Kamis, 31 Oktober 2019

BIOGRAFI

Tugas pekan terakhir kali ini sungguh membuatku sedikit pening. Seminggu terakhir ditantang untuk posting tugas berupa cerbung 5 episode dan satu biografi dari teman atau PJ. Asli ini menantang banget, aku belum pernah bikin cerbung, pun juga dengan biografi. Tapi harus dikerjakan.


Seseorang yang akan aku bikin biografinya di sini ini adalah salah seorang PJ di grup ADELAIDE. Dia adalah mbak Isnania. Mbak Nia ini sehari-hari bekerja sebagai staf administrasi keuangan di RSUD Mandau. Lahir di Palembang, tepatnya pada tanggal 10 September. Beliau merupakan anak ke dua dari enam bersaudara. Saat ini bertempat tinggal di kelurahan Air Jamban Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis Duri, Riau.

Menghabiskan masa pendidikan dasar di Mandau hingga jenjang SMA, mbak Nia memilih untuk berkuliah di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau mengambil jurusan Perbankan Syariah dan tamat di tahun 2011.

Mendedikasikan sebagian besar waktu luang untuk membaca dan menulis yang kata beliau adalah sebuah kebutuhan, mengantarkan mbak Nia menelurkan beberapa karya yang dimuat di media cetak. Beberapa karya dari mbak Nia yang juga hobi fotografi ini antara lain:


1.       Antologi motivasi (The Dreams Diary III , 2018)
2.       Antologi cerpen (Untukmu Aku Akan Bertahan, 2018)
3.       Tiga cerpen di Xpresi / Zetizen Riau Pos (Januari 2014, April 2014, dan Mei 2016)
4.       Satu cerpen di majalah Hadila Solo (Mei 2019)

Saat ini disela kesibukannya bekerja, membaca, menulis, dan fotografi, mbak Nia didapuk sebagai salah satu PJ ODOP Batch 7. Mottonya adalah “karena-Nya dan Untuk-Nya aku hidup”, berasa keren banget di telinga.

Pengalaman mendebarkan dan berkesan bagi beliau adalah saat memutuskan pertama kali mengirim karya cerpen ke media cetak dan kemudian tanpa di duga terbit di cetakan bulan berikutnya.

Untuk bisa bersua dengan beliau silahkan mengunjungi beberapa media sosial miliknya. @isnania_nurhidayatunnisa dan www.nurhidayatunnisa.com.

Rabu, 30 Oktober 2019

PART 2

Aku berjalan mondar-mandir di dalam rumah, bingung harus memulai berbicara dengan Etta. Aku sudah kelas 3 SMK sekarang, sudah masuk semester genap dan mulai disibukkan dengan ujian-ujian yang beruntun. Jadwalku membantu ayah tetap terlaksana, hanya saja waktu untuk membuat berbagai macam kerajinan untuk menambah tabungan otomatis sangat berkurang karena banyaknya bimbel dan waktu ekstra yang kutambahkan untuk belajar. Sudah saatnya aku bilang pada ayah tentang rencanaku melanjutkan kuliah.

Aku sudah jauh hari mencari informasi tentang jurusan yang ingin aku ambil saat kuliah nanti. Memilih universitas yang memiliki kualitas yang baik untu jurusan itu sampai berapa biaya kuliah disana. Targetku kuliah hanya 3,5 tahun. Kupercepat untuk menghemat biaya. Aku memutuskan untuk mengambil jurusan ilmu komunikasi untuk mendukung keinginanku menjelajah dunia. Targetku bisa masuk jajaran pegawai elit kedutaan besar di berbagai negara. Untuk alasan itu aku banyak berlatih macam-macam bahasa dari buku yang kupinjam dari perpustakaan ataupun lewat media sosial.

Ayah kulihat sedang sibuk menyiapkan makanan untuk kami bertiga. Ikan masih dalam penggorengan dan sebuah panci menggelegak berisi rebusan kangkung yang akan dibuat sayur asem. Ayah sedang mengupas bawang, mungkin untuk dibuat sambal. Perlahan kudekati ayah.

“Ada yang bisa Ippang bantu, Etta?”, aku mengambil tempat di sebelah ayah, membalik ikan yang ada di wajan.

“Ya sudah kamu goreng saja ikan-ikan itu. Adikmu sudah tidur?”, ayah kembali meneruskan membuat sambal yang nanti akan digoreng selepas menggoreng ikan.

Aku mengangguk, lalu terdiam. Kembali ragu dengan apa yang mau aku bicarakan pada ayah. Aku lantas menyibukkan diri menggoreng ikan dan sesekali mengecek kangkung apakah sudah matang atau belum. Kami sama-sama diam dengan kesibukan masing-masing.

“Ada masalah?”, tepukan ayah di bahu mengejutkanku dan hampir saja membuat ikan yang kugoreng terpental dari wajan.

Etta tahu ada yang mengganjal di pikiranmu, tidak biasanya kamu malam-malam begini membantu Etta di dapur, coba katakan, Etta siap mendengarkan”, Ayah yang selesai mengulek sambal beranjak duduk di salah satu bale bambu yang ada di tepi dapur. Aku mengikuti ayah setelah mengangkat ikan dari penggorengan dan mematikan kompor.

“Ippang berencana mau melanjutkan kuliah selepas SMK nanti, Ippang sudah mencari informasi tentang bagaimana kuliah di universitas dan biayanya, apa Etta mau mengijinkan Ippang pergi?”, kata-kata terlepas dari bibirku, namun aku tak kuasa menatap ayah yang selama ini banting tulang mengasuhku.

Ayah menghela nafas perlahan. Kulihat matanya nanar menatap kejauhan. Beban berat seolah tertimpa begitu saja setelah kata-kata meluncur dari bibirku. Lama tak ada tanggapan dari ayah, akupun tak berani menyela. Kami sama-sama terdiam untuk waktu yang cukup lama.

