Kamis, 31 Oktober 2019

BIOGRAFI

Tugas pekan terakhir kali ini sungguh membuatku sedikit pening. Seminggu terakhir ditantang untuk posting tugas berupa cerbung 5 episode dan satu biografi dari teman atau PJ. Asli ini menantang banget, aku belum pernah bikin cerbung, pun juga dengan biografi. Tapi harus dikerjakan.


Seseorang yang akan aku bikin biografinya di sini ini adalah salah seorang PJ di grup ADELAIDE. Dia adalah mbak Isnania. Mbak Nia ini sehari-hari bekerja sebagai staf administrasi keuangan di RSUD Mandau. Lahir di Palembang, tepatnya pada tanggal 10 September. Beliau merupakan anak ke dua dari enam bersaudara. Saat ini bertempat tinggal di kelurahan Air Jamban Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis Duri, Riau.

Menghabiskan masa pendidikan dasar di Mandau hingga jenjang SMA, mbak Nia memilih untuk berkuliah di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau mengambil jurusan Perbankan Syariah dan tamat di tahun 2011.

Mendedikasikan sebagian besar waktu luang untuk membaca dan menulis yang kata beliau adalah sebuah kebutuhan, mengantarkan mbak Nia menelurkan beberapa karya yang dimuat di media cetak. Beberapa karya dari mbak Nia yang juga hobi fotografi ini antara lain:


1.       Antologi motivasi (The Dreams Diary III , 2018)
2.       Antologi cerpen (Untukmu Aku Akan Bertahan, 2018)
3.       Tiga cerpen di Xpresi / Zetizen Riau Pos (Januari 2014, April 2014, dan Mei 2016)
4.       Satu cerpen di majalah Hadila Solo (Mei 2019)

Saat ini disela kesibukannya bekerja, membaca, menulis, dan fotografi, mbak Nia didapuk sebagai salah satu PJ ODOP Batch 7. Mottonya adalah “karena-Nya dan Untuk-Nya aku hidup”, berasa keren banget di telinga.

Pengalaman mendebarkan dan berkesan bagi beliau adalah saat memutuskan pertama kali mengirim karya cerpen ke media cetak dan kemudian tanpa di duga terbit di cetakan bulan berikutnya.

Untuk bisa bersua dengan beliau silahkan mengunjungi beberapa media sosial miliknya. @isnania_nurhidayatunnisa dan www.nurhidayatunnisa.com.

Rabu, 30 Oktober 2019

PART 2

Aku berjalan mondar-mandir di dalam rumah, bingung harus memulai berbicara dengan Etta. Aku sudah kelas 3 SMK sekarang, sudah masuk semester genap dan mulai disibukkan dengan ujian-ujian yang beruntun. Jadwalku membantu ayah tetap terlaksana, hanya saja waktu untuk membuat berbagai macam kerajinan untuk menambah tabungan otomatis sangat berkurang karena banyaknya bimbel dan waktu ekstra yang kutambahkan untuk belajar. Sudah saatnya aku bilang pada ayah tentang rencanaku melanjutkan kuliah.

Aku sudah jauh hari mencari informasi tentang jurusan yang ingin aku ambil saat kuliah nanti. Memilih universitas yang memiliki kualitas yang baik untu jurusan itu sampai berapa biaya kuliah disana. Targetku kuliah hanya 3,5 tahun. Kupercepat untuk menghemat biaya. Aku memutuskan untuk mengambil jurusan ilmu komunikasi untuk mendukung keinginanku menjelajah dunia. Targetku bisa masuk jajaran pegawai elit kedutaan besar di berbagai negara. Untuk alasan itu aku banyak berlatih macam-macam bahasa dari buku yang kupinjam dari perpustakaan ataupun lewat media sosial.

Ayah kulihat sedang sibuk menyiapkan makanan untuk kami bertiga. Ikan masih dalam penggorengan dan sebuah panci menggelegak berisi rebusan kangkung yang akan dibuat sayur asem. Ayah sedang mengupas bawang, mungkin untuk dibuat sambal. Perlahan kudekati ayah.

“Ada yang bisa Ippang bantu, Etta?”, aku mengambil tempat di sebelah ayah, membalik ikan yang ada di wajan.

“Ya sudah kamu goreng saja ikan-ikan itu. Adikmu sudah tidur?”, ayah kembali meneruskan membuat sambal yang nanti akan digoreng selepas menggoreng ikan.

