Senin, 30 September 2019

QUINT


Nggak terasa sudah mau masuk Dhuhur aja nih. Sepagian muter melulu. Alhamdulillah keinget belum setor tulisan. Enaknya hari ini nulis apa ya?

Okelah aku bahas Quint aja ya...
Nah apa sih yang ada di benak kalian kalau aku bilang Quint?
Langsung terbayang seorang ratu yang cantik, atau aroma kerajaan nan mewah?

Tapi maaf banget nih, Quint di sini bukan Quenn untuk ratu ya. Quint itu salah satu jenis puisi baru. Terdiri dari lima baris per baitnya. Rima tergantung selera penulis sih ya. Tapi lebih bagus kalau rima nya ditata. Biar puisinya makin cantik dan legit dibaca.

Sudah ada yang pernah bikin puisi Quint???

Aku sempat bikin sih tapi entah bagus atau tidak, ini dia:

SENJA DAN KAMU

Senja yang teduh
Bukannya aku mengeluh
Pada ombak yang melabuh
Dan kapal-kapal bersauh
Mengapa tak juga patuh

Malam gemintang
Mungkin aku bimbang
Pada hati yang gamang
Dan resah berbilang
Mengapa tak juga terang

Sebentuk mata menyihir
Cinta perlahan hadir
Senyummu terukir
Membawaku ke titik nadir
Tak pantas kata terukir

Hey kamu
Gadis pencuri hatiku
Coba sebutkan namamu
Biar kurekat di pintu rindu
Kan kutunggu datangmu sebagai tamu

Puisi di atas masuk antologi MOVE OFF lo sobat.

Sekarang silahkan sobat semua mencoba membuat puisi Quint sendiri, kalau sudah boleh kok diposting di komentar. Mari giatkan literasi. Sampai jumpa besok.

Minggu, 29 September 2019

ISENG

Hari Sabtu dan Minggu itu biasanya aku nantikan dengan sungguh. Berharap bisa bersantai mumpung libur. Tapi kenyataan tak seindah harapan. Seringnya libur justru berkutat dengan urusan rumah tangga. Sedari pagi masak, nyuci baju, beberes rumah, setrika dan lain-lain. Ujungnya habis itu badan sudah lelah dan maunya leyeh-leyeh aja.

Tapi asyiknya kalau libur bisa seharian bareng bocil. Meskipun capek karena rumah beralih fungsi jadi kapal pecah, tapi tetep seneng.

Punya dua anak yang berbeda segalanya menjadikan hari-hari berwarna. Satu cowok dengan kepribadian lebih kalem dan satu cewek yang petakilan banget membuat rumah selalu riuh karena pertengkaran-pertengkaran kecil ala mereka. Sebentar bertengkar sebentar akur. Tak jarang ibunya ngomel nggak karuan saking jengkelnya.



Alhamdulillah masih dikaruniai dua bocil yang meramaikan hari-hariku. Meskipun rumah tak pernah rapi, atau emosi yang sering naik turun, tapi ujung-ujungnya juga ngomel sambil nahan ketawa karena ekspresi mereka yang menggemaskan. Semuanya tetep membuat kangen.

Minggu ini alhamdulillah bisa jalan dengan keluarga. Meakipun hanya dekat tapi bisa membuat fresh sedikit kepala. Celotehan para bocil menyemarakkan sepanjang jalan menuju ke tempat tujuan. 

Sampai di sana seneng dong mereka. Cuaca cerah, pantai bersih, laut tenang. Kondusif untuk berenang. Hebohlah mereka. Kami para orang tua cukup selonjoran sambil ngemil dan ngawasi mereka.

Alhamdulillah pulang dalam kondisi senang, dan para bocil tertidur kecapekan. 

Sabtu, 28 September 2019

SORE YANG PEDIH


Suara bel sepeda terdengar nyaring sekali. Aku yang hendak melangkah sejenak mengistirahatkan tubuhku di kamar berbalik arah ke depan, melihat siapa yang datang. Ternyata kelima kawanku, Doni, Ari, Bayu, Toriq, dan Sasa sudah di depan rumah di atas sepedanya masing-masing.

“Ar, ayo ikut, kita mau main bola di lapangan desa. Ada sparring sama desa sebelah. Yang lain sudah siap di lapangan”, Bayu berteriak saat melihat wajahku mengintip di pintu depan.

