bentuk digital yang dilengkapi animasi. Format penyajian seperti itu akan menarik perhatian anak dari bentuk hiburan yang tidak bermanfaat untuk beralih pada dongeng digital yang dapat membantu membentuk karakter positif pada tumbuh kembang anak.

 

Saya memiliki keinginan besar untuk menyediakan banyak bacaan untuk anak-anak dan teman-temannya di rumah. Untuk menstimulus kemauan mereka membaca dan meminimalisasi waktu yang dihabiskan bermain gadget dengan mencari berbagai hal menarik yang disajikan lewat buku cerita. Memotivasi kembali semangat bercerita atau membacakan cerita pada anak agar kelak mereka tumbuh sebagai pecinta buku dan literasi.

 

LET”S READ SEBAGAI APLIKASI DONGENG YANG MENARIK


Let's Read adalah perpustakaan digital buku cerita anak persembahan komunitas literasi dan The Asia Foundation. Let's Read! diprakarsai oleh Books for Asia, yakni program literasi yang telah berlangsung sejak 1954. Program tersebut menerima U.S. Library of Congress Literacy Awards atas inovasi dalam promosi literasi pada Desember 2017. Let’s Read memiliki misi membudayakan kegemaran membaca pada anak Indonesia sejak dini melalui:

1.    Digitalisasi cerita bergambar;

2.    Pengembangan cerita rakyat yang kaya kearifan lokal; dan

3.  Penerjemahan buku cerita anak berkualitas terbitan dalam dan luar negeri ke dalam bahasa nasional dan ibu.

Aplikasi ini sangat bagus sebagai edia untuk mengenalkan dongeng pada anak. Disajikan dengan gambar menarik dan pilihan bahasa yang beragam menjadikan Let’s Read sebagai media yang mumpuni untuk menggantikan tradisi mendongeng zaman dahulu. Dongeng yang disajikan pun beragam dan diambil dari beberapa Negara. Hal tersebut juga sangat bagus untuk mengenalkan keragaman tradisi yang ada di dunia.


Mengunduh aplikasi Let's Read bisa menjadi solusi untuk para orang tua yang ingin menumbuhkan minat membaca pada anak dan memperkaya anak-anak dengan bermacam memori cerita dongeng yang beragam. Segera lengkapi smartphone ayah ibu dengan aplikasi ini sebagai salah satu ikhtiar membentuk hal positif pada anak.

 

Mari kita galang kembali tradisi mendongeng melalui banyak media yang tersedia. Mendongenglah dan saksikan generasi anak-anak kita akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kecerdasan literasi yang bagus. Generasi dengan kecerdasan literasi baik akan tumbuh menjadi generasi yang berdaya saing tinggi dan mampu bertahan di era yang penuh komplikasi saat ini.

 

 

Kamis, 31 Desember 2020

MEMANEN BAHAGIA

 

Saya baru saja menamatkan Fullmetal Alchemist seri 18 yang merupakan seri terakhir komik besutan Hiromu Arakawa. Pertukaran setara sering sekali disebut dalam komik ini. Uang dibayar uang, mata dibalas mata, nyawa dibalas nyawa. Lantas apa mungkin kebahagiaan juga harus ditukar dengan kebahagiaan?

 

Sumber: Google picture

Prinsip pertukaran setara ini tidak sejalan dengan nilai-nilai yang saya yakini. Dalam pemahaman saya bukan tentang tukar menukar tetapi tentang memanen. Dulu sekali saat masih kecil ada seseorang yang mengatakan bahwa kebahagiaan hanya bisa kita ciptakan sendiri bukan oleh orang lain. Saat memasrahkan kebahagiaan pada orang lain saat itu pula kebebasan kita diambil. Cara mencari bahagia bisa saja berbeda bagi tiap orang. Bagi saya mencari bahagia tidaklah sesulit yang dibayangkan. Prinsip memanen tadi saya selipkan di sini. Ketika saya bisa menularkan bahagia pada orang lain ketika itu pula saya sedang memanen bahagia untuk diri saya sendiri.

 

Lantas bagaimana caranya? Berbagi, itu kuncinya. Dalam Islam bahagia menjadi salah satu hal yang penting untuk diraih baik di dunia maupun di akhirat. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan “Perbuatan paling baik ialah engkau memasukkan kebahagiaan kepada saudara yang mukmin dan muslim, membayar hutangnya atau memberinya roti”.