“Sebenarnya Etta juga sudah memikirkan tentang ini. Etta sangat tahu keinginan belajarmu begitu besar. Pasti nanti ingin melanjutkan pendidikan bukan hanya sampai SMK. Untuk itu Etta juga sudah sedikit menabung untu biaya awal kuliahmu. Hanya saja Etta rasa jumlahnya masih kurang banyak”, ayah memalingkan wajahnya menghadap kepadaku.

Aku terkejut dengan apa yang ayah bilang. Tidak pernah terpikirkan bahwa ayah yang bahkan SD saja tidak lulus sampai memikirkan pendidikanku begitu rupa. Lantas kuberitahukan bahwa aku pun sudah menabung untuk cita-citaku itu. Aku katakan pada ayah bahwa tabunganku sudah cukup untuk membayar dana awal masuk kuliah dan biaya hidup selama satu tahun. Kuberitahukan rencanaku nanti akan melanjutkan membuat kerajinan seperti di sini untuk menutup kebutuhan yang lain sambil mencari pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan.

Ayah tersenyum memandangku. Bilang bahwa dia bangga aku sudah berpayah berusaha menggapai mimpi sampai sejauh itu. Aku memeluk ayahku erat bilang kepadanya bahwa aku memiliki panutan jempolan untuk urusan berjuang. Dia lah panutan itu. Perlahan ayah melepaskan pelukanku, menepuk pelan bahuku.

Pura babbara’ sompekku, pura tangkisi’ golikku, itu salah satu pepatah yang sering Etta dengar dari kakekmu dan Etta ukir di lambung perahu milik Etta. Artinya layarku sudah terkembang, keudiku sudah terpasang. Kamu sudah punya mimpi dan dana untuk mencapai itu. Sekarang tinggal perjuangan untuk bisa masuk ke universitas yang kamu mau. InshaAllah Etta akan mendukung apapun keinginanmu. Berusaha sebaik mungkin agar cita-citamu tercapai”, ayah menepuk pundakku pelan lalu beranjak ke belakang menyiapkan peralatan untuk melaut sebentar lagi.

Aku mendesah lega. Ternyata ayah mendukung keinginanku untuk melanjutkan kuliah, dan menabung untuk menambah dana kuliahku nanti. Kukepalkan tangan menggenggam semangat. Aku berjanji akan berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai mimpiku. Aku berjanji akan merekahkan senyum ayahku karena bangga anak laki-lakinya bisa menjadi seseorang yang bermanfaat.

Selasa, 29 Oktober 2019

PART 1


“PURA BABBARA’ SOMPEKKU, PURA TANGKISI’ GOLIKKU”

Kutatap lagi barisan huruf dari ukiran kayu yang menempel lekat di badan perahu milik ayah yang mulai lapuk dan menguning. Ada rasa yang tak bisa aku definisikan meluber dari degupan jantung. Rindu, hanya itu yang mungkin bisa kunamai untuk perasaan yang campur aduk tak menentu.

Deburan ombak pelan menggoyang perahu. Mengombang-ambingkan dengan gerakan yang membuatku semakin tergugu dalam dudukku. Sengaja aku datang kali ini, pada senja yang mulai pulih. Kilatan jingga menghias langit barat, penuh. Aku memilih senja untuk menemaniku, mendulang kenangan yang sudah lapuk.
***
Semesta masih gelap saat ayah menggoyang-goyang tubuhku. Aku masih teramat sangat mengantuk setelah semalam baru beranjak tidur setelah jam 11 malam karena menyelesaikan tugas membuat kreasi produk kewirausahaan untuk dijual di sekolah besok. Aku memutuskan membuat beberapa kerajinan dari benda-benda yang kudapat dari pantai.

Pang, ayo cepat bangun, Etta sudah siap berangkat. Kau kunci lagi pintunya baru tidur lagi”, ayah semakin kencang menggoyang tubuhku. Khawatir akan terlambat melaut dan tidak mendapatkan ikan.

Etta, Ippang barusan tidur sudah dibangunkan, masih ngantuklah”, aku mengucek mataku dan dengan gontai melangkah ke pintu depan. Ayah sudah berada di luar rumah dengan jaring di atas punggungnya. Kedua tangannya penuh dengan peralatan untuk mencari ikan. Segera kucium punggung tangannya dan kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan tidurku.

Aku sudah terbiasa ditinggal ayah setiap tengah malam untuk melaut. Sesekali aku ikut saat libur. Sekedar membantu meringankan tugas ayah. Ayah melaut seorang diri dengan menggunakan perahu warisan dari kakekku. Ayah memang Bugis sejati. Laut adalah jiwanya, seluruh hidupnya dihabiskan di laut. Sejak masih sangat belia. Ibu sudah lama tiada, sejak melahirkan adikku, Mariam. Maka segala pekerjaan rumah harus bisa kulaksanakan bersama dengan adikku.

Bangun pagi langsung mengisi bak mandi dengan air yang kutimba dari sumur di ujung desa. Lalu membersihkan rumah. Sedangkan Mariam bertugas mencuci dan menghangatkan makanan yang sudah dibuat ayah semalam. Ayah selalu memasak makanan untuk kami di malam hari sebelum berangkat melaut. Sejak ibu meninggal ayah mengurus kami sendirian. Dia bilang perah berjanji akan merawat kami dengan baik, jadi ayah tak pernah alpa menyiapkan makanan untuk sarapan dan makan siang kami, selelah apapun dia.

“Kak ayo sarapan, sudah selesai kan nimba airnya?”, Mariam berteriak dari meja makan, di tangannya ada satu piring ikan goreng. Aku yang baru saja selesai menimba air langsung duduk di meja makan. Lapar. Ada tumis sayur dan sambal sebagai pendamping ikan goreng yang dibawa Mariam tadi. Langsung kuisi piringku penuh-penuh.

