Halaman

Senin, 02 Agustus 2021

KETIKA CINTA TERALU EGOIS (Review Cerpen Cinta di Atas Perahu Cadik Karya Seno Gumirah Ajidarma)

Review Cinta di Atas Perahu Cadik

Membaca cerpen-cerpen media menjadi sebuah keasyikan baru bagi saya sejak, kapan ya...mungkin sejak saya bergabung di salah satu komunitas menulis yang memiliki kelas tembus media. Ada salah satu tugas yang mengharuskan kami, para anggota untuk membuat cerpen lalu mengirimkannya ke media. Karena ingin menembus media itu jadi saya riset dengan banyak-banyak membaca cerpen media di lakonhidup.com. Dari aktivitas membaca itu harapannya saya bisa mendapat ide tulisan, mengerti bagaimana karakter cerpen media, bagaimana penulisannya dan sebagainya. Karena saya bukanlah jenius di bidang tulis menulis seperti Faisal Odang, atau Muna Masyari, atau Seno Gumirah Ajidarma yang cerpennya akan saya review disini dimana cerpen-cerpennya sudah banyak menghiasi media.

Sabtu, 31 Juli 2021

DENIAS DAN MENTARI HARAPAN BARU DARI TIMUR MENYAMBUT PON XX

 

Papua mentari harapan baru dari timur

"Apuni inyamukut werek halok yugunat tosu (berbuatlah sesuatu yang terbaik terhadap sesama)"--Pepatah dari Papua

Masih ingat dengan Denias? 

Denias menjadi salah satu pemantik saya mengenal Papua. Dulu saya juga memberikan stereotipe negatif pada Papua. Dalam bayangan saya Papua itu masih terbelakang dan tidak terjamah. Bayangan suku pedalaman dengan fasilitas yang masih seperti zaman batu selalu hadir dalam bayangan saya ketika memikirkan tentang Papua. Tapi Denias muncul membuka tabir yang selama ini melingkupi Papua. MashaAllah saya begitu kagum dengan film ini karena mampu menampilkan dan mengenalkan Papua dengan sangat baik. Bentang alam yang memukau ditampilkan dengan sangat apik dan memantik keinginan masyarakat untuk bisa menapakkan kaki di bumi Cendrawasih tersebut. Termasuk saya, 😁

Selasa, 20 Juli 2021

MENIKMATI AWAN DI LANGIT TORAJA

"Ada' todolo mandiong tangdisurrukki, mandiong tangditengkai (Adat tidak boleh diubah dengan sewenang-wenang, bahkan oleh saman yang ada saat ini)"

Pertama kali saya mengenal Toraja adalah dari "Bunga". Ya Bunga, dia adalah salah satu teman saat saya kuliah di Bali. Namanya benar-benar sangat sesuai dengan orangnya. Awal ketemu saya sampai ternganga saking terpukaunya. MashaAllah kok ada perempuan secantik ini. Dia benar-benar cantik. Kulitnya seputih susu dengan rambut hitam lebat dan matanya, aduh matanya itulah pusat pesonanya. Sayangnya saya tidak mungkin mencintai sesama perempuan :). Tapi seandainya saya laki-laki pastilah saya jatuh hati. Belum pernah saya menjumpai perempuan secantik dia.

Menikmati awan di langit toraja


Ya benar dia berasal dari Toraja. Darinya lah saya mendengar bermacam cerita mengenai kampung halamannya. Dari malam-malam yang kami habiskan sambil mengunyah kacang dan minum kopi. Saya seperti diajak bertualang melalui imajinasi. Dan caranya bercerita memang melambungkan imajinasi saya. Benar-benar piawai. Menurut saya dia sangat pantas mendapat kepercayaan menjadi duta wisata Toraja. Selain cantik dia juga sangat pintar berbicara.