 

Berbagi, yang pertama dan kebahagiaan yang kedua, maka berbagi kebahagiaan bisa menjadi jalan untuk memanen bahagia. Bagaimana caranya? Tidak perlu sesuatu yang mewah untuk melakukan hal ini. Saya belajar dari orang-orang desa dimana nenek saya tinggal. Berbagi sapa dan senyuman pada mereka yang lewat, as simple as that. Kita tidak pernah tahu sejauh apa senyum dan sapa kita akan berdampak pada orang lain. Di desa itu mungkin lumrah, di kota? Lain lagi cerita. Orang kota terkenal individualis. Memberdayakan saling sapa dan senyum akan banyak bermanfaat. Misalnya mengembalikan semangat, menjalin kembali kerukunan, saling mengenal satu sama lain, dan menciptakan keharmonisan.

Sumber: Google Picture

Saat sudah bisa berbagi senyum dan sapa tingkatkan dengan memberi apa yang kita punya, minimal pada orang tua dan tetangga. Apa saja bisa kita bagi, misalnya yang hobi memasak, sekali-kali bagilah olahan kita pada tetangga. Yang hobi berkebun bagilah hasil kebun yang didapat pada warga. Apakah ini akan mengurangi rejeki kita? Tidak, justru akan meningkat, bukankah Allah menjanjikan pada mereka yang mau berbagi dengan imbalan berkali lipat. Jadi jangan ragu untuk memberi, di sana akan kita temui perasaan bahagia dan kepuasan dalam diri.

 

Saat pandemi seperti sekarang, dimana intensitas pertemuan dibatasi, karantina wilayah diberlakukan, kesempatan untuk berkunjung atau bertemu tidak sebebas dahulu. Meski demikian intensitas memberi dan berbagi kebahagiaan tidak perlu dikurangi. Justru saat ini adalah saat yang tepat untuk berbagi kebahagiaan. Banyak yang terimbas pandemi dan mengalami kesulitan hidup. Berbagi kebahagiaan tidak mengharuskan kita untuk hadir saat kondisi tidak mengijinkan. Berbagai aplikasi online sudah banyak diciptakan untuk membantu kehidupan kita berjalan lancar. Misalnya jasa pengiriman online yang dipelopori JNE. Maksimalkan aplikasi ini untuk mengirimkan bermacam barang yang dibutuhkan oleh warga yang terdampak pandemi. dengan begitu mereka akan mendapatkan sedikit kebahagiaan dari apa yang kita bagikan.

 

Mari kita tingkatkan lagi kesadaran untuk berbagi, dari apa yang kita beri akan menciptakan kebahagiaan pada mereka yang menerima. Dari sana secara tidak langsung kita akan memanen bahagia yang berlipat banyaknya.

Selasa, 17 Maret 2020

PRADYUMNA MAHAPATIH

Awal mula mengenal dunia tulis-menulis saya berkenalan dengan puisi. Puisi mostly  lebih mudah dibuat karena jumlah kata yang tidak banyak dan fokus. Meski memang harus banyak berlatih untuk bisa menulis puisi yang baik. Tapi lantas saya kepincut dengan cerpen. 

pradyumna mahapatih



Menulis cerpen memang butuh effort yang lebih banyak dari puisi. Dari menentukan tema, riset, hingga eksekusi menulis. Saya biasanya butuh waktu seminggu hingga dua minggu untuk menulis cerpen. 

Alasan kenapa pilih genre cerpen historical fiction


Waktu itu saya mencoba membuat salah satu jenis cerpen, yaitu historical fiction. Cerpen ini bertema tentang sejarah, bisa diambil dari dalam atau luar negeri. Alasan kenapa saya pilih genre cerpen ini adalah:
  • Suka dengan budaya Indonesia khususnya Jawa
  • Ikut serta mengenalkan dan melestarikan budaya Indonesia
  • Memenuhi target tugas kelas fiksi dari komunitas ODOP (One Day One Post)
Dari semua sejarah yang bisa saya angkat, saya tertarik dengan sejarah Gajah Mada dan mencoba mencari satu angle untuk saya tuliskan ceritanya. Basicnya memang kisah Gajah Mada tapi saya bumbui fiksi.

Saya menghabiskan waktu dua minggu untuk membuat satu cerpen, mulai dari menentukan tema, riset, hingga menulis. Hasilnya saya jujur nggak tahu bagus atau tidak. Ini percobaan pertama saya. Lalu saya iseng baca-baca ada lomba cerpen dengan tema bebas yang diadakan oleh Tulis.me dan saya mencoba peruntungan dengan mengirimkan cerpen saya tadi. 