“Kata ayah mungkin hari ini nggak pulang, ayah mau melaut sedikit jauh, angin kencang membuat ikan jarang”, Mariam membawa piring kotor untuk dicuci ke belakang.

Kalau ayah tidak pulang berarti tugasku bertambah satu, menyiapkan makanan untuk esok hari. Mariam yang masih SMP belum diberi kepercayaan untuk menyiapkan makanan untuk kami. Jadi nanti sepulang sekolah aku harus mampir ke warung untuk membeli sayur. Untungnya masih ada persediaan ikan di box yang bisa dimasak.

Aku segera berangkat bersama Mariam ke sekolah sambil menenteng kerajinan tangan yang semalam kubuat. Setiap hari kubonceng Mariam dengan satu-satunya sepeda yang kami punya. Lalu melanjutkan perjalanan ke SMK yang ada di kota. Butuh satu jam perjalanan untuk sampai ke sana.
***
Senyum tak lepas dari bibirku saat sampai di rumah. Mariam memandang ke arahku, namun tak kuindahkan. Aku sedang bahagia karena semua kerajinan yang aku buat ludes diborong oleh Pak Ahmad, guru kesenianku. Sedari kecil memang aku sudah sangat suka dengan kerajinan. Dan ayah bilang memang aku berbakat. Sering aku iseng membuat apa saja dari bahan-bahan yang kutemukan di laut saat sedang senggang menunggu ayah datang.

Ada uang 50 ribu di katong hasil penjualan kerajinan tadi. Nanti akan kutabung untuk menggenapi dana untuk kuliahku nanti. Terus terang saja memang aku sangat berambisi untuk bisa melanjutkan sekolah. Cita-citaku untuk bisa melihat dunia tidak akan bisa kuraih jika aku hanya berdiam di desa pesisir pantai ini. Tapi aku tahu ayah tidak akan punya uang untuk menyekolahkanku, jadi sejak SD aku mengumpulkan uang jajan dan uang hasil berjualan kerajinan buah karyaku untuk misi ini. Kurang dua tahun lagi aku lulus, sekarang dana yang terkumpul sudah lumayan menutupi sepertiga biaya kuliah.

Ayah dan Mariam tak pernah tahu tentang simpanan uangku. Sengaja setiap minggu aku langsung setorkan ke Bank tanpa pernah bilang. Aku takut ayah akan sedih jika tahu aku tak pernah menggunakan uang saku untuk jajan di sekolah. Nanti jika saatnya akan kuberitahukan tentang mimpiku itu padanya. Saat ini cukuplah aku bisa membantu meringankan bebannya dengan membantu menjaga rumah dan Mariam saat ayah tak ada. Menikmati pantai dengan ombak yang memukul ringan di belakang rumah.

REVIEW GADIS KUNANG-KUNANG

Kali ini aku mau me review buku antologi cerpen milikku yang baru saja terbit. Buku kumpulan cerpen ini berjudul Gadis kunang-kunang. Berisi 25 cerpen dari 25 penulis yang berbeda. Diambil dari 25 kontributor terbaik dalam event lomba cerpen yang diadakan oleh komunitas Indie Literaru Club di bulan Juli tahun 2019. 25 kontributor lain dibukukan dalam sebuah buku berbeda berjudul Dari kopi aku jatuh hati.




Bercerita tentang cinta, rindu, patah hati, dan move on yang merupakan tema dari lomba menulis, isi dari kumpulan cerpen ini sungguh menarik. Dengan berbagai macam kisah yang unik dan sangat layak untuk dinikmati.

Di bawah ini adalah keterangan lengkap tentang kumpulan cerpen ini:

Judul     : Gadis Kunang-Kunang
Penulis : Laelatun Nasroh, Khusnul Puspa Rahayu, Khairani Arya, Mutiara Irfany Dewi, Rizki
  Amalia Putri, Raihani Meutia, Absullah, Gery Alfikar, Nauroh alya Nurjannati, Gayarti
  Setyana Putri, Widianti, Rizki Fitriyanti Pradani, Tiara Lamtika Cahaya, Iva titin Shovia,
  Sri Wulan, Syifa Rahmati Fadhillah, Sisca Lavenia Tsani, Sinta Fatmah Wati, Carlene
  Suryani Kurniawan, Azzahra Sefta Soleha, Zilla Melisa, Agyun, Marwita Oktaviana,
  Ahmad Fanani Mosah, dan Siska Ambarwati
Penerbit              : Dels Media
ISBN      : 978-623-91119-3-9
Cetakan               : Pertama, Oktober 2019
Halaman             : 140
Ukuran buku     : 14 x 21 cm

Cover buku ini berupa soft cover dengan latar biru bergambarkanseorang gadis yang sedang melepas kunang-kunang. Dibuat sangat minimalis namun elegan. Ukuran buku juga dibuat agar mudah dipegang.

Membaca satu persatu kisah dalam buku ini membuat kita berpetualang menikmati kisah rindu, jatuh cinta, dan patah hati dengan aisk. Mengalir begitu saja. Diksi yang dipakai juga mudah dipahami dan tidak terlalu rumit. Buku ini dibuat untuk dapat dibaca oleh kalangan remaja hingga tua.

Sebuah kisah dalam cerita pendek adalah penggalan kehidupan yang dirahasiakan dan hanya bisa dinikmati utuh oleh penulisnya. Sang pembaca hanyalah korban yang harus mereka-reka sendiri tentang apa yang hendak disampaikan sang penulis.

--Penerbit Dells Media--

Selamat membaca,--

Senin, 28 Oktober 2019

MENIKMATI POHON "DEDALU PERKASA" ASLI LAMONGAN



Weekend kemarin alhamdulillah ada waktu untuk sedikit jalan-jalan. Mumpung semua pas liburnya bareng. Memang rencananya hanya akan pergi ke tempat wisata yang dekat-dekat saja agar tidak terlalu capek di jalan. Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi salah satu wisata nature heritage di Desa Sendangharjo. Rencananya mau sambil silaturahmi ke rumah teman, tapi gagal karena beliau sedang tidak di rumah.