Aku mengangguk, lalu terdiam. Kembali ragu dengan apa yang mau aku bicarakan pada ayah. Aku lantas menyibukkan diri menggoreng ikan dan sesekali mengecek kangkung apakah sudah matang atau belum. Kami sama-sama diam dengan kesibukan masing-masing.

“Ada masalah?”, tepukan ayah di bahu mengejutkanku dan hampir saja membuat ikan yang kugoreng terpental dari wajan.

Etta tahu ada yang mengganjal di pikiranmu, tidak biasanya kamu malam-malam begini membantu Etta di dapur, coba katakan, Etta siap mendengarkan”, Ayah yang selesai mengulek sambal beranjak duduk di salah satu bale bambu yang ada di tepi dapur. Aku mengikuti ayah setelah mengangkat ikan dari penggorengan dan mematikan kompor.

“Ippang berencana mau melanjutkan kuliah selepas SMK nanti, Ippang sudah mencari informasi tentang bagaimana kuliah di universitas dan biayanya, apa Etta mau mengijinkan Ippang pergi?”, kata-kata terlepas dari bibirku, namun aku tak kuasa menatap ayah yang selama ini banting tulang mengasuhku.

Ayah menghela nafas perlahan. Kulihat matanya nanar menatap kejauhan. Beban berat seolah tertimpa begitu saja setelah kata-kata meluncur dari bibirku. Lama tak ada tanggapan dari ayah, akupun tak berani menyela. Kami sama-sama terdiam untuk waktu yang cukup lama.

“Sebenarnya Etta juga sudah memikirkan tentang ini. Etta sangat tahu keinginan belajarmu begitu besar. Pasti nanti ingin melanjutkan pendidikan bukan hanya sampai SMK. Untuk itu Etta juga sudah sedikit menabung untu biaya awal kuliahmu. Hanya saja Etta rasa jumlahnya masih kurang banyak”, ayah memalingkan wajahnya menghadap kepadaku.

Aku terkejut dengan apa yang ayah bilang. Tidak pernah terpikirkan bahwa ayah yang bahkan SD saja tidak lulus sampai memikirkan pendidikanku begitu rupa. Lantas kuberitahukan bahwa aku pun sudah menabung untuk cita-citaku itu. Aku katakan pada ayah bahwa tabunganku sudah cukup untuk membayar dana awal masuk kuliah dan biaya hidup selama satu tahun. Kuberitahukan rencanaku nanti akan melanjutkan membuat kerajinan seperti di sini untuk menutup kebutuhan yang lain sambil mencari pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan.

Ayah tersenyum memandangku. Bilang bahwa dia bangga aku sudah berpayah berusaha menggapai mimpi sampai sejauh itu. Aku memeluk ayahku erat bilang kepadanya bahwa aku memiliki panutan jempolan untuk urusan berjuang. Dia lah panutan itu. Perlahan ayah melepaskan pelukanku, menepuk pelan bahuku.

Pura babbara’ sompekku, pura tangkisi’ golikku, itu salah satu pepatah yang sering Etta dengar dari kakekmu dan Etta ukir di lambung perahu milik Etta. Artinya layarku sudah terkembang, keudiku sudah terpasang. Kamu sudah punya mimpi dan dana untuk mencapai itu. Sekarang tinggal perjuangan untuk bisa masuk ke universitas yang kamu mau. InshaAllah Etta akan mendukung apapun keinginanmu. Berusaha sebaik mungkin agar cita-citamu tercapai”, ayah menepuk pundakku pelan lalu beranjak ke belakang menyiapkan peralatan untuk melaut sebentar lagi.

Aku mendesah lega. Ternyata ayah mendukung keinginanku untuk melanjutkan kuliah, dan menabung untuk menambah dana kuliahku nanti. Kukepalkan tangan menggenggam semangat. Aku berjanji akan berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai mimpiku. Aku berjanji akan merekahkan senyum ayahku karena bangga anak laki-lakinya bisa menjadi seseorang yang bermanfaat.

Selasa, 29 Oktober 2019

PART 1


“PURA BABBARA’ SOMPEKKU, PURA TANGKISI’ GOLIKKU”

Kutatap lagi barisan huruf dari ukiran kayu yang menempel lekat di badan perahu milik ayah yang mulai lapuk dan menguning. Ada rasa yang tak bisa aku definisikan meluber dari degupan jantung. Rindu, hanya itu yang mungkin bisa kunamai untuk perasaan yang campur aduk tak menentu.