Eh Alhamdulillah banget ternyata cerpen ini terpilih menjadi pemenang ke-4 lomba cerpen tingkat nasional yang diadakan oleh Tulis.me tersebut. 
Berikut cerpen historical fiction yang saya tulis:


PRADYUMNA MAHAPATIH
By: Marwita Oktaviana

Lelaki bermata tajam mengendap-ngendap di antara rimbunan pohon bambu yang tumbuh lebat di tepian sungai. Niatnya untuk semedi di atas batu besar di antara aliran tukad1 kandas sudah. Di tengah tukad terlihat seorang gadis ayu yang sedang menikmati waktu dengan berendam dalam aliran air yang menyejukkan. Ini bukan yang pertama, sudah beberapa kali dia menikmati kemolekan tubuh yang terpampang jelas di depan mata. Ritual semedi rutin ditinggalkan hanya untuk menikmati pemandangan indah yang menantang birahi

Gadis itu adalah putri dari pemilik pedukuhan tempatnya mengistirahatkan jiwa dan raga setelah peperangan merebut Bali dari kekuasaan Raja Sri Asta Asura Ratna Bumi Banten beberapa waktu berselang. Lelah yang dia rasakan setelah melawan Kebo Iwa di Banyuwangi lalu dilanjutkan dengan peperangan dahsyat melawan kehebatan Pasung Grigis yang melegenda membuat tenaga dan pikirannya terkuras.
***
Sire nike?2”.

Luh menghentikan kegiatan membasuh tubuh saat mendengar suara gemeretak dari arah rimbun bambu di atasnya. Matanya menelisik sesosok lelaki sedang mengawasinya. Membuat risih dan resah. Harusnya tukad ini adalah miliknya seorang. Terselubung dalam rimbun bambu yang mengelilingi pedukuhan. Bebas dari campur tangan orang lain selain anggota pedukuhan inti. Dia dan ayahnya. lalu siapa yang lancang mengintip ritual mandinya sepagi ini. Dengan sigap disambarnya jarik untuk membungkus tubuhnya. Lalu dalam satu tarikan nafas beberapa lompatan berhasil dia lalui. Cepat, membuat gelagapan orang yang telah lancang mengganggunya.

Lelaki itu terjerembab karena begitu terkejut dengan kedatangan perempuan dengan jarik menutup sebagian tubuhnya yang tiba-tiba. Ilmu kanuragan mumpuni yang dia miliki rupanya tak cukup kuat membuatnya mempertahankan posisi atau sekedar beranjak melarikan diri. Selapis jarik yang sedikit menutupi tubuh perempuan muda yang berdiri tepat di depannya membuat dia kehilangan fokus. Matanya menatap lapar inci demi inci tubuh indah itu. Hasrat lelakinya muncul tanpa bisa ditahan hingga menyesakkan pangkal paha. Karena malu dia menundukkan kepala. Tanpa berani memandang kembali tubuh indah itu. Meski disadari getar-getar dalam hatinya membanjir tanpa diminta.

“Mada, kaukah itu?”.

Mata perempuan itu menyipit memastikan bahwa di depannya memang Patih Amangkubumi Gajah Mada. Seorang lelaki yang telah mengambil alih Bali untuk menjadi bagian dari Majapahit. Perempuan itu tak habis fikir bagaimana mungkin seorang gagah berani yang berhasil mengalahkan Kebo Iwa yang berbadan setengah raksasa berkekuatan jauh di atas manusia normal itu bisa mempermalukan dirinya sendiri dengan mengintipnya mandi.

“Maafkan kebodohanku ini Luh, aku tidak tahu harus bagaimana meredam gejolak hati untuk datang kesini melihatmu”, ucap Gajah Mada sembari mengatupkan tangan di atas kepala. Sembah untuk Luh yang baginya lebih indah dari peremuan-perempuan yang pernah ada.

Gajah Mada sangat sulit menempatkan diri. Di hatinya entah bagaimana tumbuh cinta untuk Luh. Padahal dia telah bersumpah untuk tidak tergoda oleh wanita selama penaklukan atas tanah-tanah Nusantara. Dia sendiri yang mengikrarkan sumpah Palapa di hadapan Rajapatni Gayatri. Menyerahkan dirinya utuh dalam misi menyatukan Nusantara di bawah naungan Wilwatikta3. Namun apalah daya, cinta datang memikat tanpa diundang begitu saja.