Jadi tujuan kami kali ini adalah wisata akar langit yang ada di dusun Wide Desa Sendangharjo. Sekitar 20 menit ke arah barat dari wisata WBL. Perjalanan ke wisata akar langit bisa dibilang cukup nyaman. Jalan bagus dan cenderung lancar dengan pemandangan hutan jati dan mahoni di sepanjang jalan serta bentangan pantai di tepi jalan. Tempat wisata ini berlokasi di hutan yang ada di balik desa. Jadi untuk ke arah sana harus melewati jalan desa yang agak sempit. Wisata akar langit ini masuk di Petak 35C KPRH Lembor kawasan Perum Perhutani KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) Tuban.

Yang menjadi primadona di tempat wisata ini adalah adanya pohon Trinil purba dengan ukuran yang cukup besar. Pohon Trinil atau dalam bahasa Latin bernama Bauhinia Glabra masuk dalam famili Caesalpiniaceae ini tumbuh sebagai tanaman liar yang awalnya oleh masyarakat setempat dikategorikan sebagai tanaman pengganggu. Karena akar-akar yang tumbuh melilit pada pohon-pohon disekitarnya akan mengganggu proses fotosintesin tanaman dan menyebabkan tanaman kering dan mati. Oleh masyarakat biasanya akar pohon Trinil ini digunakan sebakai tali untuk mengikat barang. Dahulu pohon Trinil raksasa ini dianggap seram, namun sejak diviralkan oleh Ali Rahman pada tahun 2017 pohon ini menjadi fenomenal.

7

Kalau dilihat pohon Trinil ini hampir mirip dengan pohon Dedalu Perkasa yang ada di film Harry Potter. Bedanya pada pohon Trinil ini adalah berupa jalinan akar-akar yang membelit dengan sesamanya membentuk jaringan dengan sebuah prosa utama. Akar-akar pohon ini membentang hingga menaungi prosa utama dan pepohonan di sekitarnya. Diameter utama pohon sekitar 75 cm dengan bentangan akar hingga puluhan meter. Bentuk pola akar yang unik jika dilihat hampir seperti tubuh ular, pipih dengan ceruk-ceruk kecil di sepanjang akar.



Menyaksikan pohon ini membuat kami merasa dilempar ke ribuan tahun silam. Pemandangan yang mempesona. Tidak sia-sia melakukan perjalanan sampai di akar langit ini. Pemerintahan desa juga sudah melangkapi tempat wisata ini dengan mushola, toilet, cafe-cafe, wifi berbayar, tempat perkemahan dan spot-spot foto keren. Ada beberapa goa yang ada di tempat wisata ini, sebagian sudah bisa dinikmati dan sebagian lagi masih dalam tahap persiapan. Salah satu goa yang sudah bisa dikunjungi adalah goa Bolet yang terletak di atas bukit.


Selain beberapa hal di atas, ada juga spot keren yang bisa kita nikmati di atas bukit. Pemandangan sekitar yang dilihat dari ketinggian sungguh mempesona. Pemerintah desa juga menambahkan beberapa pos pandang dengan bentuk-bentuk yang instagramable untuk mengambil foto.  Selain itu kita bisa mencoba wahana panahan dan berkuda yang disewakan terpisah.


Untuk masuk ke tempat wisata ini cukup merogoh kantong Rp. 5000 untuk tiket masuk, Rp. 2000 untuk parkir motor, dan Rp. 5000 untuk parkir mobil. Suasana pegunungan yang sejuk akan menghilangkan penat setelah beraktivitas selama seminggu. Jajaran pohon mahoni yang rimbun sangat sayang jika dilewatkan. Jadi kalau kalian sedang di area sekitar tempat wisata ini, sudilah mampir. InsyaAllah tidak akan mengecewakan.

Minggu, 27 Oktober 2019

EKSOTISME PANTAI PASIR PUTIH SITUBONDO



Beberapa waktu lalu saat ada sedikit waktu untuk berlibur, kami memutuskan untuk pergi mengunjungi saudara yang tinggal di Situbondo. Dengan dalih ingin menikmati perjalanan, kami memutuskan untuk menggunakan motor menuju ke sana. Jarak tempuh dari Lamongan-Situbondo sekitar 267 km kami tempuh dalam waktu 6 jam. Memang dengan menggunakan motor perjalanan relatif lancar tanpa hambatan.

Pemandangan jalan dari Probolinggo cukup membuat mata menjadi cerah. Sepanjang jalan disuguhi dengan bentangan laut biru yang jernih dengan tanaman bakau di pinggir pantainya. Dilengkapi dengan jajaran tebing yang membatasi jalan di sisi seberangnya. Sejuk dan segar dengan angin yang semilir membuat perjalanan terasa menyenangkan.

Sepulangnya dari rumah saudara kami mampir sejenak di salah satu pantai yang terkenal di Situbondo. Selain karena tergiur dengan pasir putih yang indah, letaknya yang berada di tepi jalan utama memudahkan kami untuk mencapai pantai tersebut. Ya, kami mampir di Pantai Pasir Putih Situbondo. Pantai ini terletak di dusun Kembangsambi desa Pasir Putih Kecamatan Bungatan Situbondo.

Kami sampai disana masih sangat pagi. Suasana masih remang-remang dan air laut masih dalam kondisi surut sehingga bentangan pantai menjadi lebih luas. Belum ada pengunjung yang datang. Maklumlah masih pagi. Tapi warung-warung yang ada di sekitar pantai sudah buka karena mayoritas adalah warung yang buka 24 jam nonstop. Bahkan kami sudah diminta bayar tiket dan parkir. Meski sepagi itu. Tiket masuknya relatif murah, yaitu Rp. 6000 dan Rp. 3000 untuk parkir motor.