“Tunggu aku ambil sepatu dulu”, segera aku beranjak ke belakang, mengambil sepatu dan pamit pada ibu yang sedang menjemur pakaian.

Tak lebih dari sepuluh menit kami sampai, lapangan sudah terlihat penuh. Meski hanya sebatas tanding antar desa tapi selalu ramai penonton. Tak kalah dengan pertandingan profesional. Aku biasa bermain sebagai deffender.

Pertandingan kami menangkan dengan telak. Kepiawaianku menahan serangan lawan dikombinasi dengan skill Bayu sebagai penyerang membuahkan hasil memuaskan. 3-0 kami kantongi. Euforia kemanangan memenuhi atmosfer lapangan. Aku dan teman-temanku diarak bagai pahlawan.

Selepas perayaan singkat itu. Aku dan kawan-kawanku masih bercengkrama di lapangan. Sampai penonton bubar menyisakan lapangan yang lengang.

“Belum petang nih, gimana kalau kita mandi dulu di sungai, sambil main-main nunggu maghrib”, Bayu yang sedari tadi berbaring tiba-tiba berdiri dan mengibaskan pantat yang penuh dengan rumput kering.

“Aku capek banget Bay, nggak pulang aja?, lagian laper jiga habis tanding”, aku sebenarnya malas ke sungai. Kemarau membuat debit air sungai menurun drastis, tidak segar seperti biasa. Aku berniat pulang saja. Makan, mandi lalu berbaring sebentar menunggu maghrib.
Tapi Bayu tetap memaksa. Aku terpaksa mengikuti mereka menuju bibir sungai. Teman-temanku langsung masuk sungai dan berenang kesana kemari sambil bercanda. Aku masih malas untuk sekedar cuci kaki atau cuci muka. Kulangkahkan kakiku ke batu dekat sugai dan memanjatnya. Lalu kuluruskan kakiku sambil memandang teman-temanku yang sedang bergembira.

Aku terbangun kaget saat kudengar teriakan-teriakan dari sungai. Tak sengaja aku tertidur tadi. Angin sepoi-sepoi melenakanku. Entah berapa lama. Segera aku berdiri melihat apa yang terjadi. Di sungai ada Bayu dan Ari yang terlihat berenang ke tepi, selebihnya tidak ada orang. Mungkin teman yang lain sudah pada pulang. Aku sempat bingung kenapa juga Bayu teriak-teriak, sambil melambai-lambaikan tangannya lagi. Kubalas dengan lambaian tangan pula. Sampai kusadari ada yang aneh dri Bayu. Kuperhatikan dia tak lagi berenang, hanya menggapai-gapai tak jelas.

Langsung aku berlari dan masuk ke sungai. Gelagat Bayu kukenal jelas dalam memori. Adik kandungku pernah seperti itu waktu dia hampir tenggelam di kolam renang dekat rumah nenekku. Serabutan berenang, kuhampiri Bayu. Memegang kuat tangannya untuk kuseret ke tepi. Namun karena paniknya, Bayu justru seperti ikut menarikku ke dalam. Aku gelagapan. Tubuhnya yang lebih besar dariku menyusahkan untukku berusaha mempertahankan posisi. Beberapa kali aku ikut tenggelam karenanya. Namun masih bisa kembali ke permukaan untuk menghirup udara.

Saat itu aku berteriak pada Ari untuk mengambil tali atau kayu yang bisa kugunakan untuk menarik Bayu. Namun entah bagaimana Ari seperti tak mendenganr atau melihatku dan Bayu yang sedang berjuang mempertahankan hidup. Sampai serak suaraku.

Kucoba kembali menarik Bayu, sambil kuteriakkan agar dia jangan berontak. Gerakannya yang memberontak justru akan mencelakakan kami berdua. Aku hampir menangis saking frustasinya. Tenagaku hampir habis, dan kami masih jauh dari tepi. Bayu tak mau mengindahkan kata-kataku dan terus saja berontak.