Dengan perlahan Gajah Mada beringsut meninggalkan hutan bambu untuk kembali ke tempat seharusnya dia melakukan semedi yang tertunda. Beranjaknya Gajah Mada yang tiba-tiba mengejutkan Luh yang berdiri di depannya. Luh merasa hatinya diremas begitu kuat setelah sekejap lalu merasa berbunga atas perkataan Gajah Mada.

Sejatinya Luh pun memiliki perasaan yang sama. Kepopuleran Gajah Mada menjadi sorotan gadis-gadis seantero Nusantara, bahkan para ibu dan janda pun tak ketinggalan mengharapkan dapat bersanding dengannya. Sejak Gajah Mada datang ke pedukuhan milik sang ayah, Ki Dukuh Gedangan hatinya telah terpasung pada kegagahan dan kebijaksanaan Gajah Mada. Seorang Patih yang meski telah menaklukkan Bali namun tetap santun bersikap pada rakyat. Tidak memiliki sedikitpun kesombongan dalam dirinya. Namun Luh tahu bahwa mungkin saja baginya tidak ada kesempatan untuk itu. Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada membuatnya patah harapan.
***
“Aku tidak bisa menjanjikan apapun nanti, untuk saat ini hatiku sepenuhnya milikmu”. Gajah Mada menggenggam erat jemari Luh saat mereka menghabiskan sisa senja di tepi tukad tempat semedinya beberapa hari berselang sejak Luh memergokinya sedang mengintip.

“Aku tahu, yang penting selama kamu di sini aku sepenuhnya milikmu”. Luh memandang lelaki itu dengan tatapan mesra.

Mereka memutuskan untuk membiarkan perasaan mereka berbicara. Menghabiskan hari-hari berdua di sela-sela ritual semedi Gajah Mada. Menikmati senja di pedukuhan dengan menghabiskan waktu di tepian tukad, atau bersama-sama berlatih kanuragan.

Gajah Mada memutuskan untuk menikahi Luh Ayu Sekarini sebulan setelahnya. Dengan hanya prosesi pernikahan yang sangat sederhana. Luh menggunakan kemben peninggalan ibunya dengan hiasan kepala yang membuat Gajah Mada menelan liur memandang kecantikan yang memesona.
***
“Ada apa Luh, kamu sakit?”. Gajah Mada memijit pelan tengkuk Luh yang sedari pagi memuntahkan apa saja yang baru ditelan. Wajahnya pucat pasi. Perlahan Gajah Mada meminumkan air hangat untuk mengusir mual. Lalu membopong Luh ke kamar.

Dengan berlari Gajah Mada menemui Ki Dukuh Gedangan dan memberitahukan tentang kondisi Luh. Ki Dukuh Gedangan lantas beranjak ke kamar Luh dengan membawa seorang tabib perempuan.

Tabib itu keluar dari kamar dengan senyum mengembang. “Selamat, kamu akan menjadi seorang ayah”. Ditepuknya pundak Gajah Mada pelan.

Mendengar itu Gajah Mada langsung bersujud syukur pada Sang Hyang Widhi atas segala karunianya. Lalu beranjak menemui Luh dan memeluknya. Kebahagiaan mereka lengkap sudah.
***
“Mada”, Ki Dukuh Gedangan memanggil Gajah Mada suatu malam.

Tiang4 Paman, ada yang bisa tiang bantu?”. Gajah Mada menghaturkan sembah.

“Telik sandiku menemukan orang mencurigakan sedang mengendap-endap di pedukuhanku tadi malam. Dia membawa gulungan rontal5 dari Majapahit. Ini untukmu. Bacalah!”, Ki Dukuh berpaling setelah menyerahkan gulungan itu.

Gajah Mada segera membuka gulungan lontar, dan seketika wajahnya gusar. Berjalan mondar mandir sambil memegang dagu. Bimbang dengan berita yang tertulis dalam lontar dan bagaimana harus bersikap. Rontal itu memberikan perintah untuk kembali ke Majapahit segera. Rajapatni Gayatri sendiri yang menuliskannya.