Pantai pasir putih ini sangat terkenal di Jawa Timur. Bentangan pantai dengan pasir putih yang indah, aneka macam koral dan ikan-ikan kecil yang tersebar diantara terumbu karang, serta barisan perahu layar menambah pesona pantai tersebut. Saat musim liburan tiba, selalu dipastikan pantai ini akan penuh pengunjung. Banyak ragam kegiatan yang bisa dilakukan disini. Karena air laut relatif tenang, maka kegiatan seperti berenang, main kano, naik perahu layar, snorkeling atau sekedar bermain pasir di pantai jadi nyaman dilakukan.



Saat musim liburan di pantai ini juga sering diadakan berbagai macam event untuk menarik pengunjung datang. Seperti konser musik, lomba perahu, memancing, dll.

Selain itu fasilitas yang disediakan di pantai ini relatif lengkap. Jajaran hotel dari tarif murah sampai mahal ada di sini. Pengunjung tinggal memilih sesuai budget yang dimiliki. Warung-warung yang menjual berbagai macam makanan dan minuman juga banyak berdiri di area pantai. Musholla dan toilet banyak tersedia. Juga terdapat pusat oleh-oleh khas Situbondo di sana. Pengunjung tidak perlu repot saat sudah berada di lokasi, karena semua sudah tersedia. Saat lelah pengunjung bisa bersantai di bangku-bangku yang disediakan atau naik ke dermaga untuk berswa foto bersama teman-teman atau keluarga.

Yang membuat kami takjub adalah kombinasi pantai dan tebing hijau di seberang. Sungguh cantik dan mempesona. Kombinasi seperti itu sangat jarang kami dapatkan, jadi momen berada di pantai pasir putih ini kami manfaatkan sebaik-baiknya.



Kami memutuskan pulang saat matahari sudah beranjak ke titik kulminasinya. Perjalanan ke Lamongan masih 6 jam lagi. Dan kami tidak ingin terlalu malam sampai di rumah karena esoknya sudah harus kembali pada rutinitas biasa.

Bagi teman-teman yang sedang melakukan perjalanan di pantura, bolehlah mampir sejenak di sana. Sekedar rehat dan menikmati pemandangan indah yang sudah diciptakan oleh Sang Maha Kuasa.

Sabtu, 26 Oktober 2019

MENJEJAK PERCAYA


Kemarau menyisakan candu, pada hujan yang lama dirindu
Kelopak-kelopak mati suri, menanti rinai yang datang membumi
Di sudut hati terapal sesal yang kian membuntal
Tercetak sendu dari keinginan untuk bertemu
Tunggu aku, kekasihku
Akan kusucikan khianat yang pernah tertancap
Tunggu di batas kemarau yang mengeringkan sedan
Kita bertemu  saat gerimis fajar  dengan bunga-bunga yang tergelar

***
Kepel tangkas meloncat dari satu dahan ke dahan lain. Sesekali berhenti mengambil nafas lalu kembali meloncat. Kemampuan berburu yang dia miliki sangat membantu dalam kondisi seperti ini. Setelah lama tak pernah dilakukan, kali ini kembali dipakainya baju berburu buatan ayahnya. Kemben dan jarit dia tinggalkan, tak cocok untuk keperluannya.  Busur dan panah terikat di punggung, matanya awas, mengamati setiap jengkal.

Misinya kali ini sedikit berbahaya. Demi keselamatan hutan dan suami, dia terpaksa harus menumpas sendiri Toktok Kerot, raksasa perempuan yang berniat mengambil alih hutan. Sudah tugasnya untuk menjaga warisan dari ayah dan ibu yang sangat dia sayangi. Adanya Toktok Kerot di sana akan membahayakan seisi hutan dan tempat pesarehan ayah dan ibunya yang suci.

Tugas pertamanya untuk menjauhkan Panji, sang suami sudah dia lakukan. Meski dengan cara yang tidak dia inginkan. Yang terpenting saat ini Panji tidak berada di sini dan jauh dari jangkauan Toktok Kerot.
***
Setelah beberapa jam menyisir hutan, Kepel akhirnya menemukan persembunyian Toktok Kerot di sebuah lembah tak jauh dari air terjun sebelah selatan. Perlahan didekatinya raksasa itu. Busur siap di tangan.

“Wahai anak kecil, untuk apa kau kesini?”, Kepel hampir saja terpeleset karena kaget dengan suara Toktok Kerot yang menggelegar. Perlahan Kepel meloncat turun dari atas dahan pohon tempatnya berpijak.

Ngapunten Nyai saya sudah mengganggu istirahat Nyai”, Kepel perlahan mengatupkan tangan di depan dada sebagai salam. Bertindak sangat hati-hati namun tetap awas akan apa yang akan terjadi. Di tangan kirinya busur tergenggam siap untuk digunakan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Dengan santun Kepel mendekat ke arah Toktok Kerot. Berusaha membicarakan apa yang diinginkan oleh raksasa itu. Mencoba memberi solusi bagaimana agar keseimbangan hutan tidak terganggu. Namun Toktok Kerot menolak dan langsung menyerang Kepel dengan ganas. Sigap Kepel meloncat beberapa meter ke belakang. Bersiap menerima serangan selanjutnya. Sebenarnya mudah saja bagi Kepel untuk menumbangkan Toktok Kerot jika jaraknya agak jauh. Kemampuan memanah Kepel di atas rata-rata. Sekali tembak panah akan menancap tepat diantara kedua mata Toktok Kerot begitu saja. Namun kali ini jarak yang terlalu dekat memaksa Kepel bertarung dengan tangan kosong. Mencoba melindungi diri dan mencari celah untuk bisa menyaru jarak untuk melepaskan tembakan.