Deburan ombak pelan menggoyang perahu. Mengombang-ambingkan dengan gerakan yang membuatku semakin tergugu dalam dudukku. Sengaja aku datang kali ini, pada senja yang mulai pulih. Kilatan jingga menghias langit barat, penuh. Aku memilih senja untuk menemaniku, mendulang kenangan yang sudah lapuk.
***
Semesta masih gelap saat ayah menggoyang-goyang tubuhku. Aku masih teramat sangat mengantuk setelah semalam baru beranjak tidur setelah jam 11 malam karena menyelesaikan tugas membuat kreasi produk kewirausahaan untuk dijual di sekolah besok. Aku memutuskan membuat beberapa kerajinan dari benda-benda yang kudapat dari pantai.

Pang, ayo cepat bangun, Etta sudah siap berangkat. Kau kunci lagi pintunya baru tidur lagi”, ayah semakin kencang menggoyang tubuhku. Khawatir akan terlambat melaut dan tidak mendapatkan ikan.

Etta, Ippang barusan tidur sudah dibangunkan, masih ngantuklah”, aku mengucek mataku dan dengan gontai melangkah ke pintu depan. Ayah sudah berada di luar rumah dengan jaring di atas punggungnya. Kedua tangannya penuh dengan peralatan untuk mencari ikan. Segera kucium punggung tangannya dan kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan tidurku.

Aku sudah terbiasa ditinggal ayah setiap tengah malam untuk melaut. Sesekali aku ikut saat libur. Sekedar membantu meringankan tugas ayah. Ayah melaut seorang diri dengan menggunakan perahu warisan dari kakekku. Ayah memang Bugis sejati. Laut adalah jiwanya, seluruh hidupnya dihabiskan di laut. Sejak masih sangat belia. Ibu sudah lama tiada, sejak melahirkan adikku, Mariam. Maka segala pekerjaan rumah harus bisa kulaksanakan bersama dengan adikku.

Bangun pagi langsung mengisi bak mandi dengan air yang kutimba dari sumur di ujung desa. Lalu membersihkan rumah. Sedangkan Mariam bertugas mencuci dan menghangatkan makanan yang sudah dibuat ayah semalam. Ayah selalu memasak makanan untuk kami di malam hari sebelum berangkat melaut. Sejak ibu meninggal ayah mengurus kami sendirian. Dia bilang perah berjanji akan merawat kami dengan baik, jadi ayah tak pernah alpa menyiapkan makanan untuk sarapan dan makan siang kami, selelah apapun dia.

“Kak ayo sarapan, sudah selesai kan nimba airnya?”, Mariam berteriak dari meja makan, di tangannya ada satu piring ikan goreng. Aku yang baru saja selesai menimba air langsung duduk di meja makan. Lapar. Ada tumis sayur dan sambal sebagai pendamping ikan goreng yang dibawa Mariam tadi. Langsung kuisi piringku penuh-penuh.

“Kata ayah mungkin hari ini nggak pulang, ayah mau melaut sedikit jauh, angin kencang membuat ikan jarang”, Mariam membawa piring kotor untuk dicuci ke belakang.

Kalau ayah tidak pulang berarti tugasku bertambah satu, menyiapkan makanan untuk esok hari. Mariam yang masih SMP belum diberi kepercayaan untuk menyiapkan makanan untuk kami. Jadi nanti sepulang sekolah aku harus mampir ke warung untuk membeli sayur. Untungnya masih ada persediaan ikan di box yang bisa dimasak.

Aku segera berangkat bersama Mariam ke sekolah sambil menenteng kerajinan tangan yang semalam kubuat. Setiap hari kubonceng Mariam dengan satu-satunya sepeda yang kami punya. Lalu melanjutkan perjalanan ke SMK yang ada di kota. Butuh satu jam perjalanan untuk sampai ke sana.
***
Senyum tak lepas dari bibirku saat sampai di rumah. Mariam memandang ke arahku, namun tak kuindahkan. Aku sedang bahagia karena semua kerajinan yang aku buat ludes diborong oleh Pak Ahmad, guru kesenianku. Sedari kecil memang aku sudah sangat suka dengan kerajinan. Dan ayah bilang memang aku berbakat. Sering aku iseng membuat apa saja dari bahan-bahan yang kutemukan di laut saat sedang senggang menunggu ayah datang.