Lalu kurasakan aku seperti ikut terseret ke dalam bersama Bayu. Sempat megap-megap kehabisan udara dengan tangan Bayu yang masih mencengkeram erat bahuku. Aku panik dan reflek melepaskan pegangan Bayu di bahuku. Lalu segera berenang ke permukaan untuk mengambil udara. Terbatuk berkali-kali dan megap-megap mengambil sebanyak mungkin udara. Dan kusadari Bayu sudah tidak ada lagi. Seperti terseret begitu saja ke dalam sungai dan tak muncul hingga beberapa menit. Aku memutuskan berenang ke tepi mengembalikan tenaga. Ari sudah ada disana. Dengan panik kuberitahukan Ari agar mencari bantuan untuk menemukan Bayu sebelum terlambat. Ari ikut panik dan lari tunggang langgang mencari bantuan. Aku masuk kembali ke air, menyelam mencari keberadaan Bayu. Hingga beberapa waktu belum juga kutemukan.

Senja semakin hilang, berganti dengan gelap. Aku menangis akibat frustasi belum bisa menemukan Bayu. Terus aku menyelam sambil berdoa agar Bayu bisa selamat. Lalu kudengar suara-suara orang datang bersamaan dengan adzan manghrib. Sedikit lega, aku akhirnya berenang ke tepi. Pak RT yang datang bersama puluhan warga lantas kuberitahu kronologi kejadian. Keudian memerintahkan beberapa warga untuk ikut mencari.

Semua bertindak. Ada yang menyelap, melemparkan jala, mencari menggunakan galah panjang, mencari dengan pancing, namun belum berhasil. Ibu Bayu histeris dan terus menangis. Aku hanya bisa mendekapnya erat agar tak ikut terjun ke sungai. Entah dimana bapaknya.

Bayu baru diketemukan setelah hampir waktu Isya’. Tubuhnya tersangkut di salah satu pancing warga dan kemudian ditarik bersama-sama. Tubuhnya sudah kaku dan tergores di sana sini. Dan ada luka besar menganga akibat tersangkut pancing. Aku ikut menangis saat menyaksikan ibu Bayu ambruk saat melihat kondisi anaknya.

Jenasah langsung dikebumikan setelah dimandikan dan disholatkan. Hari ini aku kehilangan salah satu sahabat baikku. Dan aku menyalahkan diri sendiri atas tidak becusnya aku menyelamatkannya. Salahku tidak berusaha lebih kuat lagi untuk menariknya. Bayu pergi dengan luka hati yang kurasakan semakin pedih. 

SINDEN AYU

SINDEN AYU

Aku terbius. Sungguh. Tidak sia-sia aku ikut Doni yang ngeyel mengajakku melihat pertunjukan wayang di salah satu doom universitas swasta di kotaku. Salah satu pertunjukan favoritnya. Aku sebenarnya enggan karena memang tidak begitu suka dengan wayang, meskipun asli Jawa. Tapi seorang sinden belia dalam balutan kebaya merah dengan tubuh sintal memukauku dengan suaranya yang... sungguh mempesona. Langgam Jawa dibawakannya dengan ciamik sampai aku terbawa saking terpananya.

Selama pertunjukan terus aku tatap dia. Dan setiap kali langgam terucap dari bibirnya hatiku berdesir tak karuan. Mungkinkah aku jatuh cinta?. Tapi memang dia sungguh mempesona. Wajah ayunya terus menari di benakku. Sampai pertunjukan selesai aku masih saja memandanginya yang berjalan ke belakang panggung. Aku sedikit terkejut saat Doni memukul pundakku dan mengajakku pulang.

Namun aku tak ingin kehilangan kesempatan. Sedikit berkenalan dengan sinden itu misi utamaku. Kapan lagi bisa ketemu. Alih-alih langsung pulang, aku beralasan mau ke toilet dulu. Kebelet. Memang sebenarnya juga mau buang air. Tapi nanti setelah itu akan kutemui sinden tadi di ruang ganti. Kulangkahkan dulu kakiku ke toilet terdekat dari panggung pertunjukan.

Aku kaget bukan kepalang. Di depanku berdiri sinden itu sedang mematut wajahnya di cermin toilet. Aku terpaku. Mungkinkah ini halusinasi, ataukah aku yang bego saking kepincutnya hingga tak sadar diri.

“Maaf apa saya salah masuk toilet?”, tanyaku padanya dengan wajah jengah menahan malu.