Selang beberapa lama, Toktok Kerot yang murka karena serangannya selalu mampu ditangkis dengan mudah oleh Kepel mulai kehabisan tenaga. Badan yang besar menguras tenaganya lebih cepat dari yang dia kira. Saat itulah Kepel langsung meloncat ke atas dahan dan mencari jarak yang tepat untuk membidik Toktok Kerot.

Toktok Kerot yang murka bertambah murka dengan menghilangnya Kepel secara tiba-tiba, tak menyadari sebatang anak panah mengarah tepat ke arahnya dan menembus dada kirinya seketika. Suara berdebum sangat keras terdengar saat Toktok Kerot roboh sambil memegangi dada. Kepel tak beranjak dari tempatnya beberapa saat. Kemudian turun perlahan, mendekat ke arah Toktok Kerot untuk memeriksa kondisinya. Dipegangnya pergelangan tangan sang raksasa untuk memastikan tak ada lagi denyut nadi di sana. Lalu beranjak pergi dengan segera.
***
Kepel memastikan tak ada lagi ancaman untuk hutan tempatnya tinggal. Paringga Nabastala harus bersih dari segala gangguan. Sejenak dia tertegun berdiri di depan pusara ayah dan ibunya. Pamit pada mereka dan juga seluruh isi hutan yang dia sayangi. Sudah waktunya untuk pergi. Menjemput suaminya kembali. Meski dia tahu mungkin tak akan pernah mudah untuk bisa menemukan suami di dunia yang tak pernah dia kenal. Tapi hati dan pikirannya sudah mantap.

Lalu dengan tangkas busur dan panah disampirkan di punggungnya. Satu buntalan berisi pakaian dan persediaan makanan juga diletakkan di tangan kanannya. Kepel siap pergi. Dengan gesit Kepel meloncati dahan-dahan pohon. Melampaui jarak dengan kecepatan angin, hasil dari latihan-latihan yang dilakukan bersama ayahnya dulu.

Sesaat sebelum tiba di batas hutan. Langkahnya terhenti saat melihat kidang angin melaju dengan anggun ke arahnya. Menunduk memberikan ucapan selamat tinggal pada tuannya. Kepel membelai pelan jalinan tanduk rumit di atas kepala kidang angin. Memberikan perintah untuk tetap tinggal dan menjaga hutan, menggantikan tugasnya selama pergi. Kidang angin mengangguk dan bersimpuh di depan Kepel. Menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Kepel memandang sekilas. Lalu kembali dengan gesit berlari menuju batas hutan. Bersiap menjelajah dunia luar.
***
Sekejap Kepel dikejutkan dengan pandangan matanya yang menangkap serumpun anggrek hitam berputik emas di salah satu pohon jati yang dia lalui. Heran, bagaimana bisa tanaman endemik Paringga Nabastala bisa ada di sana. Sepengetahuan Kepel bunga ini tidak akan ditemui di tempat lain selain di Paringga Nabastala. Demikian yang diberitahukan oleh ayahnya saat masih hidup. Karena anggrek hitam itu adalah bunga langit yang dikirim Mahadewa sebagai hadiah untuk ibu Kepel.

Disentuhnya perlahan bunga itu. Memetik sebuah dan diselipkan pada ikatan rambut. Mengenang janjinya dengan Panji, sang suami saat mereka menikah dulu. Lalu dilanjutkannya perjalanan.

Kepel sempat bingung akan kemana arah yang diambil. Dia benar-benar buta dengan dunia luar dan tak tahu menahu tentang jati diri Panji. Sampai dilihatnya kembali serumpun anggrek hitam itu di salah satu pohon. Dia yakin itu adalah tanda yang ditinggalkan oleh Panji untuknya. Kembali bersemangat, Kepel mulai memacu langkah menemukan kembali anggrek hitam di sepanjang perjalanan.
***
Entah sudah berapa hari berlalu. Kepel masih belum menemukan apa yang dia cari. Sudah beberapa desa dia lalui. Persediaan makanan yang dibawa sudah hampir habis. Meski Kepel tak memusingkan masalah makanan, tapi berkelana seorang diri tanpa arah yang jelas membuatnya semakin gelisah. Setiap orang yang dia temui selalu mengatakan tidak mengenal suaminya.

Kepel berhenti di salah satu lembah setelah dua minggu berjalan. Dicarinya pohon rindang tempatnya beristirahat. Dengan cekatan Kepel memanjat pohon itu dan memilih salah satu dahan untuk tempatnya tidur. Busur dan panah dia letakkan di salah satu ranting beserta dengan buntalan kainnya. Baru saja hendak memejamkan mata, Kepel dikejutkan dengan suara seorang perempuan yang bersenandung. Kepel mengintip dari balik daun-daun. Nampak seorang perempuan tua sedang berjalan menggendong kayu di punggungnya. Merasa aman, Kepel perlahan turun dari atas pohon dan menemui perempuan itu.

Mbok Rondo nama perempuan itu. Dia adalah seorang janda tua yang tinggal tak jauh dari situ. Merasa iba dengan kondisi Kepel, Mbok Rondo mengajak Kepel untuk singgah di rumahnya. Di sana Kepel diberi makan dan minum, lalu beristirahat sejenak di bale bambu di salah satu bilik yang ada di rumah itu.

Malamnya saat Kepel dan Mbok Rondo sedang berbincang, Kepel menceritakan tentang tujuannya berkelana. Bagaimana dia selama berhari-hari mencari dimana suaminya tinggal bukanlah hal yang mudah. Mbok Rondo sangat sedih mendengar cerita Kepel dan bertanya siapa sebenarnya nama suaminya. Kepel memberi tahu Mbok Rondo nama suami dan pengawal yang selalu bersama dengan suaminya. Mbok rondo kaget bukan kepalang.
***
Esoknya Mbok Rondo meminta Kepel untuk ikut bersamanya. Pergi jauh ke selatan desa, melewati beberapa pemukiman penduduk dan sampai di kota besar yang ramai. Mbok Rondo baru berhenti saat memasuki aula keraton yang dijaga para prajurit kerajaan. Kepel bingung kenapa Mbok Rondo membawanya ke tempat ini. Apakah Mbok Rondo harus meminta pertolongan pada pihak kerajaan untuk menemukan dimana suaminya tinggal.