Ada uang 50 ribu di katong hasil penjualan kerajinan tadi. Nanti akan kutabung untuk menggenapi dana untuk kuliahku nanti. Terus terang saja memang aku sangat berambisi untuk bisa melanjutkan sekolah. Cita-citaku untuk bisa melihat dunia tidak akan bisa kuraih jika aku hanya berdiam di desa pesisir pantai ini. Tapi aku tahu ayah tidak akan punya uang untuk menyekolahkanku, jadi sejak SD aku mengumpulkan uang jajan dan uang hasil berjualan kerajinan buah karyaku untuk misi ini. Kurang dua tahun lagi aku lulus, sekarang dana yang terkumpul sudah lumayan menutupi sepertiga biaya kuliah.

Ayah dan Mariam tak pernah tahu tentang simpanan uangku. Sengaja setiap minggu aku langsung setorkan ke Bank tanpa pernah bilang. Aku takut ayah akan sedih jika tahu aku tak pernah menggunakan uang saku untuk jajan di sekolah. Nanti jika saatnya akan kuberitahukan tentang mimpiku itu padanya. Saat ini cukuplah aku bisa membantu meringankan bebannya dengan membantu menjaga rumah dan Mariam saat ayah tak ada. Menikmati pantai dengan ombak yang memukul ringan di belakang rumah.

REVIEW GADIS KUNANG-KUNANG

Kali ini aku mau me review buku antologi cerpen milikku yang baru saja terbit. Buku kumpulan cerpen ini berjudul Gadis kunang-kunang. Berisi 25 cerpen dari 25 penulis yang berbeda. Diambil dari 25 kontributor terbaik dalam event lomba cerpen yang diadakan oleh komunitas Indie Literaru Club di bulan Juli tahun 2019. 25 kontributor lain dibukukan dalam sebuah buku berbeda berjudul Dari kopi aku jatuh hati.




Bercerita tentang cinta, rindu, patah hati, dan move on yang merupakan tema dari lomba menulis, isi dari kumpulan cerpen ini sungguh menarik. Dengan berbagai macam kisah yang unik dan sangat layak untuk dinikmati.

Di bawah ini adalah keterangan lengkap tentang kumpulan cerpen ini:

Judul     : Gadis Kunang-Kunang
Penulis : Laelatun Nasroh, Khusnul Puspa Rahayu, Khairani Arya, Mutiara Irfany Dewi, Rizki
  Amalia Putri, Raihani Meutia, Absullah, Gery Alfikar, Nauroh alya Nurjannati, Gayarti
  Setyana Putri, Widianti, Rizki Fitriyanti Pradani, Tiara Lamtika Cahaya, Iva titin Shovia,
  Sri Wulan, Syifa Rahmati Fadhillah, Sisca Lavenia Tsani, Sinta Fatmah Wati, Carlene
  Suryani Kurniawan, Azzahra Sefta Soleha, Zilla Melisa, Agyun, Marwita Oktaviana,
  Ahmad Fanani Mosah, dan Siska Ambarwati
Penerbit              : Dels Media
ISBN      : 978-623-91119-3-9
Cetakan               : Pertama, Oktober 2019
Halaman             : 140
Ukuran buku     : 14 x 21 cm

Cover buku ini berupa soft cover dengan latar biru bergambarkanseorang gadis yang sedang melepas kunang-kunang. Dibuat sangat minimalis namun elegan. Ukuran buku juga dibuat agar mudah dipegang.

Membaca satu persatu kisah dalam buku ini membuat kita berpetualang menikmati kisah rindu, jatuh cinta, dan patah hati dengan aisk. Mengalir begitu saja. Diksi yang dipakai juga mudah dipahami dan tidak terlalu rumit. Buku ini dibuat untuk dapat dibaca oleh kalangan remaja hingga tua.

Sebuah kisah dalam cerita pendek adalah penggalan kehidupan yang dirahasiakan dan hanya bisa dinikmati utuh oleh penulisnya. Sang pembaca hanyalah korban yang harus mereka-reka sendiri tentang apa yang hendak disampaikan sang penulis.