“Oh bukan, mas nya nggak salah kok. Maaf perkenalkan nama saya Ardan. Tapi di panggung mereka memanggil saya Senjakala”, jawabnya sambil mengulurkan tangan dengan santainya.

“Tenang saja mas, saya laki-laki tulen kok. Saya berdandan seperti ini hanya karena tuntutan pekerjaan”, sinden itu tersenyum memojokkanku.

Mau tak mau kujabat tangannya dengan keki. Tak menyangka jika yang kugandrungi tadi ternyata seorang lelaki. 

PEREMPUAN DI BALE BAMBU

Kujumpai lagi dia. Perempuan tua yang selalu duduk di bale bambu setiap pagi dan sore. Dengan pakaian yang menurutku tidak layak pakai. Dan dandanan kumuh yang tak sedap dipandang mata. Aku baru tahu kalau perempuan itu bukan gelandangan. Dia punya rumah tinggal. Rumah di depan bale bambu tempatnya duduk setiap pagi dan sore. Pernah kujumpai seorang laki-laki tua dan seorang lagi berumur dewasa di dalam rumah itu. Tapi  kenapa perempuan tua itu seperti tak terurus?.

Kadang karena seringnya aku lewat di depannya saat pagi dan sore, sekedar menyapa. Dia memanggilku dengan lambaian tangannya. Karena penasaran kudekati dia. Ternyata dia minta sedikit makanan untuknya sarapan. Aku heran bukannya di rumah ada yang bisa memasak untuk makan. Pun perempuan itu juga terlihat masih kuat untuk sekedar memasak. Dia jawab di rumah hanya ada nasi tanpa lauk. Akhirnya aku kembali ke rumah untuk membungkus makanan dan kuantarkan kepadanya. Kejadian itu terjadi tidak hanya sekali, berkali-kali. Aku sebenarnya santai saja. Kuanggap sedekah. Namun tetangga kiri kanan mulai  jengah dengan kejadian itu.

Suatu pagi seorang ibu tetangga samping rumahku bercerita bahwa perempuan itu memiliki banyak anak. Laki-laki semua. Yang sulung tergolong mampu bagi sebagian tetangga, dia tinggal tak jauh dari rumah orangtuanya. Yang tinggal di rumah perempuan tua itu suami dan anak keduanya yang masih bujang. Aku heran, kenapa kalau anaknya mampu ibunya dibiarkan tak terurus seperti itu. Apalagi anak laki-laki masih memiliki kewajiban untuk menafkahi dan merawat ibunya. Kata tetanggaku memang perempuan itu sedikit malas. Tapi dia juga bilang kalau perempuan itu tak akur dengan menantunya. Aku menghela nafas mendengarnya.

Jujur aku iba pada perempuan itu. Kenapa di masa tuanya dia harus merasakan diabaikan oleh anak-anak yang seharusnya merawatnya dengan baik. Juga sedikit menyalahkan anak-anaknya, kenapa tidak sedikit menyisihkan waktu untuk sedikit merawat ibunya. Tapi aku tak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Karena memang aku baru saja pindah ke lokasi ini sebulan yang lalu. Maka aku hanya bisa diam saja, dan sesekali membawakan bungkusan makanan untuk dimakan perempuan tua itu bersama suaminya.
***
Kenyataan tentang perempuan itu kuperoleh malah dari ibu mertuaku. Cerita tentang kenapa di masa tuanya dia seperti tak dianggap, tak diperhatikan oleh mereka, anak-anaknya. Bahwa dulu sewaktu muda, perempuan tua itu tak pernah merawat anak-anaknya. Pagi sekali sudah berdandan rapi lalu pergi ke pasar untuk memamerkan diri. Di rumah anak-anaknya dirawat oleh suaminya. Sedari pagi, memasak, membersihkan rumah, memandikan dan menyuapi anak-anaknya sebelum berangkat ke sawah. Perempuan tua itu tidak pernah memperhatikan suami dan anak-anaknya. Bahkan saat suaminya pergi merantau ke luar negeri, perempuan tua itu malah berselingkuh dengan tetangganya. Tak mau peduli tentang yang lainnya, yang penting dia bahagia. Itulah sebabnya kenapa di masa tuanya kini tak ada anak yang mau merawatnya.