Kepel memilih menyingkir dari aula. Berteduh di bawah pohon beringin yang ada di depan aula. Menanti Mbok Rondo yang sedang serius berbincang dengan salah satu prajurit istana. Tak lama mendekat seorang patih kerajaan. Kepel tahu dari perawakan yang kharismatik, ikut berbincang dengan Mbok Rondo. Lalu mereka mengiring Mbok Rondo ke dalam menuju istana. Kepel ditinggalkan begitu saja.

Tak berapa lama Mbok Rondo keluar dengan dikawal satu prajurit untuk menemui Kepel. Kepel menurut saja saat Mbok Rondo menuntunnya ke dalam istana. Mengira bahwa dia dibutuhkan untuk memperjelas laporan Mbok Rondo tentang suaminya.
***
“Akhirnya kamu datang juga Nimas, aku sudah lama menunggu kedatanganmu”, Panji menatapnya dengan penuh rindu.

Kepel begitu terkejut, di depannya berdiri Panji, suami yang sekian hari dia cari. Begitu terkejutnya hingga Kepel hanya mampu tertegun di tempatnya. Terbelalak tak percaya. Mbok Rondo mendekati Kepel dan menceritakan bahwa Panji bernama asli Panji Seputro adalah Raja dari kerajaan Kediri.

Kepel mendekat dengan sedikit ragu. Apakah Panji mau menerima kembali dirinya setelah apa yang dilakukan untuk membuat Panji pergi dari sisinya. Apalagi dengan status Panji yang adalah raja. Meski rindu membuat Kepel ingin merengkuh suaminya saat itu, namun dia tidak berani untuk melakukannya. Hanya diam di tempat sambil menahan airmata agar tidak jatuh.

Kangmas aku minta maaf sudah lancang menyakitimu saat itu. Bukan maksudku untuk mengusirmu dari Paringga Nabastala, tapi situasi yang mengharuskanku untuk melakukannya. Demi keamananmu”, Kepel seketika mengatupkan tangan menjura.

Dengan sigap Panji memeluk wanita yang lama sekali ingin ditemuinya. Sungguh rindu tak mampu lagi dia bendung saat itu. Merasakan hangat tubuh Kepel dalam pelukannya adalah mimpi yang lama dia tera. Perlahan dibimbingnya Kepel menuju rumah ndalem dan mendudukkannya di salah satu bangku panjang yang ada di sana.

Perlahan Panji menceritakan bahwa kesempatan untuk bisa pergi dari hutan sudah dinantikan sejak lama. Namun Panji tahu bahwa Kepel akan sangat sulit untuk diajak meninggalkan hutan tempatnya dibesarkan. Maka saat Kepel melakukan tindakan yang lancang saat itu, rencana Panji untuk pergi menjadi beralasan. Panji tahu Kepel akan menyusulnya kembali untuk bertemu. Dengan begitu Kepel akan keluar dari hutan atas keinginan sendiri tanpa paksaan.

Panji meninggalkan anggrek hitam berputik emas, bunga kesayangan Kepel di sepanjang jalan. Sebagai jejak untuk Kepel dapat melacaknya dengan gampang. Panji tahu bahwa Kepel adalah wanita cerdas yang akan mampu melihat tanda yang ditinggalkan.

Kepel terbeliak mendengar cerita dari Panji. Bertanya-tanya masih adakah kesempatan untuknya bisa bersama, lagi. Perlahan dilepaskan pelukan suaminya. Dipandangi wajah yang membuatnya jatuh cinta. Perlahan diceritakannya kejadian sebenarnya. Tentang ancaman dari raksasa perempuan yang ingin mengambil alih hutan dan Panji. Toktok Kerot ingin memiliki Panji untuk dirinya sendiri, meski harus menggunakan cara apapun. Maka Kepel memutuskan untuk menemui raksasa itu dan membuatnya bertekuk lutut, kalah. Kepel meminta maaf pada suaminya karena dia tidak jujur tentang keahlian kanuragan yang dia punya. Dia hanya takut Panji tidak akan menyukai perempuan yang bertingkah seperti lelaki.

Panji kaget dengan apa yang dia dengar. Tidak disangka ternyata Kepel yang lembut dan ayu itu adalah seorang yang memiliki kemampuan bela diri tangguh dan sanggup mengalahkan raksasa seorang diri. Takjub. Semakin bertambahlah cinta dalam hatinya.

Nimas, aku minta maaf membuatmu harus keluar dari Paringga Nabastala tempatmu dibesarkan. Aku hanya ingin memberimu kemewahan istana, aku tidak tega melihatmu harus terus berada di hutan tanpa teman dan fasilitas yang baik. Bukannya aku enggan untuk terus berada di sana bersamamu, namun tak pantas rasanya seorang permaisuri kerajaan Kediri harus tinggal di tengah hutan. Rakyat perlu tahu dan mengenal permaisuri secantik dirimu. Seseorang yang pantas mendampingiku”. Panji kembali merengkuh istrinya lebih erat. Dadanya menghangat dengan seketika.

“Terima kasih karena Kangmas masih percaya padaku dan mau menungguku”, Kepel memandang suaminya dengan tatapan penuh haru. Lega, itu yang sejatinya dirasa. Segala yang dia sangkakan ternyata hanya sebatas imajinasi tak berarti. Panji tak pernah berkhianat atas janji yang sudah disepakati.

Karena cinta bukan hanya tentang aksara dan kata, harus ada percaya dan pengorbanan di dalamnya.