Sumpah untuk menyatukan Nusantara menuntutnya kembali, namun dia tidak ingin lagi kehilangan orang yang sangat dicintai. Sekali sudah cukup menyakitkan, karena kebodohannya Dyah Pitaloka harus kehilangan nyawa. Haruskah kali ini dia pun akan kehilangan Luh. Apalagi saat ini dia sedang berbadan dua, yang adalah anaknya.
***
Luh mendengar datangnya rontal dari ayahnya tak lama setelah lontar itu diterima oleh Gajah Mada. Seketika itu pula dia terduduk tanpa daya. Hatinya bimbang, bagaimana harus membawa diri. Sedang dalam tubuhnya sedang berkembang janin dari Gajah Mada, buah hati mereka. Perlahan Ki dukuh Gedangan merengkuh Luh dalam pelukannya. Menularkan kedamaian dalam tiap mantra yang coba dia lantunkan. Menggenapi malam dengan kidung pemuja Sang Hyang Widhi. Menularkan kekuatan untuk bertahan, apapun yang akan terjadi nanti. Ki Dukuh Gedangan sangat faham, putrinya bukan gadis sembarang. Sedari kecil sudah dipaksa menjalani hidup dengan berat. Kehilangan ibu dan dipaksa berlatih kanuragan di usia masih sangat belia.

“Om Trayam Bhakam Ya Jamahe Sughamdin Pusthi Wardhanam Uhrwaru Kham Iwa Bhandhanat Mrityor Mukhsya Mamritat6”.

Luh merapal doa pada Sang Hyang Widhi. Memohon keteguhan hati dan terhindar dari kebimbangan untuk tiap keputusan yang akan dibuat. Lontar yang datang dari Majapahit seperti putusan hakim untuknya. Perpisahan itu di depan mata.
***
Tidak ada air mata yang tumpah. Luh sudah berpasrah pada keadaan. Dia sangat mengerti, mencintai Gajah Mada dengan semua keistimewaannya tidak akan semudah mencintai orang lain. Dia cukup tahu diri untuk menepi. Perkataan Rajapatni Gayatri adalah perintah untuk Gajah Mada. Sekuat apapun cinta mereka, Luh tahu saat berpisah sudah tiba. Dia hanya mampu menatap tajam lelaki yang sangat dicintainya itu. Timpuh7 di depannya dengan jemari menggenggam jemarinya. Mengucapkan sebuah permintaan yang membuat Luh bimbang.

“Ikutlah denganku ke Majapahit, biarkan aku melihat anakku lahir dan tumbuh di dekatku”. Gajah Mada masih berusaha membujuk Luh untuk ikut kembali bersamanya. Meski dalam hati dia sangat tahu bahwa tempat Luh adalah di sini.

“Pergilah Mada, raga8 tahu persis apa yang aku inginkan”. Luh meremas kuat jemari Gajah Mada, lalu beranjak meninggalkannya begitu saja.

Gajah Mada sigap berdiri dan menarik Luh dalam pelukan. Lama. Tahu ini mungkin terakhir kalinya mereka bertemu. Luh tidak akan meninggalkan Bali hanya untuk bertemu dengannya. Sebesar apapun cinta yang ada di hati Luh untuknya.

Pelukan itu merenggang saat terdengar kidung mulai didendangkan oleh ratusan burung yang melintas di atas kepala mereka. Perlahan Luh beranjak, pergi tanpa menoleh lagi. Baginya sekali Gajah Mada pergi selamanya mereka tidak akan bertemu lagi. Luh sudah cukup dengan kebersamaan mereka selama empat bulan ini. Cintanya terbalas, itu saja. Tapi dia tahu betul sebesar apapun cinta yang dia miliki tidak akan mampu menahan Gajah Mada pergi. Majapahit adalah jiwanya. Cepat atau lambat perpisahan akan terjadi. Luh mengerti meskipun Gajah Mada mengajaknya pergi bersama, tapi mereka tidak akan lagi sama. Di Majapahit Luh tidak akan menjadi siapa-siapa bagi Gajah Mada. Ambisinya untuk menyatukan wilayah Nusantara dalam genggaman Majapahit adalah yang utama, ditambah sumpah yang diucapkan sudah seperti mantra yang menolak semua hal yang memberatkan langkah Gajah Mada. Luh tahu dengan ikutnya dia ke Majapahit hanya akan memberatkan langkah Gajah Mada. Dia tidak ingin itu terjadi.