Mau tidak mau aku jadi percaya bahwa apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Menjadikan pelajaran juga bagiku untuk senantiasa menyayangi dan merawat suami dan anak-anakku. Semampuku. Memberikan mereka cinta berlimpah agar nanti cinta itu kembali padaku pada saatnya. Bukan mau pamrih, hanya mengajarkan kasih kepada mereka sebagai penerus kita. Agar nanti dunia berwarna dengan cinta yang mereka tera.

AKHIR BULAN DAN PERUT YANG BERISIK

Riuh yang biasanya memenuhi atmosfir ruang hilang begitu saja hari ini. H-1 akhir bulan selalu membuat kami yang biasanya sibuk wara wiri antar kubikel untuk konsultasi pekerjaan menjadi makhluk pendiam anti sosial yang mengurung diri dalam kubikel dengan memelototi komputer di depan mata. Kulirik sebentar makhluk-makhluk yang biasanya usil di samping kubikelku. Gayanya sudah bisa masuk Guiness word Record untuk kostum kantor terunik. Mulai dari tempelan post it yang memenuhi wajah dan membuatnya berwarna-warni pelangi, atau dasi yang ganti posisi dari dada ke kepala. Membebat otak yang mulai penat. Sampai yang paling parah, Andre yang posisinya tepat di depan kubikelku. Entah dia mau ronda atau ngantor. Mungkin akibat dinginnya AC yang membekukan tubuh kami, atau memang tubuhnya sudah tak kuat untuk diminta lembur lagi, Sarung di mushola berganti fungsi sebagai kepompong yang membungkus tubuhnya rapat. Dengan kaki yang sengaja diangkat ke atas kursi seperti bersila. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.

Jangan tanya, akupun menjadi salah satu badut dengan kostum aneh di sana. Sebagai anak kos dengan asupan gizi minimal, saat ini mungkin akulah makhluk paling menyedihkan di ruangan. Perut keroncongan akibat tak makan semalam dan lupa sarapan tadi pagi. Ditambah asma yang kambuh kalau AC terlalu dingin, sampai kepala pening yang tak mau hilang sejak kemarin akibat flu. Membuatku menjadi anomali. Kepala penuh dengan tempelan koyo. Lalu kubebat dengan pita kain yang kutemukan di gudang sebulan kemarin. Tak tahan dengan peningnya. Jaket rangkap dua untuk menghalau udara dingin.kaos kaki dan sarung tangan. Cukuplah kalau dibilang aku mau naik gunung dan bukannya kerja  di kantor. Sebenarnya aku mau izin tidak masuk hari ini. Badanku tak bisa diajak kompromi. Tapi Bos besar meminta laporan akhir bulan harus dikumpul hari ini. Terpaksa aku berangkat juga.