Jumat, 25 Oktober 2019

MENYEMAI HARAPAN

Mimpi-mimpi akan hujan di siang-siang kerontang. Menyisakan kenyataan yang patah diam-diam.

Terik enggan menyeberang sedari pagi.  Matahari enggan beranjak dari kulminasi.

Anak-anak hujan menopang harapan. Bocah-bocah melantunkan nyanyian pengundang.

Entah apa gerangan yang terjadi. Kemarau enggan berganti. Daun-daun gugur, sungai-sungai bertafakur.

Entah bagaimana semesta bertingkah. Mendung-mendung enggan buncah. Tanah-tanah pecah, bunga-bunga punah.

Kamis, 24 Oktober 2019

MENGHIANATI INGATAN

Lingkaran-lingkaran kejadian membebat ingatan. Satu-persatu hadir tanpa meminta persetujuan. Senyawa-senyawa pikiran terperas oleh kenangan. Pedih merasakan segala tikaman.

Sungguh tak ingin lagi mengingat. Semua yang terjadi akibat khianat. Menolak kejadian yang singgah dalam putaran. Melalaikan segala dalam pundi-pundi kealpaan.

Bukan mudah untuk melupa. Tubuh hancur oleh kenangan yang dicoba membuangnya. Nyanyian-nyanyian dosa bergaung dalam tidur. Membunuh jiwa yang telah dibius, terpekur.

Sebadan korban nafsu tanpa batasan. Tergeletak pasrah atas semua kejadian. Airmata tak mampu membilaskan kotoran. Suci hilang sudah terbilas angkara sepadan.

Entah bagaimana memulai esok dengan ingatan yang sengaja dilupakan. Membalut hari-hari dengan sesal tak berkesudahan. Si gadis enggan berjudi dengan keadaan. Melintas jarak dari bangunan tinggi tanpa bayangan.

Rabu, 23 Oktober 2019

MERINDU HUJAN

Berpendar ribuan kunang-kunang, mengakumulasi kenangan-kenangan. Berpendar bias-bias kerinduan, mengalunkan debaran. Sejumput memori terlepas dalam diam. Kembali menorehkan kelam.

Gemulai tarian ilalang-ilalang, memanggil bisikan. Gemulai jejak-jejak tapak, mencetak detak. Semusim kemarau mencandu basah. Diantara angin berderap-derap lengah.

Ranting-ranting kosong, mengeraskan kepompong. Daun-daun kering mematikan impian. Pujian-pujian didendangkan dalam kelam. Mengharap hujan datang bertandang.

Sungguh musim melemahkan tatanan. Bunga-bunga kering memupuskan harapan.

Aku yang setengah almanak memohon hujan. Membasah dalam airmata yang berbasuh sedan.

Selasa, 22 Oktober 2019

DI UJUNG KEMARAU

Bahkan daun-daun masih saja terus berguguran. Di ujung kemarau yang terus meninggalkan kenangan. Kelopak-kelopak hujan belum mau merekah. Menunggu tulah kerontang yang menyudah.

Bahkan sungai-sungai menolak mengalir. Di ujung kering yang menolak bergilir. Kelepak-kelepak ikan belum mau menari. Menunggu embun-embun kering kembali terisi.

Di sudut-sudut tebing gersang penuh kering ilalang. Gelas-gelas pelangi menunggu bersemi gemilang. Ketika warna-warna diolah bersenyawa. Tersembunyi dalam tanah merah menyala.

Angin-angin telah mengabarkan datangnya. Uap-uap air yang lama melena mulai bersegera. Putik-putik hujan menyemai kabar. Musim suka cita segera datang membawa segar.

Burung-burung memilih bergerak serentak. Menguar dari bilik-bilik suram menggeletak. Memainkan nyanyian penggugah alam. Bersama bersenyawa menyambut hujan yang mulai melanggam.

Senin, 21 Oktober 2019

GADIS CANDALA

Daun jati kering menguar di depannya. Hutan jati yang tadinya rimbun, kini meranggas gersang panas tak terkira. Kemarau tahun ini memang tergolong lama. Namun terik tak membuatnya ingin untuk beranjak.  

Adalah Jati, sesosok lelaki yang entah bagaimana mengisi hatinya dengan penuh sejak pertemuan pertamanya di hutan jati ini setahun berlalu. Lelaki itulah yang memberinya alasan duduk termenung di antara jajaran pohon jati yang kian meranggas setiap hari selama setengah kalender berjalan.

Gadis itu tetap terjaga, menunggu baginya bukan hal yang membosankan, pun menyedihkan. Sekalipun tak pernah ada pikiran negatif atas perginya Jati dari hidupnya. Dua kata dari Jati cukup membuatnya tenang dengan kenangan indah mereka berdua. Tunggu aku. Hanya itu yang diucapkan Jati padanya. Dan itu saja cukup membuatnya bahagia.

Jati yang mau menerima dirinya apa adanya. Gadis dengan candala yang begitu parah. Yang menghindari manusia seperti menghindari dirinya. Jati yang mampu mengangkat keadaannya hingga kini diri sendiri tak menakutkan baginya. Jati yang membuatnya memiliki pemikiran indah tentang dirinya yang tak lagi sendiri. Jati yang baginya segalanya. Maka dibiarkan saja waktu berlalu seiring musim yang berganti. Gadis itu tetap menunggu tanpa layu. Dimatanya tetap terpancar rona. Renjana bukan penjara baginya, namun asa yang meyakinkannya akan hadirnya kembali Jati disana.

Saat ini cukuplah guguran daun jati dan jajaran pohon gersang yang menemani. Menghirup aroma Jati yang menguar hangat disana adalah pelukan tak nyata yang dibutuhkannya. Hanya itu. Dan indahnya angan mereka akan bersama suatu saat adalah pembakar yang membuatnya mampu melanjutkan apa yang pernah ada antara dia dan Jati yang belum kembali. Sesederhana itu.