Senin, 12 Juli 2021

Saya Belajar Menjadi Ibu

 "Anak'e guru kok ra iso opo-opo (anaknya guru kok tidak bisa apa-apa?"

Mendengar perkataan seperti itu, baik langsung maupun di belakang saya dari tetangga atau orangtua teman anak saya rasanya setajam silet, menohok dan tentu membuat saya sebagai ibu sedih. Memang anak saya yang pertama belum pintar (saya tidak mau mengatakan dia tidak pintar). Kecepatan belajarnya jauh di bawah teman-temannya yang lain.

Bagaimana menjadi seorang ibu

Waktu akan masuk sekolah dasar, saya sempat agak ragu. Rendra (anak saya) saat itu belum bisa apa-apa. Untuk angka mungkin bisa, tapi abjad hanya beberapa saja yang dia kenal. Dengan kemampuannya itu tentu saja dia belum bisa membaca saat itu. Saya karena tidak ingin terjadi sesuatu pada Rendra saat berlangsungnya pembelajaran (misalnya dibodoh-bodohkan oleh teman atau guru) akhirnya nekat menemuai kepala sekolah. Saya jujur mengatakan pada beliau kondisi anak saya. Apakah masih bisa diterima di sekolah tersebut?

Rabu, 07 Juli 2021

INDONESIA DALAM DEMOKRASI EKONOMI, MAMPU ATAU TIDAK?

 "Demokrasi ekonomi itu ya rakyat bebas menolak diberlakukannya PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) karena negara tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat seperti pangan"

Kata-kata teman tersebut membuat saya termenung cukup lama. Benar juga, istilahnya yen karep ngandangi yo kudu rekoso makani (kalau niat mengurung/mengkandangkan yang harus kuat memberi makan). Istilah demokrasi ekonomi jadi semakin jauh dalam bayangan saya.

Indonesia dalam demokrasi ekonomi

Nah apa pula demokrasi ekonomi itu? apa hubungannya dengan PPKM?. Secara garis besar demokrasi ekonomi bisa diartikan sebagai ekonomi kerakyatan atau kedaulatan ekonomi. Intinya sih kalau menurut saya adalah pemerataan ekonomi dan sistem ekonomi yang terbentuk dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Kalau diperhatikan sampai saat ini Indonesia belum menjadi negara yang berdemokrasi ekonomi.

Rabu, 30 Juni 2021

Berburu 8 Makanan Khas Lamongan Bersama EsaUnggul

Kalau saya bertanya apa sih makanan khas Lamongan? pasti secara langsung akan kalian jawab soto. Iya memang soto adalah salah satu makanan utama khas dari kota di utara pulau Jawa ini. Eits tapi jangan salah ya, makanan utama khas dari Lamongan bukan soto saja lo. Ada banyak ragam kuliner lain yang pasti bikin lidah kalian kepincut dan bakal mau dan mau lagi.
Berburu 8 makanan khas lamongan bersama esaunggul

Makanan khas Lamongan termasuk salah satu sarana kebanggan bagi kota saya ini. Meskipun hanya kuliner tapi ternyata memang cukup menjual bagi para pelancong. Banyak masyarakat yang datang ke Lamongan karena ingin mencicipi makanan khas langsung dari kotanya.

Senin, 28 Juni 2021

Mimpi Menjadi Pendidik Kompeten dengan Asus VivoBook 15 A516

"Dari semua pekerjaan berat, salah satu yang paling sulit adalah menjadi guru yang baik." - Maggie Gallagher.
menjadi pendidik kompeten bukan mimpi lagi

Kalimat di atas sangat cocok ditujukan pada saya. Seseorang yang tidak punya bakat sedikitpun mengajar. Memang saya suka belajar tetapi kegiatan mentransfer ilmu itu memang berat sekali, apalagi di era digital saat ini. Tantangan demi tantangan semakin menghadang, entah akan sanggup atau tidak. Tapi saya tahu saya pasti akan bertahan.