Masih kurang laporan untuk 14 hari terakhir yang harus kubuat. Tapi sudah jam sebelas. Entah nanti selesai atau tidak. Beberapa makhluk di sekitarku ada yang mulai berdiri mondar-mandir pertanda pekerjaannya telah selesai. Semakin stress lah aku.
“Sial, macet lagi”, kugetok-getok layar komputerku dengan beringas. Kenapa pula harus macet disaat genting seperti ini. Memang harusnya komputer ini sudah diganti sejak setahun yang lalu. Programnya sering eror dan macet. Tapi tiap kali kuminta ganti selalu ditolak Bos dengan alasan efisiensi.
“Aduhhhh gimana nihhhh”, aku berteriak saking tertekan. Wajah-wajah di sekitarku memandangku dengan malas.Aku rasanya sudah mau nangis saking bingungnya.
“Kenapa sih Ra? komputermu macet lagi?”, tanya Andre sambil menyorongkan tubuhnya ke kubikelku. Aku hanya mengangguk lesu. Membayangkan kemarahan Bos akibat laporanku yang belum selesai.
“Sini pakai punyaku saja. Laporanku sudah selesai. Komputermu biar kuperbaiki, kali aja bisa”, Andre berdiri melangkah ke kubikelku.
“Baik banget sih Ndre...”, aku tertawa senang dan langsung loncat ke kubikel Andre.
Perut yang sedari tadi berbunyi tak kuperhatikan lagi. Sudah jam istirahat. Tapi aku tak mampu merehatkan tubuhku sekedar untuk beli makan dan berselonjor. Laporanku harus selesai dalam hitungan jam. Terpaksa kurelakan jam istirahatku untuk berkutat dengan komputer.
Seang serius-seriusnya ada tangan yang tiba-tiba menepuk punggungku dan membuatku terlonjak kaget sampai jatuh dari kursi. Aku meringis menahan sakit. Ternyata Andre yang datang.
“Ya ampun serius amat Cin..., gitu aja sampai jatuh saking kagetnya”, Andre terbahak menyaksikanku yang menahan sakit.
“Ih... iseng banget sih, lagi konsen nih. Sakit tau”, kutabok lengannya sebagai kompensasi.
“Udah selesai belum laporannya?, tuh komputermu sudah bisa jalan. Besok-besok jangan save data di situ. Back up aja semua ke HD eksternal. Nanti biar aku bantu ngomong ke bos buat ganti komputermu”,
“Bentar lagi Ndre, tinggal laporan dua hari terakhir, makasih ya udah mau benerin komputerku. Tapi aku di sini dulu aja ya, nanggung”, jawabku santai.
“Pake aja, aku mau sholat dulu. Itu di mejamu ada gado-gado sama lumpia basah. Buruan makan kalau sudah selesai. Perutmu berisik”,
Aku menunduk menahan malu.
“Makasih banget ya Ndre, kamu emang paling ngerti. Nanti kutraktir deh kalau laporannya di ACC bos”,
“Sambalnya aku pisah, aku taruh di plastik lumpia”, Andre tersenyum dan ngeloyor pergi.
Alhamdulillah hajat hidupku terpenuhi. Kucomot satu lumpia untuk mengganjal perut yang sejak tadi berbunyi. Indahnya punya teman yang pengertian dan mau diajak susah di saat begini.

KEPEL

Diantara jejak-jejak durhaka
Kulepas peluk erat atasmu di sana
Bukan,
Bukan aku lupa
Di hati ini masih tertulis nama
Bukan siapa-siapa
Tetap kamu sebagai raja

Tunggu
Tunggu aku di singgasana
Biar kurekat rindu yang menjura
Di balik waktu-waktu terpenjara
Usah kau buang nafas percuma
Tunggu datangku sebagai tera
Nanti, setelah embun menetas di kebun pagi yang fana

***
Kepel memandang kembali Paringga Nabastala dari kerling matanya. Disapukan seluruh netranya, meresapi semua. Pepohonan yang rapat melindunginya. Binatang yang menjadi sahabatnya. Putik-putik bunga yang senantiasa menyayikan kidung surga untuknya. Aroma mistis hutan yang membiusnya. Di dekatinya pohon beringin tua tempatnya bermula. Diusapnya lembut dahan-dahan yang kokoh menjadi sandaran baginya. Pelan, dibisikkan sebuah pesan, lewat goresan-goresan lama tempatnya mendamba. Pesan untuk selalu menjaga ayah dan ibunya, serta seluruh isi Paringga Nabastala. Serta sebuah isyarat akan perginya Kepel dari sana.

Sungguh berat bagi Kepel untuk pergi. Seluruh hidupnya ada di sana. Diantara semua makhluk hutan yang menjaganya. Namun dia harus pergi. Cinta yang dia miliki untuk seorang lelaki memaksanya meninggalkan tempatnya yang nyaman. Kepel akan pergi untuk mencari kembali suami yang sengaja dia usir dari hutan. Kepel tahu tidak akan mudah. Baginya dunia luar adalah liar. Dia tak tahu akan seperti apa. Tapi dibulatkan tekadnya. Sulit baginya untuk kembali menikmati hari-hari sendiri.

Perlahan diusapkannya jemari di atas pusara ayah dan ibunya. Meminta restu untukny pergi dengan kesadaran pasti mungkin tanpa kembali. Dilanggamkan doa untuk kebaikan seluruh Paringga Nabastala. Lalu Kepel mulai beranjak. Menyusuri jejak yang ditinggalkan suami yang dia cintai. Kepel sangat yakin butirah gabah yang tersebar memanjang sengaja suaminya tinggalkan untuknya. Sebagai jalan untuk mereka dapat bertemu kembali.
***
Kepel mendongak menatap barisan burung yang mengarak di atasnya. Sebuah tanda perpisahan yang coba mereka berikan. Kicau bersahut-sahutan menggemparkan alam. Bahkan pepohonan pun tak mau kalah. Menundukkan rantingnya menyentuh sedikit Kepel sebagai doa. Kelopak-kelopak bunga melayang mengikuti di belakangnya dalam balutan angin yang menggila. Semua bersedih. Kepel adalah pusat Paringga Nabastala. Tanpanya hanya akan ada hampa. Sejenak Kepel menunduk, menitikkan setetes airmata tanda duka. Meresapi segala yang dia punya, di sini.