Maka disimpannya semua kenangan yang telah terlewat erat-erat dalam hatinya. Nanti bersama dengan buah hati yang masih dalam kandungannya akan dilewatinya hari-hari tanpa Gajah Mada di sisinya. Cukup sudah. Dia akan bahagia dengan segala kenangan, dan seorang bocah yang akan menggantikan peran Gajah Mada untuk menemaninya melewati sisa hari. Setelah ini hati akan dia tutup rapat.
***
Seorang lelaki berjalan dengan gugup melewati purawaktra9. Matanya menyapu bersih bangunan istana yang membentang di depannya, terperangah. Di sampingnya seorang prajurit memperhatikan tingkahnya dengan senyum dikulum.

“Percepat langkahmu anak muda, pekerjaanku masih banyak”.

Lelaki itu bergegas mempercepat langkah. Di genggaman tangannya sebuah rontal dipegang begitu erat, semacam sertifikat jaminan untuk keamanannya datang ke sini.

Mereka tiba di Bale Manguntur10 setelah beberapa saat berjalan. Prajurit itu langsung menghadap pengawal yang menjaga di sana.

“Tunggulah sebentar, dia akan segera tiba, aku harus kembali ke tempat jaga”.

Lelaki itu kemudian asal bersimpuh di sudut. Menyembunyikan diri dari tatapan para pengawal yang terlihat curiga melihatnya.

Seorang lelaki bertubuh gempal keluar dengan langkah panjang-panjang. Menarik paksa sang lelaki dan memeluknya erat. Airmata menetes tanpa disadari di matanya. Rindu itu bergejolak memenuhi dada. Sesak. Tigabelas tahun bukan waktu yang sebentar.

“Anakku, akhirnya kamu datang juga, aku sudah menunggumu sejak lama”. Gajah Mada melepas pelukan dan memandang lelaki itu, anaknya bersama Luh Ayu Sekarini yang saat  ini ada di hadapannya.

“Ayah tahu ini aku?”. Arya Bebed mengusap ingus dari hidungnya. Bahagia.

“Tentu saja, kamu sangat mirip dengan ibumu, bagaimana kabarnya sekarang?”. Gajah Mada menuntun Arya Bebed untuk berjalan bersisian menuju kediamannya di istana. Sepanjang jalan itu perbincangan mengalir begitu saja. Arya Bebed sangat gembira dapat bertemu dengan sang ayah. Dengan begitu janji ibunya sudah paripurna, mengirim sang anak kembali ke Majapahit untuk hidup bersama sang ayah. Itu adalah wujud cinta paling dalam yang bisa ibunya berikan.

___________________________________________________________________________
Tukad1 , Bali, sungai
Sire nike?2, Bali, siapa kamu?
Wilwatikta3, Nama lain Majapahit
Tiang4, Bali, Saya
Rontal5, Jawa Kuno, berasal dari dua kara ron yang berarti daun, merupakan lembaran daun tal yang digunakan sebagai alat mencatat
Om Trayam Bhakam Ya Jamahe Sughamdin Pusthi Wardhanam Uhrwaru Kham Iwa Bhandhanat Mrityor Mukhsya Mamritat6 Sansekerta, Oh Sanghyang Widhi Wasa, Yang Maha Mulia. Kami Memujamu, Hindarkanlah Kami Dari Keraguan Ini. Bebaskanlah Kami Dari Belenggu Dosa, Bagaikan Mentimun Lepas Dari Tangkainya, Sehingga Kami Dapat Bersatu Denganmu.
Timpuh7, Jawa, duduk bersimpuh
Raga8 , Bali, kamu
Purawaktra9, pintu gerbang utama Majapahit
Bale Manguntur10, Balairung Majapahit

Demikian cerpen yang saya tulis. Teman-teman menikmatinya?
Jangan lupa krisannya saya tunggu ya sebagai perbaikan ke depan. Sampai jumpa di cerpen-cerpen saya yang lain.


Jumat, 13 Desember 2019

REVIEW CERPEN ANAK

Tugas pekan 4 kali ini adalah mengulas cerpen anak atau cerpen remaja. Aku memilih untuk mengulas cerpen anak, karena membuat cerpen anak buatku lebih sulit dibanding dengan cerpen remaja. Karena pada cerpen anak bagaimana kita mengolah kata yang mudah dipahami anak dan mengandung pesan tersembunyi di dalamnya agar mudah ditangkap anak sangatlah susah. Baiklah cerpen yang akan aku ulas adalah cerpen karya Fitriani Azizah yang berjudul “Tumpukan Sampah di Masa Depan”. Cerpen ini ditayangkan di website cerpen.com.