--Penerbit Dells Media--

Selamat membaca,--

Senin, 28 Oktober 2019

MENIKMATI POHON "DEDALU PERKASA" ASLI LAMONGAN



Weekend kemarin alhamdulillah ada waktu untuk sedikit jalan-jalan. Mumpung semua pas liburnya bareng. Memang rencananya hanya akan pergi ke tempat wisata yang dekat-dekat saja agar tidak terlalu capek di jalan. Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi salah satu wisata nature heritage di Desa Sendangharjo. Rencananya mau sambil silaturahmi ke rumah teman, tapi gagal karena beliau sedang tidak di rumah.

Jadi tujuan kami kali ini adalah wisata akar langit yang ada di dusun Wide Desa Sendangharjo. Sekitar 20 menit ke arah barat dari wisata WBL. Perjalanan ke wisata akar langit bisa dibilang cukup nyaman. Jalan bagus dan cenderung lancar dengan pemandangan hutan jati dan mahoni di sepanjang jalan serta bentangan pantai di tepi jalan. Tempat wisata ini berlokasi di hutan yang ada di balik desa. Jadi untuk ke arah sana harus melewati jalan desa yang agak sempit. Wisata akar langit ini masuk di Petak 35C KPRH Lembor kawasan Perum Perhutani KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) Tuban.

Yang menjadi primadona di tempat wisata ini adalah adanya pohon Trinil purba dengan ukuran yang cukup besar. Pohon Trinil atau dalam bahasa Latin bernama Bauhinia Glabra masuk dalam famili Caesalpiniaceae ini tumbuh sebagai tanaman liar yang awalnya oleh masyarakat setempat dikategorikan sebagai tanaman pengganggu. Karena akar-akar yang tumbuh melilit pada pohon-pohon disekitarnya akan mengganggu proses fotosintesin tanaman dan menyebabkan tanaman kering dan mati. Oleh masyarakat biasanya akar pohon Trinil ini digunakan sebakai tali untuk mengikat barang. Dahulu pohon Trinil raksasa ini dianggap seram, namun sejak diviralkan oleh Ali Rahman pada tahun 2017 pohon ini menjadi fenomenal.

7

Kalau dilihat pohon Trinil ini hampir mirip dengan pohon Dedalu Perkasa yang ada di film Harry Potter. Bedanya pada pohon Trinil ini adalah berupa jalinan akar-akar yang membelit dengan sesamanya membentuk jaringan dengan sebuah prosa utama. Akar-akar pohon ini membentang hingga menaungi prosa utama dan pepohonan di sekitarnya. Diameter utama pohon sekitar 75 cm dengan bentangan akar hingga puluhan meter. Bentuk pola akar yang unik jika dilihat hampir seperti tubuh ular, pipih dengan ceruk-ceruk kecil di sepanjang akar.



Menyaksikan pohon ini membuat kami merasa dilempar ke ribuan tahun silam. Pemandangan yang mempesona. Tidak sia-sia melakukan perjalanan sampai di akar langit ini. Pemerintahan desa juga sudah melangkapi tempat wisata ini dengan mushola, toilet, cafe-cafe, wifi berbayar, tempat perkemahan dan spot-spot foto keren. Ada beberapa goa yang ada di tempat wisata ini, sebagian sudah bisa dinikmati dan sebagian lagi masih dalam tahap persiapan. Salah satu goa yang sudah bisa dikunjungi adalah goa Bolet yang terletak di atas bukit.


Selain beberapa hal di atas, ada juga spot keren yang bisa kita nikmati di atas bukit. Pemandangan sekitar yang dilihat dari ketinggian sungguh mempesona. Pemerintah desa juga menambahkan beberapa pos pandang dengan bentuk-bentuk yang instagramable untuk mengambil foto.  Selain itu kita bisa mencoba wahana panahan dan berkuda yang disewakan terpisah.


Untuk masuk ke tempat wisata ini cukup merogoh kantong Rp. 5000 untuk tiket masuk, Rp. 2000 untuk parkir motor, dan Rp. 5000 untuk parkir mobil. Suasana pegunungan yang sejuk akan menghilangkan penat setelah beraktivitas selama seminggu. Jajaran pohon mahoni yang rimbun sangat sayang jika dilewatkan. Jadi kalau kalian sedang di area sekitar tempat wisata ini, sudilah mampir. InsyaAllah tidak akan mengecewakan.