Lalu dengan mantap delangkahkan kembali langkahnya menuju barisan pohon pembatas untuk dapat keluar dari Paringga Nabastala. Memulai menapak dunia asing yang belum pernah dia temui.

Dari kejauhan sesosok rusa menatap tak berkedip kepergian tuannya. Bukan, bukan dia tak mau mengantar, tapi janji untuk tetap tinggal memaksanya menahan derita berpisah dengan Kepel. Suatu saat nanti rusa itu yakin akan bisa kembali bersama. Tidak hanya berdua tapi akan ada mereka-mereka yang lain bersamanya. Nanti, saat embun membasuh di kebun pagi.

DI RAHIM BUMI

Layakkah kau bilang
Menikah rahim bumi
Apa pula kau kenang
Semua tak pernah kembali

Di tapak gunung yang tinggi
Kau bual ingin mati
Bagiku semua ilusi
Kau hilang aku tak peduli

Di jejak laut terdalam
Kau redam semua dendam
Aku mendekam diam
Tak perlulah menikam

Di pucuk hutan terliar
Kau umbar cecar
Tak mudah kutakar
Rindu kularung pada belukar

Di secuil hatimu
Tak ada cinta untukku
Apalah itu aku menyaru
Sedikit rindu yang kau buat benalu

TENTANG AKU DAN GORESAN AKSARA

Pernah dengar pelangi?. Kalau aku tanya begitu pasti secara umum pasti tahu. Pecahan sinar matahari yang dibiaskan oleh hujan dan membentuk rangkaian warna memukau hati. Tapi kalau aku bilang benang raja, atau bianglala. Pasti banyak yang tidak tahu. Atau mungkin mengkonotasikan bianglala dengan mainan. Benar?.

Itulah yang membuatku menggandrungi menulis. Karena dengan menulis aku jadi tahu banyak kosa kata baru. Awalnya mungkin menulis sesuai kosa kata yang dipunya, lambat laun karena ingin menyajikan diksi yang unik dan menarik jadi rajin mengunjungi KBBI. Dengannya membuatku mengetahui banyak ragam kata. Apalagi Indonesia kaya akan budaya dan kata-kata unik. Menjadikan menulis semakin menarik.

Sebenarnya aku bukanlah orang yang pandai menulis. Masih dalam tahap belajar. Karena menulis tak semudah membalikkan telur dadar di wajan. Satu tulisan saja butuh waktu lama untuk kuselesaikan. Berbeda dengan membaca. Buatku membaca sudah jadi kebutuhan, bukan lagi kesenangan. Aku membaca segala hal. Komik, novel, biografi, artikel, berita di koran, semuanya. Sebut saja aku pecinta segala. Aku cukup heran dengan sebuah kalimat, orang yang gemar membaca akan pandai menulis. Yang satu itu belum berlaku untukku. Karena sampai saat ini pun aku masih saja merangkak untuk bisa menghasilkan tulisan. Memaksa semua indera agar berkolaborasi menciptakan rasa yang bisa kutuangkan dalam aksara.

Jadi kalau diminta mengerucutkan genre menulis yang paling disukai, aku tidak bisa. Karena aku berusaha untuk bisa menulis segalanya. Fiksi dan non fiksi, artikel, puisi, essay, jurnal. Semua. Karena aku butuh bisa menulis semua untuk bisa berkembang lebih jauh lagi. Sementara mungkin tulisanku dominan di fiksi. Itu sangat dipengaruhi oleh kesukaanku membaca novel-novel fiksi sedari kecil. Tapi aku mengharapkan diriku bisa berkembang lebih dari itu.