Tema yang diusung pada cerpen ini adalah tentang petualangan 3 orang anak yang sedang membuat mesin waktu dan salah satu dari ketiganya tidak sengaja terkirim ke tahun 2090. Namun untungnya saat anak yang terkirim tadi memakai jam tangan canggih di pergelangan tangannya maka dia akan bis akembali ke waktu sebelumnya dalam tempo 30 menit. Di tahun 2090 si anak tersebut menjumpai bumi yang kotor dan banyak sampah. Bertemu dengan dirinya sendiri di masa depan dan diberikan satu permintaan dari dirinya di masa depan untuk dapat memperbaiki bumi agar tidak rusak seperti yang ditampilkan di tahun 2090.

Tokoh pada cerpen ini ada 4. Tiga anak-anak dan 1 orang dewasa. Yang pertama bernama Deni. Deni adalah salah satu pembuat mesin waktu, anak yang pintar dan disiplin. Dia bertanggungjawab pada pembuatan mesin waktu tersebut dan menyuruh kedua temannya untuk menunggu di luar saat dia sedang mengecek kesiapan mesin waktu untuk digunakan. Termasuk anak yang perhatian pada detail karena sempat berpesan pada kedua temannya agar tidak memencet tombol merah selama dia sedang mengutak atik mesin di dalam. Yang kedua adalah Andi, andi adalah anak yang ceroboh dan suka semaunya sendiri. Tidak mengindahkan peringatan Deni dan membuang sampah sembarangan yang menyebabkan mesin waktu bekerja tidak pada waktunya dan menyebabkan Deni terkirim secara tidak sengaja. Yang ketiga adalah Sarah, satu-satunya tokoh perempuan di cerpen ini. Orang dewasa di cerpen ini adalah Deni di masa datang. Merasa sedih dengan keadaan bumi yang kotor dan tidak bisa ditinggali manusia sehingga menyebabkan manusia bertualang mencari tempat tinggal baru di planet lain.

Plot yang digunakan pada cerpen ini adalah plot maju yang diikuti dengan plot mundur saat Deni kembali dari petualangannya di tahun 2090 ke tahun saat ini dan meceritakan pengalamannya serta permintaan Deni di masa depan untuk menjaga kebersihan bumi.

Sudut pandang yang digunakan pada cerpen ini adalah sudut pandang orang ketiga. Jadi Deni dan kawan-kawan diceritakan dalam sudut pandang orang lain. Dalam sudut pandang orang ketiga, kadang kita tidak bisa mengerti tentang pergolakan batin tokoh secara langsung, tapi cukup sering digunakan pada pembuatan cerpen.

Latar yang divisualisasikan pada cerpen ini adalah salah satu ruang di rumah Deni tempat mesin waktu dibuat dan rumah Deni di masa depan yang penuh dengan sampah, tidak ada pepohonan dan air yang sangat kotor.

Penggunaan tata bahasa dalam cerpen ini sudah baik, sesuai dengan target konsumsi baca anak-anak dengan kosa kata yang sangat mudah dimengerti.

Secara umum cerpen ini mengandung pesan agar kita sebagai penghuni bumi bisa bijak bertindak dalam kehidupan sehari-hari dengan menjaga kebersihan. Caranya adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan, memelihara pohon, menjaga kebersihan air dan yang paling penting adalah tidak menggunakan bahan-bahan yang tidak pro pada alam dan dapat merusak alam, agar bumi tetap terjaga dan kita sebagai manusia bisa tinggal di dalamnya dengan aman dan terjamin.

Itulah ulasan cerpen untuk tugas pekan 4 kelas lanjutan fiksi ODOP Batch 7. Semoga tugas-tugas selanjutnya bisa terlaksana dengan baik.

Senin, 09 Desember 2019

REVIEW HISTORICAL FICTION


MAHAPRALAYA BUBAT
Oleh: Heru Sang Amurwabhumi

Untuk tugas pekan 3 kelas lanjutan fiksi ODOP Batch 7 ini kami diberi kebebasan untuk me-review salah satu cerpen dengan tema historical fiction. Cerpen yang aku pilih untuk di review adalah milik kak Heru Sang Amurwabhumi yang terkenal dengan cerpen-cerpennya yang bertema Sejarah. Mahapralaya Bubat yang sempat dibawa oleh kak Heru ke Ubud Writer and ReadersFestival lah yang akhirnya aku pilih untuk diulas.