Bukankah tercermin di blog tempatku memposting tulisan-tulisanku. Bahwa yang kugoreskan bukan hanya satu macam. Tapi beraneka. Seperti pelangi yang memiliki beragam warna yang membuatnya indah. Aku pun ingin berwarna dengan banyaknya ragam tulisa yang aku cipta. Semoga.

DI RAHIM BUMI

Layakkah kau bilang
Menikah rahim bumi
Apa pula kau kenang
Semua tak pernah kembali

Di tapak gunung yang tinggi
Kau bual ingin mati
Bagiku semua ilusi
Kau hilang aku tak peduli

Di jejak laut terdalam
Kau redam semua dendam
Aku mendekam diam
Tak perlulah menikam

Di pucuk hutan terliar
Kau umbar cecar
Tak mudah kutakar
Rindu kularung pada belukar

Di secuil hatimu
Tak ada cinta untukku
Apalah itu aku menyaru
Sedikit rindu yang kau buat benalu

BULAN MATI

Bulan mati di sudut kerling hati
Bahkan tak ada niatan untuk kembali

Segenggam naluri terbuai mimpi
Memeluk redam jahanan melukai

Hati sekedar kerat tak berarti
Dihujam dalam, kidung pembunuh mimpi

Senyumnya terukir di wajah mati
Menumpas lekas tawa di wajah lelaki

Sudahlah, akhir ini telah menepi
Perempuan memeluk mimpi di tidur abadi

Enyahlah, pergi dari singgasana hati
Nirwana tak punya ruang untuk lelaki penuh duri



PUAN, TUAN

Merah bulan berdarah
Di sabit gulana nan marah

Hitam kelam segala dendam
Menanti balas puan pemilik gendam

Sebait kidung terlanggam
Membawa serta sosok berwajah kelam

Darah diumbar sebagai jalan
Memangkas habis jalinan sedan

Habislah semua, ambyar
Kasih sayang dibalas gelegar

Senyum terlanjur di bibir puan
Puas dengan tubuh terbujur tuan

Dua puisi di atas adalah salah satu puisi baru dengan nama distikon yang aku buat. puisi dengan ciri dua baris di tiap baitnya. selamat menikmati dan marakkan literasi.

DALAM WAKTU BERLALU

Sejuta warna telah dinikmati
Di masa muda yang kian lari
Entah detik terlewati sudahkah pasti
Memakna mimpi duniawi

Dan kini muda tak lagi di sini
Dikerat waktu menapak tak mau tahu
Berat dirasa penat, selalu mengamini
Selagi kaki dan tangan tak mau padu
Dikejar sekelebat tanya tentang semu

Sudahlah, relakan saja
Waktu sudah bukan lagi untuk kau puja
Sisa jangan kau balut dengan nista
Tinggalkan saja di tepi senja

Kini tiba saatmu menjura
Meniti jalan tak bercela
Merengkuh detik tanpa dilema
Di kedalaman hati menera segala

Sudah, bersujudlah
Menumpu harap pada pemilik surga
Lewati malam dalam gelisah yang fana
Dalam doa-doa yang dilanggam sempurna
Sujud, sujudlah hingga masa membawamu serta

BULAN MATI

Bulan mati di sudut kerling hati
Bahkan tak ada niatan untuk kembali

Segenggam naluri terbuai mimpi
Memeluk redam jahanan melukai

Hati sekedar kerat tak berarti
Dihujam dalam, kidung pembunuh mimpi

Senyumnya terukir di wajah mati
Menumpas lekas tawa di wajah lelaki

Sudahlah, akhir ini telah menepi
Perempuan memeluk mimpi di tidur abadi

Enyahlah, pergi dari singgasana hati
Nirwana tak punya ruang untuk lelaki penuh duri



PUAN, TUAN

Merah bulan berdarah
Di sabit gulana nan marah

Hitam kelam segala dendam
Menanti balas puan pemilik gendam

Sebait kidung terlanggam
Membawa serta sosok berwajah kelam

Darah diumbar sebagai jalan
Memangkas habis jalinan sedan

Habislah semua, ambyar
Kasih sayang dibalas gelegar

Senyum terlanjur di bibir puan
Puas dengan tubuh terbujur tuan

Dua puisi di atas adalah salah satu puisi baru dengan nama distikon yang aku buat. puisi dengan ciri dua baris di tiap baitnya. selamat menikmati dan marakkan literasi.