Tema yang diangkat pada cerpen ini adalah tentang cerita cinta antara Gajah Mada sebagai patih Majapahit dengan Pitaloka gadis dari Sunda. Dimana cinta Gajah Mada harus kandas ketika Raja Hayam Wuruk ternyata menaruh hati pada Pitaloka dan meminangnya. Gajah Mada yang merasa bingung memilih antara cintanya pada Pitaloka dan janjinya yang akan setia pada Majapahit dan Raja Hayam Wuruk. Dilema itu akan membawanya pada peperangan yang terjadi di tanah Bubat. Aku rasa cerpen ini ditulis oleh kak Heru dilatar belakangi oleh mitos yang beredar bahwa orang Sunda dilarang untuk menikah dengan orang Jawa dan dikembangan dengan sangat manis melalui sentuhan sejarah Majapahit.

Alur yang digunakan pada cerpen ini adalah alur maju yang memudahkan pembaca untuk mengikuti cerita dengan baik. Disajikan secara ciamik oleh kak Heru dengan beberapa dialog yang mengandung kosa kata Jawa dan beberapa sisipan sejarah yang memang terjadi. Mengambil sudut pandang orang pertama, yaitu aku (Patih Gajah Mada) yang mengalami pergolakan batin akibat cintanya pada Pitaloka yang terhalang oleh keinginan Raja Hayam Wuruk. Sudut pandang orang pertama dalam sebuah cerpen membuat pembaca seakan-akan melakoni sendiri cerita yang dipaparkan.

Ada beberapa tokoh yang diceritakan pada cerpen kali ini. Namun aku hanya akan memaparkan beberapa tokoh utama. Yang pertama adalah Gajah Mada, seorang patih kerajaan Majapahit yang akhirnya jatuh cinta pada putri Sunda bernama Pitaloka setelah pertemuan mereka beberapa hari berselang. Seorang yang tegas dan berwibawa. Berjanji akan menjaga Majapahit dan Raja Hayam Wuruk dengan nyawanya. Yang kedua ada Pitaloka, yaitu putri dari kerajaan Galuh yang mempesona. Memiliki wajah ayu memikat dengan tingkat kesopanan setara ratu. Karena sifatnya yang anggun bisa menggaet Gajah Mada dengan daya pikatnya. Yang ketiga Raja Hayam Wuruk, merupakan raja Majapahit yang berkharisma dan sangat kuat. Memiliki jajaran pengawal dan anak buah yang setia padanya. Menyukai Pitaloka pada pandangan pertama saat melihat lukisan Pitaloka yang dibuat oleh Sungging Prabangkara untuk Gajah Mada.

Latar yang digunakan pada cerpen ini adalah sekitar tahun 1270an Saka di kerajaan Majapahit. Mengangkat kepopuleran Majapahit sebagai kerajaan besar di Indonesia dengan beberapa peristiwa yang melingkupinya. Salah satu yang diangkat adalah terjadinya peperangan Bubat yang menewaskan Baginda Raja Lingga Buana dan anaknya Pitaloka yang merupakan penguasa kerajaan Galuh di Sunda. Bagi sebagian besar orang membaca cerita dengan latar sejarah yang kental mungkin terasa memberatkan, tapi kak Heru berhasil membuatnya begitu mudah dinikmati oleh banyak pembaca.

Penggunaan bahasa pada cerpen ini tidak perlu lagi dibahas, bisa masuk ke ajang bergengsi sekelas Ubud Writers and Readers Festival sudah pasti masalah bahasa sudah tidak ada. Kekuatan cerpen ini terletak pada banyaknya penggunaan kosakata berbahasa Jawa pada dialog yang dilakukan. Meski bukan orang Jawa namun untuk bisa mengerti tentang cerita ini sangat mudah, karena setiap kosakata asing dilengkapi dengan terjemahannya.

Nilai yang bisa diambil dari cerpen ini adalah harusnya kita bisa jujur terhadap apapun perasaan kita. Jangan menutup-nutupi hanya karena hormat kita pada seseorang karena nantinya akan ada sesal di belakang yang membuat kita justru mungkin memiliki penilaian lain untuk orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Secara umum aku sangat menikmati membaca karya-karya kak Heru. Cerpen-cerpennya anti mainstream dan menambah khazanah pengetahuan akan sejarah dan kebudayaan. Terima kasih kak Heru. Semoga lain kali aku bisa menuliskan cerita-cerita yang berkualitas seperti Njenengan.